BAYANG-BAYANG MILITERISME DI KELAS SPD

BAYANG-BAYANG MILITERISME DI KELAS SPD

Penulis :  Leo Agung Bayu W

 

 

“Dan seharusnya pendidikan yang baik memperlakukan mahasiswa sebagai manusia, hukuman boleh-boleh saja asal masih dalam batas kewajaran.” (Wakil Rektor I, Dr. Fr. Ninik Yudianti, M. Acc.)

 

Sejak didirikan pertama kali oleh Profesor Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD) adalah lembaga yang sangat menjunjung tinggi humanisme. Hal tersebut tertuang dalam visi-misi universitas yaitu universitas berusaha untuk mencetak lulusan yang unggul dalam bidang akademik dan diharapkan menjadi mahasiswa yang humanis pula. Dalam buku panduan Akademik 2008, di bab pengenalan visi dan misi universitas, salah satu representasi nya adalah pendidikan yang humanis, dialogis, dan utuh. Artinya, soft skill pun dipertimbangkan dalam mendidik mahasiswa. Tapi tampaknya ada pemalingan wajah humanisme ketika kita melihat kelas SPD di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Sanata Dharma.

SPD adalah singkatan dari Service Program Design. Kelas ini didirikan tahun 1997 dan menjadi ciri khas PBI Sanata Dharma, karena di universitas lain tidak ada. Jika dilihat sejarahnya, menurut Ag. Hardi Prasetyo, Spd., M. A, Kaprodi PBI, kelas yang diampu oleh dua Dosen PBI, Lanny Ambarwati, Spd., M. hum dan Wismoko, Spd., M.A ini didirikan sebagai mata kuliah kewirausahaan. Namun, sekarang berganti menjadi Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKKB). Mahasiswa PBI wajib mengikuti kelas yang dimaksud ketika sudah memasuki semester enam.

Kelas SPD, lain dari pada yang lain. Penekanannya, lebih pada kegiatan pelatihan kepemimpinan dan kerja sama. Setelah mengikuti kelas tersebut mahasiswa  diharapkan dapat menjadi seorang enterpreneur (wirausahawan) yang handal. “SPD merupakan kelas yang mendidik mahasiswa menjadi manajer yang baik sehingga handal dalam mengatur dirinya sendiri. Di kelas tersebut, mahasiswa diajarkan kedisiplinan dan akan mengalami pengembangan diri dengan kemampuan manajerial,” ujar Chosa Kastuhandani, Spd., M, Hum, salah satu Dosen PBI Sanata Dharma.

Ketika megikuti kelas SPD, mahasiswa PBI diwajibkan untuk bekerja dalam kelompok, yang terdiri dari sedikitnya enam mahasiswa. Dalam satu kelompok tersebut mahasiswa harus bekerja sama untuk membuat proyek atau rancangan kursus pelatihan bahasa Inggris. Selanjutnya, proyek dijual ke instansi tertentu dan harus berhasil. Sebagai tandanya, mahasiswa akan mendapatkan uang dan kontrak dari instansi yang bersangkutan.  Jika tidak berhasil, mahasiswa dianggap gagal dan harus mengulang semester depan.

Dalam kelas ini pulalah, biasanya dosen mengundang tamu penting untuk memberikan pengajaran atau hanya sekedar berbincang-bincang saja. “Waktu itu, Kak Seto pernah diundang di kelas. Beliau menjelaskan banyak hal kepada kami. Selain beliau, juga ada tamu penting lain untuk memberi motivasi kepada kami,” kata Paulina, mahasiswa PBI ‘05 yang pernah mengikuti kelas SPD tersebut.

 

Peraturan-Peraturan Kontroversial

Banyak kontroversi yang membayangi kelas elit ini, sehingga bagi kebanyakan mahasiswa PBI, kelas SPD menjadi momok yang menakutkan. Peraturan-peraturan yang ketat dan semimiliter menyebabkan mahasiswa menjadi keder ketika akan mengambil kelas tersebut. “Sebenarnya ngeri juga sih, soalnya dengar-dengar kelas itu punya peraturan yang sangat ketat,” kata Paulina.

Yustian, mahasiswa PBI, angkatan 2008 juga tidak sependapat dengan peraturan yang ada dalam kelas itu. “Kata kakak tingkat, peraturannya sangat ketat. Tidak boleh ini dan itu. Yah, semimiliterlah,” ujarnya.

