BKM = (B)ANTUAN (K)E MANA-(M)ANA?

BKM = (B)ANTUAN (K)E MANA-(M)ANA?

“Jadi untuk seluruh proses pendistribusian beasiswa kepada mahasiswa, pihak universitas sendirilah yang mengelolanya. Universitas harus pandai-pandai menyeleksi dan memilih mahasiswa mana saja yang layak menerima beasiswa dan yang tidak,” (Prof. Dr. Ir. Budi Santosa Wignyosukarto D. I. P . H. E., koordinator Kopertis wilayah V)

 

Ada  kejadian menarik  di  kampus  Sanata  Dharma  pada awal  semester  genap  tahun  ini.  Banyak  mahasiswa berbondong-bondong  menuju  papan  pengumuman  di sekretariat prodi masing-masing untuk melihat beberapa carik kertas bertandatangankan WR III. Sebagian mahasiswa menunjukkan raut wajah gembira, sebagian lagi terlihat kecewa dengan senyum kecut di wajah. Ada juga yang spontan tak percaya. Tak ada pengumuman undian berhadiah di situ, bukan juga pengumuman nilai ujian mata kuliah dari dosen. Beberapa carik kertas itu bertuliskan nama-nama mahasiswa yang mendapatkan beasiswa BKM (Bantuan Khusus Mahasiswa).

Kegelisahan Mahasiswa; Beasiswa  tak Tepat Sasaran?

Adanya  beasiswa  BKM  pada  awal  semester  genap  tahun  ini banyak  menimbulkan  kegelisahan  di  kalangan  mahasiswa Universitas  Sanata  Dharma  (USD).  Beberapa  mahasiswa  masih bingung  dan  bertanya-tanya  mengenai  kriteria  mahasiswa  yang berhak  mendapatkan  beasiswa  BKM  tersebut. “Untuk kriteria yang ditetapkan oleh kampus, saya tidak  tahu.  Tiba-tiba  saja  saya  mendapatkan beasiswa  BKM  itu  padahal  saya  tidak  pernah mengajukan  syarat-syarat  untuk  mendapatkan beasiswa  kepada  rektorat.  Teman-teman  saya banyak  yang  dapat.  Ada  yang  memang  pantasmendapatkannya  karena  mereka  memang membutuhkan, tapi ada juga mahasiswa yang dalam segi ekonomi mampu  tapi  tetap dapat beasiswa,” ujar Teti, mahasiswi PBSID  '06.

Dalam  proses  pembagian  dan  sosialisasi, beasiswa  BKM  yang  dikeluarkan  oleh  kampus tersebut   ter jadi   secara  mendadak  tanpa sepengetahuan mahasiswa. “Untuk beasiswa BKM ini,  saya  tidak  tahu  sama  sekali,  tiba-tiba  saja  ada pengumuman  dari WR  III  mengenai  nama-nama mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Tapi saya tidak  mendapatkan  beasiswa  tersebut,”  tambah suster Angelina, mahasiswi PBSID  '07.

Terdapat  berbagai  asumsi  dan  spekulasi  yang merebak di kalangan mahasiswa berkaitan dengan munculnya BKM ini. Andri, mahasiswa PBSID '07 berspekulasi bahwa sebenarnya pengadaan beasiswa BKM  itu  hanya  untuk  memenuhi  kuota  dari pemerintah.    “Gambarannya  mungkin  seperti  ini, pemerintah memberi kuota sebanyak 100 mahasiswa yang harus mendapatkan beasiswa, tapi universitas hanya  mendapatkan  70  mahasiswa  yang  berhak mendapatkan,  sedangkan  30  yang  lain  dicari seadanya. Kemungkinan mahasiswa yang berjumlah 30 orang  itu adalah mahasiswa yang  sering meminta dispensasi,”  tuturnya.

