Laporan Utama natas "Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo"

Laporan Khusus majalah natas 2011

 

Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo

Ketika penyembuhan alternatif menjadi pilihan terakhir

 

Juli 2011, wajah Pujianto (26) dihiasi senyum berseri-seri sementara raut wajah dokter bedah yang merawatnya mendadak berkernyit heran. Pasalnya, hasil rontgent Pujianto menunjukkan bahwa pasien yang telah dirawatnya selama enam bulan tersebut benar-benar sembuh total dari penyakit yang hampir mustahil disembuhkan, yaitu kanker prankreas stadium lanjut. Padahal ketika pertama kali dirawat, Pujianto layaknya pasien yang putus harapan hidupnya. Matanya berwarna kuning, badannya terasa sakit semua sampai-sampai digerakkan pun susah, bahkan perut pun terasa segan mencerna makanan. Kini, semenjak divonis sembuh total, Pujianto tak lagi merasakan itu semua. “Dokter yang merawat saya heran banget lho mas, saya bisa sampai seperti ini. Soalnya saya memang sengaja tidak memberitahu beliau tentang proses kesembuhan saya. Saya tidak memberitahu dokter saya, bahwa selain berobat di rumah sakit, saya juga berobat di praktek penyembuhan alternatif,” katanya sambil tersenyum simpul.

***

Kisah Pujianto dimulai delapan bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Maret 2011.Waktu itu perut tengah Pujianto terasa sakit seperti ditusuk-tusuk, badannya kadang panas, kadang menggigil kedinginan. Untuk bekerja ringan saja tubuh bagian atasnya sulit untuk digerakkan. “Rasanya nyeri dan panas,” katanya. Terpaksalah Pujianto berhenti bekerja. Beberapa hari kemudian matanya berwarna kuning. Tubuhnya lemas tak berdaya sementara rasa sakit di perut masih saja menyiksa. Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya, Pujianto memutuskan untuk memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit kecil di Wates. Ketika diperiksa tekanan darahnya, dibuat kagetlah Pujianto oleh tensimeter yang terpasang di lengannya. Alat pengukur tekanan darah tersebut menunjukkan tekanan sistolenya berada jauh di bawah rata-rata normal (120 mm/hg) yaitu 60mm/hg.

Diagnosa dokter pertama kali adalah Pujianto terkena pes, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) lewat kutu tikus, Xenophylla astia. Penyakit pes seperti ini pernah menjadi wabah dan membunuh lebih dari 20 juta orang di Eropa pada abad pertengahan. Dinamakan “Kematian Hitam” (Black Death) karena keganasannya. Setelah perawatan dan pemberian obat dari rumah sakit selama sebulan, alih-alih sembuh, keadaan Pujianto malah semakin memburuk. Perutnya terasa semakin sakit dan terasa panas. Dokter yang menanganinya seketika itu juga menyatakan menyerah untuk menyembuhkan Pujianto. Sehari setelahnya, pria kelahiran Imogiri tersebut dirujuk ke sebuah Rumah Sakit yang lebih besar di kota Yogyakarta.

Kali ini Pujianto ditangani oleh dokter bedah profesional. Diagnosa pun dilakukan. Hasilnya membuat bulu kuduk Pujianto bergidig. Ternyata bukan pes-lah yang menyebabkan sakit perutnya selama ini, melainkan kanker prankreas stadium lanjut. Kanker pankreas dalam dunia kedokteran disebut penyakit yang “diam”. Kanker itu tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit ketika masih dalam stadium dini. Oleh karena itu bisa dipahami jika ternyata tahu-tahu kanker Pujianto sudah dalam keadaan stadium lanjut. Kanker itu menghalangi saluran empedu umum. Cairan dari empedu pun tidak dapat masuk ke dalam sistim pencernaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan kulit dan putih mata menjadi berwarna kuning, seperti yang dialami Pujianto. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol terlalu seringlah yang ditenggarai sebagai penyebab penyakitnya itu.

Dokter menyarankan untuk melakukan operasi saja. Operasi Pujianto dilakukan seminggu setelah vonis. Kanker yang diangkat tidaklah tuntas semua, melainkan hanya kanker yang menyumbat di usus Pujianto saja. “Ini mas bekasnya, rasanya masih gatal di jahitannya,” kata Pujianto menunjukkan gurat bekas operasi di perutnya. Setelah operasi, Pujianto tidak langsung sembuh melainkan harus menjalani rangkaian perawatan medis lagi yang tentu saja memakan banyak sekali biaya. Padahal orang tua Pujianto hanyalah seorang petani. Sepuluh hari pasca operasi, Pujianto pulang.  Tak berhenti sampai di situ, sepuluh hari di rumah, dia kembali ke rumah sakit karena sakitnya kambuh lagi. Kocek yang harus dirogoh Pujianto untuk pengobatan di Rumah Sakit sudah mencapai 12 juta, namun penyakitnya belum juga pergi.

Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sudah tanpa harapan itu, Pujianto pasrah dan menyerahkan hidup matinya di tangan Allah. Bahkan Pujianto sempat berbicara pada istrinya bahwa dia sudah menyerah. Keluarganya cemas. “Waktu itu saya sudah pasrah mas, terserah Allah mau bagaimana. Kasihan juga melihat keluarga sudah banting tulang untuk menyembuhkan saya,” kenangnya. Sedikit harapan muncul ketika seorang tetangga Pujianto menyarankan untuk mencoba penyembuhan tradisional. Bukan tanpa alasan, tetangga Pujianto itu memang sudah pernah membuktikan kemujaraban terapi penyembuhan tradisional itu. Nama tempat penyembuhan tersebut adalah Paguyuban Tritunggal. Pujianto tertarik, dan ia mencobanya. Ketika sampai di paguyuban tersebut Pujianto masih terlihat lemah. Matanya masih kekuningan dan tekanan darahnya masih tak tertolong.

***

Sekitar 50 kilometer dari Argorejo Sedayu, tempat Pujianto tinggal, Paguyuban Tritunggal membuka tempat prakteknya. Tepatnya di Babarsari Yogyakarta, belakang Universitas Atmajaya. Tidak ada yang aneh dari tempat penyembuhan tradisional Paguyuban Tritunggal. Dari luar tampak seperti bangunan-bangunan di sekitarnya, bercat putih, pagar putih, dan pintu kayu cokelat. Yang membedakan hanyalah banner merah bertuliskan Paguyuban Tritunggal di teras, dan bau harum  dupa yang menyapa setiap hidung yang lewat di depan bangunan itu. Masuk ke ruangan pertama kali, Pujianto disambut ramah oleh lukisan-lukisan atraktif di tembok hijau dan seorang pemuda berpakaian hitam yang mengurusi bagian administrasi awal.

            Paguyuban Tritunggal resmi menangani pasien sejak tahun 1997. Didirikan oleh seseorang yang dipanggil Romo Sapto. Nama Tritunggal dipakai sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Jawa yang berasal dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Ditilik dari sudut pandang modern, penyembuhan ala Tritunggal disebut penyembuhan holistik. Artinya aspek spiritual dan psikologis pasien juga menjadi pertimbangan dalam proses penyembuhan. Berbeda dengan medis konvensional yang lebih menitikberatkan pada aspek biologis (mekanis) saja. Metode yang digunakan berasal dari ilmu kejawen warisan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sejak dulu. Paguyuban ini tidak membuka praktek secara ilegal. Proses perijinan yang panjang dan berliku dari badan standardisasi kesehatan pemerintah hingga ijin pendirian usaha sudah dilalui oleh Tritunggal.

Terapi yang dilakukan sama sekali tidak menggunakan obat atau pun jamu. Tidak ada pula pantangan yang harus dilakukan oleh pasien. Bahkan kontak fisik pun hampir tidak ada. Penyembuhannya murni menggunakan energi yang oleh Paguyuban Tritunggal disebut “Srah-srahan Nawa Sanga”. Artinya ada Sembilan lubang energi ditubuh manusia yang bisa menjadi jalan keluar masuknya penyakit atau energi penyembuh. Lubang itu terdapat di mata, hidung, telinga, mulut, pusar, kemaluan, anus, tangan dan kaki. Proses penyembuhan yang dilakukan tidak selalu dilakukan jarak dekat. Jika dibutuhkan, penyembuhan bisa dilakukan lewat jarak jauh. Penyembuhan jarak jauh bisa dilakukan dengan mengirimkan energi penyembuh lewat telepon genggam atau pun media foto. Selain itu penyembuhan juga dilakukan dengan metode transfer energi dari manusia ke hewan. Hewan macam kambing dipilih untuk penyakit-penyakit berat macam kanker stadium lanjut atau jantung koroner. Selain kambing, kelinci juga bisa menjadi pilihan, namun untuk penyakit yang lebih ringan.

Dalam hal penyembuhan, paguyuban tritunggal tidak menerapkan adanya pantangan apapun kepada pasiennya. Karena itu, meskipun dokter menyarankan Pujianto untuk menghindari minum kopi, ia tetap saja menyeruput minuman kesukaannya itu ketika menjalani terapi di Paguyuban Tritunggal. Mereka juga tidak melarang pasiennya berobat juga di medis konvensional. Yang penting tidak ke penyembuhan tradisional yang lain, karena beda energi. Yang menjadi ketakutan adalah adanya energi yang bertolakbelakang dengan energi yang digunakan oleh Paguyuban Tritunggal. Jika itu terjadi maka pasien tidak akan sembuh, malah bisa-bisa tambah parah.

            Pasien yang datang ke paguyuban tersebut rata-rata adalah pasien buangan dari rumah sakit, atau yang sudah bosan dengan pengobatan medis konvensional. Kebanyakan pasien yang datang adalah pasien yang dokternya sudah angkat tangan. Malah, terkadang para dokter yang sudah angkat tangan tersebut menyarankan pasiennya berobat ke Paguyuban Tritunggal. Dalam artian pasien tersebut secara medis konvensional sudah mustahil untuk disembuhkan. Penyakit-penyakit berat macam kanker stadium lanjut, tumor atau jantung koroner adalah penyakit-penyakit yang sering mampir di Paguyuban ini. Selain itu Paguyuban Tritunggal juga kondang dalam menyembuhkan penyakit-penyakit “kiriman” seperti santet, gendam, atau pelet. Tak hanya itu, paguyuban ini pun juga melayani ruwatan untuk menghilangkan kesialan supaya rejeki lebih lancar mengalir.

Awalnya Pujianto diberi petunjuk dulu tentang masalah administrasi. Dalam hal biaya, Paguyuban Tritunggal tidak menetapkan seberapa besar tarif mereka. Dasarnya bukanlah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasien, melainkan semangat untuk membantu sesama. “Kalau masalah pembayaran itu sifatnya suka rela mas, lha wong uangnya kita masukin ke amplop terus dikasih ke kotak, cuman gitu aja. Jadi yang tau ya otomatis kita sendiri,” ujar Pujianto. Untuk penyembuhan yang menggunakan media hewan, pasien dibebaskan untuk membawa hewan dari rumah. Tetapi karena kebanyakan pasien tidak mau repot-repot, pasien bisa saja hanya memberikan uang seharga hewan yang akan digunakan untuk media penyembuhan ke Paguyuban Tritunggal. Pujianto adalah salah satu pasien yang tidak mau repot tesebut. Ia hanya menyerahkan uang sebesar Rp. 700.000,00, dan Paguyuban yang membelikan kambingnya sebagai media penyembuhan penyakit Pujianto. Selanjutnya, Pujianto bertemu dengan dukun yang akan menyembuhkannya.

Mbah Sombo, begitulah ia biasa dipanggil. Banyak orang akan terjebak ketika mendengar namanya. Bayangan seorang dukun  dengan muka seram, rambut putih, jimat dan banyak cincin batu di jari akan segera lenyap ketika melihat sosok mbah Sombo. Perawakannya sedang, tidak gemuk, tidak kurus, sekitar 160 cm tingginya, dan sesekali jari-jarinya sibuk memainkan hanphone layar santuh miliknya. Umurnya masih 30 tahunan. Setiap pasien yang ditanganinya akan selalu disambut oleh wajah dan senyumnya yang ramah bersahabat. Kali ini dialah yang menangani Pujianto. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Mbah Sombo juga mempunyai pengalaman berkesan berkait dengan Paguyuban Tritunggal.

“Kenal sini (Paguyuban Tritunggal) tahun 2004, waktu itu saudara saya kena hepatitis C, livernya kena virus, bahkan kata dokter virusnya sudah sampai ke kepala. Leukositnya turun drastis, sampai 67, padahal normalnya 200-300,” cerita mbah Sombo mengenang awal ketertarikannya mengikuti Paguyuban Tritunggal. Beberapa minggu opname di rumah sakit, dokter bilang nyawa saudaranya tinggal sebulan. Sudah hampir 40 hari dirawat di rumah sakit dan tidak sembuh-sembuh, Mbah Sombo berpaling ke Paguyuban Tritunggal. Ia ngomong langsung pada Romo Sapto soal penyakit saudaranya. Malam hari diterapi, besoknya leukositnya langsung naik. Dulu matanya kuning semua, badanya lemas dan bisanya hanya tidur di rumah, setelah diterapi selama seminggu langsung sehat dan bisa langsung beraktifitas.

Nah dari situlah ketertarikan Mbah Sombo untuk belajar menyembuhkan orang, “Kok iso yo?” katanya terheran-heran. Ia kemudian berguru kepada romo Sapto. Menurut beliau, setiap orang bisa menjadi penyembuh karena Tuhan sudah memberikan kepada manusia energi penyembuh semenjak dikandung di rahim ibu. “Nah bagaimana cara mengolah energi penyembuh itulah yang harus dilatih,” terang Mbah Sombo ketika ditanya tentang kemampuan menyembuhkan miliknya.

Kunci dari penyembuhan ala Paguyuban Tritunggal terletak pada interaksi yang kuat antara dukun dan pasien. Sangat penting diadakan dialog pertama kali antara dukun dan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran penyakit yang dihadapi sekaligus sebagai sarana pendekatan personal dan emosional. Proses tersebut tidak dilakukan secara formal dan kaku, melainkan informal dan santai. “Sampai sekarang saya masih sering konsultasi lewat SMS sama mbah Sombo kok mas,” kata Pujianto menanggapi kedekatan relasinya dengan penyembuhnya.

***

Sehari setelah penyelesaian administrasi, terapi pun dimulai. Terapi yang dilakukan adalah terapi transfer energi dengan media hewan. Terapi dilakukan di sebuah ruangan. Ada lima orang plus satu hewan dalam ruangan itu. Mereka adalah mbah Sombo dan tiga asistennya, yang lainnya adalah Pujianto bersama dengan seorang temannya, tak lupa seekor kambing sebagai media transfer energi.

Terapi dilakukan dengan bantuan doa dan energi yang dimiliki oleh para penyembuh. Energi negatif yang terkandung di kanker Pujianto dikeluarkan dan dipindah ke dalam tubuh kambing. “Jadi yang dipindah bukanlah penyakitnya, melainkan energi negatif yang dimiliki oleh penyebab rasa sakit itu, misalnya kanker. Ketika kanker itu sudah kehabisan energi, maka sedikit demi sedikit kanker itu akan kempes dan mati,” terang Mbah Sombo tentang terapi pemindahan energi yang dilakukannya.

Proses penyembuhannya cukup sederhana. Tak ada gerakan-gerakan, maupun mantra-mantra kuno. Si penyembuh hanya menempelkan tangannya di atas perut Pujianto dan diiringi dengan doa-doa yang diucapkan oleh Pujianto maupun tim penyembuh. Ketika ketika proses pemindahan berlangsung, tubuh Pujianto merasakan perubahan drastis. Daerah tubuhnya yang tadinya sakit, terutama pada bagian perut tengah seketika itu juga terasa sangat panas. Proses penyembuhan tahap pertama tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam. Setelah proses penyembuhan pertama tersebut selesai, Pujianto diberikan sebotol air mineral yang sudah didoakan oleh Mbah Sombo untuk diminum. Air mineral memang salah satu barang yang wajib dibawa oleh pasien sebelum melakukan proses terapi untuk kemudian didoakan. Kambing yang ada di dalam ruangan tersebut tetap ditinggal di Paguyuban. Malam setelah proses penyembuhan tahap pertama, perut Pujianto masih terasa panas bahkan lebih panas dari hari sebelumnya. Namun rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Hari berikutnya Pujianto kembali ke Paguyuban untuk proses penyembuhan tahap kedua. Ketika itu dia dihadapkan oleh kambing yang sudah ditransferi energi. Kambing tersebut disembelih dengan disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tampaklah jeroan kambing yang disembelih. Jeroan tersebut terlihat rusak, dan membusuk pertanda energi yang ada di tubuh Pujianto berhasil ditransfer ke dalam tubuh kambing tersebut. “Saya lihat sendiri mas bagaimana bentuk dari jerohan kambing yang baru disembelih. Jerohan tersebut terlihat hitam dan busuk,” kata Pujianto. Jerohan kemudian dilarung ke laut selatan, disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tak cukup sampai di situ, hari berikutnya Pujianto harus menjalani proses terakhir terapi.

Terapi tahap terakhir ini dilakukan tengah malam. Pujianto waktu itu bersama dengan paisen-pasien lain ditempatkan di sebuah ruangan lapang. “Waktu terapi itu mas, saya sama pasien-pasien lain disuruh tidur dipakein jarit (selendang). Dikrukup bareng-bareng. Kayak orang mati,” kata Pujianto mengingat proses terapi terakhir yang dialaminya. Doa-doa dan sajen tak lepas dari proses penyembuhan tersebut. Proses terapi tersebut menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Sama seperti sebelumnya, tubuh Pujianto terasa sangat panas, terutama bagian perutnya. Tubuhnya keluar keringat begitu banyak, namun ada perasaan lebih ringan dan rasa sakitnya berangsur-angsur pulih.

Setelah itu, paginya pakaian-pakaian pasien yang sudah diterapi dikumpulkan. Pakaian-pakaian tersebut kemudian dilarung oleh para dukun. “Saya nggak tau mas pakaian saya dilarung di mana, yang pasti rasanya setelah terapi itu dan beberapa hari kemudian tubuh saya berangsur-angsur membaik,” terang Pujianto. Meskipun tubuh Pujianto sudah tak lagi merasakan sakit, ia tak serta merta lepas kontak dengan Paguyuban Tritunggal. Hingga dua minggu kemudian Pujianto masih berhubungan dengan penyembuhnya, Mbah Sombo. Ia masih melakukan konsultasi untuk tetap menjaga tubuhnya sehat. “Seminggu setelah terapi terakhir saya masih sering ke Paguyuban mas. Kadang-kadang juga masih harus diterapi lagi namun Cuma kecil-kecilan” kata Pujianto lagi. Selain itu Pujianto juga masih sering berkonsultasi dengan dokter bedah yang dulu pernah menanganinya. Seperti yang telah diceritakan di awal tadi, sang dokter geleng-geleng melihat kesembuhan mantan pasiennya.

