BAYANG-BAYANG MILITERISME DI KELAS SPD

BAYANG-BAYANG MILITERISME DI KELAS SPD

Penulis :  Leo Agung Bayu W

 

 

“Dan seharusnya pendidikan yang baik memperlakukan mahasiswa sebagai manusia, hukuman boleh-boleh saja asal masih dalam batas kewajaran.” (Wakil Rektor I, Dr. Fr. Ninik Yudianti, M. Acc.)

 

Sejak didirikan pertama kali oleh Profesor Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD) adalah lembaga yang sangat menjunjung tinggi humanisme. Hal tersebut tertuang dalam visi-misi universitas yaitu universitas berusaha untuk mencetak lulusan yang unggul dalam bidang akademik dan diharapkan menjadi mahasiswa yang humanis pula. Dalam buku panduan Akademik 2008, di bab pengenalan visi dan misi universitas, salah satu representasi nya adalah pendidikan yang humanis, dialogis, dan utuh. Artinya, soft skill pun dipertimbangkan dalam mendidik mahasiswa. Tapi tampaknya ada pemalingan wajah humanisme ketika kita melihat kelas SPD di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Sanata Dharma.

SPD adalah singkatan dari Service Program Design. Kelas ini didirikan tahun 1997 dan menjadi ciri khas PBI Sanata Dharma, karena di universitas lain tidak ada. Jika dilihat sejarahnya, menurut Ag. Hardi Prasetyo, Spd., M. A, Kaprodi PBI, kelas yang diampu oleh dua Dosen PBI, Lanny Ambarwati, Spd., M. hum dan Wismoko, Spd., M.A ini didirikan sebagai mata kuliah kewirausahaan. Namun, sekarang berganti menjadi Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKKB). Mahasiswa PBI wajib mengikuti kelas yang dimaksud ketika sudah memasuki semester enam.

Kelas SPD, lain dari pada yang lain. Penekanannya, lebih pada kegiatan pelatihan kepemimpinan dan kerja sama. Setelah mengikuti kelas tersebut mahasiswa  diharapkan dapat menjadi seorang enterpreneur (wirausahawan) yang handal. “SPD merupakan kelas yang mendidik mahasiswa menjadi manajer yang baik sehingga handal dalam mengatur dirinya sendiri. Di kelas tersebut, mahasiswa diajarkan kedisiplinan dan akan mengalami pengembangan diri dengan kemampuan manajerial,” ujar Chosa Kastuhandani, Spd., M, Hum, salah satu Dosen PBI Sanata Dharma.

Ketika megikuti kelas SPD, mahasiswa PBI diwajibkan untuk bekerja dalam kelompok, yang terdiri dari sedikitnya enam mahasiswa. Dalam satu kelompok tersebut mahasiswa harus bekerja sama untuk membuat proyek atau rancangan kursus pelatihan bahasa Inggris. Selanjutnya, proyek dijual ke instansi tertentu dan harus berhasil. Sebagai tandanya, mahasiswa akan mendapatkan uang dan kontrak dari instansi yang bersangkutan.  Jika tidak berhasil, mahasiswa dianggap gagal dan harus mengulang semester depan.

Dalam kelas ini pulalah, biasanya dosen mengundang tamu penting untuk memberikan pengajaran atau hanya sekedar berbincang-bincang saja. “Waktu itu, Kak Seto pernah diundang di kelas. Beliau menjelaskan banyak hal kepada kami. Selain beliau, juga ada tamu penting lain untuk memberi motivasi kepada kami,” kata Paulina, mahasiswa PBI ‘05 yang pernah mengikuti kelas SPD tersebut.

 

Peraturan-Peraturan Kontroversial

Banyak kontroversi yang membayangi kelas elit ini, sehingga bagi kebanyakan mahasiswa PBI, kelas SPD menjadi momok yang menakutkan. Peraturan-peraturan yang ketat dan semimiliter menyebabkan mahasiswa menjadi keder ketika akan mengambil kelas tersebut. “Sebenarnya ngeri juga sih, soalnya dengar-dengar kelas itu punya peraturan yang sangat ketat,” kata Paulina.

Yustian, mahasiswa PBI, angkatan 2008 juga tidak sependapat dengan peraturan yang ada dalam kelas itu. “Kata kakak tingkat, peraturannya sangat ketat. Tidak boleh ini dan itu. Yah, semimiliterlah,” ujarnya.

Peraturan yang membuat mahasiswa bergidik karena mendengarnya, harus mau tidak mau ditaati tanpa pandang bulu. Misalnya, tidak diperbolehkan terlambat masuk kelas satu detik pun setelah dosen masuk. Kelas yang digunakan untuk SPD juga tidak berada di Kampus I, melainkan di Ruang Koendjono lantai empat Gedung Pusat USD. Untuk menuju kelas tidak diperbolehkan menggunakan lift. Masuk ke kelas satu senti di belakang dosen adalah sebuah pelanggaran berat. “Pernah ada pengalaman, teman saya waktu itu mau masuk kelas, berjalan di depan dosen, lalu ketika hampir masuk dia mempersilahkan dosennya masuk lebih dulu, itu pun dianggap terlambat,” ujar Paulina ketika ditanya tentang pengalamannya mengikuti kelas SPD.

Kelas yang dimulai jam setengah tujuh pagi dan diadakan tiap hari Senin itu, meninggalkan jejak-jejak ketakutan tersendiri bagi mahasiswa. Mahasiswa harus masuk pukul 06.20 WIB untuk absensi, padahal banyak dari mereka yang tempat tinggalnya sangat jauh dari kampus. “Mahasiswa bisa kost sementara di dekat kampus untuk mengakali supaya tidak terlambat mengikuti kelas,” kata Mayora, mahasiswa PBI 2005.

Menyoal masalah absensi, kelas SPD juga tidak memperbolehkan satu kali pun absen, sehingga jika mahasiswa sakit dan diharuskan untuk opname, dia harus mengulang lagi semester depan. “Jadi kita harus benar-benar menjaga kesehatan untuk mengkuti kelas ini, karena absen satu kali pun tidak boleh. Jadi meski sakit, mahasiswa harus tetap masuk kelas sehingga dosen bisa tahu apakah dia sakit atau tidak. Kalau benar-benar terlihat sakit barulah dosen mengizinkan untuk tidak mengikuti pelajarannya,” sahut Mayora lagi.

Peraturan lainnya yaitu diwajibkan memakai pakaian formal dan call card dikalungkan di leher, lengkap dengan sepatu vantovel dan high heel bagi mahasiswi. Hand out pun harus selalu dibawa. Hal-hal yang kecil dan sepele tidak luput dari perhatian, misalnya ketika mengikuti kuliah, tidak diperkenankan menguap sedikit pun, walaupun mungkin kantuk menyerang dengan sangat. Sanksi yang diberikan pada mahasiswa jika menguap ketika kuliah berlangsung adalah keluar dari kelas dan harus mengulang semester depan. “Waktu itu ada teman saya yang menguap ketika kelas sedang berlangsung dan seketika itu juga dia dikeluarakan. Parahnya, dia harus mengulang semester depan,” ujar Paulina.

 Pernah ada seorang mahasiswi yang mengantuk di tengah-tengah pelajaran lalu dia disuruh push up di depan kelas. Ada juga peraturan yang mengharuskan mahasiswa untuk berjalan dengan tenang dan teratur, meringkas buku dengan ditulis rapi dan sama, jika tidak begitu harus menulis ulang.

Selain yang disebutkan di atas masih ada sederet peraturan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. “Semua itu pasti ada alasannya,” kata Paulina menanggapi aturan-aturan yang ada selama ini. Mengungkit masalah peraturan yang diterapkan, menurut Paulina, Lanny mengungkapkan bahwa dengan adanya peraturan-peraturan tersebut mahasiswa dilatih untuk menjadi disiplin. “Kedisiplinan adalah modal utama menghadapi dunia luar yang sangat kejam,” tandasnya.

Chosa juga mengamini diterapkannya aturan-aturan tersebut. “Menurut saya kelas SPD sangat penting bagi mahasiswa. Kelas ini bertujuan untuk menanamkan modal dalam menghadapi dunia yang sesungguhnya, sebab dunia yang sesungguhnya memang keras, kejam, dan penuh tantangan,” ujarnya.  Di samping itu pula menurut Chosa, SPD merupakan sarana untuk menggembleng mahasiswa agar tidak terbuai dengan semua yang memanjakan.

Ketika ditanya tentang pentingnya kedisiplinan dan ketatnya peraturan, Wakil Rektor I, Dr. Fr. Ninik Yudianti, M. Acc., pun ikut angkat bicara. “Waktu itu saya mengikuti pertemuan di UGM untuk membahas lulusan dari Yogyakarta, khususnya UGM. Lulusan dari Jogja, kurang tough (ulet-red) dan struggle (bergelut-red) dalam dunia kerja yang penuh persaingan. Mereka kurang berani menyatakan pendapatnya dan hanya manut saja, sehingga seperti hanya menjadi kuli. Dengan adanya SPD ini, diharapkan lulusan kita bisa lebih unggul dari lulusan manapun,” terang WR I.

Untuk peraturan yang melarang terlambat masuk kelas satu detik saja, Hardi Prasetyo menanggapi hal tersebut dengan menganalogikan bom waktu. Ketika bom waktu dijinakkan terlambat satu detik saja, maka semua bisa hancur berantakan.

Sanata Dharma mempunyai sistim treasure study, artinya para alumni Sanata Dharma memberikan masukan-masukan atau evaluasi untuk prodi yang dulu diikutinya. Banyak dari alumni PBI yang mengapresiasi program kuliah SPD dan Play Performence. “Para alumni meminta untuk mempertahankan pelajaran SPD dan Play Performence karena dari sanalah mereka belajar banyak hal termasuk untuk meningkatkan soft skill mereka. Kebanyakan dari mereka merasa beruntung telah mengikuti kelas tersebut,” tambah Hardi Prasetyo lagi.

Menurut Lanny, hukum kontinuitas sangat ditekankan dalam kelas ini. Oleh karena itu, peraturan presensi memang sengaja tidak memperbolehkan mahasiswa absen walaupun hanya satu kali. “Artinya satu kali saja tidak mengikuti proses, maka proses-proses selanjutnya tidak akan terkejar,” tutur Paulina. Lalu bagaimana dengan peraturan absensi universitas yang membolehkan mahasiswa tidak hadir hingga 25% dari keseluruhan perkuliahan?

WR I selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap kurikulum di Sanata Dharma dengan tegas mengungkapkan bahwa dosen dan prodi diperbolehkan menetapkan aturan presensi sendiri. “25% adalah batas maksimal, kurang dari itu diperbolehkan, sedangkan lebih dari 25% tidak boleh,” tandasnya.

 

Sudah Humaniskah Kelas SPD?

Menurut WR I USD, pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang kembali pada tujuan awal, yaitu memanusiakan manusia. “Tapi perlu diingat juga bahwa pendidikan yang baik yakni pendidikan yang tidak memanjakan, harus ada unsur ketaatan pada aturan-aturan yang harus ditaati bersama. Meskipun begitu, hukuman yang diberikan seharusnya sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa,” terangnya.

Tidak jauh berbeda dengan WR I, Kaprodi PBI juga mendefinisikan pendidikan yang humanis yakni pendidikan yang mendisiplinkan mahasiswa. “Menurut saya kelas SPD itu sudah humanis, aturan-aturan yang semimiliter itu ditujukan agar mahasiswa lebih disiplin, menghargai waktu, menghargai orang lain, dan bertanggungjawab atas pilihannya,” kata Hardi Prasetyo. Hal tersebut juga diamini oleh Paulina dan Mayora. Mahasiswa PBI  yang pernah mengikuti kelas SPD itu memaparkan keuntungan dan manfaat perkuliahan tersebut bagi mahasiswa. Menurut mereka, dengan mengikutinya mahasiswa akan semakin disiplin dan  lebih trampil. Dalam wawancara kami dengan Bu Lanny, beliau berkata bahwa program SPD adalah primadonanya prodi PBI. Program ini adalah program eksperiental yang artinya untuk benar-benar memahami program ini, harus mengikuti dulu kelas SPD. “SPD bukan hanya sekedar teori belaka tapi lebih ke praktek. Dengan mengikuti kelas SPD ini mahasiswa akan merasakan bagaimana rasanya memasuki dunia kerja di luar yang keras, sehingga siap menghadapinya,” tandasnya.

Meskipun demikian, banyak mahasiswa yang memandang kelas SPD sebagai suatu hal yang negatif. Salah satunya adalah Pipit, seorang mahasiswi PBI 2006. Dia berpendapat jika kelas SPD hanya akan mencetak mahasiswa seperti robot yang harus menaati semua aturan tanpa ada timbal balik dari mahasiswa. “Di mana letak pendidikan yang dialogis, seperti yang ditulis di misi USD?” tanyanya kemudian.

Sama halnya dengan Pipit, Guruh Riyanto, mahasiswa Sastra Inggris 2005 melihat SPD sebagai ajang pemenuhan tuntutan para kapitalis yang kejam. Tak heran jika mahasiswa yang dicetak akibat perkuliahan ini nantinya akan menjadi mahasiswa yang kejam, kompetitif tanpa pandang bulu dengan ambisi meraih kemenangan. Menurutnya, SPD itu sering diplesetkan kepanjangan dari Servis untuk para Pemegang Dana (modal). Ada juga mahasiswa yang berpendapat bahwa ada kekerasan pendidikan di kelas tersebut. “Sepertinya kelas SPD itu adalah ajang kekerasan dalam pendidikan, kata-kata disiplin itu hanya kedok untuk memperkukuh kekuasan, membuat mahasiswa menjadi seperti sebuah robot saja. Pilihan-pilihan yang seharusnya ada banyak dihilangkan dengan paksa,” ujar Guruh.

Clarina, PBI 2008, melihat kelas itu dari sudut pandang lain. Menurutnya, kelas SPD sebenarnya baik untuk membangun komitmen, tetapi dia kurang setuju dengan cara pengajaran yang mengutamakan hukuman dan penerapan pada mahasiswa. Idealnya, seorang mahasiswa akan menjadi baik jika berkembang atas dasar kesadaran diri bukan rasa takut. Menurutnya pula, secara psikologis hukuman berat yang diberikan kurang baik. Selain alasan pikologis, mahasiswa yang harus mengulang juga akan mengalami kerugian ekonomi. Bagi mereka yang mampu mungkin tidak masalah, tapi untuk mereka kurang mampu dari segi finansial, tentunya hal itu sangat memberatkan. “Bayangkan saja, apa jadinya jika ada mahasiswa rajin mengikuti kelas dan aturan yang ada, namun karena kesalahan satu kali ia harus dikeluarkan.apalagi tahun depannya lagi harus mengulang?” ungkapnya.

 Melihat fakta yang demikian, WR I menuturkan jika semua yang kita lakukan adalah sebuah proses pembelajaran. Setiap proses pasti ada positif dan negatifnya, termasuk kelas SPD, sehingga perlu evaluasi secara terus menerus demi kebaikan bersama. Pendidikan yang baik memperlakukan mahasiswa sebagai manusia. Kehadiran hukuman tentunya diperbolehkan, asalkan masih dalam batas kewajaran.

Ketika mahasiswa melakukan pelanggaran, misalnya terlambat karena ada hal teknis yang tak terduga, dengan bijak Lanny sering berujar di kelas.  Everything can always go wrong, semuanya bisa terjadi kesalahan.” “Contohnya adalah ketika itu pacar saya terlambat satu menit karena alasan ban sepeda motornya tiba-tiba bocor di tengah jalan. Dia harus menambalnya sehingga terlambat mengikuti kuliah SPD. Konsekuensinya, mengulang semester depan,” kata Andre, mahasiswa PBI ‘04.

Andre juga menjelaskan bahwa semua yang telah dipersiapkan dengan baik pun bisa saja gagal karena sesuatu di luar kontrol individu. Di kelas SPD ini, kita dituntut agar sebisa mungkin meminimalkan hal tersebut dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Selain kata itu, ada kata lain yang sering diucapkan Lanny yaitu “life is choice”, artinya ketika kamu sudah memutuskan untuk memilih kelas ini maka kamu harus mempertanggungjawabkan pilihanmu. Ketika ada saudara yang meninggal kamu tinggal memilih yang mana, kelas SPD atau melayat. Ketika kamu memilih melayat, kamu harus meninggalkan kelas SPD. Artinya, tahun depan harus mengulang lagi. Begitulah Paulina menguraikan sedikit tentang hadirnya kelas SPD di prodinya.

 

 

Repotase bersama :   Richi Rikardus Petrus A

                                    Sabina Thipani

                                    Petrus Purwanto


kiri

Marxisme
Karl Marx

Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem politik. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dab penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.

Anarkisme dan Marxisme

Saat komunisme anarkis dan Marxisme[1] adalah dua filsafat politik yang berbeda, terdapat beberapa kemiripan antara metodologi dan ideologi yang dikembangkan oleh beberapa anarkis dan Marxis, bahkan sejarah keduanya juga saling beririsan. Keduanya berbagi tujuan-tujuan jangka panjang yang serupa (komunisme tanpa negara), musuh politik yang sama (konservatif dan elemen-elemen sayap kanan), melawan target-target struktural yang sama (kapitalisme dan pemerintahan yang eksis saat ini). Banyak Marxis telah turut berpartisipasi dengan sepenuh hati dalam revolusi-revolusi anarkis, dan banyak anarkis yang juga berlaku demikian dalam revolusi-revolusi Marxis. Tetapi bagaimanapun juga, anarkisme dan Marxisme tetap menyimpan saling ketidaksetujuan yang kuat atas beberapa isu, termasuk di dalamnya peran alamiah negara, struktur kelas dalam masyarakat dan metoda materialisme historis. Dan selain bentuk kerjasama, terjadi juga konflik-konflik berdarah antara para anarkis dan Marxis, seperti yang terjadi dalam represi-represi yang dijalankan oleh para pendukung Uni Soviet melawan para anarkis.

Argumen-Argumen Seputar Isu Negara

Para ahli ilmu-ilmu politik modern pada umumnya mendefinisikan "negara" sebagai sebuah institusi yang tersentralisir, hirarkis dan berkuasa yang mengembangkan sebuah monopoli atas penggunaan kekuasaan fisik yang terlegitimasi, tak beranjak dari definisi yang awalnya diajukan oleh seorang sosiologis Jerman, Max Weber, dalam esai tahun 1918-nya, Politik-Politik Sebagai sebuah Lapangan Pekerjaan. Definisi ini diterima oleh nyaris semua mazhab-mazhab pemikiran politik modern selain Marxisme, termasuk di dalamnya anarkisme. Marxisme memiliki definisi yang unik tentang negara: negara adalah sebuah organ represi kelas yang satu atas kelas yang lain. Bagi para Marxis, setiap negara secara intrinsik adalah sebuah kediktatoran kelas yang satu atas kelas lainnya. Dengan demikian, dalam teori Marxis dipahami bahwa lenyapnya kelas akan berbarengan dengan lenyapnya negara.
Bagaimanapun juga, tetap terdapat pertemuan di antara kedua kubu. Para anarkis percaya bahwa setiap negara secara tak terelakkan akan didominasi oleh elit-elit politik dan ekonomi, yang dengan demikian secara efektif menjadi sebuah organ dominasi politik. Dari sudut yang berbeda, para Marxis percaya bahwa represi kelas yang berhasil selalu mengikutsertakan kapasitas kekerasan yang superior, dan bahwa seluruh masyarakat selain sosialisme dikuasai oleh sebuah kelas minoritas, maka dalam teori Marxis semua negara non-sosialis akan memiliki karakter negara seperti yang diyakini oleh para anarkis.

Proses Transisi

Teori tentang negara menentukan secara langsung pertanyaan praksis tentang bagaimana transisi menuju masyarakat tanpa negara yang diidam-idamkan baik oleh para anarkis maupun Marxis tersebut mengambil bentuknya.
Kaum Marxis percaya bahwa sebuah transisi yang berhasil menuju komunisme, yang jelas berarti masyarakat tanpa negara, akan membutuhkan sebuah represi atas para kapitalis yang apabila dibiarkan tentu akan membangun kembali kekuatannya, dan akan dibutuhkan juga eksistensi negara dalam sebuah bentuk yang dikontrol oleh para pekerjanya. Kaum anarkis menentang "negara pekerja" yang diadvokasikan oleh para Marxis sebagai sesuatu yang tidak logis semenjak sesegera sebuah kelompok mulai memerintah melalui aparatus negara, maka mereka akan berhenti menjadi pekerja (apabila sebelumnya mereka adalah pekerja) dan dengan demikian akan segera bertransformasi menjadi penindas baru. Kaum anarkis mendukung argumen mereka dengan merujuk pada Uni Soviet yang berkarakter anti demokrasi serta berbagai negara "Marxis" lain, sementara para Marxis mendukung argumen mereka dengan merujuk pada kehancuran revolusi-revolusi yang dipimpin para anarkis semacam dalam Revolusi Meksiko 1910 dan Perang Saudara Spanyol.
Dengan demikian, kaum anarkis berusaha untuk "menghancurkan" negara yang eksis saat ini, serta segera menggantikannya dengan konsil-konsil pekerja, sindikat-sindikat atau berbagai metoda organisasional yang desentralis dan non-hirarkis. Kaum Marxis secara kontras, justru berusaha "merebut kekuasaan", yang berarti secara gradual mengambil alih negara borjuis yang eksis saat ini, atau menghancurkan negara yang eksis saat ini melalui sebuah revolusi dan menggantinya dengan sebuah negara baru yang tersentralisir (Leninisme, Trotskyisme, Maoisme) atau melalui sebuah sistem konsil pekerja (Komunisme Konsilis, Marxisme Otonomis).
Posisi kaum Marxis melebur ke dalam anarkisme pada akhir spektrumnya, karena kaum anarkis juga saling tidak setuju di antara mereka sendiri tentang bagaimana sebuah sistem konsil pekerja yang demokratis dan memonopoli kekerasan akan dapat dianggap sebagai sebuah struktur negara atau tidak, sementara kaum Marxis bertengkar di antara mereka sendiri sebagian besarnya atas bentuk kediktatoran proletariat.

Partai Politik

Isu perebutan negara mengarah pada isu tentang keberadaan partai politik, yang juga memisahkan jalan antara kaum anarkis dan Marxis. Kebanyakan kaum Marxis melihat partai politik sebagai sesuatu yang berguna atau bahkan dibutuhkan untuk merebut kekuasaan negara, semenjak mereka kebanyakan melihat bahwa sebuah upaya yang terkoordinasi dan tersentralisirlah yang akan mampu mengalahkan kelas kapitalis dan negara, serta memapankan sebuah badan koordinasi yang mampu mempertahankan revolusi. Partai politik juga menjadi sentral perjuangan semenjak mayoritas kaum Marxis percaya bahwa kesadaran kelas harus disuntikkan ke dalam kelas pekerja, yang seringkali harus dilakukan oleh mereka yang berada di luar kelas tersebut. Tapi bagaimanapun juga, kaum Marxis saling berbeda pendapat tentang apakah sebuah partai revolusioner harus turut serta dalam sebuah pemilu borjuis atau tidak, peran apa yang harus dijalankan pasca revolusi, dan bagaimana ia harus diorganisir. Di sisi lain, para anarkis umumnya menolak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan, menolak membentuk sebuah partai politik, semenjak mereka melihat struktur organisasinya yang hirarkis sebagai sebuah kedenderungan otoritarian dan menindas, walaupun toh kebanyakan kaum anarkis juga tak mampu menjawab tentang bagaimana sebuah kesadaran revolusioner dapat dibangkitkan tanpa keberadaan kekuatan kelompok-kelompok pelopor, yang bagi kaum Marxis terwujud melalui partai politik. Bagaimanapun juga perdebatan dan berbagai perbedaan saling berhadap-hadapan, banyak dari mereka, para anarkis, mengorganisir secara politis berdasarkan pada sistem demokrasi langsung dan federalisme dalam upayanya untuk berpartisipasi secara lebih efektif di tengah perjuangan popular dan mendorong rakyat menuju revolusi sosial (dengan memberikan contoh).

Kekerasan dan Revolusi


Pertanyaan praksis lainnya yang berhubungan dekat dengan teori negara adalah kapan dan sebesar apa kekerasan dapat diterima dalam upayanya untuk meraih kemenangan dalam sebuah revolusi. Para anarkis berargumen bahwa seluruh bentuk negara adalah sesuatu yang tak dapat dilegitimasi lagi karena semuanya bergantung pada kekerasan yang sistematis, dan sementara sebagian dari para anarkis dapat membenarkan saat kekerasan berskala kecil atau pembunuhan terarah atas elit-elit dilakukan berdasarkan atas kebutuhan dalam beberapa kasus (misalnya kampanye "Propaganda by the Deeds"), kekerasan massal melawan rakyat biasa—sebagaimana yang dipraktekkan oleh Lenin dan Trotsky dalam menumpas pemberontakan Kronstadt dan Makhnovis, oleh Stalin dalam "Pembersihan Besar-Besaran" atau oleh Mao selama "Revolusi Kultural", tak akan pernah dapat diterima dan dibenarkan. Kebanyakan kaum Marxis berargumen bahwa kekerasan berskala besar dapat dibenarkan dan dengan demikian "perang keadilan" adalah sesuatu yang mungkin, setidaknya dalam lingkup terbatas dari pertahanan diri secara kolektif, misalnya dalam melawan sebuah kudeta atau invasi imperialis. Beberapa lainnya (khususnya para Stalinis) berargumen lebih jauh, bahwa tujuan dapat menghalalkan cara, sehingga dalam teorinya, sejumlah apapun kekerasan dan pertumpahan darah akan dapat dibenarkan dalam upayanya untuk menuju komunisme.

Argumen-Argumen Seputar Isu Kelas

Analisa-analisa kelas baik dari kaum Marxis ataupun anarkis berdasarkan pada ide bahwa masyarakat terbagi ke dalam berbagai macam "kelas-kelas" yang berbeda, masing-masing memiliki kepentingan yang juga berbeda tergantung pada kondisi materialnya. Kelas-kelas tersebut juga berbeda, bagaimanapun juga, dalam soal di mana mereka menarik garis pemisah di antara mereka.
Bagi kaum Marxis, dua kelas yang paling relevan adalah "borjuis" (pemilik alat produksi dan tidak bekerja) dan proletariat (mereka yang tak memiliki alat produksi dan harus bekerja oleh karenanya). Marx percaya bahwa kondisi-kondisi pekerja industri yang unik serta menyejarah akan mendorong mereka untuk mengorganisir diri mereka bersama-sama untuk kemudian mengambil alih peran negara dan alat-alat produksinya dari kelas borjuis, mengkolektivisasinya, serta menciptakan sebuah masyarakat tanpa kelas yang diselenggarakan oleh para proletariat sendiri. Mayoritas para Marxis, merujuk pada analisa-analisa Karl Marx sendiri, mengesampingkan para petani, pemilik alat produksi kecil "borjuis kecil" dan lumpen proletariat—level terendah dari proletariat, yang biasanya menganggur, miskin, tidak memiliki kemampuan kerja, kriminal dan karakteristik mereka yang paling sering ditemui adalah ketiadaan kesadaran kelas—sebagai kelompok-kelompok yang tak akan mampu menciptakan revolusi.
Analisa kelas kaum anarkis telah mendahului Marxisme dan berkontradiksi dengannya. Kaum anarkis berargumen bahwa bukanlah kelas penguasa secara keseluruhan yang sesungguhnya mengatur jalannya negara, melainkan sekelompok minoritas yang menjadi bagian di dalam kelas penguasa (yang dengan demikian juga mempertahankan kepentingannya), memiliki fokus-fokus mereka sendiri, di antaranya yaitu mempertahankan kekuasaan. Sekelompok minoritas revolusioner yang mengambil alih kekuasaan negara dan memaksakan keinginannya pada rakyat berarti juga tidak berbeda dengan otoritarianisme sekelompok kecil penguasa dalam sistem kapitalisme, yang tentu juga akan segera bertransformasi menjadi sebuah kelas penguasa baru. Hal ini telah diprediksikan oleh Bakunin jauh sebelum revolusi Oktober di Russia terjadi.
Selain itu, para anarkis juga melihat bahwa sebuah revolusi yang sukses tak akan pernah dapat lepas dari dukungan para petani, dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan melakukan redistribusi lahan di antara para petani tak bertanah. Dengan demikian jelas bahwa kaum anarkis menolak kepemilikan tanah oleh negara, serta mereka menganggap bahwa kolektivisasi sukarela jauh lebih efisien dan layak didukung (berdasarkan pada kasus perang saudara Spanyol 1936 di mana para anarkis mempopulerkan kolektivisasi lahan, sementara mereka yang sebelumnya telah memiliki lahan sendiri diperbolehkan untuk tetap memilikinya tetapi dilarang menyewa tenaga kerja untuk mengolah lahan tersebut).
Beberapa anarkis modern (khususnya para pendukung parekon—ekonomi partisipatif) berargumen bahwa kini terdapat tiga kelas yang relevan bagi sebuah perubahan sosial, bukan hanya dua. Secara kasar, mereka adalah kelas pekerja (termasuk di dalamnya setiap orang yang menggunakan tenaga kerjanya dalam memproduksi atau mendistribusikan produk termasuk mereka dalam industri jasa), kelas koordinator (mereka yang pekerjaannya adalah mengkoordinasikan dan memanajemeni para pekerja) dan kaum elit atau kelas pemilik (yang mana pendapatannya diambil atas kemakmuran dan sumber daya). Para anarkis ini menyatakan dengan tegas bahwa Marxisme telah gagal dan akan selalu gagal, karena ia menciptakan sebuah kediktatoran melalui kelas-kelas koordinator dan karenanya juga "kediktatoran proletariat" secara logis menjadi tak mungkin.
Perbedaan-perbedaan inti tersebut kemudian memunculkan fakta bahwa para anarkis tidak membeda-bedakan petani, lumpen dan proletariat, melainkan mereka mendefinisikan bahwa mereka yang harus bekerja untuk bertahan hidup adalah kelas pekerja (walaupun terdapat berbagai perbedaan politik dari berbagai sektor sosial yang berbeda dalam kelas pekerja).
Selanjutnya, analisa kelas Marxian memiliki konsekuensi tentang bagaimana kaum Marxis memandang gerakan-gerakan pembebasan seperti gerakan perempuan, gerakan masyarakat adat, gerakan minoritas etnis dan gerakan homoseksual. Kaum Marxis mendukung beberapa gerakan pembebasan, tidak hanya karena gerakan tersebut memang harus didukung atas tuntutan dan programnya, melainkan karena gerakan-gerakan tersebut dibutuhkan bagi sebuah revolusi kelas pekerja yang tak akan dapat berhasil tanpa persatuan. Bagaimanapun juga, kaum Marxis percaya bahwa seluruh upaya rakyat yang tertindas dalam membebaskan dirinya sendiri akan gagal kecuali mereka mengorganisir diri dalam garis kelasnya, karena para borjuis yang terdapat dalam setiap gerakan tersebut dalam titik tertentu akan mengkhianati perjuangan, dan di bawah kapitalisme, kekuasaan sosial terpusat pada siapa yang menguasai alat produksi.
Para anarkis mengkritik kaum Marxis karena terlalu memberi prioritas pada perjuangan kelas. Mereka menjelaskan bahwa perubahan arah sejarah, perjuangan antara mereka yang tertindas dan menindas, beroperasi dengan dinamikanya sendiri. Para anarkis melihat gerakan pembebasan rakyat tertindas secara fundamental dapat dilegitimasi, tak peduli apakah itu gerakan proletariat, gerakan petani, atau apapun, tanpa merasa perlu untuk mengkotakkan mereka dalam sebuah skema gerakan khusus bagi revolusi. Walaupun demikian, banyak juga anarkis yang percaya bahwa perjuangan isu tunggal hanya akan membatasi ruang pandang dan gerak, dan karenanya harus selalu melihat sebuah perjuangan dalam kerangka perjuangan yang lebih besar (sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Marxis).

Argumen-Argumen Seputar Metoda Materialisme Historis

Marxisme menggunakan sebuah bentuk analisa perkembangan masyarakat manusia yang disebut "materialisme historis". Analisa ini menempatkan ide bahwa manusia hidup dalam sebuah dunia material yang terdeterminasi, dan aksi untuk mengubah dunia terdapat dalam batas-batas apa yang memang dapat dicapai sesuai dengan alur kesejarahan. Secara lebih spesifik, relasi produksi yang menjadi basis fundamental sistem ekonomi adalah alat penentu gerak sejarah. Yang menggaris bawahi proses tersebut adalah adanya ide tentang kontradiksi dan pertentangan antar kelas yang secara alamiah membentuk serta menggerakkan kemajuan sosial.
Marx mengambil formulasi materialisme historis ini dari sistem filsafat dialektika Hegel. Metoda ini bekerja melalui asumsi bahwa setiap fenomena alam hanya dapat didefinisikan dengan cara mengkontraskannya dengan fenomena lain. Marx dan Engels berargumen bahwa metoda tersebut dapat diaplikasikan pada masyarakat manusia dalam bentuk materialisme historis, sehingga kelas-kelas masyarakat yang ada dapat dipelajari dengan menggunakan kontradiksinya, misalnya, karakteristik majikan hanya dapat dipahami apabila dikontraskan dengan karakteristik pekerja.
Sementara mayoritas para anarkis, menggunakan berbagai macam alat analisa sosial, walaupun sebagian anarkis lain melihat materialisme historis ini sangat efektif untuk digunakan sebagai pisau analisa mereka dan melihatnya sebagai sebuah titik pemersatu dalam sebuah perjuangan kelas. Mayoritas anarkis, bahkan juga menganggap bahwa materialisme historis adalah sebuah ilmu palsu yang tak dapat dibuktikan secara universal. Mereka juga menganggap bahwa metoda ini hanya akan mendehumanisasikan analisa-analisa sosial politik dan jelas karenanya menjadi tidak layak digunakan sebagai sebuah metodologi universal.

Determinisme

Sebuah interpretasi yang simpel dari materialisme historis menyatakan bahwa apabila memang Marxisme benar tentang kelas-kelas yang saling berkontradiksi di bawah beroperasinya sistem kapitalisme, maka sebuah revolusi kelas pekerja tak akan terelakkan lagi. Beberapa Marxis, khususnya mereka para pemimpin Internasional Kedua, meyakini hal ini. Bagaimanapun juga, tingkat di mana revolusi harus dilakukan oleh mereka yang telah sadar akan posisi kelasnya, menjadi sebuah perdebatan tersendiri di kalangan kaum Marxis, yang mana sebagian berpendapat bahwa pernyataan Karl Marx yang terkenal, "Aku bukan seorang Marxis", adalah sebuah penolakan konsep determinisme. Perdebatan ini diperdalam dengan terjadinya Perang Dunia I, saat partai-partai sosial demokrat dari Internasional Kedua mendukung upaya-upaya negara untuk terlibat di dalam perang. Sementara di sisi lain, para Marxis yang menjadi oposisi perang, seperti Rosa Luxemburg, menyalahkan Internasional Kedua sebagai sebuah "pengkhianatan" atas doktrin sosialisme yang pada gilirannya dianggap hanya berupaya untuk mereformasi negara kapitalis.
Sementara sebagaimana mayoritas anarkis menolak metoda dialektika historis materialis, para anarkis tersebut juga tidak memiliki klaim tentang bagaimana sebuah revolusi akan terjadi. Mereka melihat bahwa revolusi dapat terjadi hanya apabila memang masyarakat menghendakinya.

Kode Etik PPMI

1. Pers mahasiswa mengutamakan idealisme.
2. Pers mahasiswa menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
3. Pers mahasiswa proaktif dalam usaha mencerdaskan bangsa, membangun demokrasi dan mengutamakan kepentingan rakyat.
4. Pers mahasiswa dengan penuh rasa tanggung jawab menghormati, memenuhi dan menjunjung tinggi hak rakyat untuk memperoleh informasi yang benar dan jelas.
5. Pers mahasiswa harus menghindari pemberitaan diskriminasi yang berbau sara.
6. Pers mahasiswa wajib menghargai dan melindungi hak nara sumber yang tidak mau disebut nama dan identitasnya.
7. Pers mahasiswa menghargai off the record terhadap korban kesusilaan dan atau pelaku kejahatan/tindak pidana dibawah umur.
8. Pers mahasiswa dengan jelas dan jujur menyebut sumber ketika menggunakan berita atau tulisan dari suatu penerbitan, repro gambar/ilustrasi, foto dan atau karya orang lain.
9. Pers mahasiswa senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan harus objektif serta proporsional dalam pemberitaan dan menghindari penafsiran/kesimpulan yang menyesatkan.
10. Pers mahasiswa tidak boleh menerima segala macam bentuk suap, menyiarkan atau mempublikasikan informasi serta tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi dan golongan.
11. Pers mahasiswa wajib memperhatikan dan menindak lanjuti protes, hak jawab, somasi, gugatan dan atau keberatan-keberatan lain dari informasi yang dipublikasikan berupa pernyataan tertulis atau ralat

NATAS!

UKPM (Unit Kegiatan Pers Mahasiswa)

“Lawan kata dari cinta bukanlah benci, tapi apatisme”
(bunda Teresa)

Perubahan-perubahan sosial masyarakat dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh universitas akan selalu terjadi begitu cepat dan kadang tidak terduga sebelumnya. Perubahan tersebut bisa menuju ke arah yang lebih baik tapi bisa juga malah membuat kaum tertindas dan juga mahasiswa menjadi korban kekuasaan dan birokrasi yang kebablasan. Maka dibutuhkannlah sebuah sikap kritis dari mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan untuk membuat keadaan menjadi adil dan membangun wacana publik yang bisa menyadarkan semua pihak tentang realita yang sedang terjadi sekitarnya. Untuk itu dibutuhkalah sebuah media yang jujur, adil, objektif, dan memiliki tata cara berkomunikasi yang santun. Maka hadirlah PERSMA NATAS yang berperan sebagai “anjing penjaga” (watch dog) dalam kampus Sanata Dharma.
Siapa yang menguasai informasi, dialah penguasa. Dengan produk informasi yang akurat dan pemberitaan yang berulang-ulang, media pers dapat membangkitkan kesadaran, mencerdaskan pola berpikir, bahkan dapat membuat “telinga pembacanya menjadi panas”. Di sinilah arti penting lembaga pers agar informasi tidak dikuasai oleh seorang penguasa untuk memaksakan ambisinya.
Sebagai salah satu unit kegiatan kemahasiswaan di tingkat universitas UPKM NATAS hadir sebagai media penyaimbang dan pengawas yang independen di lingkungan kampus. UPKM NATAS memiliki jiwa dan semangat yang sama dengan visi dan misa universitas, yaitu memadukan nilai-nilai akademis dan nilai-nilai humanis sehingga kami memiliki visi sendiri sebagai dasar pengatur seluruh proses kerja kami yaitu menjadi wahana dan sarana kreatifitas mahasiswa menuju akademisi yang humanis.

Sejarah UPKM NATAS
Sejarah UPKM NATAS sampai sekarang belum terlacak dengan jelas. Secara historis UPKM NATAS didirikan pada tahun 1990 oleh sejumlah mahasiswa yang mempunyai minat dalam bidang jurnalistik. Ada saat dalam perjalanannya UPKM NATAS mengalami mati suri yang kemudian dibangkitkan lagi oleh mahasiswa dengan semangat semangat reformasi yang tidak rela melihat UPKM NATAS mati. Pada tahun 2004 unit kegiatan mahasiswa ini berganti nama dari UKM Penerbitan Kampus menjadi UPKM NATAS, dengan harapan roh jurnalis khas mahasiswa yang kritis, ilmiah, tajam menggigit hadir dalam mengiringi perjalanan kehidupan kampus USD. Sekarang UKPM NATAS sudah bergabung dengan Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Keorganisasian
Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai demokrasi maka kedudukan tertinggi dalam organisasi kemahasiswaan ini adalah musyawarah besar yang diadakan tiap tahu satu kali. Setelah itu adalah pemimpin umum, wakil pemimpin umum, sekretaris, bendahara, dan devisi-devisi yang mempunyai tugas dan wewenang masing-masing.
Devisi-devisi yang terdapat dalam UKPM NATAS adalah:
Devisi Keredaksian
produk utama UPKM NATAS adalah majalah natas dan koran Natas hot news. Selain mencari berita, kru redaksi bertugas meramu data-data sekunder menjadi karya tulis jurnalistik yang valid dan terpercaya. Di bidang inilah kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan ide brilian dalam menyamoaikan keganjilan atau ketimpangan realitas sangat diperlukan agar untuk kemudian dikomunikasikan kepada publik dalam bentuk tulisan-tulisan di majalah ataupun newsletter.

Devisi Perusahaan
Devisi perusahaan bekerja pada bidang pendistribusian dan pemasaran produk dari UKPM NATAS sendiri. Selain itu devisi ini juga bertugas untuk periklanan, dengan harapan ada tambahan dana untuk memproduksi majalah ataupun Natas Hot News.

Divisi Penelitian dan Pengambangan (litbang)
Divisi litbang mempunyai peran penting dalam setiap organisasi. Litbang bisa dianggap sebagai pengwas, atau bagai seorang dokter, tugas litbang adalah mengidentifikasi kekurangan-kekurangan atau penyakit yang ada dalam UKPM NATAS selanjutnya memberi diagnosis obat alternatif demi kesehatan/ kesembuhan organisasi, sehingga UKPM NATAS dapat bekerja dengan baik lagi. Melalui rapat rutin, diskusi dan nonton film diharapkan seluruh anggota dapat berkembang dan menjalankan tugasnya lebih baik. Selain itu litbang juga bertugas sebagai sebuah dinamisator dan mencari kader-kader baru dalam organisasi ini.

Program kegiatan dalam UKPM NATAS adalah sebagai berikut :
1. Penerbitan majalah NATAS setahun dua kali dan newsletter Natas Hot News (NHN) tiap dua bulan sekali. Sebagai wahana kreatifitas, NATAS diharapkan menjadi tempat mahasiswa bersikap ilmiah dan kritis. Dalam majalah isu-isu yang diangkat adalah yang bersifat keluar kampus atau global, sedangkan NHN lebih menyoroti persoalan yang berada di dalam kampus.
2. Pelatihan-pelatihan dan diskusi rutin. Kegiatan ini berguna sebagai tambahan wawasan atau pengetahuan baik untuk anggota natas sendiri maupun selain anggota natas. Misalnya pendidikan lanjut jurnalistik, diskusi tentang film, dll.
3. Untuk penerimaan angota baru maka diadakan seleksi masuk (wawancara) pendidikan dasar jurnalistik, dan magang dalam pembuatan NHN. Jangan kawatir, setiap anggota di UKPM NATAS adalah sebuah keluarga, sehingga apapun kesulitan yang dihadapi selalu ditangani bersama dan anggota yang lain yang lebih dahulu masuk akan selalu siap membantu.

Teman-teman mahasiswa Universitas Sanata Dharma, mungkin imajinasi kita akan terbang ke deretan kata-kata atau wartawan dengan segala tugasnya ketika mendengar kata ”pers” atau ”jurnalistik” atau mungkin teman-teman menganggap bahwa jurnalistik itu sulit dan menakutkan. Sebenarnya jurnalistik itu mengasikkan dan sebagai jurnalis kita mempunyai tugas mulia yaitu sebagai penyampai kebenaran dengan objektif dan jujur. Jangan takut dan cemas. Ketika hatimu tergerak untuk berpikir benar dan jujur, dan menyatakan mau bergabung dengan kami, kita sebagai keluarga akan sepenuhnya mendukung anda. Beranilah menjadi mahasiswa yang kritis namun santun. Buktikan cinta dengan menghilangkan apatisme dalam diri dan galilah kebenaran sedalam mungkin.

Jangan main-main dengan tulisan!
Salam PERSMA!

MAHASISWA SEBAGAI AGEN PEMBEBASAN!

MAHASISWA SEBAGAI AGEN PEMBEBASAN!

Penulis : Leo Agung Bayu (Kalitbang natas)

 

“Kalau kita akan memuliakan bangsa dan nusa, baiklah kita menyempurnakan terlebih dulu mereka yang tertindas itu. Sebelum mereka hdup sempurna, belumlah kita berhak menamakan diri kita sebagai: Anak Indonesia!” Dr Soetomo

 

Mahasiswa, sebuah status idaman banyak orang. Pasti bangga sekali rasanya mendapat status baru yang elit itu. Bagaimana tidak, untuk menikmati kesempatan menjadi mahasiswa itu tidak semudah membalik tangan. Hal itu bisa dimaklumi, karena untuk menjadi mahasiswa harus melewati tahapan sembilan tahun wajib belajar di sebuah institusi bernama sekolah yang sangat mengerikan dan membuat stress banyak anak didik. Belum lagi ditambah dengan siksaan intelektual dan psikologis bernama Ujian Nasional yang notabene sangat pantas dianugerahi julukan sebagai alat legitimasi pemerkosaan atas intelektualitas siswa didik. Dengan menjadi mahasiswa berarti sudah bebas dari tuntutan-tuntutan dari sekolah, dan resmi menjadi anggota masyarakat yang dewasa dan mandiri. Semua tanggungjawab ada pada diri mahasiswa itu sendiri, mau menikah, mau sambil kerja, tak ada yang melarang.

Dibutuhkan perjuangan berat untuk kuliah, terutama bagi kalangan yang secara ekonomi “pas-pasan”, alias pas ada rejeki bisa makan, pas rejeki tak ada rejeki ya bisanya ngutang. Tak bisa dipungkri, biaya kulah sekarang sungguh sudah begitu melangit. Sistem pasar sudah merasuki instansi-instansi pendidikan, terutama universitas. Pendidikan pun diperjualbelikan layaknya barang dagangan di pasar sedangkan pemerintah malah memperparah dengan menerbitkan undang-undang Badan Hukum Pendidikan yang semakin membuat biaya kuliah tambah mahal. Sekarang untuk mendapatkan pendidikan berkualitas berarti harus mengeluarkan banyak uang. Semakin berkualitas, semakin mahal. Bagi para orang tua dan anak muda yang tidak mampu hanya bisa menggigit jari melihat realita yang menyakitkan tersebut.

Pendidikan bukan menjadi hal yang bisa dimiliki setiap orang, seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini melainkan menjadi sebuah barang elit yang semakin sulit didapatkan. Akibatnya semakin eksklusiflah pendidikan. Ironisnya banyak  mahasiswa yang sudah bisa mengecap nikmatnya pendidikan tinggi itu malah tidak tahu tujuan mereka kuliah. Sebagian besar mahasiswa jika ditanya untuk apa mereka kuliah sudah bisa ditebak pasti jawabannya ialah supaya setelah lulus nanti lebih mudah cari kerja. Bahkan ada yang kuliah hanya untuk mengisi waktu luang saja.

Mahasiswa sebagai kaum yang bebas dan terdidik sudah mulai melupakan apa sebenarnya tujuan pendidikan yang didapatkan itu. Ketika di kampus mahasiswa mulai malas berkegiatan. Prioritasnya akademik semata. Kehidupan akademik kampus layaknya kehidupan diatas menara gading mewah yang semakin menjauhkan mahasiswa dari  realitas yang sedang dalam masyarakat yang penuh dengan ketidakadilan. Keadaan seperti ini sekarang sudah umum dan terjadi di mana-mana. Sejarah Indonesia ini mencatat kenangan manis yang ditorehkan oleh mahasiswa, seperti gerakan mahasiswa yang diprakarsai oleh Budi Utomo ketika tahun 1908 sebagai tonggak kebangkitan nasional. Selain itu ada lagi pergerakan mahasiswa tahun 1998 yang berhasil menumbangkan kekuasaan Suharto. Tidak selayaknya sejarah tersebut dijadikan sebagai sebuah kenangan manis saja, namun harus dijadikan semangat untuk meneruskannya karena perjuangan mahasiswa itu masih belum berakhir. Tapi apa yang terjadi sekarang sudah lain keadaannya. Kampus-kampus yang dulu tidak pernah sepi dari diskusi, sekarang menjadi kampus yang mati. Mahasiswanya terlalu sibuk menatap laptop berharga jutaan rupiah. Kampus-kampus yang dulu pernah terkenal karena pergerakan mahasiswanya, sekarang menjadi kampus yang stagnan dan berorientasi pada dunia kerja. Para mahasiswanya malah sibuk membicarakan fashion atau model terbaru handphone yang akan keluar tahun ini Haruskah keadaan ini dibiarkan?

 

Pendidikan Sebagai Praksis Pembebasan

Pendidikan menurut Paulo Freire ditujukan untuk humanisasi diri dan sesama melalui tindakan sadar untuk mengubah dunia. Yang dimaksud sesama adalah masyarakat sekitar, termasuk yang miskin dan yang tertindas. Selain itu pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri atau dengan kata lain praktik pendidikan mengimplikasikan konsep tentang manusia dan dunia. Sangat jelas maksud dari freire bahwa kita sebagai mahasiswa, seorang yang terdidik, seharusnya menyadari dirinya adalah seorang agen perubahan. Merubah keadaan yang tadinya tidak baik menjadi lebih baik, yaitu dengan berjuang melawan penindasan baik itu yang terjadi secara struktural ataupun secara sistematis di dalam masyarakat sekitar kita. Menurut Freire lagi, salah satu langkah pertama untuk melakukan perubahan adalah dengan pengenalan realitas yang sedang terjadi pada sekitar kita yang menurutnya penuh dengan praktik penindasan. Jangan sampai pendidikan malah semakin menjauhkan si terdidik dari kenyataan dan tidak tahu apa-apa. Mahasiswa sebagai seorang terdidik seharusnya kaya wacana sehingga bisa menganalisis segala gejala yang terjadi di sekitarnya.

Seperti yang kita ketahui bersama saat ini kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan merupakan masalah serius yang terjadi di masyarakat. Pendidikan yang kita dapat sudah seharusnya digunakan sebagai sebuh praksis pembebasan. Maksudnya adalah pendidikan tidak seharusnya digunakan untuk menindas manusia yang lain, tapi harus membebaskan mereka yang masih tertindas. Yang dimaksud dengan pembebasan adalah pemanusiawian manusia yang mengalami dehumanisasi akibat penindasan. Sang tertindas dibuat tak berdaya dan dibenamkan dalam kebudayaan bisu. Artinya mereka dilarang untuk ambil bagian secara kreatif dalam transformasi sosial. Dan oleh karenanya sang penguasa akan menjadi lebih kuat mencengkeramkan kukunya.

Salah satu sebab kekuasaan itu bertahan adalah karena kuatnya genggaman ideologisnya pada struktur dibawahnya, atau yang diopulerkan oleh Antonio Gramsci sebagai hegemoni. Hegemoni adalah suatu pengetahuan atau ideologi atau keyakinan baru yang yang dimasukkan secara terselubung disebarkan melalui perangkat-perangkat kekuasaan yang bertujuan unuk menggiring orang agara menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang sudah ditentukan oleh penguasa. Contohnya adalah digembar-gemborkannya universitas yang mencetak lulusan-lulusan yang siap kerja. Ada anggapan yang mengatakan bahwa universitas yang baik adalah universitas yang mencetak mahasiswa siap bekerja untuk penguasa maupun kepada kapitalis. Dengan itu mahasiswa secara tidak sadar maupun sadar akan tergiring menjadi mahasiswa yang berorientasi pada IP (Indeks Prestasi), karena dengan IP tinggi berarti kesempatan untuk bekerja setelah lulus kuliah akan semakin besar. Inilah kesadaran yang diinginkan oleh para kapitalis untuk para mahasiswa, yaitu supaya mahasiswa menjadi sebuah aset berharga untuk kepentingan industri mereka. Tercetaklah manusia-manusia penghamba kapitalis dan semakin lebarlah senyuman para bos yang dengan nyamannya duduk di belakang meja melihat grafik laba perusahaannya meningkat pesat.

 

Mahasiswa Sebagai Agen Pembebasan

Jalan pembebasan dari kondisi tersebut adalah pembebasan massa dari keterpesonaan pada hegemoni kultural kelas penguasa sebelum melakukan perlawanan terhadap mereka. Maksudnya adalah ajakan bagi masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya untuk jangan mudah terpesona Bagi Freire, pendidikan bukanlah sekedar alat untuk memperoleh lapangan pekerjaan, tetapi lebih dari itu, pendidikan itu mulia. Pendidikan adalah cara untuk kita agar mampu membebaskan kaum tertindas dari penindasan yang kadang tak terlihat alias terselubung dengan penyadaran. Penyadaran yang menggunakan pendidikan sebagai sasaran utamanya.

 Sangat penting kiranya mahasiswa mempunyai kesadaraan kritis dan perang budaya maupun ideologis. Apalah arti pendidikan jika sesudah menerimanya hanya menjadikan kita sebagai penindas-penindas baru. Sehingga institusi-institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus menjadi sebuah lahan subur untuk membudidayakan para penindas baru. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia malah menjadikan manusia seperti robot, yang hanya mau mematuhi apa kata penguasa tanpa mau melawan dan mengkritiknya. Segala peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa dimaklumi dan ditelan mentah-mentah. Kaum tertindas pun akan semakin tenggelam dalam ketidakadilan.

Jelaslah sudah bahwa menjadi mahasiswa haruslah aktif berkegiatan, memang beratnya tuntutan studi, biaya kuliah yang mahal, dan sistim di kampus yang sangat ketat bisa melunturkan semangat itu. Banyak yang bilang kasihan orang tua kita yang susah-susah membiayai kuliah anaknya, sehingga kawatir bagaimana jika anaknya gagal dalam kuliah lantaran terlalu aktif berkegiatan. Tapi sebenarnya ungkapan itu adalah sebuah kesadaran palsu yang dicoba untuk ditanamkan oleh penguasa agar para mahasiswa menjadi malas berkegiatan dan berorientasi pada studi. Mahasiswa yang aktif berkegiatan pun bisa berprestasi. Malah ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa karena dia aktif berkegiatan. Dari situ bisa dilhat bahwa berkegiatan tidak akan mengganggu akademik. Sebenarnya tidak ada ruginya berkegiatan terutama kegiatan yang menambah wacana dan daya kritis. Kegiatan yang tidak mengeluarkan banyak biaya dan memperkaya ide, seperti diskusi dengan teman ataupun dalam organisasi adalah kegiatan yang bermanfaat dan tidak mengeluarkan biaya sepeser pun.

Setelah mengetahui masalah-masalah yang ada di sekitarnya, mulai dari ketidakadilan, kekerasan terselubung, kemiskinan struktural, dan masih banyak lagi, haruskah mahasiswa sebagai kaum terdidik hanya diam saja? Cukupkah mahasiswa berpuas diri dengan banyaknya wacana dan analisis yang didapat ketika berkegiatan di kampus? Harus diingat juga bahwa dari masyarakatlah mahasiswa tumbuh, maka untuk masyarakatlah mereka harus mengabdikan diri. Segala analisis dan wacana yang didapatkan ketika menjadi mahasiswa sudah seharusnya diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Karena sebagai anggota masyarakat seorang mahasiswa harus turba, alias turun ke bawah. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat mahasiswa dapat terjun langsung dengan mengemukakan ide-ide segarnya yang mencerahkan untuk masyarakat. Menurut Arbi Sanit dalam bukunya yang berjudul Mahasiswa Kekuasaan dan Bangsa, Posisi mahasiswa bisa menjadi ujung tombak perubahan dari kaum intelektual karena kehadiran mereka di kalangan masyarakat yang berkecimpung dengan ilmu pengetahuan dan di lingkungan orang yang menerapkan ilmu sebagai teknokrat dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sebagai penutup ada kata-kata menarik dari seorang penganut teologi pembebasan yang bernama Fernando Lugo bahwa hal yang paling menyakitkan bagi dia adalah penindasan ketidakadilan terutama ketidakadilan sosial. Sebagai orang beragama dia menjadikan agama sebagai cara untuk pembebasan kaum yang tertindas, bukannya agama malah menjadikan dia sebagai penindas. Sebagai kaum terdidik pun mahasiswa harus menjadikan pendidikan yang diperolehnya sebagai alat untuk membebaskan yang tertindas. Bukan malah menjadi penindas baru bagi sesamanya atau malah menjadi budak penindas.  Sudah saatnya setiap mahasiswa bergerak bersama melawan penindasan.

Salam pembebasan!

 


The Lesson

The Lesson
Translated from the Spanish
by Clark M. Zlotchew

After my graduation from high school I took a clerical job with a Buenos Aires insurance company. The job was extremely unpleasant and I found myself among some pretty annoying people with whom I had nothing in common, but as I was barely eighteen years old, I didn't much care.
It was a ten-storey building served by four elevators. Three of them were assigned to the personnel in general, without regard to rank or position. But the fourth elevator — which was carpeted in red and had three mirrors and special décor — was reserved for the exclusive use of the company president, the members of the Board of Directors and the general manager. This meant that only they could ride the red elevator, but this would not prevent them from using the other three.
I had never laid eyes either on the company president or the members of the Board of Directors. But, every once in a while, and always from a distance, I caught sight of the general manager, with whom, nevertheless, I had never exchanged a single word. He was a man of about fifty years of age, and had a "noble" and "lordly" bearing. I considered him to be a sort of cross between an old-time Argentine gentleman and a thoroughly incorruptible magistrate of some supreme court. His graying hair, his neatly-trimmed mustache, his conservative suits and his affable manners had made me — and I detested all my immediate bosses — feel some degree of fondness toward don Fernando. That is how they addressed him: don plus his given name and without the family name, a form of address somewhere between what might seem like familiarity and the veneration owed to a feudal lord.
The offices occupied by don Fernando and his retinue took up the entire fifth floor of the building. Our section was on the third floor, but, since I was the least important employee, they would send me from one floor to another to run errands. On the tenth floor there were only some ill-tempered old men and ugly women who always seemed to be enraged about something or other. Up there a kind of dossier was kept active in which, five minutes before leaving the premises, I had to — without fail — leave a bundle of papers containing summaries of all the tasks carried out in our section that day.

< 2 >
One evening — having already handed in those papers — I was on the tenth floor, ready to go home. I was waiting for the elevator. I was no longer in shirt sleeves, I had put on my jacket, my hair was combed, I had adjusted my necktie and looked in the mirror. I was clutching my leather attaché case.
Suddenly, don Fernando himself was standing beside me, looking as though he too was waiting for the elevator.
I greeted him with the utmost respect: "Good evening, don Fernando."
Don Fernando went beyond a simple greeting. He shook my hand and said, "I'm pleased to meet you, young man. I see that you concluded a fruitful day's labor and are now leaving the premises in search of your well-earned rest."
That attitude and those words — in which I thought I perceived a certain nuance of irony — made me nervous. I felt my face redden.
At that moment, one of the elevators assigned to the "commoners" arrived, and the door opened automatically, revealing a deserted interior. I held the door open by keeping my finger on the button, while saying to don Fernando, "After you, sir."
"No, no; by no means, young man," don Fernando replied with a smile. "You go first."
"No, sir, please. I couldn't. After you, please."
"Get in, young man," he sounded impatient. "Please."
This "please" was pronounced in such a peremptory manner that I had to take it as an order. I bowed slightly and entered the elevator. Don Fernando came in after me.
The doors slid shut.
"Are you going to the fifth floor, don Fernando?"
"To the ground floor. I'm going home just as you are. I believe that I too have a right to some rest, don't you think?"
I didn't know what to say. The presence of that captain of industry — and so close — made me extremely uncomfortable. I forced myself to bear up stoically under the silence that would last for nine floors until we'd come to the ground floor. I didn't have the nerve even to look at don Fernando; instead, I kept staring at my shoes.
"What section do you work in, young man?"
"In Production Management, sir." I had just noticed that don Fernando was quite a bit shorter than I.

< 3 >
"Aha," he stroked his chin with index finger and thumb, "your immediate boss is Mr. Biotti, if I'm not mistaken."
"Yes, sir. It is Mr. Biotti."
I detested Mr. Biotti, who I thought was a conceited imbecile, but I did not give this information to don Fernando.
"And didn't Mr. Biotti ever tell you that you ought to respect the chain of command within the company?"
"Wha, what, sir?"
"What is your name?"
"Roberto Kriskovich."
"Oh, a Polish name."
"No, sir, it's not Polish. It's a Croatian name."
We had finally landed on the ground floor. Don Fernando, who was next to the doors, stepped to one side to allow me to go out first.
"Please," he ordered.
"No, sir, please," I answered. I was extremely nervous. "After you."
Don Fernando gave me a look that seemed to bore a hole in me.
"Young man, please, I implore you, get out."
Intimidated, I obeyed.
"It's never too late to learn, young man," he said, as he stepped out into the street ahead of me. "Have a cup of coffee on me."
And so we went into the corner cafeteria, with don Fernando leading the way, me following behind. This is how I found myself face to face with the general manager with nothing but the table separating us.
"How long have you been working for the company?"
"I began last December, sir."
"In other words, it hasn't even been a year that you've worked here."
"It will be nine months next week, don Fernando."
"Well then: I've been with this firm for twenty seven years." He gave me another of those hard looks.
Since I felt he expected some reaction from me, I nodded my head, trying to show some kind of restrained admiration.
He slipped a small calculator out of his pocket.
"Twenty seven years, multiplied by twelve months, make a total of three hundred twenty four months. Three hundred twenty four months divided by nine months come out to thirty six. This means that I've been with the company thirty six times longer than you have. What's more, you are merely a common employee while I am the general manager. Lastly, you are only nineteen or twenty years of age, and I am fifty two. Isn't that so?"
"Yes, yes, of course."

< 4 >
"Besides, you're taking courses at the University, aren't you?"
"Yes, don Fernando, I'm majoring in Literature, with a specialization in Greek and Latin."
He made a face, as if he had been personally insulted. He said, "At any rate, let's see if you actually graduate. On the other hand, I have the doctorate in Economics, having graduated with extremely high grades."
I lowered my head to show humility.
He continued, "And, things being as they are, don't you think I deserve special consideration?"
"Yes, sir. Absolutely."
"Well then, how did you have the gall to get into the elevator ahead of me…? And, as if that show of audacity weren't enough, you got out before I did."
"Well, sir, I didn't want to be impertinent or stubborn. It's just that you were so insistent…"
"Whether I'm insistent or not is my business. But you should have realized that under no circumstances whatsoever should you get into the elevator before I do. Or get out before I do. Or, worse yet, contradict me. Why did you tell me that your family name is Croatian when I told you it was Polish?"
"But it really is a Croatian name; my parents were born in Split, Yugoslavia."
"I don't care where your parents were born or where they weren't born. If I say that your name is Polish, you cannot, and must not, contradict me."
"I apologize, sir. I'll never do it again."
"Very good. So your parents were born in Split, Yugoslavia?"
"No, sir. They were not born there."
"And where were they born?"
"In Krakow, Poland."
"How strange!" Don Fernando opened his arms, showing his amazement. "How can it be that you have a Croatian family name when your parents are Polish?"
"The fact is that, due to a family dispute with legal ramifications, all four of my grandparents emigrated from Yugoslavia to Poland. And my parents were born in Poland."
Don Fernando's face darkened with an enormous sadness.
"I am much older than you, and I believe I don't deserve to be made a fool of. Tell me, young man, how could you even think of weaving such a web of bald-faced lies? How could you even think that I could believe that hare-brained fairy tale? Didn't you tell me previously that your parents were born in Split?"

< 5 >
"Yes, sir, but since you told me that I shouldn't contradict you, I admitted that my parents were born in Krakow."
"Be that as it may, you have lied to me."
"Yes, sir, that's right: I've lied to you."
"Lying to your superior betrays an enormous lack of respect and furthermore, just like any false information, constitutes a danger to the welfare of the company."
"That is true, sir. I agree with everything you're saying."
"Well said, my boy, and I'm even inclined to see a modicum of value in you, now that I see you so docile and reasonable. But I want you to undergo one final test. We have had two cups of coffee. Who will pick up the tab?"
"I would be glad to do it."
"You have lied to me once again. You, who receive a very low salary, cannot be happy to pay for the general manager's coffee when you know the general manager makes more in one month than you will in two years. So, I'm asking you not to lie to me and to tell me the truth: Is it true that you like paying for my coffee?"
"No, don Fernando, the truth is that I don't like it."
"But, despite the fact that you don't like it, are you prepared to do it?"
"Yes, don Fernando, I'm prepared to do it."
"Well then, go ahead and do it! Pay and don't make me waste more time, for heaven's sake!"
I called the waiter over and paid for the two coffees. We went out into the street, don Fernando ahead of me. We found ourselves at the entrance to the subway.
"Very well, young man, I'm going to have to take my leave of you now. I sincerely hope you have internalized the lesson and that you will profit from it in the future."
He shook my hand and went down the stairs to the Florida subway station.
I've already said that I didn't like that job. Before the year was up, I took a less unpleasant job with another company. During the last two months I worked for that insurance company, I saw don Fernando a couple of times, but always from a distance, so I never again received any other lessons from him.
Someone To Care For

My friend Natalie can't see the point in you. She says that all you do is burp, fart, dribble, grin inanely and emit a series if unintelligible noises. Admittedly she hasn't seen you at your best, but I still think that's a little harsh.
The first time Natalie came to visit you were asleep on your back, gurgling little spit bubbles, a thin strand of drool running down your chin. Natalie just stared at you as if you were a creature from another planet. She made no secret of the fact that she wasn't impressed.
The second time she came to visit you crawled across the carpet towards her and vomited on her expensive new shoes. I tried to make light of it, explaining that it's mainly just liquid and wipes off easily, but she really did look quite appalled.
Natalie likes being a career woman, rushing between meetings in her power suit, clutching her Starbucks Coffee and her laptop. She's never wanted a husband or a baby, but if she could see you on a good day I'm sure she'd feel differently. If she could see the way you clap your hands and squeal with excitement when Scooby-Doo comes on the telly then she'd find you just as adorable as I do.
Instead she thinks you're smelly and have a strange shaped head. She looked revolted when I said you like putting your toes in your mouth, and finds it disturbing that you're always staring greedily at my breasts. It upsets her even more when you stare greedily at her breasts. I tried to explain that you're a man and that's what men do, but she wasn't having any of it.

If I'm honest, I think you could have made a bit more of an effort when Natalie first visited our house. I know it was the morning after Spongey's stag do, but I thought you could have at least lugged yourself into the bedroom instead of lying sprawled on the sofa in a curly wig, a pair of women's shoes and a t-shirt with a photo of Spongey's bare bottom on the front. If you'd had some trousers on it might not have been so bad. Natalie and I were comfortable enough perched on the wooden chairs, but it was quite distracting to have you snoring over our conversation, and I think Natalie was a bit uncomfortable when you started mumbling and fiddling with yourself.

< 2 >
When Natalie left, giving me a kiss on the cheek and a look of pity before rushing off for an appointment with her personal trainer, I removed your stilettos, covered you with a blanket and wiped the drool from your chin. Later, when you woke up screaming about a pain in your head which you assumed must be a brain haemorrhage, I gently explained that you had simply consumed an excessive amount of alcohol. I then sat by your side, holding your hand and stroking your forehead in a bid to reassure you. Three days later when you had recovered, I firmly reiterated this link between lager and suffering and said I hoped you had learnt your lesson. You looked ashamed, said you wouldn't do it again and then promptly went out and got wasted.

I'd secretly hoped that things would be better the next time Natalie came to visit. I thought she might like you better if you had your trousers on and were conscious. To be fair you didn't let me down on either of those counts, but if I'm going to be picky then I wish you'd been sober and hadn't vomited on her.
I assumed that when I told you she was coming for dinner you would come home from the pub before ten o'clock, but of course you bumped into Spongey down at the Queens Head and the two of you decided to celebrate the fact that you were wearing the same socks. I understand how important these things are to you, and I do appreciate the fact that you phoned me from the pub six times with a string of terrible excuses, but could you not have come for the Chicken Chasseur I had prepared? Instead you fell through the front door three hours late, addressed Natalie as Bob, crawled towards her on all fours and then chucked up all over her feet. It wiped off just as I said it would, but I don't think that made Natalie like you any better.
Once Natalie had left - which she did at great pace - I cleared up the mess and sat you down at the kitchen table. You clutched my fingers tightly and tried to put one of them in your mouth, mistaking it for the digestive biscuit I offered you. I should have been furious, but when you grinned stupidly at me, your mouth surrounded by biscuit crumbs, my heart softened and I forgave you. At the end of the day, however badly you behave, you're mine and I still love you.

< 3 >

I can understand why Nathalie thinks you're an idiot, but it's easy for her to judge. She already has everything she ever desired. I never wanted the impressive job title, the sports car or the big flashy house. All I ever really wanted was to be a mother. You might not be the most sophisticated man in the world, but you have a good heart and all the other necessary parts to help me fulfil that dream.
I know exactly why having a baby is so important to me: I want someone I can take care of. I find it incredible that another flailing, helpless human being could rely on me to look after them. Babies are so utterly incapable of looking after themselves, so dependent on others for their wellbeing. From their failure to control their bodily functions to their inability to use their tiny undeveloped brains, they are so completely useless without someone to care for them. I want to be needed like that.
Natalie says I don't need a baby to fulfil my dream. She says I'm already there.
I have no idea what she means. I just don't think these career women understand.