Laporan Khusus majalah natas
2011
Antara Srah-srahan Nawa
Sanga dan Efek Plasebo
Ketika penyembuhan alternatif menjadi
pilihan terakhir
Juli 2011, wajah Pujianto (26) dihiasi senyum berseri-seri
sementara raut wajah dokter bedah yang merawatnya mendadak berkernyit heran.
Pasalnya, hasil rontgent Pujianto menunjukkan bahwa pasien yang telah
dirawatnya selama enam bulan tersebut benar-benar sembuh total dari penyakit
yang hampir mustahil disembuhkan, yaitu kanker prankreas stadium lanjut.
Padahal ketika pertama kali dirawat, Pujianto layaknya pasien yang putus
harapan hidupnya. Matanya berwarna kuning, badannya terasa sakit semua sampai-sampai
digerakkan pun susah, bahkan perut pun terasa segan mencerna makanan. Kini,
semenjak divonis sembuh total, Pujianto tak lagi merasakan itu semua. “Dokter
yang merawat saya heran banget lho mas,
saya bisa sampai seperti ini. Soalnya saya memang sengaja tidak memberitahu
beliau tentang proses kesembuhan saya. Saya tidak memberitahu dokter saya,
bahwa selain berobat di rumah sakit, saya juga berobat di praktek penyembuhan
alternatif,” katanya sambil tersenyum simpul.
***
Kisah Pujianto dimulai delapan bulan yang lalu, tepatnya pada
bulan Maret 2011.Waktu itu perut tengah Pujianto terasa sakit seperti
ditusuk-tusuk, badannya kadang panas, kadang menggigil kedinginan. Untuk
bekerja ringan saja tubuh bagian atasnya sulit untuk digerakkan. “Rasanya nyeri
dan panas,” katanya. Terpaksalah Pujianto berhenti bekerja. Beberapa hari
kemudian matanya berwarna kuning. Tubuhnya lemas tak berdaya sementara rasa
sakit di perut masih saja menyiksa. Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit yang
dideritanya, Pujianto memutuskan untuk memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit
kecil di Wates. Ketika diperiksa tekanan darahnya, dibuat kagetlah Pujianto
oleh tensimeter yang terpasang
di lengannya. Alat pengukur tekanan darah tersebut menunjukkan tekanan
sistolenya berada jauh di bawah rata-rata normal (120 mm/hg) yaitu 60mm/hg.
Diagnosa dokter pertama kali adalah Pujianto terkena pes, penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) lewat kutu tikus,
Xenophylla astia. Penyakit pes seperti ini pernah menjadi wabah dan membunuh
lebih dari 20 juta orang di Eropa pada abad pertengahan. Dinamakan “Kematian
Hitam” (Black Death) karena
keganasannya.
Setelah perawatan dan pemberian obat dari rumah sakit selama sebulan, alih-alih
sembuh, keadaan Pujianto malah semakin memburuk. Perutnya terasa semakin sakit
dan terasa panas. Dokter yang menanganinya seketika itu juga menyatakan
menyerah untuk menyembuhkan Pujianto. Sehari setelahnya, pria kelahiran Imogiri
tersebut dirujuk ke sebuah Rumah Sakit yang lebih besar di kota Yogyakarta.
Kali ini Pujianto ditangani oleh dokter bedah profesional.
Diagnosa pun dilakukan. Hasilnya membuat bulu kuduk Pujianto bergidig. Ternyata
bukan pes-lah yang menyebabkan sakit perutnya selama ini, melainkan kanker
prankreas stadium lanjut. Kanker pankreas dalam dunia kedokteran disebut
penyakit yang “diam”. Kanker itu tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit
ketika masih dalam stadium dini. Oleh karena itu bisa dipahami jika ternyata
tahu-tahu kanker Pujianto sudah dalam keadaan stadium lanjut. Kanker itu menghalangi
saluran empedu umum. Cairan dari empedu pun tidak dapat masuk ke dalam sistim
pencernaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan kulit dan putih mata menjadi
berwarna kuning, seperti yang dialami Pujianto. Gaya hidup yang tidak sehat
seperti merokok dan minum alkohol terlalu seringlah yang ditenggarai sebagai
penyebab penyakitnya itu.
Dokter menyarankan untuk melakukan operasi saja. Operasi
Pujianto dilakukan seminggu setelah vonis. Kanker yang diangkat tidaklah tuntas
semua, melainkan hanya kanker yang menyumbat di usus Pujianto saja. “Ini mas
bekasnya, rasanya masih gatal di jahitannya,” kata Pujianto menunjukkan gurat
bekas operasi di perutnya. Setelah operasi, Pujianto tidak langsung sembuh
melainkan harus menjalani rangkaian perawatan medis lagi yang tentu saja
memakan banyak sekali biaya. Padahal orang tua Pujianto hanyalah seorang
petani. Sepuluh hari pasca operasi, Pujianto pulang. Tak berhenti sampai di situ, sepuluh hari di
rumah, dia kembali ke rumah sakit karena sakitnya kambuh lagi. Kocek yang harus
dirogoh Pujianto untuk pengobatan di Rumah Sakit sudah mencapai 12 juta, namun
penyakitnya belum juga pergi.
Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sudah tanpa harapan
itu, Pujianto pasrah dan menyerahkan hidup matinya di tangan Allah. Bahkan
Pujianto sempat berbicara pada istrinya bahwa dia sudah menyerah. Keluarganya
cemas. “Waktu itu saya sudah pasrah mas, terserah Allah mau bagaimana. Kasihan
juga melihat keluarga sudah banting tulang untuk menyembuhkan saya,” kenangnya.
Sedikit harapan muncul ketika seorang tetangga Pujianto menyarankan untuk
mencoba penyembuhan tradisional. Bukan tanpa alasan, tetangga Pujianto itu
memang sudah pernah membuktikan kemujaraban terapi penyembuhan tradisional itu.
Nama tempat penyembuhan tersebut adalah Paguyuban Tritunggal. Pujianto
tertarik, dan ia mencobanya. Ketika sampai di paguyuban tersebut Pujianto masih
terlihat lemah. Matanya masih kekuningan dan tekanan darahnya masih tak
tertolong.
***
Sekitar 50 kilometer dari Argorejo Sedayu, tempat Pujianto
tinggal, Paguyuban Tritunggal membuka tempat prakteknya. Tepatnya di Babarsari
Yogyakarta, belakang Universitas Atmajaya. Tidak ada yang aneh dari tempat
penyembuhan tradisional Paguyuban Tritunggal. Dari luar tampak seperti
bangunan-bangunan di sekitarnya, bercat putih, pagar putih, dan pintu kayu
cokelat. Yang membedakan hanyalah banner merah bertuliskan Paguyuban Tritunggal
di teras, dan bau harum dupa yang
menyapa setiap hidung yang lewat di depan bangunan itu. Masuk ke ruangan
pertama kali, Pujianto disambut ramah oleh lukisan-lukisan atraktif di tembok
hijau dan seorang pemuda berpakaian hitam yang mengurusi bagian administrasi
awal.
Paguyuban Tritunggal resmi menangani
pasien sejak tahun 1997. Didirikan oleh seseorang yang dipanggil Romo Sapto.
Nama Tritunggal dipakai sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Jawa yang
berasal dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Ditilik dari sudut pandang modern,
penyembuhan ala Tritunggal disebut penyembuhan holistik. Artinya aspek
spiritual dan psikologis pasien juga menjadi pertimbangan dalam proses
penyembuhan. Berbeda dengan medis konvensional yang lebih menitikberatkan pada
aspek biologis (mekanis) saja. Metode yang digunakan berasal dari ilmu kejawen
warisan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sejak dulu. Paguyuban
ini tidak membuka praktek secara ilegal. Proses perijinan yang panjang dan
berliku dari badan standardisasi kesehatan pemerintah hingga ijin pendirian
usaha sudah dilalui oleh Tritunggal.
