Akhir dari Sidang Kuasa




(Sebuah refleksi dan analisis tentang dekadensi militansi dan intelektual pergerakan mahasiswa)
Akhir-akhir ini sidang jajaran penguasa kampus yang terdiri dari pemerintah, rektorat, dan para korporat kaya sedang direpotkan oleh tindak-tanduk subversif yang mereka pikir begitu berbahaya bagi mapannya kekuasaan mereka. Tindak-tanduk itu berangkat dari beberapa mahasiswa pembangkang yang tidak mau tunduk dengan sistem yang menurut mereka “salah arah” dan tidak humanis. Mereka berorganisasi, mempertajam senjata dengan pengayaan wacana, bergerak walau kecil dan sporadis, dan yang paling ditakuti adalah: Ya! Mereka militan. Selain pembangkang, mereka adalah jenis mahasiswa yang tahan banting. Selalu saja ada jalan untuk melawan. Perlawanan mulai dari tataran ideologis seperti perang wacana dengan rektorat, tentang apakah pendidikan di kampus mereka adalah pendidikan yang humanis atau fasis. Tataran praktis, seperti memperdebatkan regulasi yang tidak tepat sasaran atau uang kuliah yang terlampau mahal. Hingga pada tataran yang melanggar hukum, seperti masa aksi di depan rektorat, merusak sistem informasi perkuliahan, sampai mensabotase rapat jajaran senat.

Metode pendisiplinan a la abad pencerahan yang sifatnya meniadakan, merepresi, mensensor, mengabstraksikan, menyelubungi, dan menyembunyikan dirasa tak lagi efektif untuk menjinakkan mereka. “Makin diinjak, makin melawan” adalah slogan bagi para mahasiswa pembangkang. Ketika ada ketidakadilan yang ditutup-tutupi, maka dengan cerdik mereka segera menguaknya. Indera mereka tajam, dan perasaan mereka pun peka. Ketika ada ketidakmanusiawian dalam perlakuan kepada mahasiswa, mereka mengadvokasi korban dengan pemberitaan dan pembentukan opini publik. Ketika ada kesalaharahan dalam sistem pendidikan, mereka membuat sistem pendidikan sendiri dengan basis komunitas yang kuat. Ketika ada penyensoran dan pembredelan media kampus, maka mereka membuat media sendiri dan menyebarkannya dengan diam-diam.

Jajaran penguasa sudah cukup dibuat pusing dengan kemilitanan para mahasiswa pembangkang tersebut. Harus ada metode pendisiplinan baru yang lebih efektif demi mempertahankan kemapanan kekuasaan mereka. “Eureka!” Teriak korporat kaya dengan girang saat ia menemukan metode pendisiplinan untuk para mahasiswa pembangkang pengusung ide-ide subversif. Mereka mengusulkan untuk lebih mengintensifkan penggunaan senjata yang bernama wacana budaya pop arus utama. Semua setuju.

Duarr!!! Bagaikan bom kluster, wacana budaya pop pun ditembakkan. Area yang disasar adalah anak kuliahan pada umumnya. Teknologi informasi, hiperrealitas media, dan dunia hiburan menjadi motor wacana budaya pop tersebut menyebar tak tentu arah. Kampus membuka lebar-lebar jalan masuk perusahaan-perusahaan yang ingin menawarkan produk mereka. Sejak saat itu semakin seringlah di area kampus dibuka tenda-tenda produk pemutih wajah, makanan ringan, voucher hp, pembalut wanita, dan berbagai variasi merk pelangsing tubuh. Produsen-produsen televisi swasta tak lagi malu menawarkan mimpi-mimpi popularitas dengan idol-idol-an-nya, atau membuka kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswa untuk sedikit mencicipi rasanya masuk TV. Konser-konser dan pertunjukan hiburan yang mendatangkan artis-artis ibukota lebih digiatkan. Hedonisme dan konsumerisme ditunjukkan oleh para petinggi kampus macam dosen dan jajaran rektorat. Disadari atau tidak, di balik itu semua, bersembunyi iming-iming akan kesenangan. “Apa saja yang menyenangkan, itulah yang penting”.

Efek bom wacana tersebut mengenai para mahasiswa yang sebelumnya sudah hedonis dan nge-pop, sekaligus juga kepada para mahasiswa yang baru saja masuk ke dunia perkuliahan. Pengaruh wacana budaya pop arus utama yang sebelumnya sudah banyak dicekokkan oleh media massa kepada para mahasiswa baru ketika mereka masih SMA, menjadi terakumulasi dan semakin mengental ketika mereka memasuki dunia perkuliahan. Konsekuensi logisnya, gerakan mahasiswa untuk perubahan tidak lagi ada kadernya. Hal tersebut disebabkan karena gerakan mahasiswa dirasa tidak memberikan kesenangan seperti yang ditawarkan oleh semangat hedonisme dalam budaya pop. Semakin lama minat mahasiswa untuk terjun di sana dengan sendirinya merosot. Pengaruh gaya hidup mahasiswa dan aktivis-aktivisnya yang semakin terpesona oleh budaya pop menyebabkan pergeseran gerakan mahasiswa. Mahasiswa menjadi malas berorganisasi, bergerak, juga melawan. Karena, mahasiswa yang berorganisasi, bergerak, dan melawan adalah mahsiswa yang “abnormal”. Satu-dua mahasiswa tidak terperangkap budaya pop arus utama, namun sayang mereka menunjukkannya hanya dengan gaya hidup yang banal saja, macam tidak ikut fashion, nongkrong, bersenang-senang, mabuk-mabukan, namun tak ada niat untuk perubahan keadaan sosial. Sidang kuasa pun tersenyum.

Tak bisa dipungkiri, ini adalah ujian terberat bagi para mahasiswa pembangkang yang masih menjaga semangat pelawanan mereka. Seperti tak mau memberikan celah, penguasa pun mengeluarkan senjata mereka lagi, kali ini adalah pengetatan regulasi-regulasi perkuliahan maupun non-perkuliahan. Contoh, masa kuliah dibatasi hanya 5 tahun saja, jumlah SKS yang harus ditempuh diperbanyak, pelaksanaan sistem poin yang membuat mahasiswa menjadi sangat pragmatis, hingga penaikan biaya kuliah yang begitu tinggi. Akibatnya, mahasiswa pun menjadi study-oriented. Pergerakan dan organisasi mati karena dianggap mengganggu perkuliahan dan para mahasiswa pembangkang nasibnya lebih sial, terancam DO. Organisasi sepi karena disorientasi gerakan. Banyak mahasiswa yang memilih berkompromi dengan masuk sistem di kampus, tetap ada yang melanjutkan perlawanan (walaupun sendiri, dan terancam DO) namun berakhir dengan kelelahan dan keputusasaan. Militansi hilang, pergerakan mati, kekuasaan pun tetap langgeng. Senyum sidang kuasa semakin lebar.

Dari refleksi ini kita bisa menarik benang merah cara kerja pendisiplinan subyek kuasa kepada yang dikuasai (meskipun ternyata, subyek kuasa pun juga termasuk hasil kuasa itu sendiri). Mereka sadar bahwa kuasa tak selalu bekerja melalui penindasan dan represi tetapi terutama melalui wacana, normalisasi, dan regulasi. Ini yang disebut Foucault sebagai kontrol sosial yang baru. Bertentangan dengan ideologi pendisiplinan a la abad pencerahan yang telah dijalankan,  tujuan utama kontrol sosial adalah untuk mendepolitisasikan ketidakpuasan sosial dengan menyingkirkan atau mengasingkan  individu yang non-kompromis dan meregulasikan mereka dengan sebuah alat  penjagaan  dan managemen psikologis.
 
Dari sini kita harus menyadari bahwa cara kerja kuasa memang perlu dikuliti untuk mendelegitimasi kekuasaan itu sendiri. Karena kuasa memproduksi realitas dan ritus-ritus kebenaran. Yang didisiplinkan adalah jiwa kita. Psikis, subjektivitas, personalitas, kesadaran dan individualitas kita. Kita menjadi saling mengawasi, bahkan dengan sukarela. lalu kita mendisiplinkan diri kita sendiri. Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh subyek kuasa.

Leo Agung Bayu W.
~nataser~

Sebuah Refleksi



Titik refleksi dalam organisasi

1.       Awal dipilih jadi PU di Mubes Luar Biasa
Awal pemilihan PU periode 2010-2011 adalah ketika Mubes luar biasa pada 19 Desember 2010 tahun lalu. Sejak saat itu jabatan PU belumlah menjadi jabatan yang formal melainkan masih bersifat kultural. Warisan dari natas 2009 adalah isu mau dijadikannya natas menjadi organisasi yang lebih struktural. Perlu diketahui, kerangka berpikir kita kala itu adalah seperti ini: organisasi yang struktural adalah organisasi yang rapi dalam bekerja, tiap individu atau divisi mempunyai wilayahnya masing-masing, cenderung kaku, dan mantab dalam hal administrasi. Sedangkan organisasi yang kultural adalah organisasi yang cair, sifat kekeluargaanya begitu kental, dan cenderung kurang tertib dalam bidang administrasi.
Meskipun banyak perdebatan, mana yang paling cocok untuk natas, struktural atau kulturalnya, kebanyakan suara lebih menginginkan natas yang struktural. Batu pijakan pertama menuju ke natas yang lebih struktural adalah pengkaderan angkatan 2010 yang bersifat pembekalan formal dan intens. Dan yang kedua adalah upaya untuk pe-rapi-an natas baik dalam segi fisik maupun yang metafisik.
Selain itu natas perode ini adalah natas yang mencoba-coba sistem baru. Dari ilmu pengetahuan tentang keorganisasian dari LPM-LPM lain, natas mencoba sistem pengkaderan model jenjang karir. Yang dimaksud adalah adanya pembagian tugas yang jelas antar angkatan. Intinya tiap angkatan mempunyai hak dan kewajiban yang beda. Misalnya angkatan 2010 tidak dimasukkan dalam divisi majalah dulu. Atau yang menjadi pengurus diutamakan dari anggota yang sudah aktif 2 tahun di natas, dll.