Teti pun  sependapat dengan hal  tersebut. “Saya sebenarnya mendapat  beasiswa  tersebut,  tapi  saya tidak mengambilnya  karena  terlambat.  Saya  pikir, mahasiswa  yang  mendapatkan  BKM  adalah mahasiswa  yang  sering  mengajukan  dispensasi ketika  membayar  uang  kuliah,  seperti  saya,” jelasnya  sembari  tertawa.  Teti  menjelaskan  lagi bahwa  sebenarnya  ia  termasuk  mahasiswa  yang dalam  segi  ekonomi  mampu  tapi  pihak  rektorat menganggapnya tidak mampu karena terlalu sering meminta  dispensasi.  “Dalam  segi  ekonomi  saya mampu,  saya  meminta  dispensasi  hanya  untuk menunda membayar  uang  kuliah  dulu,  buat  jaga-jaga,”  tambahnya  lagi.

Lain  lagi  dengan  Pandu, mahasiswa Akuntansi '08.  Menurut  dia,  pembagian  beasiswa  BKM merupakan  hasil  acak  dari  pihak  prodi.  “Menurut saya,  pengadaan  beasiswa  BKM  itu  diberikan kepada mahasiswa secara acak dengan tidak melihat IPK  dan  keadaan  keluarga  mahasiswa  yang bersangkutan. Hal  ini  saya  lihat dari  teman-teman saya  yang mendapatkan BKM,  ada  juga  teman saya yang tidak terlalu tinggi IP-nya akan tetapi mendapatkan BKM,” ujar Pandu.

Dika  dan  Rini,  mahasiswi  PBSID  angkatan 2007  mempunyai  kebingungan  yang  berbeda. Mereka  mempermasalahkan  tentang  sistem pengelolaan  dan  distribusi  beasiswa  tersebut. “Saya  dulu  juga  pernah mendapatkan  beasiswa BKM.  Tapi  untuk  tahun  ini  agak  aneh,  karena seingat saya dulu, saya mengajukan persyaratan dulu  baru  mendapat  beasiswanya.  Sedangkan pada  semester  ini  sangat  berbeda,  mahasiswa langsung  mendapatkan  BKM,  baru  kemudian menyerahkan  syarat-syarat  yang  diperlukan kepada  rektorat.  Lha,  ini  kan  aneh?”  tanggap mereka mengenai beasiswa BKM  tahun  ini.

Proses dan Sistem Distribusi Beasiswa

Mengenai  permasalahan  beasiswa  BKM  ini rektorat  pun  angkat  bicara.  “Untuk  masalah beasiswa,  sebenarnya  ada  banyak  macamnya. Beasiswa  yang  bertujuan  untuk  meningkatkan prestasi,  seperti  PPA  (Peningkatan  Prestasi Akademik)    dan  BBM  (Bantuan  Biaya Mahasiswa),  dan BKM. BKM  adalah  beasiswa dari  Kopertis  yang  bertujuan  untuk  membantu mahasiswa  yang  kurang  mampu.  Beasiswa  ini sudah berjalan sejak kenaikan harga BBM  (Bahan Bakar Minyak)  tahun  lalu,  sehingga mahasiswa dapat  tertolong  dari  segi  ekonomi,”  kata  Rm. Kuntoro S.J.  selaku WR  III.

Prof.  Dr.  Ir.  Budi  Santosa  Wignyosukarto D.I.P. H. E selaku koordinator Kopertis wilayah V (wilayah Yogyakarta) sependapat dengan WR III. “Kopertis  mempunyai  kuota  beasiswa  dari DIKTI.  Terdapat  tiga  macam  beasiswa  dari Kopertis, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), BBM,  serta  BKM.  PPA  dan  BBM  diberikan secara rutin tiap tahun dengan tujuan membantu mahasiswa  yang  tidak  mampu  agar  prestasi akademiknya meningkat. Sedang BKM diadakan untuk membantu mahasiswa yang dilihat dari segi ekonomi  kurang.  BKM  ini  ada  sejak  presiden Susilo  Bambang  Yudhoyono  menaikkan  tarif BBM, sehingga mahasiswa yang kurang mampu tidak begitu terbebani dengan naiknya tarif BBM tersebut,”  jelas Budi.

Kopertis  mempunyai  alokasi  dana  beasiswa pada  masing-masing  PTS  (Perguruan  Tinggi Swasta) yang  disesuaikan  pada  proporsi mahasiswanya.  Dalam  prosesnya,  Kopertis mengandalkan  laporan  akademik  untuk memberikan  ketepatan  laporan  sehingga  dapat diperiksa  dengan  cermat  oleh Kopertis. Setelah itu kuota diserahkan pada PTS sendiri, dari PTS masuk ke Kopertis dan diproses lagi. Hibah baru cair dari bulan Januari sampai Maret. “Jadi untuk seluruh proses pendistribusian beasiswa kepada mahasiswa,  pihak  universitas  sendirilah  yang mengelolanya. Universitas  harus  pandai-pandai menyeleksi  dan memilih mahasiswa mana  saja yang layak menerima beasiswa dan yang tidak,” ujarnya   lagi.

Untuk beasiswa BKM, Kopertis mendapatkan alokasi  dana  dari  pemerintah  sekitar  12,4  M. Semua  mahasiswa  universitas  swasta  di Yogyakarta  berpeluang  untuk  mendapatkan beasiswa  BKM.  Namun,  belum  tentu  semua mahasiswa  universitas  swasta  di  Yogyakarta mendapatkan  beasiswa  ini.  Hanya  universitas yang  taat  pada  azas  saja  yang  akan mendapatkan bantuan  ini.  “Yang  dimaksud  dengan  universitas yang taat pada azas adalah  yang mampu memenuhi syarat-syarat  dan  ketentuan  yang  berlaku.  Salah satunya  dengan memberikan  laporan  berupa  data mengenai  mahasiswa  yang  direkomendasikan untuk mendapat beasiswa BKM baik sebelum dan setelah  mendapatkan  beasiswa.  Harapannya, beasiswa  yang  ada  dapat  dimanfaatkan  seoptimal mungkin,” terang Budi. Lebih lanjut ia mengatakan diharapkan  beasiswa  tersebut  dapat  digunakan sebagai modal kewirausahaan oleh mahasiswa yang mendapatkannya. Dengan begitu, mahasiswa dapat mandiri bahkan dapat menggunakan uang dari hasil usahanya  dipakai  untuk  meringankan  biaya kuliahnya.

Masalah Penyeleksian dan Waktu?

“Proses penyeleksian dan pemilihan mahasiswa yang  layak  untuk  mendapatkan  beasiswa  yang diadakan  pihak  universitas  sudah  cukup  baik. Contohnya,  untuk  beasiswa BBM  dan  PPA  kami sudah menyosialisasikannya sejak beberapa bulan sebelumnya. Kami menempelkan pengumuman di papan pengumuman tiap prodi. Pengumuman berisi syarat-syarat  yang  harus  dikumpulkan  oleh mahasiswa dalam batas waktu tertentu. Setelah itu, kami  menyeleksinya,  bahkan  untuk  beasiswa tertentu,  ada  wawancara  juga  dalam  proses penyeleksian,” ujar WR III ketika ditanya  tentang proses pendistribusian beasiswa.

Menanggapi dugaan beasiswa yang  tidak  tepat sasaran,  WR  III  mengatakan  bahwa  masalah tersebut disebabkan oleh sedikitnya rentang waktu yang  diberikan  oleh  pihak  Kopertis  untuk menyerahkan  data-data  mahasiswa.  “Sedangkan untuk  distribusinya, mengapa  banyak mahasiswa yang  ternyata mampu secara ekonomi akan  tetapi tetap   mendapatkan beasiswa   BKM,  permasalahannya  terdapat  pada  rentang  waktu penyeleksian  yang  begitu  singkat.  Saat  itu,  kami hanya  diberi  waktu  oleh  Kopertis,  untuk menentukan mahasiswa yang berhak memperoleh beasiswa BKM,  kira-kira  seminggu  saja. Dengan waktu  sesingkat  itu,  penyeleksian  dengan pengumpulan berkas dahulu dan seterusnya dirasa tidak mungkin. Lalu akhirnya kami pilih mahasiswa yang  dulu  pernah  mendaftar  beasiswa  tapi  tidak mendapatkannya  atau  mahasiswa  yang  sering meminta dispensasi uang kuliah.”

            Lantas,  bagaimana  tanggapan  koordinator Kopertis mengenai beasiswa BKM yang tidak tepat sasaran ini? “Kami rasa dari pihak Kopertis sudah memberikan waktu yang cukup pas kepada seluruh PTS  untuk  mengadakan  seleksi  mahasiswa  yang layak mendapatkan beasiswa ini. Waktu yang kami berikan  lebih  dari  satu  minggu,  kalau  ada  yang kurang dari satu minggu berarti pemberitahuannya yang  terlambat.  Untuk  masalah  bagaimana  cara menyeleksinya  kami  serahkan  pada  PTS masing-masing,  kami  tinggal  terima  berkasnya,”  tandas Budi.