Terapi yang dilakukan sama sekali tidak menggunakan obat atau
pun jamu. Tidak ada pula pantangan yang harus dilakukan oleh pasien. Bahkan
kontak fisik pun hampir tidak ada. Penyembuhannya murni menggunakan energi yang
oleh Paguyuban Tritunggal disebut “Srah-srahan Nawa Sanga”. Artinya ada
Sembilan lubang energi ditubuh manusia yang bisa menjadi jalan keluar masuknya
penyakit atau energi penyembuh. Lubang itu terdapat di mata, hidung, telinga,
mulut, pusar, kemaluan, anus, tangan dan kaki. Proses penyembuhan yang
dilakukan tidak selalu dilakukan jarak dekat. Jika dibutuhkan, penyembuhan bisa
dilakukan lewat jarak jauh. Penyembuhan jarak jauh bisa dilakukan dengan
mengirimkan energi penyembuh lewat telepon genggam atau pun media foto. Selain
itu penyembuhan juga dilakukan dengan metode transfer energi dari manusia ke
hewan. Hewan macam kambing dipilih untuk penyakit-penyakit berat macam kanker
stadium lanjut atau jantung koroner. Selain kambing, kelinci juga bisa menjadi
pilihan, namun untuk penyakit yang lebih ringan.
Dalam hal penyembuhan, paguyuban tritunggal tidak menerapkan
adanya pantangan apapun kepada pasiennya. Karena itu, meskipun dokter
menyarankan Pujianto untuk menghindari minum kopi, ia tetap saja menyeruput
minuman kesukaannya itu ketika menjalani terapi di Paguyuban Tritunggal. Mereka
juga tidak melarang pasiennya berobat juga di medis konvensional. Yang penting
tidak ke penyembuhan tradisional yang lain, karena beda energi. Yang menjadi
ketakutan adalah adanya energi yang bertolakbelakang dengan energi yang
digunakan oleh Paguyuban Tritunggal. Jika itu terjadi maka pasien tidak akan
sembuh, malah bisa-bisa tambah parah.
Pasien yang datang ke paguyuban
tersebut rata-rata adalah pasien buangan dari rumah sakit, atau yang sudah
bosan dengan pengobatan medis konvensional. Kebanyakan pasien yang datang
adalah pasien yang dokternya sudah angkat tangan. Malah, terkadang para dokter
yang sudah angkat tangan tersebut menyarankan pasiennya berobat ke Paguyuban
Tritunggal. Dalam artian pasien tersebut secara medis konvensional sudah
mustahil untuk disembuhkan. Penyakit-penyakit berat macam kanker stadium
lanjut, tumor atau jantung koroner adalah penyakit-penyakit yang sering mampir
di Paguyuban ini. Selain itu Paguyuban Tritunggal juga kondang dalam
menyembuhkan penyakit-penyakit “kiriman” seperti santet, gendam, atau pelet. Tak
hanya itu, paguyuban ini pun juga melayani ruwatan untuk menghilangkan kesialan
supaya rejeki lebih lancar mengalir.
Awalnya Pujianto diberi petunjuk dulu tentang masalah
administrasi. Dalam hal biaya, Paguyuban Tritunggal tidak menetapkan seberapa
besar tarif mereka. Dasarnya bukanlah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari
pasien, melainkan semangat untuk membantu sesama. “Kalau masalah pembayaran itu
sifatnya suka rela mas, lha wong
uangnya kita masukin ke amplop terus
dikasih ke kotak, cuman gitu aja.
Jadi yang tau ya otomatis kita
sendiri,” ujar Pujianto. Untuk penyembuhan yang menggunakan media hewan, pasien
dibebaskan untuk membawa hewan dari rumah. Tetapi karena kebanyakan pasien
tidak mau repot-repot, pasien bisa saja hanya memberikan uang seharga hewan
yang akan digunakan untuk media penyembuhan ke Paguyuban Tritunggal. Pujianto
adalah salah satu pasien yang tidak mau repot tesebut. Ia hanya menyerahkan
uang sebesar Rp. 700.000,00, dan Paguyuban yang membelikan kambingnya sebagai
media penyembuhan penyakit Pujianto. Selanjutnya, Pujianto bertemu dengan dukun
yang akan menyembuhkannya.
Mbah Sombo, begitulah ia biasa dipanggil. Banyak orang akan
terjebak ketika mendengar namanya. Bayangan seorang dukun dengan muka seram, rambut putih, jimat dan
banyak cincin batu di jari akan segera lenyap ketika melihat sosok mbah Sombo.
Perawakannya sedang, tidak gemuk, tidak kurus, sekitar 160 cm tingginya, dan
sesekali jari-jarinya sibuk memainkan hanphone layar santuh miliknya. Umurnya
masih 30 tahunan. Setiap pasien yang ditanganinya akan selalu disambut oleh
wajah dan senyumnya yang ramah bersahabat. Kali ini dialah yang menangani
Pujianto. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Mbah Sombo juga mempunyai
pengalaman berkesan berkait dengan Paguyuban Tritunggal.
“Kenal sini (Paguyuban Tritunggal) tahun 2004, waktu itu
saudara saya kena hepatitis C, livernya kena virus, bahkan kata dokter virusnya
sudah sampai ke kepala. Leukositnya turun drastis, sampai 67, padahal normalnya
200-300,” cerita mbah Sombo mengenang awal ketertarikannya mengikuti Paguyuban
Tritunggal. Beberapa minggu opname di rumah sakit, dokter bilang nyawa
saudaranya tinggal sebulan. Sudah hampir 40 hari dirawat di rumah sakit dan
tidak sembuh-sembuh, Mbah Sombo berpaling ke Paguyuban Tritunggal. Ia ngomong
langsung pada Romo Sapto soal penyakit saudaranya. Malam hari diterapi,
besoknya leukositnya langsung naik. Dulu matanya kuning semua, badanya lemas
dan bisanya hanya tidur di rumah, setelah diterapi selama seminggu langsung
sehat dan bisa langsung beraktifitas.
Nah
dari situlah ketertarikan Mbah Sombo untuk belajar menyembuhkan orang, “Kok iso yo?” katanya terheran-heran. Ia
kemudian berguru kepada romo Sapto. Menurut beliau, setiap orang bisa menjadi
penyembuh karena Tuhan sudah memberikan kepada manusia energi penyembuh
semenjak dikandung di rahim ibu. “Nah bagaimana cara mengolah energi penyembuh
itulah yang harus dilatih,” terang Mbah Sombo ketika ditanya tentang kemampuan
menyembuhkan miliknya.
Kunci dari penyembuhan ala Paguyuban Tritunggal terletak pada
interaksi yang kuat antara dukun dan pasien. Sangat penting diadakan dialog
pertama kali antara dukun dan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Hal
tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran penyakit yang dihadapi sekaligus
sebagai sarana pendekatan personal dan emosional. Proses tersebut tidak
dilakukan secara formal dan kaku, melainkan informal dan santai. “Sampai
sekarang saya masih sering konsultasi lewat SMS sama mbah Sombo kok mas,” kata
Pujianto menanggapi kedekatan relasinya dengan penyembuhnya.
***
Sehari setelah penyelesaian administrasi, terapi pun dimulai.
Terapi yang dilakukan adalah terapi transfer energi dengan media hewan. Terapi
dilakukan di sebuah ruangan. Ada lima orang plus satu hewan dalam ruangan itu.
Mereka adalah mbah Sombo dan tiga asistennya, yang lainnya adalah Pujianto bersama
dengan seorang temannya, tak lupa seekor kambing sebagai media transfer energi.
Terapi dilakukan dengan bantuan doa dan energi yang dimiliki
oleh para penyembuh. Energi negatif yang terkandung di kanker Pujianto
dikeluarkan dan dipindah ke dalam tubuh kambing. “Jadi yang dipindah bukanlah
penyakitnya, melainkan energi negatif yang dimiliki oleh penyebab rasa sakit
itu, misalnya kanker. Ketika kanker itu sudah kehabisan energi, maka sedikit
demi sedikit kanker itu akan kempes dan mati,” terang Mbah Sombo tentang terapi
pemindahan energi yang dilakukannya.
Proses penyembuhannya cukup sederhana. Tak ada
gerakan-gerakan, maupun mantra-mantra kuno. Si penyembuh hanya menempelkan
tangannya di atas perut Pujianto dan diiringi dengan doa-doa yang diucapkan
oleh Pujianto maupun tim penyembuh. Ketika ketika proses pemindahan
berlangsung, tubuh Pujianto merasakan perubahan drastis. Daerah tubuhnya yang
tadinya sakit, terutama pada bagian perut tengah seketika itu juga terasa sangat
panas. Proses penyembuhan tahap pertama tersebut memakan waktu kurang lebih
satu jam. Setelah proses penyembuhan pertama tersebut selesai, Pujianto
diberikan sebotol air mineral yang sudah didoakan oleh Mbah Sombo untuk
diminum. Air mineral memang salah satu barang yang wajib dibawa oleh pasien
sebelum melakukan proses terapi untuk kemudian didoakan. Kambing yang ada di
dalam ruangan tersebut tetap ditinggal di Paguyuban. Malam setelah proses
penyembuhan tahap pertama, perut Pujianto masih terasa panas bahkan lebih panas
dari hari sebelumnya. Namun rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Hari berikutnya Pujianto kembali ke Paguyuban untuk proses
penyembuhan tahap kedua. Ketika itu dia dihadapkan oleh kambing yang sudah
ditransferi energi. Kambing tersebut disembelih dengan disaksikan oleh Pujianto
sendiri. Tampaklah jeroan kambing yang disembelih. Jeroan tersebut terlihat
rusak, dan membusuk pertanda energi yang ada di tubuh Pujianto berhasil
ditransfer ke dalam tubuh kambing tersebut. “Saya lihat sendiri mas bagaimana
bentuk dari jerohan kambing yang baru disembelih. Jerohan tersebut terlihat
hitam dan busuk,” kata Pujianto. Jerohan kemudian dilarung ke laut selatan,
disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tak cukup sampai di situ, hari berikutnya
Pujianto harus menjalani proses terakhir terapi.
Terapi
tahap terakhir ini dilakukan tengah malam. Pujianto waktu itu bersama dengan
paisen-pasien lain ditempatkan di sebuah ruangan lapang. “Waktu terapi itu mas,
saya sama pasien-pasien lain disuruh tidur dipakein
jarit (selendang). Dikrukup
bareng-bareng. Kayak orang mati,”
kata Pujianto mengingat proses terapi terakhir yang dialaminya. Doa-doa dan
sajen tak lepas dari proses penyembuhan tersebut. Proses terapi tersebut
menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Sama seperti sebelumnya, tubuh
Pujianto terasa sangat panas, terutama bagian perutnya. Tubuhnya keluar
keringat begitu banyak, namun ada perasaan lebih ringan dan rasa sakitnya
berangsur-angsur pulih.
Setelah
itu, paginya pakaian-pakaian pasien yang sudah diterapi dikumpulkan.
Pakaian-pakaian tersebut kemudian dilarung oleh para dukun. “Saya nggak tau mas pakaian saya dilarung di
mana, yang pasti rasanya setelah terapi itu dan beberapa hari kemudian tubuh
saya berangsur-angsur membaik,” terang Pujianto. Meskipun tubuh Pujianto sudah tak lagi merasakan sakit, ia tak serta merta
lepas kontak dengan Paguyuban Tritunggal. Hingga dua minggu kemudian Pujianto
masih berhubungan dengan penyembuhnya, Mbah Sombo. Ia masih melakukan
konsultasi untuk tetap menjaga tubuhnya sehat. “Seminggu setelah terapi
terakhir saya masih sering ke Paguyuban mas. Kadang-kadang juga masih harus
diterapi lagi namun Cuma kecil-kecilan” kata Pujianto lagi. Selain itu Pujianto
juga masih sering berkonsultasi dengan dokter bedah yang dulu pernah
menanganinya. Seperti yang telah diceritakan di awal tadi, sang dokter
geleng-geleng melihat kesembuhan mantan pasiennya.