2.       Masa genting natas episode I
Dalam dinamikanya, natas mengalami masa genting pada awal-awal kepengurusan setelah mubes luar biasa. Model pengkaderan ala 2010 yang menekankan formalitas dan kemampuan profesional malah menjadi bumerang bagi natas sendiri. Ketika itu bisa dilihat berapa banyak anggota angkatan 2010 yang betah di natas. Dari hampir 100 orang pendaftar, saat setelah pengerjaan NHN magang hanya tersisa 20 an orang. Itu jika diukur dari segi kuantitas, dalam kualitas pun dianggap belum cukup mumpuni baik dalam militansi, berwacana, maupun produktifitasnya.
Bukan hanya dalam hal pengkaderan 2010 yang bermasalah, saat itu terdapat sebuah kejadian yang paling mempengaruhi mood berorganisasi untuk kedepannya. Seakan-akan jalinan yang selama ini dibuat di organisasi menjadi runtuh begitu saja. Permasalahan tersebut memang bersifat personal, namun juga erat menyangkut keorganisasian. Ketegangan-ketegangan antar personal pun bermunculan satu per satu, natas terpecah belah menjadi beberapa kubu.
Tidak hanya berhenti di situ saja, muncul permasalahan selanjutnya, yaitu kehadiran teknologi bernama laptop. Tak bisa dipungkiri laptop layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi bisa membunuh lawan, namun di sisi lain bisa juga melukai diri sendiri. Seharusnya dengan kehadiran laptop kinerja keorganisasian natas menjadi semakin meningkat, namun apa daya, game lah yang menang. Hasilnya adalah kecanduan game (contohnya PES, Rise of Nation, Warcraft, dll) yang menyebabkan gejala-gejala nataser yang seperti ini: malas, anti sosial, tak pernah lagi berdiskusi, mengalami kemunduran intelektual dan tidak produktif. Masa genting natas episode I ini berlanjut hingga mubes 2010.

3.       Mubes 2010
Musyawarah Besar adalah saat paling sakral dalam dinamika keorganisasian UKPM natas. Setelah selama hampir 2 bulan menjabat sebagai PU ilegal, akhirnya ketika 25 Februari 2010 saya menjadi PU yang legal bagi natas. Ditanggal itu lah para pengurus dilantik di Mubes natas 2010. Berangkat dari kerangka pikir yang sebelumnya (menjadikan natas yang “struktural”) kami, para pengurus harian menetapkan program-program jangka pendek yang sekiranya dapat membawa natas ke arah yang diinginkan, yaitu natas yang lebih profesional dan rapi. Misalnya dengan membuat sistem baru pengambilan uang. Selain itu juga lebih fokus di renstra universitas yang sudah disepakati, yaitu memperkuat jaringan kerja.

4.       Mencoba bersama-sama memperbaiki masa genting natas episode I
Menghadapi situasi natas yang kurang mendukung untuk beroganisasi, maka beberapa nataser yang peduli terhadap organisasi yang dicintainya mencoba mengambil beberapa langkah. Yang pertama adalah mendiskusikan keadaan natas bersama para alumni natas yang masih eksis hingga sekarang (sebut saja Lisis dan Al). Isi diskusi tersebut kurang lebih menguliti kondisi akademik kampus, sistem yang menindas, membuat pemetaan kondisi organisasi dan kampus. Bertolak dari situ para nataser pun mereka-reka apa langkah yang tepat untuk ke depannya.
 Langkah pertama yang dilakukan adalah mengadakan evaluasi besar. Waktu itu evaluasi dilakukan dua tahap, yang pertama adalaha per angkatan yang kedua keseluruhan anggota. Hasil evaluasi dapat dengan mudah ditebak. Angkatan 2008 misalnya, banyak yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, beberapa merasa sendirian, bahkan terdapat kelelahan-kelelahan baik dalam tataran fisik maupun psikis. Angkatan 2009 belajar untuk mengkritik dan menerima kritik dan bagaimana menyelesaikan masalah dengan dewasa. Dari evaluasi tersebut para nataser menyadari bahwa sekarang bukan saatnya lagi untuk dikader, melainkan saatnya mengkader. Selang beberapa detik kemudian para nataser terbuka matanya, bahwa ada angkatan 2010 yang terlunta-lunta dan menunggu untuk dilantik.
Pada proses pelantikan kali ini, dinamika dan mood berorganisasi natas menunjukan tanda-tanda membaik. Semua berjalan tanpa hambatan berarti kecuali jumlah anggota baru natas yang ikut pelantikan tidak mencapai 15 orang. Ini firasat baik bagi natas.

5.       Masa genting natas episode II
Firasat baik ketika pelantikan ternyata hanya berhenti pada firasat saja, kenyataan berkata sebaliknya. Natas mengalami masa yang disebut sebagai masa genting natas episode II. Pada awalnya adalah rapat kerja pertama. Pada rapat ini kami (pengurus hatrian) merencanakan untuk memasukkan anggota baru ke dalam divisi-divisi yang ada sekaligus membicarakan program ke depannya dalam tataran praktis. Namun ternyata sebagian besar dari anggota baru tidak bisa datang dalam rapat penting tersebut. Akhirnya hanya beberapa orang saja yang dipastikan masuk ke dalam divisi-divisi yang ada. Rapat pun diundur. Rapat selanjutnya kondisinya masih belum berubah, entah apa penyebabnya. Antisipasi yang dilakukan hanyalah memasukkan anggota-anggota yang sudah datang. Sedangkan yang tidak datang dimasukkan sekenanya mengingat keterbatasan waktu. (waktu itu menjelang ujian tengah semester).
Waktu berjalan hingga menuju liburan. Nah, masa ini lah yang menurut saya paling mengerikan, yaitu kevakuman dinamika natas yang disebabkan oleh banyaknya kegiatan di luar natas. Beberapa nataser menikuti jaksa, beberapa lagi mengikuti SIMAK, beberapa mengikuti insadha, beberapa mengikuti kerja sambilan, dll, lalu yang tinggal di natas pun bisa ditebak, tinggal beberapa juga. Sampai sekarang saya masih menebak-nebak penyebab banyaknya nataser yang mengikuti kegiatan di luar natas.
Kembali, beberapa nataser yang peduli dengan organisasi kita yang tercinta ini melakukan beberapa tindakan untuk menyembuhkan organisasi kita yang sakit ini. Misalnya dengan menggiatkan kembali diskusi-diskusi baik secara formal maupun informal. Kuantitas nongkrong bareng diperbanyak. Namun ternyata hasilnya belum juga memuaskan. Masih banyak anggota yang terjebak dalam kegiatan yang bersifat ngemo atau G3JG (Galau-galau gak jelas gitu).

6.       Perombakan besar-besaran organisasi
Evaluasi keanggotaan pun diadakan lagi. Satu persatu penyakit organisasi ditelanjangi dan dianalisa. Akhirnya para anggota natas menyepakati bahwa harus ada perombakan keanggotaan. Perombakan ini dilakukan dengan cara pemecatan dan pemberian peringatan. Pada waktu itu ada 12 anggota yang diputuskan untuk dipecat, dan 5 anggota diberi peringatan. Sempat muncul pro-kontra mengenai tindakan tersebut.

7.       Kegagalan tertib administrasi
Kegagalan yang paling menohok adalah ketika natas tidak mengumpulkan beberapa LPJ kegiatan. Dengan alasan itulah rektorat menolak permintaan proposal launching majalah dan dua NHN edisi terakhir. Dari kejadian tersebut bisa dibilang bahwa administrasi natas tahun ini masih kurang tertib. Sungguh ironis melihat kerangka awal berpikir kita adalah menjadikan natas yang lebih terstruktur. Memang kesalahan sepenuhnya tidak terletak di tangan natas. Ada hal-hal yang ganjil yang dilakukan rektorat misalnya tidak adanya pemberitahuan sebelumnya bahwa LPJ kita ada yang belum ditumpuk dan pemberitahuannya disampaikan ketika menjelang tutup buku. Selain itu kegiatan-kegiatan sebelumnya seperti ekspo dan dikdas juga tidak bermasalah dalam pencairan uang. Namun ini menjadi pelajaran berharga bagi saya tentang pentingnya administrasi dalam sebuah organisasi.


8.       Tentang fungsi kontrol PU
Fungsi kontrol. Dari dulu yang paling disorot dari tugas PU adalah soal fungsi kontrol. Harus aya akui bahwa dalam hal fungsi kontrol terhadap anggota masih kurang. Terbukti masih banyak yang mengeluhkan tentang perlunya “dioyak-oyak”. Namun harus diingat juga bahwa natas adalah organisasi yang menjunjung tinggi demokrasi sehingga untuk menetapkan suatu keputusan, musyawarah adalah jalan terbaik.

9.       Kesimpulan dan saran untuk kepengurusan selanjutnya
Dari urian-uraian sebelumnya kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa kepemimpinan natas kali ini termasuk gagal. Indikator yang saya pakai adalah banyaknya penurunan kualitas maupun kuantitas anggota pada tahun ini. Kualitas yang saya maksud adalah militansi, produktifitas, dan kewacanaan. Oleh karena itu, saya sendiri menolak LPJ ini, jika indikator diterimanya LPJ adalah keberhasilan kepemimpinan saya. Dengan ini juga saya patut diberi sanksi keorganisasian yang nanti ketika mubs akan dibahas.
Untuk PU yang selanjutnya jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Perhatian kepada anggota harus diperbesar, jangan terlalu berlarut-larut dalam masalah yang kurang ideologis, tingkatkan motivasi berproduksi, jadi pendengar yang baik, tapi juga jangan terlalu takut untuk bertindak. Terlalu terjebak dalam masalah administrasi memang tidak baik, namun tidak ada salahnya natas lebih tertib dalam hal tersebut. Pengkaderan adalah tugas kita bersama, bukan Cuma PU ataupun litbang. Melihat nataser-nataser 2012 sama saja melihat secercah cahaya di ruang gelap.

10.   Penutup
Ya, memang benar kita keluarga. Namun kita bukan keluarga yang orientasinya hanya bersenang-senang. Kita adalah teman. Ya, itu memang benar. Namun juga bukan sekumpulan orang galau yang hanya disibukkan oleh permasalahan-permasalahan ecek-ecek nan sentimentil namun menguras banyak energi. Natas adalah keluarga, pertemanan, persahabatan, dan organisasi yang diikat oleh sebuah visi besar. Ideologi natas haruslah jelas, jurnalisme transformatif. Jurnalisme yang menggerakkan. Jurnalisme yang membawa perubahan keadaan menuju ke arah yang lebih baik. Ke keadaan dimana tidak ada ruang untuk biaya kuliah yang mahal, ketidakhumanisan, pendidikan yang salah arah, pemiskinan, sistem yang menindas dan ketidakadilan.


Jogjakarta, 25 Februari 2012, pukul 02.00
Buat semua nataser,

                                                                                                                                                      Tabik

seni untuk aku sendiri...hahaha...

pers yang memihak

Arya Gunawan Usis, 
MANTAN WARTAWAN, PEMERHATI MEDIA, KINI BEKERJA UNTUK PROGRAM PEMBERDAYAAN MEDIA DI UNESCO TEHERAN (IRAN). TULISAN INI MERUPAKAN PENDAPAT PRIBADI.


Liputan jurnalistik yang baik dan lengkap haruslah menyajikan kon teks dari satu peristiwa. Dari kon teks inilah akan lahir perspektif atau sudut pandang. Barulah kemudian liputan jurnalistik tersebut akan membawa makna bagi pembaca/pendengar/pemirsa, sehingga menjadi informasi yang bermanfaat, baik sebagai pengetahuan maupun sebagai alat untuk membuat keputusan.


Konteks dan perspektif dalam satu liputan jurnalistik mencakup hal sederhana hingga peristiwa yang rumit. Untuk contoh yang rumit, bisa dikemukakan peristiwa pembunuhan terhadap Usamah bin Ladin.
Satu penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyuguhkan data yang menakjubkan: dalam periode 1-4 Mei, jumlah berita yang ditulis di seluruh dunia mengenai peristiwa pembunuhan Usamah itu mencapai 120 ribu item, ditambah dengan 100 ribu item di blog, dan hampir 7 juta posting di Twitter digabungkan dengan Facebook. Tentu saja informasi sebanyak ini bisa menciptakan kebingungan, bahkan kesesatan, apabila tidak ditempatkan pada konteks dan perspektif yang jelas. Konteks dan perspektif yang dapat dipakai di sini, misalnya perincian mengenai penyerbuan satuan yang membunuh Usamah, reaksi dari Amerika Serikat dan dunia, perselisihan politik antara Pakistan dan Amerika, kemungkinan munculnya aksi teror sebagai jawaban atas aksi pembunuhan itu, dan riwayat hidup Usamah.

Tulang punggung Konteks dan perspektif adalah tulang punggung liputan jurnalistik. Namun belakangan ini tak jarang dijumpai liputan jurnalistik yang miskin konteks dan perspektif, dengan akibat lanjutan tak banyak makna yang dapat “dibungkus dan dibawa pulang“ oleh pembaca/pendengar/pemirsa. Liputan jurnalistik semacam ini akan tampil “lemas“ dan “lunglai“ karena tak ditopang oleh tulang punggung yang kokoh. Dampak lain yang lebih gawat akibat miskinnya konteks dan perspektif ini adalah peluang besar bagi munculnya bias. Contoh peristiwa paling mutakhir yang berpeluang mengalami nasib seperti ini adalah perang yang tengah berlangsung di Libya. Sabtu petang, 28 Mei lalu, di satu kafe di kawasan Jakarta Pusat berlangsung diskusi yang digagas oleh pengelola mailing list Jurnalisme, yang dihadiri sekitar 30 peserta. Salah seorang pembicara adalah Qaris Tajudin, wartawan Tempo yang ditugasi meliput perang di Libya; sebelumnya dia juga meliput pergolakan di Mesir. Salah satu informasi yang dituturkan Qaris adalah sulitnya mendapatkan informasi dari pihak Tripoli (kubu pemerintah Presiden Qadhafi), karena mereka antiwartawan luar negeri. Situasinya berbanding terbalik dengan kubu pemberontak yang bermarkas di Benghazi: mereka sangat bersahabat dan menyambut hangat kehadiran para wartawan asing. Itu sebabnya, hampir semua wartawan asing yang meliput di Benghazi menempel (embed) ke kelompok pemberontak, untuk mendapatkan akses yang luas bagi liputan mereka, termasuk misalnya bisa ikut sampai ke dekat garis depan.

Embedded journalism alias jurnalisme menempel merupakan praktek yang sah dalam liputan jurnalistik, tapi ia hendaknya dilakukan dengan kesadaran penuh dan tingkat tinggi akan risiko utama yang menghadang: kemungkinan tidak lengkapnya konteks dan perspektif, yang berujung pada terjadinya bias. Ini sudah dibuktikan dengan nyata lewat liputan sebagian besar wartawan Amerika mengenai perang Irak, yang cenderung berpihak ke Amerika karena mereka embedded ke pasukan Amerika. Liputan yang terasa berat sebelah itu terjadi akibat dua kemungkinan: terbatasnya akses ke kubu pihak lawan (dalam hal ini kaum insurgensi di Irak), dan rasa utang budi kepada tentara Amerika karena telah diizinkan mendapatkan akses ke garis depan.

Di Libya, situasi tak lengkapnya konteks dan perspektif ini besar kemungkinan telah pula terjadi. Lihat, misalnya, bagaimana tak banyaknya media yang mau melakukan upaya investigasi terhadap berbagai persenjataan berat yang dimiliki oleh kelompok pemberontak di Benghazi. Qaris mengisahkan kelompok pemberontak hanya bersedia dipotret saat mereka membawa persenjataan sederhana, tapi tidak bersedia jika tengah membawa persenjataan berat. Mungkin itu sebabnya mengapa tak banyak media melaporkan asal usul persenjataan berat milik kelompok pemberontak itu. Santer disebut-sebut pada awal mulai berkobarnya perang bahwa pihak Barat telah memasok persenjataan berat itu, sesuatu yang sebetulnya sempat menimbulkan perdebatan sengit di kalangan negara pendukung serangan atas Libya.


Laporan wartawati Al-Jazeera, Sue Turton, dari Benghazi pada siaran 5 Juni adalah contoh mengenai kemungkinan terjadinya bias akibat embedded journalism. Beritanya mengenai seorang pejuang dari kubu pemberontak, bernama Mohammad, yang melakukan perjalanan sendirian dengan menyamar untuk melihat apa yang dilakukan pasukan Qadhafi. Lalu Sue Turton menyebutkan Mohammad menemukan ranjau antimanusia di tepi Kota Brega, yang ditanam kelompok Qadhafi, untuk menimbulkan kesengsaraan bagi kaum pemberontak. Sue Turton mengacungkan satu unit ranjau itu di depan kamera. Tidak ada verifikasi sama sekali mengenai seberapa jauh kebenaran informasi yang dia peroleh. Bisa saja itu bukan dari Qadhafi. Ini sama halnya dengan apa yang sering kita saksikan dalam peristiwa penangkapan atau pembunuhan teroris di Indonesia, yang bersamaan dengan penangkapan itu ditemukan juga bahan peledak, senjata, buku-buku, dan video yang berisi ajaran radikal.

Asal-muasal Jangan-jangan konteks dan perspektif besar mengenai perang Libya ini bahkan telah hilang dari pemahaman sebagian para wartawan peliputnya. Tak banyak lagi yang ingat riwayat lahirnya serangan atas Libya itu sebetulnya berasal dari upaya “penyelamatan muka“ Presiden Amerika Barack Hussein Obama. Saat bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, 26 Februari, Obama mengomentari kerusuhan politik di Libya dengan mengatakan Qadhafi telah kehilangan legitimasinya, dan karena itu “harus angkat kaki“. Saat itu konflik dalam negeri di Libya baru berlangsung kurang dari dua pekan.

Namun ternyata Obama salah hitung, karena berhari-hari setelahnya Qadhafi tak juga surut ke pinggir gelanggang. Karena telanjur sudah memerintahkan agar Qadhafi harus angkat kaki, dicarilah cara untuk meyakinkan sekutu Amerika agar mendukung rencana pemberlakuan kebijakan no-fly zone terhadap Libya, yang kemudian disahkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 17 Maret.

Setelah itu, Obama sempat berkomentar bahwa Amerika akan “duduk di kursi belakang/penumpang”, dan bukan pengendali serangan. Namun kenyataan di lapangan berbeda, karena Amerika justru menjadi pemimpin serangan sampai hari ke-9, saat kemudi kemudian diambil alih NATO.

Banyak kritik dialamatkan kepada Obama dan Amerika, juga PBB dan NATO, atas serangan ini, karena mereka melanggar kedaulatan negara, dan bisa menjadi preseden buruk di masa mendatang, ketika satu negara berdaulat bisa dengan mudah diserang asalkan pandai mencari justifikasinya. Dalam kasus Libya, justifikasinya adalah ingin menyelamatkan warga sipil dari kekerasan rezim Qadhafi. Padahal masih ada berbagai upaya yang dapat ditempuh, misalnya pengetatan sanksi ekonomi, pembekuan aset, dan penguatan gerakan masyarakat sipil di dalam negeri.
Banyak orang sepakat, Qadhafi bukanlah pemimpin teladan; ia memiliki catatan buruk di bidang hak asasi dan kemerdekaan berpendapat, misalnya. Namun langkah menyerang Libya juga satu catatan buruk yang kini telah tertoreh di buku sejarah dunia.

Konteks dan perspektif besar di atas seyogianya menjadi panduan para wartawan peliput perang Libya, sehingga para wartawan tersebut tidak akan dengan mudah terjebak dalam sikap berpihak kepada salah satu kubu (dalam hal ini, sebagian besar wartawan, terutama dari negara-negara Barat, menunjukkan keberpihakan atau setidaknya simpati mereka kepada kelompok pemberontak Benghazi). Hanya itulah satu-satunya cara memperkaya pemahaman publik. Jika ini tak berhasil dilakukan, akan dengan mudah hasil liputan wartawan yang sebagian besar menempel ke kelompok pemberontak mengandung bias yang bisa menyesatkan, atau setidaknya menyajikan potret yang tak lengkap mengenai satu peristiwa penting yang kompleks, sebagai akibat minimnya konteks dan perspektif. ●


KAUM MUDA VS HEGEMONI PASAR

-->
“Jika harimau nempunyai cakar dan ular mempunyai bisa, maka pemodal mempunyai simbol-simbol dan tanda-tanda untuk mempertahankan eksistensinya”.

Siang itu cuaca terlihat begitu panas. Namun suhu yang menyengat tersebut tak mampu mengalahkan puluhan anak muda yang berdandan hampir seragam, potongan rambut yang juga serupa, aksesoris berwarna cerah, pakaian warna-warni mencolok ketat dan seksi, tak lupa dengan ekspresi wajah yang riang. Sembari menyanyikan lagu-lagu cinta dari band-band picisan pujaan, mereka melakukan gerakan tarian yang tak kalah serentak. Pemandangan tersebut sekarang lazim dijumpai di televisi-televisi swasta Indonesia dalam acara konser-konser musik kecil-kecilan. Ambil contoh, tayangan “inbox” di stasiun televisi swasta SCTV yang menyajikan penontonnya konser dari band-band kecil maupun yang sudah mapan dan dibumbui dengan peringkat-peringkatan. Acara tersebut tidak hanya ditayangkan sekali dalam seminggu, namun setiap hari.
Merujuk dari fenomena tersebut, kita bisa melihat betapa ampuhnya budaya populer mampu membius kaum muda dengan euforianya. Ada sesuatu yang menggerakan anak-anak muda tersebut. Ada sebuah tangan tak nampak (meminjam istilahnya Adam Smith) yang membuat mereka tampak seragam, baik dari cara berpakaian, gaya hidup, dll. Siapakah pemilik tangan tak nampak tersebut? Apakah fenomena tersebut wajar/alami terjadi begitu saja? Atau apakah ternyata kapitalis dan pemerintah juga punya andil besar di dalamnya? Mungkinkah perputaran modal, ideologi, hegemoni kapitalisme, dan industri kelas kakap tak luput menjadi sutradara di balik layar pertunjukan itu? Mari kita telaah lagi apa itu budaya populer, pasar, dan bagaimana hegemoni bekerja melalui banyak cara. Semoga setelah itu tangan tak nampak tersebut sedikit demi sedikit akan semakin terlihat.

Budaya Populer, Pasar, dan Kaum Muda
Budaya populer, pasar, dan kaum muda adalah tiga kata benda yang mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Ketiganya merupakan aset berharga bagi ideologi kapitalisme untuk semakin melanggengkan eksistensinya. Pasar sulit lepas dari kapitalisme, dan kapitalisme tak bisa lepas dari pengerukan laba sebanyak mungkin. Semua orang tahu itu. Untuk membeli barang-barang yang mereka produksi dan demi mengalirkan pundi-pundi ke dalam kantong mereka, kapitalis membutuhkan pasar.
Pasar yang mempunyai pembeli terbanyak adalah pasar yang paling menguntungkan kapitalis, sehingga pasar itulah yang menjadi incaran dan rebutan mereka. Melihat kondisi pasar, pangsa pasar yang paling menggiurkan dan mempunyai prospek cerah adalah kaum muda. Selain karena  jumlahnya yang banyak, kaum muda adalah kaum yang paling mudah dipengaruhi oleh pemodal baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam pencarian jati dirinya, kaum muda seringkali mudah terbawa arus. Jika sekarang pakaian perempuan yang ngetrend adalah pakaian ketat, seksi dan mencolok warnanya, maka seorang pemudi akan berpikir berkali-kali untuk memakai pakaian yang buluk, tidak seksi, dan tidak mencolok warnanya. Ujung-ujungnya, pemudi itu berusaha keras, bagaimanapun caranya untuk membeli pakaian yang bentuk dan warnanya hampir sama dengan yang lain.
Dari uraian di atas, kita bisa membedakan yang mana yang disebut budaya populer, pasar, dan kapitalis. Di sini pemudi berperan sebagai pangsa pasar yang membeli pakaian, dan kapitalisnya tentu saja produsen pakaian “masa kini” yang mendapat keuntungan. Lalu bagaimana kabar budaya populer?

Invasi budaya populer dan kebutuhan yang diciptakan
Ada banyak faktor yang membuat kaum muda membeli sesuatu, misalnya (merujuk pada contoh sebelumnya) membeli pakaian “masa kini”. Faktor yang pertama misalnya pemuda tersebut terkena bencana alam hingga pakaiannya habis. Di toko, pakaian yang tersedia hanya pakaian “masa kini”, mau tak mau dia membeli pakaian tersebut. Ia membeli pakaian tersebut karena memang dia butuh untuk bertahan hidup (kebutuhan minimal). Faktor yang kedua adalah, ternyata pemuda itu sudah terinfeksi dan terhegemoni budaya populer. Jika diibaratkan kapitalis adalah seorang pemburu, dan pembeli adalah adalah buruannya, maka pemburu yang paling pandai menyiapkan perangkap menjadi pemburu yang dapat buruan paling banyak. Perangkap tersebut adalah budaya populer.
Budaya populer mengambil alih kesadaran kaum muda melalui perangkat-perangkat tak terlihat dari para elit (kelas atas), yaitu ideologi dan hegemoni. Gramsci dalam epistemologinya tentang hegemoni mendefinisikan hegemoni sebagai suatu pengetahuan atau ideologi atau keyakinan baru yang dimasukkan secara terselubung dengan pembiasaan maupun dengan pemaksaan (doktrinasi) ke dalam atmosfir kesadaran kolektif masif. Salah satu penyebarannya dilakukan dengan perangkat media massa.
Tayangan-tayangan di televisi macam iklan, film, sinetron, dll turut andil dalam hegemoni yang dilakukan oleh kelas penguasa seperti pemilik modal besar, atau elit-elit politik. Dengan perangkat tersebut hegemoni bekerja, dan massa (kaum muda) akan memperoleh sebuah kesadaran-kesadaran atau keyakinan-keyakinan yang baru (atau relatif baru), yang disebut ideologi.
Ideologi tidak hanya memproduksi kebudayaan, namun juga memproduksi kesadaran diri manusia. Ideologi tidak berjalan secara eksplisit, namun secara implisit. Ia berkembang dalam praktek, kehidupan sosial, dan berbagai hal yang diterima masyarakat (yang seakan) apa adanya. 
Nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi suatu kelompok masyarakat akan mempengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tersebut.
Ketika hegemoni itu bekerja dengan baik maka kedudukan para elit di atas menjadi semakin kokoh. Massa sudah terpesona oleh nilai-nilai yang ditawarkan, sehingga secara langsung maupun tidak langsung mereka menyetujui dan menganggapnya sebuah kelaziman. Ketika dalam kondisi tersebut, maka para elit (kapitalis maupun politisi) dapat dengan mudah menggiring massa sesuai keinginan mereka.
Ideologi yang ingin disebarkan oleh budaya populer melalui hegemoninya adalah ideologi kapitalisme dan liberalisme. Ideologi tersebut menawarkan nilai-nilai populer dan kebebasan semu. Masih ingat dengan iklan pemutih kulit yang menggembar-gemborkan bahwa dengan mempunyai kulit putih, maka lawan jenis akan lebih mudah terpikat? Nah nilai yang ingin ditanamakan kelas elit kapada massa adalah bahwa wanita berkulit putih itu cantik, dan lebih baik daripada wanita berkulit hitam.
Terciptalah sebuah kesadaran hirarkis, bahwa perempuan kulit putih mempunyai kedudukan atau posisi lebih tinggi daripada yang berkulit hitam. Nah, setelah nilai atau kesadaran tersebut tertanam maka timbulah niat dari si penonton iklan tersebut untuk membuat tubuhnya menjadi semakin putih. Karena semakin dia putih, maka (seakan-akan) derajatnya akan semakin tinggi. Ujung-ujungnya, produk pemutih tubuh akan menjadi semakin laris. Keuntungan pun mengalir deras ke industri obat pemutih tubuh.
Dari situ bisa dilihat adanya saling keterkaitan antara massa (kaum muda), superstruktur (nilai-nilai dan keyakinan) dan genggaman ideologis kapitalis terhadap massa.

Subkultur yang dikooptasi
Masih ingat dengan contoh anak muda di acara “inbox” yang suka memakai pakaian yang serba mencolok dan bertabrakan warnanya, potongan rambut dan aksesoris yang aneh-aneh? Atau contoh lain, anak-anak muda yang berpenampilan punker, lengkap dengan aksesoris yang melekat di tubuhnya, macam tindik, anting ataupun kalung rantai. Jika dilihat sekilas mereka mengusung nilai-nilai perlawanan, dimana budaya mereka berbeda dari orang kebanyakan. Budaya yang di luar pakem tersebut biasa disebut subkultur. Namun pengaruh hegemoni kapitalis dengan budaya populernya juga telah masuk dan menyelinap ke dalam sendi-sendi subkultur ini.
Ketika melihat adnya sub kultur ini, budaya populer menawarkan keunikan dan ego dari tiap-tiap individu yang pada akhirnya ia akan diakui eksistensinya oleh orang lain (tapi meskipun dia diakui unik, tetap saja ia akan serupa dengan yang lain). Singkatnya individu yang terinfeksi budaya populer ingin menjadi individu yang diakui eksistensinya oleh orang lain (budaya pamer). Menjadi unik dengan membeli dan memakai pakaian yang ketat, seksi, dan mencolok warnanya, menyanyikan lagu-lagu band picisan, dan diakuinya si pemakai itu sebagai anak gaul masa kini, atau memakai dan berdandan ala anak punk, itulah yang disebut budaya populer.
Ujung-ujungnya bisa ditebak. Kredo yang ditawarkan tetap sama. Beli, beli, beli, konsumsi, konsumsi, konsumsi, dan engkau pun akan mendapat pengakuan. Subkultur yang pada awalnya merupakan sebuah gerakan perlawan untuk mengkritik budaya sebelumnya kini berubah menjadi gaya hidup dan fashion saja ketika ketika dirasuki kapitalis. Seakan-akan setelah membeli aksesoris punk di mall dan memakainya, maka dia ikut melakukan gerakan perlawanan. Padahal tidak,
Sejak kemunculannya hingga sekarang, ideologi kapitalisme memang mengalami perubahan-perubahan dalam penerapannya. Dengan adanya jaman post-modern sekarang ini, tanda-tanda, simbol-simbol, dan nilai-nilai hidup bisa dengan mudahnya digunakan, diputarbalik dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh kelas elit (kapitalis dan politikus) dengan tujuan mengamankan posisi mereka di puncak.

Sebagai penutup, agar tak mudah terhegemoni dan terpengaruh oleh budaya populer yang ternyata memang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dan industri untuk kepentingan mereka sendiri, maka sebagai kaum muda lebih baik mulai sekarang mengurangi menonton TV dan memperbanyak membaca dan diskusi.