Peraturan yang membuat mahasiswa bergidik karena mendengarnya, harus mau tidak mau ditaati tanpa pandang bulu. Misalnya, tidak diperbolehkan terlambat masuk kelas satu detik pun setelah dosen masuk. Kelas yang digunakan untuk SPD juga tidak berada di Kampus I, melainkan di Ruang Koendjono lantai empat Gedung Pusat USD. Untuk menuju kelas tidak diperbolehkan menggunakan lift. Masuk ke kelas satu senti di belakang dosen adalah sebuah pelanggaran berat. “Pernah ada pengalaman, teman saya waktu itu mau masuk kelas, berjalan di depan dosen, lalu ketika hampir masuk dia mempersilahkan dosennya masuk lebih dulu, itu pun dianggap terlambat,” ujar Paulina ketika ditanya tentang pengalamannya mengikuti kelas SPD.

Kelas yang dimulai jam setengah tujuh pagi dan diadakan tiap hari Senin itu, meninggalkan jejak-jejak ketakutan tersendiri bagi mahasiswa. Mahasiswa harus masuk pukul 06.20 WIB untuk absensi, padahal banyak dari mereka yang tempat tinggalnya sangat jauh dari kampus. “Mahasiswa bisa kost sementara di dekat kampus untuk mengakali supaya tidak terlambat mengikuti kelas,” kata Mayora, mahasiswa PBI 2005.

Menyoal masalah absensi, kelas SPD juga tidak memperbolehkan satu kali pun absen, sehingga jika mahasiswa sakit dan diharuskan untuk opname, dia harus mengulang lagi semester depan. “Jadi kita harus benar-benar menjaga kesehatan untuk mengkuti kelas ini, karena absen satu kali pun tidak boleh. Jadi meski sakit, mahasiswa harus tetap masuk kelas sehingga dosen bisa tahu apakah dia sakit atau tidak. Kalau benar-benar terlihat sakit barulah dosen mengizinkan untuk tidak mengikuti pelajarannya,” sahut Mayora lagi.

Peraturan lainnya yaitu diwajibkan memakai pakaian formal dan call card dikalungkan di leher, lengkap dengan sepatu vantovel dan high heel bagi mahasiswi. Hand out pun harus selalu dibawa. Hal-hal yang kecil dan sepele tidak luput dari perhatian, misalnya ketika mengikuti kuliah, tidak diperkenankan menguap sedikit pun, walaupun mungkin kantuk menyerang dengan sangat. Sanksi yang diberikan pada mahasiswa jika menguap ketika kuliah berlangsung adalah keluar dari kelas dan harus mengulang semester depan. “Waktu itu ada teman saya yang menguap ketika kelas sedang berlangsung dan seketika itu juga dia dikeluarakan. Parahnya, dia harus mengulang semester depan,” ujar Paulina.

 Pernah ada seorang mahasiswi yang mengantuk di tengah-tengah pelajaran lalu dia disuruh push up di depan kelas. Ada juga peraturan yang mengharuskan mahasiswa untuk berjalan dengan tenang dan teratur, meringkas buku dengan ditulis rapi dan sama, jika tidak begitu harus menulis ulang.

Selain yang disebutkan di atas masih ada sederet peraturan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. “Semua itu pasti ada alasannya,” kata Paulina menanggapi aturan-aturan yang ada selama ini. Mengungkit masalah peraturan yang diterapkan, menurut Paulina, Lanny mengungkapkan bahwa dengan adanya peraturan-peraturan tersebut mahasiswa dilatih untuk menjadi disiplin. “Kedisiplinan adalah modal utama menghadapi dunia luar yang sangat kejam,” tandasnya.

Chosa juga mengamini diterapkannya aturan-aturan tersebut. “Menurut saya kelas SPD sangat penting bagi mahasiswa. Kelas ini bertujuan untuk menanamkan modal dalam menghadapi dunia yang sesungguhnya, sebab dunia yang sesungguhnya memang keras, kejam, dan penuh tantangan,” ujarnya.  Di samping itu pula menurut Chosa, SPD merupakan sarana untuk menggembleng mahasiswa agar tidak terbuai dengan semua yang memanjakan.

Ketika ditanya tentang pentingnya kedisiplinan dan ketatnya peraturan, Wakil Rektor I, Dr. Fr. Ninik Yudianti, M. Acc., pun ikut angkat bicara. “Waktu itu saya mengikuti pertemuan di UGM untuk membahas lulusan dari Yogyakarta, khususnya UGM. Lulusan dari Jogja, kurang tough (ulet-red) dan struggle (bergelut-red) dalam dunia kerja yang penuh persaingan. Mereka kurang berani menyatakan pendapatnya dan hanya manut saja, sehingga seperti hanya menjadi kuli. Dengan adanya SPD ini, diharapkan lulusan kita bisa lebih unggul dari lulusan manapun,” terang WR I.

Untuk peraturan yang melarang terlambat masuk kelas satu detik saja, Hardi Prasetyo menanggapi hal tersebut dengan menganalogikan bom waktu. Ketika bom waktu dijinakkan terlambat satu detik saja, maka semua bisa hancur berantakan.

Sanata Dharma mempunyai sistim treasure study, artinya para alumni Sanata Dharma memberikan masukan-masukan atau evaluasi untuk prodi yang dulu diikutinya. Banyak dari alumni PBI yang mengapresiasi program kuliah SPD dan Play Performence. “Para alumni meminta untuk mempertahankan pelajaran SPD dan Play Performence karena dari sanalah mereka belajar banyak hal termasuk untuk meningkatkan soft skill mereka. Kebanyakan dari mereka merasa beruntung telah mengikuti kelas tersebut,” tambah Hardi Prasetyo lagi.

Menurut Lanny, hukum kontinuitas sangat ditekankan dalam kelas ini. Oleh karena itu, peraturan presensi memang sengaja tidak memperbolehkan mahasiswa absen walaupun hanya satu kali. “Artinya satu kali saja tidak mengikuti proses, maka proses-proses selanjutnya tidak akan terkejar,” tutur Paulina. Lalu bagaimana dengan peraturan absensi universitas yang membolehkan mahasiswa tidak hadir hingga 25% dari keseluruhan perkuliahan?

WR I selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap kurikulum di Sanata Dharma dengan tegas mengungkapkan bahwa dosen dan prodi diperbolehkan menetapkan aturan presensi sendiri. “25% adalah batas maksimal, kurang dari itu diperbolehkan, sedangkan lebih dari 25% tidak boleh,” tandasnya.

 

Sudah Humaniskah Kelas SPD?

Menurut WR I USD, pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang kembali pada tujuan awal, yaitu memanusiakan manusia. “Tapi perlu diingat juga bahwa pendidikan yang baik yakni pendidikan yang tidak memanjakan, harus ada unsur ketaatan pada aturan-aturan yang harus ditaati bersama. Meskipun begitu, hukuman yang diberikan seharusnya sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa,” terangnya.

Tidak jauh berbeda dengan WR I, Kaprodi PBI juga mendefinisikan pendidikan yang humanis yakni pendidikan yang mendisiplinkan mahasiswa. “Menurut saya kelas SPD itu sudah humanis, aturan-aturan yang semimiliter itu ditujukan agar mahasiswa lebih disiplin, menghargai waktu, menghargai orang lain, dan bertanggungjawab atas pilihannya,” kata Hardi Prasetyo. Hal tersebut juga diamini oleh Paulina dan Mayora. Mahasiswa PBI  yang pernah mengikuti kelas SPD itu memaparkan keuntungan dan manfaat perkuliahan tersebut bagi mahasiswa. Menurut mereka, dengan mengikutinya mahasiswa akan semakin disiplin dan  lebih trampil. Dalam wawancara kami dengan Bu Lanny, beliau berkata bahwa program SPD adalah primadonanya prodi PBI. Program ini adalah program eksperiental yang artinya untuk benar-benar memahami program ini, harus mengikuti dulu kelas SPD. “SPD bukan hanya sekedar teori belaka tapi lebih ke praktek. Dengan mengikuti kelas SPD ini mahasiswa akan merasakan bagaimana rasanya memasuki dunia kerja di luar yang keras, sehingga siap menghadapinya,” tandasnya.

Meskipun demikian, banyak mahasiswa yang memandang kelas SPD sebagai suatu hal yang negatif. Salah satunya adalah Pipit, seorang mahasiswi PBI 2006. Dia berpendapat jika kelas SPD hanya akan mencetak mahasiswa seperti robot yang harus menaati semua aturan tanpa ada timbal balik dari mahasiswa. “Di mana letak pendidikan yang dialogis, seperti yang ditulis di misi USD?” tanyanya kemudian.

Sama halnya dengan Pipit, Guruh Riyanto, mahasiswa Sastra Inggris 2005 melihat SPD sebagai ajang pemenuhan tuntutan para kapitalis yang kejam. Tak heran jika mahasiswa yang dicetak akibat perkuliahan ini nantinya akan menjadi mahasiswa yang kejam, kompetitif tanpa pandang bulu dengan ambisi meraih kemenangan. Menurutnya, SPD itu sering diplesetkan kepanjangan dari Servis untuk para Pemegang Dana (modal). Ada juga mahasiswa yang berpendapat bahwa ada kekerasan pendidikan di kelas tersebut. “Sepertinya kelas SPD itu adalah ajang kekerasan dalam pendidikan, kata-kata disiplin itu hanya kedok untuk memperkukuh kekuasan, membuat mahasiswa menjadi seperti sebuah robot saja. Pilihan-pilihan yang seharusnya ada banyak dihilangkan dengan paksa,” ujar Guruh.

Clarina, PBI 2008, melihat kelas itu dari sudut pandang lain. Menurutnya, kelas SPD sebenarnya baik untuk membangun komitmen, tetapi dia kurang setuju dengan cara pengajaran yang mengutamakan hukuman dan penerapan pada mahasiswa. Idealnya, seorang mahasiswa akan menjadi baik jika berkembang atas dasar kesadaran diri bukan rasa takut. Menurutnya pula, secara psikologis hukuman berat yang diberikan kurang baik. Selain alasan pikologis, mahasiswa yang harus mengulang juga akan mengalami kerugian ekonomi. Bagi mereka yang mampu mungkin tidak masalah, tapi untuk mereka kurang mampu dari segi finansial, tentunya hal itu sangat memberatkan. “Bayangkan saja, apa jadinya jika ada mahasiswa rajin mengikuti kelas dan aturan yang ada, namun karena kesalahan satu kali ia harus dikeluarkan.apalagi tahun depannya lagi harus mengulang?” ungkapnya.

 Melihat fakta yang demikian, WR I menuturkan jika semua yang kita lakukan adalah sebuah proses pembelajaran. Setiap proses pasti ada positif dan negatifnya, termasuk kelas SPD, sehingga perlu evaluasi secara terus menerus demi kebaikan bersama. Pendidikan yang baik memperlakukan mahasiswa sebagai manusia. Kehadiran hukuman tentunya diperbolehkan, asalkan masih dalam batas kewajaran.

Ketika mahasiswa melakukan pelanggaran, misalnya terlambat karena ada hal teknis yang tak terduga, dengan bijak Lanny sering berujar di kelas.  Everything can always go wrong, semuanya bisa terjadi kesalahan.” “Contohnya adalah ketika itu pacar saya terlambat satu menit karena alasan ban sepeda motornya tiba-tiba bocor di tengah jalan. Dia harus menambalnya sehingga terlambat mengikuti kuliah SPD. Konsekuensinya, mengulang semester depan,” kata Andre, mahasiswa PBI ‘04.

Andre juga menjelaskan bahwa semua yang telah dipersiapkan dengan baik pun bisa saja gagal karena sesuatu di luar kontrol individu. Di kelas SPD ini, kita dituntut agar sebisa mungkin meminimalkan hal tersebut dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Selain kata itu, ada kata lain yang sering diucapkan Lanny yaitu “life is choice”, artinya ketika kamu sudah memutuskan untuk memilih kelas ini maka kamu harus mempertanggungjawabkan pilihanmu. Ketika ada saudara yang meninggal kamu tinggal memilih yang mana, kelas SPD atau melayat. Ketika kamu memilih melayat, kamu harus meninggalkan kelas SPD. Artinya, tahun depan harus mengulang lagi. Begitulah Paulina menguraikan sedikit tentang hadirnya kelas SPD di prodinya.

 

 

Repotase bersama :   Richi Rikardus Petrus A

                                    Sabina Thipani

                                    Petrus Purwanto


Tidak ada komentar:

Posting Komentar