MAHASISWA SEBAGAI AGEN PEMBEBASAN!
Penulis
: Leo Agung Bayu (Kalitbang natas)
“Kalau kita akan memuliakan bangsa dan nusa, baiklah kita
menyempurnakan terlebih dulu mereka yang tertindas itu. Sebelum mereka hdup sempurna,
belumlah kita berhak menamakan diri kita sebagai: Anak Indonesia!” Dr Soetomo
Mahasiswa, sebuah status idaman banyak orang.
Pasti bangga sekali rasanya mendapat status baru yang elit itu. Bagaimana
tidak, untuk menikmati kesempatan menjadi mahasiswa itu tidak semudah membalik
tangan. Hal itu bisa dimaklumi, karena untuk menjadi mahasiswa harus melewati
tahapan sembilan tahun wajib belajar di sebuah institusi bernama sekolah yang
sangat mengerikan dan membuat stress banyak anak didik. Belum lagi ditambah
dengan siksaan intelektual dan psikologis bernama Ujian Nasional yang notabene
sangat pantas dianugerahi julukan sebagai alat legitimasi pemerkosaan atas
intelektualitas siswa didik. Dengan menjadi mahasiswa berarti sudah bebas dari
tuntutan-tuntutan dari sekolah, dan resmi menjadi anggota masyarakat yang
dewasa dan mandiri. Semua tanggungjawab ada pada diri mahasiswa itu sendiri,
mau menikah, mau sambil kerja, tak ada yang melarang.
Dibutuhkan perjuangan berat untuk kuliah, terutama
bagi kalangan yang secara ekonomi “pas-pasan”, alias pas ada rejeki bisa makan, pas
rejeki tak ada rejeki ya bisanya ngutang.
Tak bisa dipungkri, biaya kulah sekarang sungguh sudah begitu melangit. Sistem
pasar sudah merasuki instansi-instansi pendidikan, terutama universitas.
Pendidikan pun diperjualbelikan layaknya barang dagangan di pasar sedangkan
pemerintah malah memperparah dengan menerbitkan undang-undang Badan Hukum
Pendidikan yang semakin membuat biaya kuliah tambah mahal. Sekarang untuk
mendapatkan pendidikan berkualitas berarti harus mengeluarkan banyak uang.
Semakin berkualitas, semakin mahal. Bagi para orang tua dan anak muda yang
tidak mampu hanya bisa menggigit jari melihat realita yang menyakitkan
tersebut.
Pendidikan bukan menjadi hal yang bisa dimiliki
setiap orang, seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini
melainkan menjadi sebuah barang elit yang semakin sulit didapatkan. Akibatnya
semakin eksklusiflah pendidikan. Ironisnya banyak mahasiswa yang sudah bisa mengecap nikmatnya
pendidikan tinggi itu malah tidak tahu tujuan mereka kuliah. Sebagian besar
mahasiswa jika ditanya untuk apa mereka kuliah sudah bisa ditebak pasti
jawabannya ialah supaya setelah lulus nanti lebih mudah cari kerja. Bahkan ada
yang kuliah hanya untuk mengisi waktu luang saja.
Mahasiswa sebagai kaum yang bebas dan terdidik
sudah mulai melupakan apa sebenarnya tujuan pendidikan yang didapatkan itu. Ketika
di kampus mahasiswa mulai malas berkegiatan. Prioritasnya akademik semata.
Kehidupan akademik kampus layaknya kehidupan diatas menara gading mewah yang
semakin menjauhkan mahasiswa dari
realitas yang sedang dalam masyarakat yang penuh dengan ketidakadilan.
Keadaan seperti ini sekarang sudah umum dan terjadi di mana-mana. Sejarah
Indonesia ini mencatat kenangan manis yang ditorehkan oleh mahasiswa, seperti
gerakan mahasiswa yang diprakarsai oleh Budi Utomo ketika tahun 1908 sebagai
tonggak kebangkitan nasional. Selain itu ada lagi pergerakan mahasiswa tahun
1998 yang berhasil menumbangkan kekuasaan Suharto. Tidak selayaknya sejarah
tersebut dijadikan sebagai sebuah kenangan manis saja, namun harus dijadikan
semangat untuk meneruskannya karena perjuangan mahasiswa itu masih belum
berakhir. Tapi apa yang terjadi sekarang sudah lain keadaannya. Kampus-kampus
yang dulu tidak pernah sepi dari diskusi, sekarang menjadi kampus yang mati.
Mahasiswanya terlalu sibuk menatap laptop berharga jutaan rupiah. Kampus-kampus
yang dulu pernah terkenal karena pergerakan mahasiswanya, sekarang menjadi
kampus yang stagnan dan berorientasi pada dunia kerja. Para mahasiswanya malah
sibuk membicarakan fashion atau model terbaru handphone yang akan keluar tahun
ini Haruskah keadaan ini dibiarkan?
Pendidikan
Sebagai Praksis Pembebasan
Pendidikan menurut Paulo Freire ditujukan untuk
humanisasi diri dan sesama melalui tindakan sadar untuk mengubah dunia. Yang
dimaksud sesama adalah masyarakat sekitar, termasuk yang miskin dan yang
tertindas. Selain itu pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan
realitas diri manusia dan dirinya sendiri atau dengan kata lain praktik
pendidikan mengimplikasikan konsep tentang manusia dan dunia. Sangat jelas
maksud dari freire bahwa kita sebagai mahasiswa, seorang yang terdidik,
seharusnya menyadari dirinya adalah seorang agen perubahan. Merubah keadaan
yang tadinya tidak baik menjadi lebih baik, yaitu dengan berjuang melawan
penindasan baik itu yang terjadi secara struktural ataupun secara sistematis di
dalam masyarakat sekitar kita. Menurut Freire lagi, salah satu langkah pertama
untuk melakukan perubahan adalah dengan pengenalan realitas yang sedang terjadi
pada sekitar kita yang menurutnya penuh dengan praktik penindasan. Jangan
sampai pendidikan malah semakin menjauhkan si terdidik dari kenyataan dan tidak
tahu apa-apa. Mahasiswa sebagai seorang terdidik seharusnya kaya wacana
sehingga bisa menganalisis segala gejala yang terjadi di sekitarnya.
Seperti yang kita ketahui bersama saat ini
kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan merupakan masalah serius yang
terjadi di masyarakat. Pendidikan yang kita dapat sudah seharusnya digunakan
sebagai sebuh praksis pembebasan. Maksudnya adalah pendidikan tidak seharusnya
digunakan untuk menindas manusia yang lain, tapi harus membebaskan mereka yang
masih tertindas. Yang dimaksud dengan pembebasan adalah pemanusiawian manusia
yang mengalami dehumanisasi akibat penindasan. Sang tertindas dibuat tak
berdaya dan dibenamkan dalam kebudayaan bisu. Artinya mereka dilarang untuk
ambil bagian secara kreatif dalam transformasi sosial. Dan oleh karenanya sang
penguasa akan menjadi lebih kuat mencengkeramkan kukunya.
Salah satu sebab kekuasaan itu bertahan adalah
karena kuatnya genggaman ideologisnya pada struktur dibawahnya, atau yang
diopulerkan oleh Antonio Gramsci sebagai hegemoni. Hegemoni adalah suatu
pengetahuan atau ideologi atau keyakinan baru yang yang dimasukkan secara
terselubung disebarkan melalui perangkat-perangkat kekuasaan yang bertujuan
unuk menggiring orang agara menilai dan memandang problematika sosial dalam
kerangka yang sudah ditentukan oleh penguasa. Contohnya adalah
digembar-gemborkannya universitas yang mencetak lulusan-lulusan yang siap
kerja. Ada anggapan yang mengatakan bahwa universitas yang baik adalah
universitas yang mencetak mahasiswa siap bekerja untuk penguasa maupun kepada
kapitalis. Dengan itu mahasiswa secara tidak sadar maupun sadar akan tergiring
menjadi mahasiswa yang berorientasi pada IP (Indeks Prestasi), karena dengan IP
tinggi berarti kesempatan untuk bekerja setelah lulus kuliah akan semakin
besar. Inilah kesadaran yang diinginkan oleh para kapitalis untuk para
mahasiswa, yaitu supaya mahasiswa menjadi sebuah aset berharga untuk
kepentingan industri mereka. Tercetaklah manusia-manusia penghamba kapitalis
dan semakin lebarlah senyuman para bos yang dengan nyamannya duduk di belakang
meja melihat grafik laba perusahaannya meningkat pesat.
Mahasiswa
Sebagai Agen Pembebasan
Jalan pembebasan dari kondisi tersebut adalah pembebasan
massa dari keterpesonaan pada hegemoni kultural kelas penguasa sebelum
melakukan perlawanan terhadap mereka. Maksudnya adalah ajakan bagi masyarakat
umumnya dan mahasiswa khususnya untuk jangan mudah terpesona Bagi Freire,
pendidikan bukanlah sekedar alat untuk memperoleh lapangan pekerjaan, tetapi
lebih dari itu, pendidikan itu mulia. Pendidikan adalah cara untuk kita agar mampu
membebaskan kaum tertindas dari penindasan yang kadang tak terlihat alias
terselubung dengan penyadaran. Penyadaran yang menggunakan pendidikan sebagai
sasaran utamanya.
Sangat
penting kiranya mahasiswa mempunyai kesadaraan kritis dan perang budaya maupun
ideologis. Apalah arti pendidikan jika sesudah menerimanya hanya menjadikan
kita sebagai penindas-penindas baru. Sehingga institusi-institusi pendidikan
seperti sekolah dan kampus menjadi sebuah lahan subur untuk membudidayakan para
penindas baru. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia malah menjadikan
manusia seperti robot, yang hanya mau mematuhi apa kata penguasa tanpa mau
melawan dan mengkritiknya. Segala peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa
dimaklumi dan ditelan mentah-mentah. Kaum tertindas pun akan semakin tenggelam
dalam ketidakadilan.
Jelaslah sudah bahwa menjadi mahasiswa haruslah
aktif berkegiatan, memang beratnya tuntutan studi, biaya kuliah yang mahal, dan
sistim di kampus yang sangat ketat bisa melunturkan semangat itu. Banyak yang
bilang kasihan orang tua kita yang susah-susah membiayai kuliah anaknya,
sehingga kawatir bagaimana jika anaknya gagal dalam kuliah lantaran terlalu
aktif berkegiatan. Tapi sebenarnya ungkapan itu adalah sebuah kesadaran palsu
yang dicoba untuk ditanamkan oleh penguasa agar para mahasiswa menjadi malas berkegiatan
dan berorientasi pada studi. Mahasiswa yang aktif berkegiatan pun bisa
berprestasi. Malah ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa karena dia
aktif berkegiatan. Dari situ bisa dilhat bahwa berkegiatan tidak akan
mengganggu akademik. Sebenarnya tidak ada ruginya berkegiatan terutama kegiatan
yang menambah wacana dan daya kritis. Kegiatan yang tidak mengeluarkan banyak
biaya dan memperkaya ide, seperti diskusi dengan teman ataupun dalam organisasi
adalah kegiatan yang bermanfaat dan tidak mengeluarkan biaya sepeser pun.
Setelah mengetahui masalah-masalah yang ada di
sekitarnya, mulai dari ketidakadilan, kekerasan terselubung, kemiskinan
struktural, dan masih banyak lagi, haruskah mahasiswa sebagai kaum terdidik
hanya diam saja? Cukupkah mahasiswa berpuas diri dengan banyaknya wacana dan
analisis yang didapat ketika berkegiatan di kampus? Harus diingat juga bahwa
dari masyarakatlah mahasiswa tumbuh, maka untuk masyarakatlah mereka harus
mengabdikan diri. Segala analisis dan wacana yang didapatkan ketika menjadi
mahasiswa sudah seharusnya diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Karena sebagai anggota masyarakat seorang mahasiswa harus turba, alias turun ke
bawah. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat mahasiswa dapat terjun
langsung dengan mengemukakan ide-ide segarnya yang mencerahkan untuk
masyarakat. Menurut Arbi Sanit dalam bukunya yang berjudul Mahasiswa Kekuasaan
dan Bangsa, Posisi mahasiswa bisa menjadi ujung tombak perubahan dari kaum
intelektual karena kehadiran mereka di kalangan masyarakat yang berkecimpung
dengan ilmu pengetahuan dan di lingkungan orang yang menerapkan ilmu sebagai
teknokrat dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sebagai penutup ada kata-kata menarik dari seorang
penganut teologi pembebasan yang bernama Fernando Lugo bahwa hal yang paling
menyakitkan bagi dia adalah penindasan ketidakadilan terutama ketidakadilan
sosial. Sebagai orang beragama dia menjadikan agama sebagai cara untuk
pembebasan kaum yang tertindas, bukannya agama malah menjadikan dia sebagai
penindas. Sebagai kaum terdidik pun mahasiswa harus menjadikan pendidikan yang
diperolehnya sebagai alat untuk membebaskan yang tertindas. Bukan malah menjadi
penindas baru bagi sesamanya atau malah menjadi budak penindas. Sudah saatnya setiap mahasiswa bergerak
bersama melawan penindasan.
Salam pembebasan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar