MENARILAH LAGI SEKAR!
Reporter: Leo Agung Bayu
Dalam
remang, seorang perempuan duduk merenung, tersungkur di lantai. Matanya sembab
pertanda habis menangis. Tiba-tiba sesosok bayangan hitam dibelakang perempuan
itu berdiri. Bayangan itu menarikan tarian tardisional. Tak lama kemudian perempuan
itu jatuh-bangun mulai berdiri mengikuti gerakan bayangan itu. Tangannya
melambai, kakinya mengikuti alur gerakan tangannya. Pinggulnya
melenggak-lenggok luwes, tubuhnya menari-nari mengikuti harmoni langgam gendhing gamelan. Perempuan
tersebut bernama Sekar.
Sekar
adalah nama salah satu tokoh dari pementasan kelas PSBID 2008 kelas B.
Sedangkan adegan di atas adalah adegan terakhir dari drama yang berjudul “Sekar
Ledhek”. Sekar Ledhek berkisah tentang seorang penari yang terperosok dalam dilema.
Semua berawal dari kemauan Sekar yang sangat kuat untuk melestarikan tarian
jawa. “Nguri-uri kabudayan Jawi”
nasehat Guru tari si Sekar. Konflik muncul ketika seorang lelaki bernama Suryo naksir Si Sekar. Kemudian, bisa ditebak,
mereka pun berpacaran. Dasar pemuda pintar, Suryo mendapatkan beasiswa kuliah
di luar negeri, di Paris tepatnya. Sekalipun ditinggal bertahun-tahun, Sekar
masih setia menunggu dan berharap pujaannya tidak melupakannya.
Di
Paris Suryo berkenalan dengan glamornya budaya barat. Penari-penari di sana
tidak sama dengan penari-penari di Jawa. Kontan saja Suryo senang,
penari-penari “luar” lebih “hot, sexy
dan gaul” kata dua orang temannya di Paris. Setelah beberapa tahun merantau,
akhirnya pulang kampungnya, Suryo menepati janjinya untuk kembali menemui
Sekar. Sekar begitu gembira pujaan hatinya pulang menemuinya lagi. Malang tak
dapat ditolak, untung tak dapat di raih, Suryo yang sekarang bukanlah Suryo
yang dulu lagi. Suryo yang sekarang tidak suka lagi dengan tarian Jawa. Suryo
yang sekarang menjadi pemuda yang gaul dan modern. Suryo yang sekarang memaksa
Sekar untuk meninggalkan tarian-tarian tradisional. Suryo menganggap tarian
tradisional yang sangat dicintai Sekar sudah ketinggalan jaman dan tidak gaul. Suryo
mengancam, “Kamu tinggalkan tarian tradisionalmu itu, kalau tidak kita putus
saja!” Setelah itu adegan terakhir bisa dibaca di paragraf awal tulisan ini.
Tokoh
Sekar dilakonkan oleh Esti Nuryani sedangkan tokoh Suryo oleh Kusno Ari
Nugraha. Sekar Ledhek adalah satu dari lima pementasan kelas yang diadakan oleh
PBSID pada tanggal 3 Mei 2011 pukul 18.30. Konsep dekorasi pada pementasan
tersebut sedikit unik. Latar panggung dibuat seperti kelir dalam wayang kulit. “Konsep siluet yang dipakai untuk latar
belakang memang sudah kami pikirkan matang-matang” ucap Petrus lagi. Secara
keseluruhan pementasan tersebut berjalan dengan baik. “Kesalahan teknis
sedikit-sedikit sih ada, tapi kami puas.” kata Bayu Prasetyo. Meskipun begitu
ada juga kritik yang datang dari penonton. Kristin PBI ’08 menyebutkan bahwa
volume suara yang dihasilkan kurang besar dan tidak jelas. “Volume suara yang
tidak keras membuat penonton menjadi bosan, tapi untuk konsep dekorasinya sudah
mantap.” jelas Kristin menanggapi pementasan tersebut.
“Kami
membuat naskah pementasan kelas ini berdasarkan tema yang telah ditentukan
sebelumnya, yaitu “Budayaku Salah Apa?” Kata Petrus Kanisius selaku sutradara
dan penulis naskah. Pengambilan tema tersebut tidak lepas dari keprihatinan
bahwa sekarang kaum muda sudah mulai melupakan budayanya sendiri. Apa saja yang
berasal dari luar negri pasti dianggap lebih baik. “Ini adalah bukti
inferioritas bangsa Indonesia terhadap kebudayaan-kebudayaan asing. Budaya yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak kalah oleh budaya luar, jadi harus
dilestarikan.” jelas Richi Anyan sebagai ketua kelompok pementasan ini.