***

Fenomena kesembuhan Pujianto ternyata bukan hal baru dalam dunia kedokteran (medis konvensional). Selain itu tidak sedikit juga orang yang mengalami pengalaman yang sama dengan yang dialami oleh Pujianto, pengalaman kesembuhan non-evidence medical based. Hal tersebut diamini oleh Dr. Sunarto, salah seorang dosen di Fakultas kedokteran UII Jogjakarta. “Kajian kedokteran untuk pengobatan alternatif yang sifatnya gaib memang masih kurang, namun orang yang mengalami kesembuhan semacam itu tidaklah sedikit. Kita sekarang hidup di alam modern, semua dilihat dari sudut pandang positivisme, jadi semua hal harus bisa dibuktikan dengan indera”, terangnya. Kajian fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto ternyata sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1956. Namanya K.H. Bertench. Menurutnya fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto disebut efek Placebo.

 Efek Plasebo adalah istilah medis untuk terapi baik dalam bentuk obat-obatan maupun prosedur-prosedur medis yang tidak memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien. Plasebo bukanlah obat palsu, tetapi obat atau tindakan penyembuhan yang "dipalsukan" oleh dokter/dukun/penyembuh yang diyakini memiliki dampak positif bagi pasien. Efek plasebo menunjukkan bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia. Karena dengan kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika, efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.

Anne Harrington dalam bukunya “The Placebo Effect: An Interdisciplinary Exploration”, mengatakan bahwa placebo itu layaknya hantu yang yang menakuti rumah kesehtan, dan menakuti objektifitas biomedical, sesuatu yang bangkit dari kegelapan dan mengekspos keparadoksan”

Dalam dunia medis efek plasebo ini membawa dampak kesehatan yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Pernah suatu saat ada sebuah penelitian yang membuktikan efek ini. Penelitian itu menggunakan obat palsu yang terbuat dari tepung biasa namun obat tersebut diberi label analgesik oleh dokter. Pasien yang mencobanya tidak mengetahui bahwa obat tersebut adalah obat palsu. Beberapa saat kemudian pasien tersebut merasakan efek yang mengejutkan karena pasien tersebut tidak lagi merasakan rasa sakit yang dideritanya. “Sebenarnya yang menyembuhkan ia hanyalah sugesti yang diberikan oleh si penyembuh tersebut. Bukan obat atau kekuatan gaib yang diberikan yang membuat reaksi di tubuhnya. Kemungkinan efek Placebo itulah yang menyembuhkan Pujianto dari kanker prankreasnya”, terang Firman Pratama S.T, seorang pengamat dunia kesehatan dalam emailnya kepada penulis.

***

Meskipun begitu, apapun yang bermain di tubuh Pujianto, yang ia rasakan kini adalah kesembuhan. Sekarang wajahnya kembali berseri dan melanjutkan hidupnya lagi dengan keluarganya. Sehatkah Pujianto? Kata mbah sombo kesehatan bukan diukur dalam hal kerusakan fisik apa yang terjadi di tubuh manusia, melainkan apa yang dirasakan oleh manusia itu. Dan memang itulah kebenarannya. 3 bulan lalu, Pujianto dengan senyum khasnya menjadi tamu spesial di acara pengobatan alternatif TVRI Yogyakarta untuk memberikan kesaksian kesembuhannya yang ia sebut sebagai mukjijat kehidupan.

 

Penulis:

Leo Agung Bayu


Transkrip Wawancara tentang Mural dan Grafitti

Grafiti = vandalisme?
Itukan cuma nggampangke persoalan. Orang yang pikirannya konservatif grafiti tidak menarik. Tapi kalo anak muda merka tertarik. Tetapi mungkin yang klasik mereka nggak tertarik. Karena anak muda kan suka yang baru. Ada street art gitu.

Keunikan grafiti di indonesia?
Taun2 awal g ada perbedaan jauh. Secara teknis, visual, dll, masih cenderung meniru dari luar negeri. Masih pada tahap fashion. Tahap berikut, spirit lokal di munculkan. Seperti di jogja mereka teknisnya berbeda, yaitu canpur cat. Cita rasa personal dan lokal juga dimunculkan. Masih pada tahap mencontoh.

Negara meilegalkan, tapi katanya jogja tidak?
Grafiti itu memang ilegal. Di jogaja, mural sudah mulai diterima masarakat dulu, temen grafiti juga pengen. Bahkan pemerintah (walikota) pernah membuat surat undangan untuk membuat grafiti. Waktu itu walikota ada di jernan, dia iri karena di sana bagus. Dia pikir kalo jogja jika dibuat seperti itu basgus. Undangan itu di cetak di KR. Dipotong lalu kalo ditangkap bisa ditunjukkn. Seiring berjalannya waktu masih ada yang di tangkap. Dfimarahi. Persepsi warga joga masih yang lama tentang grafiti, mengotori, merusak, dll. Masarakat prefer mural; than grafiti. Akhirny para bomber memperbaiki kualitasnya dan hasilnya bagus juga.

Setuju sama grafiti yang asal?
Bukan masalah setuju dan g setuju. Cuma kalo nggak bagus ya nggak asik ahh, kan saya seniman. Ini soal selera saja.

Pelegalan grafiti penyimpangn?
Perebutan wilayah. Hasratnya harus ilegal . Seperti penggunaan ganja, klo g ilegal g asik. Lebih menarik ilegal. Kalo menurut sam jika dia jadi pemerintah, ada ruang yang legal dan g legal, menyangkut manajemen kota. Misal ruang bersejarah g boleh di bom.

Grafiti sejaahnya protes.,
Masalah perkemgangn sosial kota. Begitu kota tidak memberikan akses pada kelompok tertentu misal remaja. Dia g punya ruang untuk mennjukan eksistensinya. Lalu mreka bisa meenyalurkan dengan grafiti. Kenapa di deasa g ada grafiti, dangdutan eae. Ada problem sosial, problem yang menengkranm keberadaan mreka. Maka mereka mencoba keluar dari problem itu. Fasion, anak2 muda baca buku supaya tau tren di luar negeri. Resistensi anask ,muda masih rendah terhadap budaya luar dan tren.

Awal kemunculan di indonesia.
Merdeka atau mati bisa dikategorikan itu grafiti.

Eksis di mural?
Sejak taun 97, tapi g begitu ekspert di bidang grafiti. Memakai mural sebatas untuk memahami sebuha ruang. Mural itu pekerjaan lama. Seperti pada jaman purba yang menggambar di gua. Ini revitaliasai Seni keluar dari habitat yang awal (di studio) membagikan pesan, dan kemampuan berkesenbian di ruang terbuka. Menyampaikan banyalk pesan, harapan, dll. Ruang kota dimungkinkan kembali dimiliki oleh warganya. Mural luar ruang dan dalam ruang. Dia memilih yang luar karena bisa dinikmati orng banyak.
Yang di bi,in oleh masa sam, fubngsi yang dibikin. Yang di kampung bisa mengembalikan kesadaran kolekti. Kekerabatan ter5jalin. Ruag2 terbengakali bisa dijadikan tempat memberikan pesan bahwa kampung kami dulu seperti ini dan begini. Mempunyai peranan sosial, membanun kekerabatan.
Perkotaan menjadi lebih manusiawi, karena warga lebih punya peluang iuntuk mendandani rumahnya. Ada kisa2 yang tadinya tidak terlihat ja di mucul.

Pas g dengan budaya tradisional?
Kalo dilihat dari sudut orang tua yang tidak pas, mereka pasti mikirnya ini apa tho? G bisa dibaca? Maunya aapa? Itulah kenyataan bahawa ada perkembangan terbaru bagi warganya bahwa semuanya pasti menacu pada tradisi yang baru. Nggak busa di pungkari bahawa ada perubahan jogja jangan ster5il dari perkembngan. Jogja dadlah kota yang bergerak, tradisi iya, pergerakan sebuah kota memungkinkan muncul banyak hl yang tidak selaras, dgn tradisu.

Sisi negatif.
Kalo grafiti g pas, pasti bikin sumpekl. Seperti bendera partaui yang bikin hueekkkk,,,, sesuatu yang over dosis dan tidak di komposisi dengan baik pasti menyebalkan. Jangan sapai ada kejenuhan.

Grafiti yantg menarik?
Grafiti yang menyuarakan sewsautiu. Ruangnya pas, misal ruang yang kumuh di ikin full kolor. Menambah nilai ruang. Menyampoaikan gagaan yang unik. Pesan2 politik, sosial,dll. Di brasil, ada grafiti puisi2 latin.jangan cuma niru haraus ada karakteristik, aransenren.

Komunitas grafiti2?
Banyak..pak sam bikin komunitas. Joga mural forum. Kegiaananya cuma bikin mural. Bikin workshop.

Konflik antar komunitas?
Rebutan ruang, ditimpa, emosi, mau berantem.warung wijilan, banyak yang kumpul waktu malem.
Kalo mural nggak ada konflik, karena lama mbuatnya, bareng2, dll.
Kami ada disini, itu cuma yabng tulisan, gak menarik.

Grafiti selain jogja?
Perkembangan paling intensif, jogja dan jakarata. Karena pengen dsama atau dekat dengnanask m,usik, band fesyen, dll.

Suka duka murlis?
Ketemu banyak orang, kenalan banyak. Langsung tahu respon orang.proses edukasi mumcul/ dukanya, kalo hujan, capek, biaya besar. Cari\ sponsor. Artinya siapa yang nau suport. Satu kmpung urunan sampai 5 juta. 1 liter 4 mtr persegi. Pake warna preimer, hitam dan putih.
Inspirasi?
Berdasarkan lokasi rung yang penuh jangan yang rumit2 nanti capek. Ide berdasarkan ruang ada di mana, kita ,au ngomong apoa. Klo ,au edukasdi, ceritakan lokal konten, misalny jogokaryan. Erjarah lokasl. Ruang punya spesifikasi seperti a[pa. Misal raung sempit, biar keliatan lebar, pendek biar keliatan tinggi.
Ada masarakat yang menolak, alasannya putih ajaq bagus kok. Sudah bukan tahap senagn nggambar,
tapitahap ini adalah pekerjaanku, bukan main2.

Idealisme komunitas.
Bisa mengumpulkan beragam orang yang berminat dengan perkembangan mural di jogja.
Harapan?
Pengen jogja menjadi kota terpenting perkembangan mural se asia tenggara. Orang2 pada datang ke sini untuk lihat2 penelitian dll.
Belum pernah nggambar seara ilegal. Menghormati.malu kaareaa saya paham itu g boleh.

Malam di Papringan

Malam di Papringan

 

Pada mulanya adalah gelisah. Aku lihat dimana-mana, orang-orang tak mau lagi mengenal kata tersebut. “gelisah”. Mereka terlalu takut. Ya, gelisah menjadi sebuah kata yang menakutkan di jaman ini. Aku paham, orang-orang lebih menyukai kasur empuk ketimbang petualangan. Orang –orang lebih menyukai stabilitas ketimbang perubahan. Benar, hari-hari ini kata mapan selalu yang dicari-cari. Nyali mereka ciut ketika dihadapkan dengan kata “kenyataan” sedangkan “mimpi” menjadi pemenang. Beberapa orang mengaggap kenyataan itu ilusi, beberapa orang terlelap dalam mimpinya, sedangkan beberapa orang menganggap mimpi-mimpinya adalah kenyataan. Mereka gila. Dan mereka ditertawai kegilaan. Aku dianggap gila, lalu aku ditertawai mereka yang ditertawai kegilaan.

Selanjutnya adalah kesendirian. Untuk saat ini kesendirian adalah teman terbaikku. Entah, bukan bermaksud asosial, namun hanya saja aku merasa semua orang muak dengan ide-ideku. Aku percaya, tubuh mampu menjadi rapuh, ia gampang disiksa, dibunuh, lalu dibuang, namun ide tidak akan pernah mati. Ide itu semacam kanker yang ketika dibuang, akar-akarnya akan tetap menancap kuat. Lalu bertumbuh lagi menjadi berlipat ganda. Ia seperti ilalang, berisik. Juga mengusik. Dibabat, namun tetap berlipat. Ia semacam suara Tan Malaka yang lebih lantang teriakkannya di luar, ketimbang di dalam kuburan tubuhnya sendiri. Orang-orang mungkin saja melupakan sebuah ide. Namun ia menjelma masa lalu. Ia menjelma sejarah. Dan sejarah selalu menemukan jalannya sendiri. Ia akan mengejar realita, juga peristiwa. Serupa trauma masa lalu. Semakin dilupakan, semakin mencengkram erat. Walau di bawah sadar.

Malam ini bulan seperti celurit. Tipis dan tajam. Keras dan dingin. Warnanya perak pucat. Dengan hiasan mendung kelabu di samping-sampingnya. Aku berjalan di bawahnya. Di antara dinding-dinding urban, yang dinamai, lorong. Mungkin sudah ribuan kali aku berjalan di lorong ini. Lorong-lorong gelap juga becek dekat aku bertempat tinggal di kost yang lembab dan sempit. Seisi lorong mungkin sudah menghapaliku, seperti juga aku kepada mereka. Pak Guno namanya. Ia selalu duduk di depan gerobak baksonya tiap jam 2 pagi. Matanya kosong, seperti isi gerobak dan dompetnya. Entah esoknya ia mau berjualan atau tidak. Lalu di sela tong sampah berwarna hitam, selalu kutemukan 3-5 kecoak menari-nari. Jendela tua tak berkaca. 12 lubang retak di jalan, juga air yang senantiasa menggenanginya. Tak lupa bekas muntahan habis minum ciu dari pedagang siomay yang 3 minggu lalu dicerai istrinya karena terus-terusan kalah judi.

Malam ini aku lapar. Seperti malam-malam sebelumnya. Seperti masa masa laluku setelah mengejar-ngejar aku, namun tak menemukan karena aku pandai bersembunyi. Lapar. Honor hasil memberi tutorial untuk sebuah institusi di kampusku kemarin hari sekarang sudah ludes. Kubuat bayar uang kuliahku. Semakin gila saja kampusku. Telat bayar dapat denda.

Aku pusing. Lalu menemukan sebotol bekas aqua. Entah, tapi aku tahu isinya bukan minuman bersoda. Namun air mata. Kulihat tulisannya, “diambil dari mata air dari mata pak Tugiman”.

Penulis: Leo Agung Bayu


SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN

SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN

Tulisan ini saya buat untuk menanggapi sidang KOK kemarin. Sebenarnya banyak sekali pasal yang ingin saya beri tanggapan, tapi untuk saat ini satu pasal dulu. Menurut saya pasal ini sedikit banyak mencerminkan ideologi apa yang dianut oleh USD. 

“Fungsionaris yang menjadi ketua umum DPMU atau DPMF, Presiden BEMU atau Gubernur BEMF, ketua UKM, ketua UKF, HMJ/HMPS, serta ketua komisi dan ketua bidang tidak berstatus sebagai mahasiswa perguruan tinggi lain” (KOK, Bab X, pasal 22, ayat 3) 

Artinya: Mahasiswa yang merangkap belajar di perguruan tinggi lain selain sanata dharma TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN HAKNYA sebagai mahasiswa sanata dharma untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi formal apapun di kampus sadhar. 

Inilah pendapat para mahasiswa yang pro dengan pasal tersebut beserta dengan pendapat saya: 

1.       - "Apa kita tidak malu dipimpin sama mahasiswa dari kampus lain?"

          - "Di mana harga diri kampus kita?" 

Dari pernyataan di atas kita dapat melihat betapa USD berhasil memberi hegemoni dogmatik kepada para mahasiswanya, bahwa USD lebih unggul daripada kampus-kampus lain. Mahasiswa dibuat sangat superior terhadap kampus-kampus lain. Keyakinan tersebut  menurut saya bersifat fanatik dan dapat menimbulkan fanatisme sempit. Seakan-akan sesuatu tersebut sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan.  Dihadapkan dengan keyakinan semacam itu saya beranggapan bahwa hal tersebut bisa disebut sebagai pemusnahan nalar. Nalar seakan-akan dilupakan sebagai jalan untuk mencari kebenaran karena sudah tertutup oleh fanatisme sempit. Pemusnahan nalar terutama digunakan dalam rangka pelanggengan kekuasaan ras, kerajaan atau pemimpin.

Istilah “oposan” seharusnya tidak ada dalam sebuah sistem fasis. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak negara/penguasa, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi. Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin pemerintah. Hitler bahkan pernah mengatakan, bahwa “kebenaran terletak pada perkataan yang berulang-ulang”. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif kebenarannya. Sama seperti pendidikan di USD, doktrinasi dilakukan di ruang-ruang kelas lewat dosen-dosen, lewat mata kuliah-mata kuliah. Lewat week end moral, lewat PPKM, dll. Mahasiswa diprogram sedemikian rupa hingga dapat dengan mudah “dikendalikan”. 

2.       - "Lebih baik yang jadi ketua organisasi berasal dari anak sadar asli."

          - "Itu jatahnya anak sadhar!" 

Anak sadhar asli? Apa itu anak sadhar asli? Setahu saya mahasiswa yang belajar di sanata dharma dan melengkapi kelengkapan administrasi sadhar mulai dari membayar uang DPP, UKT, atau pun SKS adalah mahasiswa resmi institusi pendidikan universitas sanata dharma. Sederhananya, setiap orang yang membeli jasa pendidikan yang dijual oleh sadhar adalah mahasiswa USD. Logikanya sederhana kan? USD jual, gue beli... Lalu bagaimana dengan mahasiswa USD yang juga berkuliah di kampus lain? Apakah hak-haknya harus dibedakan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang hanya berkuliah di USD? Menurut saya tidak. Jika itu dilakukan maka saya bisa menyebutnya sebagai diskriminasi dengan alasan yang tidak logis. Mahasiswa yang rangkap kuliahnya juga mempunyai kewajiban yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa USD lain, masak mereka tidak mempunyai hak yang sama?

Dalam fasisme, manusia tidaklah sama, justru pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus melampaui yang lemah, mahasiswa yang cuma kuliah di USD melampaui mahasiswa yang juga belajar di universitas lain. Dilihat dari sudut pandang itu, USD menolak adanya persamaan. 

3.       "Masak kita mau presiden kita orang malaysia?" 

Jika dilihat menggunakan analogi seperti itu maka USD adalah negara indonesia, dan mahasiswa yang merangkap belajar di universitas lain adalah orang malaysia. Ketua organisasi mahasiswa (BEM, DPMU, UKM, dll misalnya) adalah presidennya. Selain analogi yang digunakan kurang tepat, pernyataan mahasiswa di atas menunjukkan adanya keyakinan bahwa mahasiswa USD yang merangkap studinya di universitas lain harus disingkirkan demi “kemurnian ras USD”.hahaha....

Setahu saya, fasisme bersifat total dalam meminggirkan sesuatu yang dianggap “kaum pinggiran”. Hal inilah yang dialami kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K, yaitu: kinder (anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum Fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti pembunuhan dan penganiayaan. Dalam USD, yang dibunuh dan dibatasi adalah hak mahasiswa yang merangkap studi di universitas lain untuk mencalonkan dirinya sebagai pemimpin organisasi mahasiswa. 

4.       "Mahasiswa sadar juga banyak yang kompeten kok masak mau pilih yang lain?" 

Beneran nihh? Calon wakil presiden BEM aja nggak tau KOK itu apa. Paling-paling nyalon jadi presiden BEM juga biar gampang dapat kerjaan di USD. Kalo kompeten dalam bidang akademis sih banyak, tapi dalam pembacaan situasi kampus, wacana, dan politik kampus?

5.       "Gimana kalau studinya kerepotan?" 

Pendapat terakhir inilah yang paling bisa saya terima dan cukup logis juga. Dari pendapat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa hanya kuliah di sadhar saja beban kuliahnya sudah sangat banyak, apalagi ditambah dengan beban studi kampus lain, lalu kapan mengurus organisasinya?

Setahu saya sebelum menjadi ketua, baik itu BEM, DPMU, UKM, dan organisasi kemahasiswaan yang lain harus melalui tahap seleksi dulu, malah ada yang memakai tahap test dahulu. Jika calon yang bersangkutan menyatakan sanggup dan mau berkomitmen dengan tugas-tugasnya di organisasi yang dipimpinnya, kenapa tidak? Lagi pula “studinya kerepotan” itu kan memang sudah konsekuensi dari pemimpin dari organisasi mahasiswa, karena selain sebagai pemimpin dia juga seorang mahasiswa juga.

 

Unsur-unsur pokok dalam ideologi fasisme = ketidakpercayaan pada kemampuan nalar, pengingkaran derajat kemanusiaan, kode prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan, pemerintahan oleh kelompok elit, totaliterisme, militerisme, dan Rasialisme. Lengkap sudah...terdapat di USD...

 


ABOUT GOD

Lagi iseng baca-baca blog dan sedikit ngantuk, tiba-tiba aku nemu tulisan tentang TUHAN yang aku dapat dari sini, ngantuk langsung ilang, karena tulisan tentang TUHAN ini sangat menarik (menurutku), yang ditulis oleh Soe Tjen Marching, seorang feminis kelahiran Surabaya, 23 April 1971:

TUHAN

Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan,
kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah
Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya
mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar
sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling tidak yang
mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang membuat mulut bocah saya
terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan: “Mengapa perempuan
tidak bisa menjadi pastor?”

Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini?
Ketercengangan, kebingungan dan keresahan manusia akan alam terkadang
menuntunnya untuk mencari Yang Maha Kuasa. Karena itulah, manusia
sempat menyembah gunung, matahari atau cahaya apa saja dari langit.
Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan
tidak bukan adalah Yang paling ditakuti. Kepercayaan pada yang maha
kuasa memang sering didasarkan pada ke-egoisan.

Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi rejeki yang
melimpah dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok Tuhan
dengan sesaji. Tidaklah heran bagi manusia seperti ini, Tuhan adalah
diktator yang selalu menuntut.
Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia melupakanNya.
Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada manusia. Dengan
kata lain, dia serupa dengan manusia yang menyembahNya: sebuah
keberadaan yang menuntut dan tidak mandiri. Yang tak rela diduakan. Yang selalu
tergantung pada elu-eluan penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.

Dan tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan dalam sosok
pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai utusan
Tuhan, dalam sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang Maha Tinggi,
atau pada pemerintah Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga dalam pejabat tinggi
negara kita yang memaksa para warganya untuk menulis agama mereka. Dan dalam
keroyokan yang mengamuk, merusak dan
menyerang insan-insan yang tak mempercayai Tuhan tertentu.

Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan dualisme
tajam: Yang Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia untuk memuja
terkadang sama besarnya dengan ambisinya untuk dipuja. Karena itulah,
Tuhan dan pengikutnya seringkali menjadi cermin yang memantulkan
persona yang sama. Dan karena itu pula, si pengikut dapat berlaku
seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal
ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa yang abstrak
dan menjadi metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan mereka. Apa
yang menjadi kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang mengakibatkan
tangis dan membawa mangsa.

Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa, seakan
tidak lain adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena gambaran
seperti inilah yang
memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka sendiri dengan
gambaran yang begitu melambung dan dilambungkan.
Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh kekecewaan narsis
mereka. Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika kelompok lain
menawarkan interpretasi yang berlawanan dari ide mereka, ketika
manusia layaknya Musdah Mulia (yang membela LGBT) atau Ahmadiyah yang
mempunyai pandangan baru tentang Tuhan, ego pengeroyok inilah yang
telah tersakiti. Karena pada saat
itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa harapan
mereka tak akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk merombak
keyakinan mereka atau
paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Namun, narsis yang marah
karena kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu benar, besar,
dan kekar.

Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan Tuhan. Bagi
banyak atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat diungkap.
Dengan bukti dan akal. Namun, sains sendiripun seringkali relatif dan
dapat disanggah: Teori Newton dipatahkan oleh Einstein yang menawarkan
teori relativitas. Teori Einstein ditentang lagi oleh Neils Bohr yang
menyatakan bahwa teori Einstein tidak cukup relative karena Einstein
luput mengindahkan karakter kuantum mekanik
yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh
subyektifitas sang peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi oleh
Everett, dan seterusnya dan
seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran, manusia tak
pernah dapat menemukan jawaban akhir yang pasti.

Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan pencarian
dalam sains? Karena keduanya menyiratkan pertanyaan-pertanyaan akan
keberadaan, kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita sebagai
manusia.

Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan kebenaran,
kita akan ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada habisnya. Dalam
pusaran-pusaran teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang di
dalamnya selalu ada jurang begitu
dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat kita kunjungi.
Namun, hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari dan mencari.

Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan bahwa ada suatu
keindahan yang tiada tara, yang tak pernah dapat kita mengerti.
Sesuatu yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena
ketidak-mengertian inilah, Einstein terus mencari.
Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat, keinginan untuk
mengambil jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang dapat
menuntun manusia untuk
merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia ini, terdapat
bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut lebih dari
200 tuhan dalam sejarah dunia.
Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan menari dalam
segala getarannya, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu statik:
berhenti dan terpaku dalam suatu zona tempat dan waktu? Dalam sebuah
dogma yang membuahkan amarah? Tuhan yang dilahirkan oleh dogma adalah
Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat dibunuh oleh para atheis. Tuhan yang
telah saya bunuh.

Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita pada
ketidak-tahuan. Pada pertanyaan. Dan terkadang, kebingungan. Karena
itu, kita harus siap tidak
saja untuk menemukan keindahan yang tiada tara, namun juga kekecewaan..
Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak bukan
pencarian akan esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita yang tak
terlihat namun ada. Esensi
yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Karena itulah Chuan Tzu
berkata: “Kita berkata ˜aku˜, namun tahukah kita siapa dan apa artinya
˜aku?”.

Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada dan tanpa,
saya dapat berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun saya percaya
akan tuhan. tuhan yang tak berkelamin, yang tak semena-mena, yang tak
maha tinggi dan yang tak maha Esa. Dalam tuhan yang seperti ini, saya
dapat bertakwa.

(**Soe Tjen Marching, penulis buku The Discrepancy between the Public
and the Private Selves of Indonesian Women diterbitkan oleh the Edwin
Mellen Press).

anarkisme 2

Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa kalian harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak kalian, menjadi majikan kalian, merampok kalian, ataupun memaksa kalian. Itu berarti bahwa kalian harus bebas untuk melakukan apa yang kalian mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang kalian mau serta hidup didalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan.

Alexander Berkman

iseng2 nyatet kotbahnya romo

Kemanakah kita arahkan hidup kita? Tertuju ke kehidupan surgawi, atau duniawi? Orang-orang saduki memiliki satu masalah besar, yakni mereka tidaak dapat memahami surga melampaui apa yang dapat mereka lihat dengan mata telanjang! Bukankah kita juga sama seperti mereka? Kita tidak mengenal realitas spiritual sebab kita menggambarkan surga sebagaimana kit menggambarkan dunia.
Kitab suci membuktikan bahwa ketika Allah menampakkan kehadiranNya kepada musa di semak bernyala, Allah mengatakan kepada musa bahwa Dia adalah Allah Aabraham, alah Iskhak, dan Yakub. Dengan pernyataan itu, Allah menunjukkan bahwa para bapa bangsa telah meninggal ribuan tahun lalu masih hidup di dalam Allah. Allah adalah Allah orang hidup.
Bukti yang paling autentik adalah kebangkitan Yesus dar kubur. Sebelum Yesus membangkitkan Lasaruz dari mati Dia berseru. ’Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepadaku ia akan hidup dan peraya padaku ia akan hidup walaupun ia sudah mati.dan setiap orang yang hidup yang percaya padaku tidakakan mati selama-lamanya. Percayalah engkau akan hal ini? Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita. Apakah kita percaya pada kebangkitan? Apakah kita sekarang sungguh-sungguh hidup dalm kegembiraan

relung teroka

Gurun hati semakin sunyi
Ikan tawes seakan memaki atau memuji
Cethul berlari, dalam naungan Ilahi, tanpa menggurui
Tapi aku tetap terpaku, belajar dari cethul

Gurun hati tetap sunyi
Kinjeng abang, kinjeng ijo, kinjeng dom
Matanya melek awasi hati
Hatiku yang sedang hati-hati
Mencari kepastian, dalam tarian saman ketidakpastian

Gurun hati masih sunyi
Kambing mengejek
Mengejek si bodoh
Yang sedang mencari jalan, dengan mata tertutup

Gurun hati dalam sunyi
Kodok melotot, memarahi aku
Sebentar sebentar ia tertawa...mulutnya semakin lebar
Karena aku? Karena kamu? Atau mereka?

Alter ego mengumpat... bodoh...
Tak ada yang memaki, tidak ada yang mengejek...
Tiada yang memarahi, bahkan menggurui..
Semua hanya memahami
Memuji...menari...dan bernyanyi....
Untuk Guru Ilahi....

Gurun hati masih sunyi....Sunyi?

Sasana krida jatijejer, ’07
Medio januari

iseng-iseng nulis tentang anoman

Hei perkenalkan, namaku Anoman. Semua orang yang mengaku jawa asli pasti pasti mengenalku. Memang aku adalah salah satu tokoh wayang yang terkenal dalam kisah ramayana. Wujudku kera. Ya! Aku adalah kera! Asli kera! Tapi kamu boleh terkejut melihat buluku yang putih ini. Aku sendiri tidak menyangka mempunyai bulu yang berbeda dari golonganku. Huh...aku sempat protes pada sang Hyang Widi mengapa aku dilahirkan dengan keadaan seperti ini. Mengapa aku dilahirkan dalam rupa ker, mengapa aku dilahirkan dengan bulu yang berbeda dan aneh. Suatu kali aku pernah bertanya pada dewi Anjani yang notabene adalah ibuku, tentu saja beliau juga berwujud kera. Sebenarnya beliau adalah seorang manusia, tapi beliau dikutuk oleh Batara Guru menjadi seekor kera karena hasratnya untuk memiliki sebuah pusaka sakti. Aku bertanya pada ibuku, mengapa aku dilahirkan sebagai seekor kera. Jawabnya : ”Anakku, kera adalah titah yang merindukan kesempurnaan manusia. Kera paling dekat pada bentuk seorang manusia, bahkan nyaris! Janganlah kau anggap itu semuanya sebagai ketidakadilan dari dewata, tetapi sebagai kerinduan akan kesempurnaan. Anakku, berbahagialah kamu, karena kerinduan itulah yang menciptakan kerendahan hati dan harapan. Lebih baik tidak sempurna tapi merindukan kesempurnaan daripada menggunakan kesempurnaan itu untuk dosa. Dan bulumu yang putih adalah lambang kesucian dan keolosanmu anakku.
Sebenarnya waktu itu aku merasa sendirian. Tak ada kera yang mau berteman denganku karena aku ’berbeda’ tapi lama-lama aku sadar bahwa kesunyian dan kesendirian bukan berarti kesepian. Aku memang sendirian, tapi aku tidak kesepian! Kata ibuku, waktu memunyai 4 saudara yaitu ari, darah, ketuban, dan pusarku. Mereka berpencarke utara, timur, barat, dan selatan di bumi ini. hingga akhir hayat aku akan mencari mereka.