Laporan Utama natas "Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo"

Laporan Khusus majalah natas 2011

 

Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo

Ketika penyembuhan alternatif menjadi pilihan terakhir

 

Juli 2011, wajah Pujianto (26) dihiasi senyum berseri-seri sementara raut wajah dokter bedah yang merawatnya mendadak berkernyit heran. Pasalnya, hasil rontgent Pujianto menunjukkan bahwa pasien yang telah dirawatnya selama enam bulan tersebut benar-benar sembuh total dari penyakit yang hampir mustahil disembuhkan, yaitu kanker prankreas stadium lanjut. Padahal ketika pertama kali dirawat, Pujianto layaknya pasien yang putus harapan hidupnya. Matanya berwarna kuning, badannya terasa sakit semua sampai-sampai digerakkan pun susah, bahkan perut pun terasa segan mencerna makanan. Kini, semenjak divonis sembuh total, Pujianto tak lagi merasakan itu semua. “Dokter yang merawat saya heran banget lho mas, saya bisa sampai seperti ini. Soalnya saya memang sengaja tidak memberitahu beliau tentang proses kesembuhan saya. Saya tidak memberitahu dokter saya, bahwa selain berobat di rumah sakit, saya juga berobat di praktek penyembuhan alternatif,” katanya sambil tersenyum simpul.

***

Kisah Pujianto dimulai delapan bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Maret 2011.Waktu itu perut tengah Pujianto terasa sakit seperti ditusuk-tusuk, badannya kadang panas, kadang menggigil kedinginan. Untuk bekerja ringan saja tubuh bagian atasnya sulit untuk digerakkan. “Rasanya nyeri dan panas,” katanya. Terpaksalah Pujianto berhenti bekerja. Beberapa hari kemudian matanya berwarna kuning. Tubuhnya lemas tak berdaya sementara rasa sakit di perut masih saja menyiksa. Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya, Pujianto memutuskan untuk memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit kecil di Wates. Ketika diperiksa tekanan darahnya, dibuat kagetlah Pujianto oleh tensimeter yang terpasang di lengannya. Alat pengukur tekanan darah tersebut menunjukkan tekanan sistolenya berada jauh di bawah rata-rata normal (120 mm/hg) yaitu 60mm/hg.

Diagnosa dokter pertama kali adalah Pujianto terkena pes, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) lewat kutu tikus, Xenophylla astia. Penyakit pes seperti ini pernah menjadi wabah dan membunuh lebih dari 20 juta orang di Eropa pada abad pertengahan. Dinamakan “Kematian Hitam” (Black Death) karena keganasannya. Setelah perawatan dan pemberian obat dari rumah sakit selama sebulan, alih-alih sembuh, keadaan Pujianto malah semakin memburuk. Perutnya terasa semakin sakit dan terasa panas. Dokter yang menanganinya seketika itu juga menyatakan menyerah untuk menyembuhkan Pujianto. Sehari setelahnya, pria kelahiran Imogiri tersebut dirujuk ke sebuah Rumah Sakit yang lebih besar di kota Yogyakarta.

Kali ini Pujianto ditangani oleh dokter bedah profesional. Diagnosa pun dilakukan. Hasilnya membuat bulu kuduk Pujianto bergidig. Ternyata bukan pes-lah yang menyebabkan sakit perutnya selama ini, melainkan kanker prankreas stadium lanjut. Kanker pankreas dalam dunia kedokteran disebut penyakit yang “diam”. Kanker itu tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit ketika masih dalam stadium dini. Oleh karena itu bisa dipahami jika ternyata tahu-tahu kanker Pujianto sudah dalam keadaan stadium lanjut. Kanker itu menghalangi saluran empedu umum. Cairan dari empedu pun tidak dapat masuk ke dalam sistim pencernaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan kulit dan putih mata menjadi berwarna kuning, seperti yang dialami Pujianto. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol terlalu seringlah yang ditenggarai sebagai penyebab penyakitnya itu.

Dokter menyarankan untuk melakukan operasi saja. Operasi Pujianto dilakukan seminggu setelah vonis. Kanker yang diangkat tidaklah tuntas semua, melainkan hanya kanker yang menyumbat di usus Pujianto saja. “Ini mas bekasnya, rasanya masih gatal di jahitannya,” kata Pujianto menunjukkan gurat bekas operasi di perutnya. Setelah operasi, Pujianto tidak langsung sembuh melainkan harus menjalani rangkaian perawatan medis lagi yang tentu saja memakan banyak sekali biaya. Padahal orang tua Pujianto hanyalah seorang petani. Sepuluh hari pasca operasi, Pujianto pulang.  Tak berhenti sampai di situ, sepuluh hari di rumah, dia kembali ke rumah sakit karena sakitnya kambuh lagi. Kocek yang harus dirogoh Pujianto untuk pengobatan di Rumah Sakit sudah mencapai 12 juta, namun penyakitnya belum juga pergi.

Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sudah tanpa harapan itu, Pujianto pasrah dan menyerahkan hidup matinya di tangan Allah. Bahkan Pujianto sempat berbicara pada istrinya bahwa dia sudah menyerah. Keluarganya cemas. “Waktu itu saya sudah pasrah mas, terserah Allah mau bagaimana. Kasihan juga melihat keluarga sudah banting tulang untuk menyembuhkan saya,” kenangnya. Sedikit harapan muncul ketika seorang tetangga Pujianto menyarankan untuk mencoba penyembuhan tradisional. Bukan tanpa alasan, tetangga Pujianto itu memang sudah pernah membuktikan kemujaraban terapi penyembuhan tradisional itu. Nama tempat penyembuhan tersebut adalah Paguyuban Tritunggal. Pujianto tertarik, dan ia mencobanya. Ketika sampai di paguyuban tersebut Pujianto masih terlihat lemah. Matanya masih kekuningan dan tekanan darahnya masih tak tertolong.

***

Sekitar 50 kilometer dari Argorejo Sedayu, tempat Pujianto tinggal, Paguyuban Tritunggal membuka tempat prakteknya. Tepatnya di Babarsari Yogyakarta, belakang Universitas Atmajaya. Tidak ada yang aneh dari tempat penyembuhan tradisional Paguyuban Tritunggal. Dari luar tampak seperti bangunan-bangunan di sekitarnya, bercat putih, pagar putih, dan pintu kayu cokelat. Yang membedakan hanyalah banner merah bertuliskan Paguyuban Tritunggal di teras, dan bau harum  dupa yang menyapa setiap hidung yang lewat di depan bangunan itu. Masuk ke ruangan pertama kali, Pujianto disambut ramah oleh lukisan-lukisan atraktif di tembok hijau dan seorang pemuda berpakaian hitam yang mengurusi bagian administrasi awal.

            Paguyuban Tritunggal resmi menangani pasien sejak tahun 1997. Didirikan oleh seseorang yang dipanggil Romo Sapto. Nama Tritunggal dipakai sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Jawa yang berasal dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Ditilik dari sudut pandang modern, penyembuhan ala Tritunggal disebut penyembuhan holistik. Artinya aspek spiritual dan psikologis pasien juga menjadi pertimbangan dalam proses penyembuhan. Berbeda dengan medis konvensional yang lebih menitikberatkan pada aspek biologis (mekanis) saja. Metode yang digunakan berasal dari ilmu kejawen warisan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sejak dulu. Paguyuban ini tidak membuka praktek secara ilegal. Proses perijinan yang panjang dan berliku dari badan standardisasi kesehatan pemerintah hingga ijin pendirian usaha sudah dilalui oleh Tritunggal.

Terapi yang dilakukan sama sekali tidak menggunakan obat atau pun jamu. Tidak ada pula pantangan yang harus dilakukan oleh pasien. Bahkan kontak fisik pun hampir tidak ada. Penyembuhannya murni menggunakan energi yang oleh Paguyuban Tritunggal disebut “Srah-srahan Nawa Sanga”. Artinya ada Sembilan lubang energi ditubuh manusia yang bisa menjadi jalan keluar masuknya penyakit atau energi penyembuh. Lubang itu terdapat di mata, hidung, telinga, mulut, pusar, kemaluan, anus, tangan dan kaki. Proses penyembuhan yang dilakukan tidak selalu dilakukan jarak dekat. Jika dibutuhkan, penyembuhan bisa dilakukan lewat jarak jauh. Penyembuhan jarak jauh bisa dilakukan dengan mengirimkan energi penyembuh lewat telepon genggam atau pun media foto. Selain itu penyembuhan juga dilakukan dengan metode transfer energi dari manusia ke hewan. Hewan macam kambing dipilih untuk penyakit-penyakit berat macam kanker stadium lanjut atau jantung koroner. Selain kambing, kelinci juga bisa menjadi pilihan, namun untuk penyakit yang lebih ringan.

Dalam hal penyembuhan, paguyuban tritunggal tidak menerapkan adanya pantangan apapun kepada pasiennya. Karena itu, meskipun dokter menyarankan Pujianto untuk menghindari minum kopi, ia tetap saja menyeruput minuman kesukaannya itu ketika menjalani terapi di Paguyuban Tritunggal. Mereka juga tidak melarang pasiennya berobat juga di medis konvensional. Yang penting tidak ke penyembuhan tradisional yang lain, karena beda energi. Yang menjadi ketakutan adalah adanya energi yang bertolakbelakang dengan energi yang digunakan oleh Paguyuban Tritunggal. Jika itu terjadi maka pasien tidak akan sembuh, malah bisa-bisa tambah parah.

            Pasien yang datang ke paguyuban tersebut rata-rata adalah pasien buangan dari rumah sakit, atau yang sudah bosan dengan pengobatan medis konvensional. Kebanyakan pasien yang datang adalah pasien yang dokternya sudah angkat tangan. Malah, terkadang para dokter yang sudah angkat tangan tersebut menyarankan pasiennya berobat ke Paguyuban Tritunggal. Dalam artian pasien tersebut secara medis konvensional sudah mustahil untuk disembuhkan. Penyakit-penyakit berat macam kanker stadium lanjut, tumor atau jantung koroner adalah penyakit-penyakit yang sering mampir di Paguyuban ini. Selain itu Paguyuban Tritunggal juga kondang dalam menyembuhkan penyakit-penyakit “kiriman” seperti santet, gendam, atau pelet. Tak hanya itu, paguyuban ini pun juga melayani ruwatan untuk menghilangkan kesialan supaya rejeki lebih lancar mengalir.

Awalnya Pujianto diberi petunjuk dulu tentang masalah administrasi. Dalam hal biaya, Paguyuban Tritunggal tidak menetapkan seberapa besar tarif mereka. Dasarnya bukanlah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasien, melainkan semangat untuk membantu sesama. “Kalau masalah pembayaran itu sifatnya suka rela mas, lha wong uangnya kita masukin ke amplop terus dikasih ke kotak, cuman gitu aja. Jadi yang tau ya otomatis kita sendiri,” ujar Pujianto. Untuk penyembuhan yang menggunakan media hewan, pasien dibebaskan untuk membawa hewan dari rumah. Tetapi karena kebanyakan pasien tidak mau repot-repot, pasien bisa saja hanya memberikan uang seharga hewan yang akan digunakan untuk media penyembuhan ke Paguyuban Tritunggal. Pujianto adalah salah satu pasien yang tidak mau repot tesebut. Ia hanya menyerahkan uang sebesar Rp. 700.000,00, dan Paguyuban yang membelikan kambingnya sebagai media penyembuhan penyakit Pujianto. Selanjutnya, Pujianto bertemu dengan dukun yang akan menyembuhkannya.

Mbah Sombo, begitulah ia biasa dipanggil. Banyak orang akan terjebak ketika mendengar namanya. Bayangan seorang dukun  dengan muka seram, rambut putih, jimat dan banyak cincin batu di jari akan segera lenyap ketika melihat sosok mbah Sombo. Perawakannya sedang, tidak gemuk, tidak kurus, sekitar 160 cm tingginya, dan sesekali jari-jarinya sibuk memainkan hanphone layar santuh miliknya. Umurnya masih 30 tahunan. Setiap pasien yang ditanganinya akan selalu disambut oleh wajah dan senyumnya yang ramah bersahabat. Kali ini dialah yang menangani Pujianto. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Mbah Sombo juga mempunyai pengalaman berkesan berkait dengan Paguyuban Tritunggal.

“Kenal sini (Paguyuban Tritunggal) tahun 2004, waktu itu saudara saya kena hepatitis C, livernya kena virus, bahkan kata dokter virusnya sudah sampai ke kepala. Leukositnya turun drastis, sampai 67, padahal normalnya 200-300,” cerita mbah Sombo mengenang awal ketertarikannya mengikuti Paguyuban Tritunggal. Beberapa minggu opname di rumah sakit, dokter bilang nyawa saudaranya tinggal sebulan. Sudah hampir 40 hari dirawat di rumah sakit dan tidak sembuh-sembuh, Mbah Sombo berpaling ke Paguyuban Tritunggal. Ia ngomong langsung pada Romo Sapto soal penyakit saudaranya. Malam hari diterapi, besoknya leukositnya langsung naik. Dulu matanya kuning semua, badanya lemas dan bisanya hanya tidur di rumah, setelah diterapi selama seminggu langsung sehat dan bisa langsung beraktifitas.

Nah dari situlah ketertarikan Mbah Sombo untuk belajar menyembuhkan orang, “Kok iso yo?” katanya terheran-heran. Ia kemudian berguru kepada romo Sapto. Menurut beliau, setiap orang bisa menjadi penyembuh karena Tuhan sudah memberikan kepada manusia energi penyembuh semenjak dikandung di rahim ibu. “Nah bagaimana cara mengolah energi penyembuh itulah yang harus dilatih,” terang Mbah Sombo ketika ditanya tentang kemampuan menyembuhkan miliknya.

Kunci dari penyembuhan ala Paguyuban Tritunggal terletak pada interaksi yang kuat antara dukun dan pasien. Sangat penting diadakan dialog pertama kali antara dukun dan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran penyakit yang dihadapi sekaligus sebagai sarana pendekatan personal dan emosional. Proses tersebut tidak dilakukan secara formal dan kaku, melainkan informal dan santai. “Sampai sekarang saya masih sering konsultasi lewat SMS sama mbah Sombo kok mas,” kata Pujianto menanggapi kedekatan relasinya dengan penyembuhnya.

***

Sehari setelah penyelesaian administrasi, terapi pun dimulai. Terapi yang dilakukan adalah terapi transfer energi dengan media hewan. Terapi dilakukan di sebuah ruangan. Ada lima orang plus satu hewan dalam ruangan itu. Mereka adalah mbah Sombo dan tiga asistennya, yang lainnya adalah Pujianto bersama dengan seorang temannya, tak lupa seekor kambing sebagai media transfer energi.

Terapi dilakukan dengan bantuan doa dan energi yang dimiliki oleh para penyembuh. Energi negatif yang terkandung di kanker Pujianto dikeluarkan dan dipindah ke dalam tubuh kambing. “Jadi yang dipindah bukanlah penyakitnya, melainkan energi negatif yang dimiliki oleh penyebab rasa sakit itu, misalnya kanker. Ketika kanker itu sudah kehabisan energi, maka sedikit demi sedikit kanker itu akan kempes dan mati,” terang Mbah Sombo tentang terapi pemindahan energi yang dilakukannya.

Proses penyembuhannya cukup sederhana. Tak ada gerakan-gerakan, maupun mantra-mantra kuno. Si penyembuh hanya menempelkan tangannya di atas perut Pujianto dan diiringi dengan doa-doa yang diucapkan oleh Pujianto maupun tim penyembuh. Ketika ketika proses pemindahan berlangsung, tubuh Pujianto merasakan perubahan drastis. Daerah tubuhnya yang tadinya sakit, terutama pada bagian perut tengah seketika itu juga terasa sangat panas. Proses penyembuhan tahap pertama tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam. Setelah proses penyembuhan pertama tersebut selesai, Pujianto diberikan sebotol air mineral yang sudah didoakan oleh Mbah Sombo untuk diminum. Air mineral memang salah satu barang yang wajib dibawa oleh pasien sebelum melakukan proses terapi untuk kemudian didoakan. Kambing yang ada di dalam ruangan tersebut tetap ditinggal di Paguyuban. Malam setelah proses penyembuhan tahap pertama, perut Pujianto masih terasa panas bahkan lebih panas dari hari sebelumnya. Namun rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Hari berikutnya Pujianto kembali ke Paguyuban untuk proses penyembuhan tahap kedua. Ketika itu dia dihadapkan oleh kambing yang sudah ditransferi energi. Kambing tersebut disembelih dengan disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tampaklah jeroan kambing yang disembelih. Jeroan tersebut terlihat rusak, dan membusuk pertanda energi yang ada di tubuh Pujianto berhasil ditransfer ke dalam tubuh kambing tersebut. “Saya lihat sendiri mas bagaimana bentuk dari jerohan kambing yang baru disembelih. Jerohan tersebut terlihat hitam dan busuk,” kata Pujianto. Jerohan kemudian dilarung ke laut selatan, disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tak cukup sampai di situ, hari berikutnya Pujianto harus menjalani proses terakhir terapi.

Terapi tahap terakhir ini dilakukan tengah malam. Pujianto waktu itu bersama dengan paisen-pasien lain ditempatkan di sebuah ruangan lapang. “Waktu terapi itu mas, saya sama pasien-pasien lain disuruh tidur dipakein jarit (selendang). Dikrukup bareng-bareng. Kayak orang mati,” kata Pujianto mengingat proses terapi terakhir yang dialaminya. Doa-doa dan sajen tak lepas dari proses penyembuhan tersebut. Proses terapi tersebut menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Sama seperti sebelumnya, tubuh Pujianto terasa sangat panas, terutama bagian perutnya. Tubuhnya keluar keringat begitu banyak, namun ada perasaan lebih ringan dan rasa sakitnya berangsur-angsur pulih.

Setelah itu, paginya pakaian-pakaian pasien yang sudah diterapi dikumpulkan. Pakaian-pakaian tersebut kemudian dilarung oleh para dukun. “Saya nggak tau mas pakaian saya dilarung di mana, yang pasti rasanya setelah terapi itu dan beberapa hari kemudian tubuh saya berangsur-angsur membaik,” terang Pujianto. Meskipun tubuh Pujianto sudah tak lagi merasakan sakit, ia tak serta merta lepas kontak dengan Paguyuban Tritunggal. Hingga dua minggu kemudian Pujianto masih berhubungan dengan penyembuhnya, Mbah Sombo. Ia masih melakukan konsultasi untuk tetap menjaga tubuhnya sehat. “Seminggu setelah terapi terakhir saya masih sering ke Paguyuban mas. Kadang-kadang juga masih harus diterapi lagi namun Cuma kecil-kecilan” kata Pujianto lagi. Selain itu Pujianto juga masih sering berkonsultasi dengan dokter bedah yang dulu pernah menanganinya. Seperti yang telah diceritakan di awal tadi, sang dokter geleng-geleng melihat kesembuhan mantan pasiennya.

***

Fenomena kesembuhan Pujianto ternyata bukan hal baru dalam dunia kedokteran (medis konvensional). Selain itu tidak sedikit juga orang yang mengalami pengalaman yang sama dengan yang dialami oleh Pujianto, pengalaman kesembuhan non-evidence medical based. Hal tersebut diamini oleh Dr. Sunarto, salah seorang dosen di Fakultas kedokteran UII Jogjakarta. “Kajian kedokteran untuk pengobatan alternatif yang sifatnya gaib memang masih kurang, namun orang yang mengalami kesembuhan semacam itu tidaklah sedikit. Kita sekarang hidup di alam modern, semua dilihat dari sudut pandang positivisme, jadi semua hal harus bisa dibuktikan dengan indera”, terangnya. Kajian fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto ternyata sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1956. Namanya K.H. Bertench. Menurutnya fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto disebut efek Placebo.

 Efek Plasebo adalah istilah medis untuk terapi baik dalam bentuk obat-obatan maupun prosedur-prosedur medis yang tidak memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien. Plasebo bukanlah obat palsu, tetapi obat atau tindakan penyembuhan yang "dipalsukan" oleh dokter/dukun/penyembuh yang diyakini memiliki dampak positif bagi pasien. Efek plasebo menunjukkan bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia. Karena dengan kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika, efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.

Anne Harrington dalam bukunya “The Placebo Effect: An Interdisciplinary Exploration”, mengatakan bahwa placebo itu layaknya hantu yang yang menakuti rumah kesehtan, dan menakuti objektifitas biomedical, sesuatu yang bangkit dari kegelapan dan mengekspos keparadoksan”

Dalam dunia medis efek plasebo ini membawa dampak kesehatan yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Pernah suatu saat ada sebuah penelitian yang membuktikan efek ini. Penelitian itu menggunakan obat palsu yang terbuat dari tepung biasa namun obat tersebut diberi label analgesik oleh dokter. Pasien yang mencobanya tidak mengetahui bahwa obat tersebut adalah obat palsu. Beberapa saat kemudian pasien tersebut merasakan efek yang mengejutkan karena pasien tersebut tidak lagi merasakan rasa sakit yang dideritanya. “Sebenarnya yang menyembuhkan ia hanyalah sugesti yang diberikan oleh si penyembuh tersebut. Bukan obat atau kekuatan gaib yang diberikan yang membuat reaksi di tubuhnya. Kemungkinan efek Placebo itulah yang menyembuhkan Pujianto dari kanker prankreasnya”, terang Firman Pratama S.T, seorang pengamat dunia kesehatan dalam emailnya kepada penulis.

***

Meskipun begitu, apapun yang bermain di tubuh Pujianto, yang ia rasakan kini adalah kesembuhan. Sekarang wajahnya kembali berseri dan melanjutkan hidupnya lagi dengan keluarganya. Sehatkah Pujianto? Kata mbah sombo kesehatan bukan diukur dalam hal kerusakan fisik apa yang terjadi di tubuh manusia, melainkan apa yang dirasakan oleh manusia itu. Dan memang itulah kebenarannya. 3 bulan lalu, Pujianto dengan senyum khasnya menjadi tamu spesial di acara pengobatan alternatif TVRI Yogyakarta untuk memberikan kesaksian kesembuhannya yang ia sebut sebagai mukjijat kehidupan.

 

Penulis:

Leo Agung Bayu


Transkrip Wawancara tentang Mural dan Grafitti

Grafiti = vandalisme?
Itukan cuma nggampangke persoalan. Orang yang pikirannya konservatif grafiti tidak menarik. Tapi kalo anak muda merka tertarik. Tetapi mungkin yang klasik mereka nggak tertarik. Karena anak muda kan suka yang baru. Ada street art gitu.

Keunikan grafiti di indonesia?
Taun2 awal g ada perbedaan jauh. Secara teknis, visual, dll, masih cenderung meniru dari luar negeri. Masih pada tahap fashion. Tahap berikut, spirit lokal di munculkan. Seperti di jogja mereka teknisnya berbeda, yaitu canpur cat. Cita rasa personal dan lokal juga dimunculkan. Masih pada tahap mencontoh.

Negara meilegalkan, tapi katanya jogja tidak?
Grafiti itu memang ilegal. Di jogaja, mural sudah mulai diterima masarakat dulu, temen grafiti juga pengen. Bahkan pemerintah (walikota) pernah membuat surat undangan untuk membuat grafiti. Waktu itu walikota ada di jernan, dia iri karena di sana bagus. Dia pikir kalo jogja jika dibuat seperti itu basgus. Undangan itu di cetak di KR. Dipotong lalu kalo ditangkap bisa ditunjukkn. Seiring berjalannya waktu masih ada yang di tangkap. Dfimarahi. Persepsi warga joga masih yang lama tentang grafiti, mengotori, merusak, dll. Masarakat prefer mural; than grafiti. Akhirny para bomber memperbaiki kualitasnya dan hasilnya bagus juga.

Setuju sama grafiti yang asal?
Bukan masalah setuju dan g setuju. Cuma kalo nggak bagus ya nggak asik ahh, kan saya seniman. Ini soal selera saja.

Pelegalan grafiti penyimpangn?
Perebutan wilayah. Hasratnya harus ilegal . Seperti penggunaan ganja, klo g ilegal g asik. Lebih menarik ilegal. Kalo menurut sam jika dia jadi pemerintah, ada ruang yang legal dan g legal, menyangkut manajemen kota. Misal ruang bersejarah g boleh di bom.

Grafiti sejaahnya protes.,
Masalah perkemgangn sosial kota. Begitu kota tidak memberikan akses pada kelompok tertentu misal remaja. Dia g punya ruang untuk mennjukan eksistensinya. Lalu mreka bisa meenyalurkan dengan grafiti. Kenapa di deasa g ada grafiti, dangdutan eae. Ada problem sosial, problem yang menengkranm keberadaan mreka. Maka mereka mencoba keluar dari problem itu. Fasion, anak2 muda baca buku supaya tau tren di luar negeri. Resistensi anask ,muda masih rendah terhadap budaya luar dan tren.

Awal kemunculan di indonesia.
Merdeka atau mati bisa dikategorikan itu grafiti.

Eksis di mural?
Sejak taun 97, tapi g begitu ekspert di bidang grafiti. Memakai mural sebatas untuk memahami sebuha ruang. Mural itu pekerjaan lama. Seperti pada jaman purba yang menggambar di gua. Ini revitaliasai Seni keluar dari habitat yang awal (di studio) membagikan pesan, dan kemampuan berkesenbian di ruang terbuka. Menyampaikan banyalk pesan, harapan, dll. Ruang kota dimungkinkan kembali dimiliki oleh warganya. Mural luar ruang dan dalam ruang. Dia memilih yang luar karena bisa dinikmati orng banyak.
Yang di bi,in oleh masa sam, fubngsi yang dibikin. Yang di kampung bisa mengembalikan kesadaran kolekti. Kekerabatan ter5jalin. Ruag2 terbengakali bisa dijadikan tempat memberikan pesan bahwa kampung kami dulu seperti ini dan begini. Mempunyai peranan sosial, membanun kekerabatan.
Perkotaan menjadi lebih manusiawi, karena warga lebih punya peluang iuntuk mendandani rumahnya. Ada kisa2 yang tadinya tidak terlihat ja di mucul.

Pas g dengan budaya tradisional?
Kalo dilihat dari sudut orang tua yang tidak pas, mereka pasti mikirnya ini apa tho? G bisa dibaca? Maunya aapa? Itulah kenyataan bahawa ada perkembangan terbaru bagi warganya bahwa semuanya pasti menacu pada tradisi yang baru. Nggak busa di pungkari bahawa ada perubahan jogja jangan ster5il dari perkembngan. Jogja dadlah kota yang bergerak, tradisi iya, pergerakan sebuah kota memungkinkan muncul banyak hl yang tidak selaras, dgn tradisu.

Sisi negatif.
Kalo grafiti g pas, pasti bikin sumpekl. Seperti bendera partaui yang bikin hueekkkk,,,, sesuatu yang over dosis dan tidak di komposisi dengan baik pasti menyebalkan. Jangan sapai ada kejenuhan.

Grafiti yantg menarik?
Grafiti yang menyuarakan sewsautiu. Ruangnya pas, misal ruang yang kumuh di ikin full kolor. Menambah nilai ruang. Menyampoaikan gagaan yang unik. Pesan2 politik, sosial,dll. Di brasil, ada grafiti puisi2 latin.jangan cuma niru haraus ada karakteristik, aransenren.

Komunitas grafiti2?
Banyak..pak sam bikin komunitas. Joga mural forum. Kegiaananya cuma bikin mural. Bikin workshop.

Konflik antar komunitas?
Rebutan ruang, ditimpa, emosi, mau berantem.warung wijilan, banyak yang kumpul waktu malem.
Kalo mural nggak ada konflik, karena lama mbuatnya, bareng2, dll.
Kami ada disini, itu cuma yabng tulisan, gak menarik.

Grafiti selain jogja?
Perkembangan paling intensif, jogja dan jakarata. Karena pengen dsama atau dekat dengnanask m,usik, band fesyen, dll.

Suka duka murlis?
Ketemu banyak orang, kenalan banyak. Langsung tahu respon orang.proses edukasi mumcul/ dukanya, kalo hujan, capek, biaya besar. Cari\ sponsor. Artinya siapa yang nau suport. Satu kmpung urunan sampai 5 juta. 1 liter 4 mtr persegi. Pake warna preimer, hitam dan putih.
Inspirasi?
Berdasarkan lokasi rung yang penuh jangan yang rumit2 nanti capek. Ide berdasarkan ruang ada di mana, kita ,au ngomong apoa. Klo ,au edukasdi, ceritakan lokal konten, misalny jogokaryan. Erjarah lokasl. Ruang punya spesifikasi seperti a[pa. Misal raung sempit, biar keliatan lebar, pendek biar keliatan tinggi.
Ada masarakat yang menolak, alasannya putih ajaq bagus kok. Sudah bukan tahap senagn nggambar,
tapitahap ini adalah pekerjaanku, bukan main2.

Idealisme komunitas.
Bisa mengumpulkan beragam orang yang berminat dengan perkembangan mural di jogja.
Harapan?
Pengen jogja menjadi kota terpenting perkembangan mural se asia tenggara. Orang2 pada datang ke sini untuk lihat2 penelitian dll.
Belum pernah nggambar seara ilegal. Menghormati.malu kaareaa saya paham itu g boleh.