Kembali ke Prodi dan Mahasiswa

Ketua program studi Bimbingan dan Konseling turut  mengungkapkan  pendapatnya  mengenai pemberian beasiswa BKM ke tiap-tiap mahasiswa di  program  studi  masing-masing.  “Saya  melihat bahwa  WR  III  kurang  melibatkan  prodi  dalam proses merekomendasikan mahasiswa  yang  layak untuk  mendapatkan  beasiswa.

Selama  ini,  kaprodi  hanya dimintai  tanda  tangan  transkrip nilai saja. Sedangkan dari pihak Kopertis meminta data ekonomi keluarga,” ungkap Dr. M.M Sri Hastuti, M.Si. Ia juga menambahkan bahwa kaprodi  BK  pernah  mendapat tawaran  BBM  dari  Kopertis.   “Se h a r u s n y a     b e a s i swa  diberikan  kepada  mahasiswa yang kurang mampu,  tetapi pada kenyataannya  dananya  masih b e l u m   tepat   s a s a r a n  dikarenakan  kurangnya  data. Prodi tidak diikutsertakan untuk mengambil kebijakan siapa saja yang  layak  mendapatkan beasiswa itu, sedangkan seluruh data keluarga mahasiswa ada di prodi, BAA, dan keuangan WR I I .   Jadi ,   yang  memohon dispensasi  juga  layak  dibantu. Sebenarnya  karakteristik  dari peningkatan prestasi mahasiswa y a n g   b e n a r - b e n a r   t a h u  mengenai  hal  ini  adalah  prodi sendiri,”  ungkap  Sri  Hastuti seraya  tersenyum  kepada  kami saat diwawancarai.

Dari pihak mahasiswa sendiri, beberapa  juga  menyatakan p e n d a p a t n y a   t e n t a n g  ketidaktepatan  sasaran  beasiswa BKM,   “ S e h a r u s n y a   a d a  koordinasi yang  jelas antara pihak rektorat  dengan  prodi,  biasanya prodi  lebih  mengetahui  secara langsung  bagaimana  keadaan mahasiswa itu sendiri selama dia kuliah,   apakah  mahasiswa tersebut   benar-benar  butuh bantuan atau  tidak. Jangan sampai uang yang telah diberikan kepada mahasiswa  tersebut  digunakan untuk hal yang tidak semestinya. Misalnya,  buat  jajan  atau malah buat  shopping,”  kata  Ardi, mahasiswa Teknik Mesin  '07. “Kita lihat lagi apa tujuan dari beasiswa  itu  sendiri.  Jika  intensi awal beasiswa itu bertujuan untuk m e n i n g k a t k a n   p r e s t a s i  mahasiswa,  maka  mahasiswa yang  dipilih  harus  benar-benar mahasiswa yang mampu menjaga atau  bahkan  meningkatkan kemampuan akademiknya setelah dibantu.  Jika  beasiswa  yang di tujukan  untuk  membantu mahasiswa  yang  tidak  mampu secara  keuangan,  maka  harus benar-benar  dipilih  mahasiswa yang benar-benar butuh bantuan, agar  tidak  menimbulkan  salah persepsi  di  antara  mahasiswa sendiri” ujar  suster Angelina.

WR  III  menambahi  “Untuk mendata dengan  tepat siapa yang benar-benar      membutuhkan atau  tidak  itu  sangat  sulit.  Mahasiswa  seharusnya  lebih aktif   mencari   informasi .  Sehingga  yang  benar-benar membutuhkan mau  datang  dan membicarakan yang  sebenarnya.  Masalahnya,  dari  mahasiswa yang  kurang  mampu  sendiri masih  kurang  mau  untuk mencari bantuan. Bantuan akan selalu  ada  jika mahasiswa mau terbuka pada kita”,  tandasnya.

Penulis:

Leo Agung Bayu W

 

Reportase Bersama

Marsianus Bathara

Vincentius Wisnu Aditya

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar