SEDIKIT
CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN
Tulisan ini saya buat untuk menanggapi sidang KOK
kemarin. Sebenarnya banyak sekali pasal yang ingin saya beri tanggapan, tapi
untuk saat ini satu pasal dulu. Menurut saya pasal ini sedikit banyak
mencerminkan ideologi apa yang dianut oleh USD.
“Fungsionaris yang menjadi ketua umum DPMU atau
DPMF, Presiden BEMU atau Gubernur BEMF, ketua UKM, ketua UKF, HMJ/HMPS, serta
ketua komisi dan ketua bidang tidak berstatus sebagai mahasiswa perguruan
tinggi lain” (KOK, Bab X, pasal 22, ayat 3)
Artinya: Mahasiswa yang merangkap belajar di
perguruan tinggi lain selain sanata dharma TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN HAKNYA
sebagai mahasiswa sanata dharma untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi
formal apapun di kampus sadhar.
Inilah pendapat para mahasiswa yang pro dengan
pasal tersebut beserta dengan pendapat saya:
1. -
"Apa kita tidak malu dipimpin sama mahasiswa dari kampus lain?"
- "Di mana harga diri kampus kita?"
Dari pernyataan di atas kita dapat melihat betapa
USD berhasil memberi hegemoni dogmatik kepada para mahasiswanya, bahwa USD
lebih unggul daripada kampus-kampus lain. Mahasiswa dibuat sangat superior
terhadap kampus-kampus lain. Keyakinan tersebut menurut saya bersifat
fanatik dan dapat menimbulkan fanatisme sempit. Seakan-akan sesuatu tersebut
sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan. Dihadapkan dengan
keyakinan semacam itu saya beranggapan bahwa hal tersebut bisa disebut sebagai
pemusnahan nalar. Nalar seakan-akan dilupakan sebagai jalan untuk mencari
kebenaran karena sudah tertutup oleh fanatisme sempit. Pemusnahan nalar
terutama digunakan dalam rangka pelanggengan kekuasaan ras, kerajaan atau
pemimpin.
Istilah “oposan” seharusnya tidak ada dalam
sebuah sistem fasis. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak
negara/penguasa, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam
pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi.
Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin
pemerintah. Hitler bahkan pernah mengatakan, bahwa “kebenaran terletak pada
perkataan yang berulang-ulang”. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif
kebenarannya. Sama seperti pendidikan di USD, doktrinasi dilakukan di
ruang-ruang kelas lewat dosen-dosen, lewat mata kuliah-mata kuliah. Lewat week
end moral, lewat PPKM, dll. Mahasiswa diprogram sedemikian rupa hingga dapat
dengan mudah “dikendalikan”.
2. -
"Lebih baik yang jadi ketua organisasi berasal dari anak sadar asli."
- "Itu jatahnya anak sadhar!"
Anak sadhar asli? Apa itu anak sadhar asli?
Setahu saya mahasiswa yang belajar di sanata dharma dan melengkapi kelengkapan
administrasi sadhar mulai dari membayar uang DPP, UKT, atau pun SKS adalah
mahasiswa resmi institusi pendidikan universitas sanata dharma. Sederhananya,
setiap orang yang membeli jasa pendidikan yang dijual oleh sadhar adalah
mahasiswa USD. Logikanya sederhana kan? USD jual, gue beli... Lalu bagaimana
dengan mahasiswa USD yang juga berkuliah di kampus lain? Apakah hak-haknya
harus dibedakan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang hanya berkuliah di USD?
Menurut saya tidak. Jika itu dilakukan maka saya bisa menyebutnya sebagai
diskriminasi dengan alasan yang tidak logis. Mahasiswa yang rangkap kuliahnya
juga mempunyai kewajiban yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa USD lain, masak
mereka tidak mempunyai hak yang sama?
Dalam fasisme, manusia tidaklah sama, justru
pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria
melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan
anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus
melampaui yang lemah, mahasiswa yang cuma kuliah di USD melampaui mahasiswa
yang juga belajar di universitas lain. Dilihat dari sudut pandang itu, USD
menolak adanya persamaan.
3.
"Masak kita mau presiden kita orang malaysia?"
Jika dilihat menggunakan analogi seperti itu maka
USD adalah negara indonesia, dan mahasiswa yang merangkap belajar di
universitas lain adalah orang malaysia. Ketua organisasi mahasiswa (BEM, DPMU,
UKM, dll misalnya) adalah presidennya. Selain analogi yang digunakan kurang
tepat, pernyataan mahasiswa di atas menunjukkan adanya keyakinan bahwa
mahasiswa USD yang merangkap studinya di universitas lain harus disingkirkan
demi “kemurnian ras USD”.hahaha....
Setahu saya, fasisme bersifat total dalam
meminggirkan sesuatu yang dianggap “kaum pinggiran”. Hal inilah yang dialami
kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K, yaitu: kinder
(anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum
Fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum
penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti
pembunuhan dan penganiayaan. Dalam USD, yang dibunuh dan dibatasi adalah hak
mahasiswa yang merangkap studi di universitas lain untuk mencalonkan dirinya
sebagai pemimpin organisasi mahasiswa.
4.
"Mahasiswa sadar juga banyak yang kompeten kok masak mau pilih yang
lain?"
Beneran nihh? Calon wakil presiden BEM aja nggak
tau KOK itu apa. Paling-paling nyalon jadi presiden BEM juga biar gampang dapat
kerjaan di USD. Kalo kompeten dalam bidang akademis sih banyak, tapi dalam
pembacaan situasi kampus, wacana, dan politik kampus?
5.
"Gimana kalau studinya kerepotan?"
Pendapat terakhir inilah yang paling bisa saya
terima dan cukup logis juga. Dari pendapat di atas bisa ditarik kesimpulan
bahwa hanya kuliah di sadhar saja beban kuliahnya sudah sangat banyak, apalagi
ditambah dengan beban studi kampus lain, lalu kapan mengurus organisasinya?
Setahu saya sebelum menjadi ketua, baik itu BEM,
DPMU, UKM, dan organisasi kemahasiswaan yang lain harus melalui tahap seleksi
dulu, malah ada yang memakai tahap test dahulu. Jika calon yang bersangkutan
menyatakan sanggup dan mau berkomitmen dengan tugas-tugasnya di organisasi yang
dipimpinnya, kenapa tidak? Lagi pula “studinya kerepotan” itu kan memang sudah
konsekuensi dari pemimpin dari organisasi mahasiswa, karena selain sebagai
pemimpin dia juga seorang mahasiswa juga.
Unsur-unsur pokok dalam ideologi fasisme =
ketidakpercayaan pada kemampuan nalar, pengingkaran derajat kemanusiaan, kode
prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan, pemerintahan oleh
kelompok elit, totaliterisme, militerisme, dan Rasialisme. Lengkap
sudah...terdapat di USD...