***
Fenomena kesembuhan Pujianto ternyata bukan hal baru dalam
dunia kedokteran (medis konvensional). Selain itu tidak sedikit juga orang yang
mengalami pengalaman yang sama dengan yang dialami oleh Pujianto, pengalaman
kesembuhan non-evidence medical based.
Hal tersebut diamini oleh Dr. Sunarto, salah seorang dosen di Fakultas
kedokteran UII Jogjakarta. “Kajian kedokteran untuk pengobatan alternatif yang
sifatnya gaib memang masih kurang, namun orang yang mengalami kesembuhan
semacam itu tidaklah sedikit. Kita sekarang hidup di alam modern, semua dilihat
dari sudut pandang positivisme, jadi semua hal harus bisa dibuktikan dengan
indera”, terangnya. Kajian fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto
ternyata sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1956. Namanya K.H.
Bertench.
Menurutnya fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto disebut efek Placebo.
Efek Plasebo adalah istilah medis untuk terapi
baik dalam bentuk obat-obatan maupun prosedur-prosedur medis yang tidak
memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien. Plasebo bukanlah obat palsu,
tetapi obat atau tindakan penyembuhan yang "dipalsukan" oleh dokter/dukun/penyembuh
yang diyakini memiliki dampak positif bagi pasien. Efek plasebo menunjukkan
bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia.
Karena dengan kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika,
efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.
Anne Harrington dalam bukunya “The Placebo Effect: An
Interdisciplinary Exploration”, mengatakan bahwa placebo itu layaknya hantu
yang yang menakuti rumah kesehtan, dan menakuti objektifitas biomedical, sesuatu
yang bangkit dari kegelapan dan mengekspos keparadoksan”
Dalam dunia medis efek plasebo ini membawa dampak kesehatan
yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Pernah suatu saat ada sebuah penelitian
yang membuktikan efek ini. Penelitian itu menggunakan obat palsu yang terbuat
dari tepung biasa namun obat tersebut diberi label analgesik oleh dokter.
Pasien yang mencobanya tidak mengetahui bahwa obat tersebut adalah obat palsu.
Beberapa saat kemudian pasien tersebut merasakan efek yang mengejutkan karena
pasien tersebut tidak lagi merasakan rasa sakit yang dideritanya. “Sebenarnya
yang menyembuhkan ia hanyalah sugesti yang diberikan oleh si penyembuh
tersebut. Bukan obat atau kekuatan gaib yang diberikan yang membuat reaksi di
tubuhnya. Kemungkinan efek Placebo itulah yang menyembuhkan Pujianto dari
kanker prankreasnya”, terang Firman Pratama S.T, seorang
pengamat dunia kesehatan dalam emailnya kepada penulis.
***
Meskipun begitu, apapun yang bermain di tubuh Pujianto, yang
ia rasakan kini adalah kesembuhan. Sekarang wajahnya kembali berseri dan
melanjutkan hidupnya lagi dengan keluarganya. Sehatkah Pujianto? Kata mbah
sombo kesehatan bukan diukur dalam hal kerusakan fisik apa yang terjadi di
tubuh manusia, melainkan apa yang dirasakan oleh manusia itu. Dan memang itulah
kebenarannya. 3 bulan lalu, Pujianto dengan senyum khasnya menjadi tamu spesial
di acara pengobatan alternatif TVRI Yogyakarta untuk memberikan kesaksian
kesembuhannya yang ia sebut sebagai mukjijat kehidupan.
Penulis:
Leo Agung Bayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar