Malam di Papringan

Malam di Papringan

 

Pada mulanya adalah gelisah. Aku lihat dimana-mana, orang-orang tak mau lagi mengenal kata tersebut. “gelisah”. Mereka terlalu takut. Ya, gelisah menjadi sebuah kata yang menakutkan di jaman ini. Aku paham, orang-orang lebih menyukai kasur empuk ketimbang petualangan. Orang –orang lebih menyukai stabilitas ketimbang perubahan. Benar, hari-hari ini kata mapan selalu yang dicari-cari. Nyali mereka ciut ketika dihadapkan dengan kata “kenyataan” sedangkan “mimpi” menjadi pemenang. Beberapa orang mengaggap kenyataan itu ilusi, beberapa orang terlelap dalam mimpinya, sedangkan beberapa orang menganggap mimpi-mimpinya adalah kenyataan. Mereka gila. Dan mereka ditertawai kegilaan. Aku dianggap gila, lalu aku ditertawai mereka yang ditertawai kegilaan.

Selanjutnya adalah kesendirian. Untuk saat ini kesendirian adalah teman terbaikku. Entah, bukan bermaksud asosial, namun hanya saja aku merasa semua orang muak dengan ide-ideku. Aku percaya, tubuh mampu menjadi rapuh, ia gampang disiksa, dibunuh, lalu dibuang, namun ide tidak akan pernah mati. Ide itu semacam kanker yang ketika dibuang, akar-akarnya akan tetap menancap kuat. Lalu bertumbuh lagi menjadi berlipat ganda. Ia seperti ilalang, berisik. Juga mengusik. Dibabat, namun tetap berlipat. Ia semacam suara Tan Malaka yang lebih lantang teriakkannya di luar, ketimbang di dalam kuburan tubuhnya sendiri. Orang-orang mungkin saja melupakan sebuah ide. Namun ia menjelma masa lalu. Ia menjelma sejarah. Dan sejarah selalu menemukan jalannya sendiri. Ia akan mengejar realita, juga peristiwa. Serupa trauma masa lalu. Semakin dilupakan, semakin mencengkram erat. Walau di bawah sadar.

Malam ini bulan seperti celurit. Tipis dan tajam. Keras dan dingin. Warnanya perak pucat. Dengan hiasan mendung kelabu di samping-sampingnya. Aku berjalan di bawahnya. Di antara dinding-dinding urban, yang dinamai, lorong. Mungkin sudah ribuan kali aku berjalan di lorong ini. Lorong-lorong gelap juga becek dekat aku bertempat tinggal di kost yang lembab dan sempit. Seisi lorong mungkin sudah menghapaliku, seperti juga aku kepada mereka. Pak Guno namanya. Ia selalu duduk di depan gerobak baksonya tiap jam 2 pagi. Matanya kosong, seperti isi gerobak dan dompetnya. Entah esoknya ia mau berjualan atau tidak. Lalu di sela tong sampah berwarna hitam, selalu kutemukan 3-5 kecoak menari-nari. Jendela tua tak berkaca. 12 lubang retak di jalan, juga air yang senantiasa menggenanginya. Tak lupa bekas muntahan habis minum ciu dari pedagang siomay yang 3 minggu lalu dicerai istrinya karena terus-terusan kalah judi.

Malam ini aku lapar. Seperti malam-malam sebelumnya. Seperti masa masa laluku setelah mengejar-ngejar aku, namun tak menemukan karena aku pandai bersembunyi. Lapar. Honor hasil memberi tutorial untuk sebuah institusi di kampusku kemarin hari sekarang sudah ludes. Kubuat bayar uang kuliahku. Semakin gila saja kampusku. Telat bayar dapat denda.

Aku pusing. Lalu menemukan sebotol bekas aqua. Entah, tapi aku tahu isinya bukan minuman bersoda. Namun air mata. Kulihat tulisannya, “diambil dari mata air dari mata pak Tugiman”.

Penulis: Leo Agung Bayu


SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN

SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN

Tulisan ini saya buat untuk menanggapi sidang KOK kemarin. Sebenarnya banyak sekali pasal yang ingin saya beri tanggapan, tapi untuk saat ini satu pasal dulu. Menurut saya pasal ini sedikit banyak mencerminkan ideologi apa yang dianut oleh USD. 

“Fungsionaris yang menjadi ketua umum DPMU atau DPMF, Presiden BEMU atau Gubernur BEMF, ketua UKM, ketua UKF, HMJ/HMPS, serta ketua komisi dan ketua bidang tidak berstatus sebagai mahasiswa perguruan tinggi lain” (KOK, Bab X, pasal 22, ayat 3) 

Artinya: Mahasiswa yang merangkap belajar di perguruan tinggi lain selain sanata dharma TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN HAKNYA sebagai mahasiswa sanata dharma untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi formal apapun di kampus sadhar. 

Inilah pendapat para mahasiswa yang pro dengan pasal tersebut beserta dengan pendapat saya: 

1.       - "Apa kita tidak malu dipimpin sama mahasiswa dari kampus lain?"

          - "Di mana harga diri kampus kita?" 

Dari pernyataan di atas kita dapat melihat betapa USD berhasil memberi hegemoni dogmatik kepada para mahasiswanya, bahwa USD lebih unggul daripada kampus-kampus lain. Mahasiswa dibuat sangat superior terhadap kampus-kampus lain. Keyakinan tersebut  menurut saya bersifat fanatik dan dapat menimbulkan fanatisme sempit. Seakan-akan sesuatu tersebut sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan.  Dihadapkan dengan keyakinan semacam itu saya beranggapan bahwa hal tersebut bisa disebut sebagai pemusnahan nalar. Nalar seakan-akan dilupakan sebagai jalan untuk mencari kebenaran karena sudah tertutup oleh fanatisme sempit. Pemusnahan nalar terutama digunakan dalam rangka pelanggengan kekuasaan ras, kerajaan atau pemimpin.

Istilah “oposan” seharusnya tidak ada dalam sebuah sistem fasis. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak negara/penguasa, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi. Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin pemerintah. Hitler bahkan pernah mengatakan, bahwa “kebenaran terletak pada perkataan yang berulang-ulang”. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif kebenarannya. Sama seperti pendidikan di USD, doktrinasi dilakukan di ruang-ruang kelas lewat dosen-dosen, lewat mata kuliah-mata kuliah. Lewat week end moral, lewat PPKM, dll. Mahasiswa diprogram sedemikian rupa hingga dapat dengan mudah “dikendalikan”. 

2.       - "Lebih baik yang jadi ketua organisasi berasal dari anak sadar asli."

          - "Itu jatahnya anak sadhar!" 

Anak sadhar asli? Apa itu anak sadhar asli? Setahu saya mahasiswa yang belajar di sanata dharma dan melengkapi kelengkapan administrasi sadhar mulai dari membayar uang DPP, UKT, atau pun SKS adalah mahasiswa resmi institusi pendidikan universitas sanata dharma. Sederhananya, setiap orang yang membeli jasa pendidikan yang dijual oleh sadhar adalah mahasiswa USD. Logikanya sederhana kan? USD jual, gue beli... Lalu bagaimana dengan mahasiswa USD yang juga berkuliah di kampus lain? Apakah hak-haknya harus dibedakan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang hanya berkuliah di USD? Menurut saya tidak. Jika itu dilakukan maka saya bisa menyebutnya sebagai diskriminasi dengan alasan yang tidak logis. Mahasiswa yang rangkap kuliahnya juga mempunyai kewajiban yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa USD lain, masak mereka tidak mempunyai hak yang sama?

Dalam fasisme, manusia tidaklah sama, justru pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus melampaui yang lemah, mahasiswa yang cuma kuliah di USD melampaui mahasiswa yang juga belajar di universitas lain. Dilihat dari sudut pandang itu, USD menolak adanya persamaan. 

3.       "Masak kita mau presiden kita orang malaysia?" 

Jika dilihat menggunakan analogi seperti itu maka USD adalah negara indonesia, dan mahasiswa yang merangkap belajar di universitas lain adalah orang malaysia. Ketua organisasi mahasiswa (BEM, DPMU, UKM, dll misalnya) adalah presidennya. Selain analogi yang digunakan kurang tepat, pernyataan mahasiswa di atas menunjukkan adanya keyakinan bahwa mahasiswa USD yang merangkap studinya di universitas lain harus disingkirkan demi “kemurnian ras USD”.hahaha....

Setahu saya, fasisme bersifat total dalam meminggirkan sesuatu yang dianggap “kaum pinggiran”. Hal inilah yang dialami kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K, yaitu: kinder (anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum Fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti pembunuhan dan penganiayaan. Dalam USD, yang dibunuh dan dibatasi adalah hak mahasiswa yang merangkap studi di universitas lain untuk mencalonkan dirinya sebagai pemimpin organisasi mahasiswa. 

4.       "Mahasiswa sadar juga banyak yang kompeten kok masak mau pilih yang lain?" 

Beneran nihh? Calon wakil presiden BEM aja nggak tau KOK itu apa. Paling-paling nyalon jadi presiden BEM juga biar gampang dapat kerjaan di USD. Kalo kompeten dalam bidang akademis sih banyak, tapi dalam pembacaan situasi kampus, wacana, dan politik kampus?

5.       "Gimana kalau studinya kerepotan?" 

Pendapat terakhir inilah yang paling bisa saya terima dan cukup logis juga. Dari pendapat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa hanya kuliah di sadhar saja beban kuliahnya sudah sangat banyak, apalagi ditambah dengan beban studi kampus lain, lalu kapan mengurus organisasinya?

Setahu saya sebelum menjadi ketua, baik itu BEM, DPMU, UKM, dan organisasi kemahasiswaan yang lain harus melalui tahap seleksi dulu, malah ada yang memakai tahap test dahulu. Jika calon yang bersangkutan menyatakan sanggup dan mau berkomitmen dengan tugas-tugasnya di organisasi yang dipimpinnya, kenapa tidak? Lagi pula “studinya kerepotan” itu kan memang sudah konsekuensi dari pemimpin dari organisasi mahasiswa, karena selain sebagai pemimpin dia juga seorang mahasiswa juga.

 

Unsur-unsur pokok dalam ideologi fasisme = ketidakpercayaan pada kemampuan nalar, pengingkaran derajat kemanusiaan, kode prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan, pemerintahan oleh kelompok elit, totaliterisme, militerisme, dan Rasialisme. Lengkap sudah...terdapat di USD...