Kode Etik PPMI
2. Pers mahasiswa menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
3. Pers mahasiswa proaktif dalam usaha mencerdaskan bangsa, membangun demokrasi dan mengutamakan kepentingan rakyat.
4. Pers mahasiswa dengan penuh rasa tanggung jawab menghormati, memenuhi dan menjunjung tinggi hak rakyat untuk memperoleh informasi yang benar dan jelas.
5. Pers mahasiswa harus menghindari pemberitaan diskriminasi yang berbau sara.
6. Pers mahasiswa wajib menghargai dan melindungi hak nara sumber yang tidak mau disebut nama dan identitasnya.
7. Pers mahasiswa menghargai off the record terhadap korban kesusilaan dan atau pelaku kejahatan/tindak pidana dibawah umur.
8. Pers mahasiswa dengan jelas dan jujur menyebut sumber ketika menggunakan berita atau tulisan dari suatu penerbitan, repro gambar/ilustrasi, foto dan atau karya orang lain.
9. Pers mahasiswa senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan harus objektif serta proporsional dalam pemberitaan dan menghindari penafsiran/kesimpulan yang menyesatkan.
10. Pers mahasiswa tidak boleh menerima segala macam bentuk suap, menyiarkan atau mempublikasikan informasi serta tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi dan golongan.
11. Pers mahasiswa wajib memperhatikan dan menindak lanjuti protes, hak jawab, somasi, gugatan dan atau keberatan-keberatan lain dari informasi yang dipublikasikan berupa pernyataan tertulis atau ralat
NATAS!
“Lawan kata dari cinta bukanlah benci, tapi apatisme”
(bunda Teresa)
Perubahan-perubahan sosial masyarakat dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh universitas akan selalu terjadi begitu cepat dan kadang tidak terduga sebelumnya. Perubahan tersebut bisa menuju ke arah yang lebih baik tapi bisa juga malah membuat kaum tertindas dan juga mahasiswa menjadi korban kekuasaan dan birokrasi yang kebablasan. Maka dibutuhkannlah sebuah sikap kritis dari mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan untuk membuat keadaan menjadi adil dan membangun wacana publik yang bisa menyadarkan semua pihak tentang realita yang sedang terjadi sekitarnya. Untuk itu dibutuhkalah sebuah media yang jujur, adil, objektif, dan memiliki tata cara berkomunikasi yang santun. Maka hadirlah PERSMA NATAS yang berperan sebagai “anjing penjaga” (watch dog) dalam kampus Sanata Dharma.
Siapa yang menguasai informasi, dialah penguasa. Dengan produk informasi yang akurat dan pemberitaan yang berulang-ulang, media pers dapat membangkitkan kesadaran, mencerdaskan pola berpikir, bahkan dapat membuat “telinga pembacanya menjadi panas”. Di sinilah arti penting lembaga pers agar informasi tidak dikuasai oleh seorang penguasa untuk memaksakan ambisinya.
Sebagai salah satu unit kegiatan kemahasiswaan di tingkat universitas UPKM NATAS hadir sebagai media penyaimbang dan pengawas yang independen di lingkungan kampus. UPKM NATAS memiliki jiwa dan semangat yang sama dengan visi dan misa universitas, yaitu memadukan nilai-nilai akademis dan nilai-nilai humanis sehingga kami memiliki visi sendiri sebagai dasar pengatur seluruh proses kerja kami yaitu menjadi wahana dan sarana kreatifitas mahasiswa menuju akademisi yang humanis.
Sejarah UPKM NATAS
Sejarah UPKM NATAS sampai sekarang belum terlacak dengan jelas. Secara historis UPKM NATAS didirikan pada tahun 1990 oleh sejumlah mahasiswa yang mempunyai minat dalam bidang jurnalistik. Ada saat dalam perjalanannya UPKM NATAS mengalami mati suri yang kemudian dibangkitkan lagi oleh mahasiswa dengan semangat semangat reformasi yang tidak rela melihat UPKM NATAS mati. Pada tahun 2004 unit kegiatan mahasiswa ini berganti nama dari UKM Penerbitan Kampus menjadi UPKM NATAS, dengan harapan roh jurnalis khas mahasiswa yang kritis, ilmiah, tajam menggigit hadir dalam mengiringi perjalanan kehidupan kampus USD. Sekarang UKPM NATAS sudah bergabung dengan Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).
Keorganisasian
Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai demokrasi maka kedudukan tertinggi dalam organisasi kemahasiswaan ini adalah musyawarah besar yang diadakan tiap tahu satu kali. Setelah itu adalah pemimpin umum, wakil pemimpin umum, sekretaris, bendahara, dan devisi-devisi yang mempunyai tugas dan wewenang masing-masing.
Devisi-devisi yang terdapat dalam UKPM NATAS adalah:
Devisi Keredaksian
produk utama UPKM NATAS adalah majalah natas dan koran Natas hot news. Selain mencari berita, kru redaksi bertugas meramu data-data sekunder menjadi karya tulis jurnalistik yang valid dan terpercaya. Di bidang inilah kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan ide brilian dalam menyamoaikan keganjilan atau ketimpangan realitas sangat diperlukan agar untuk kemudian dikomunikasikan kepada publik dalam bentuk tulisan-tulisan di majalah ataupun newsletter.
Devisi Perusahaan
Devisi perusahaan bekerja pada bidang pendistribusian dan pemasaran produk dari UKPM NATAS sendiri. Selain itu devisi ini juga bertugas untuk periklanan, dengan harapan ada tambahan dana untuk memproduksi majalah ataupun Natas Hot News.
Divisi Penelitian dan Pengambangan (litbang)
Divisi litbang mempunyai peran penting dalam setiap organisasi. Litbang bisa dianggap sebagai pengwas, atau bagai seorang dokter, tugas litbang adalah mengidentifikasi kekurangan-kekurangan atau penyakit yang ada dalam UKPM NATAS selanjutnya memberi diagnosis obat alternatif demi kesehatan/ kesembuhan organisasi, sehingga UKPM NATAS dapat bekerja dengan baik lagi. Melalui rapat rutin, diskusi dan nonton film diharapkan seluruh anggota dapat berkembang dan menjalankan tugasnya lebih baik. Selain itu litbang juga bertugas sebagai sebuah dinamisator dan mencari kader-kader baru dalam organisasi ini.
Program kegiatan dalam UKPM NATAS adalah sebagai berikut :
1. Penerbitan majalah NATAS setahun dua kali dan newsletter Natas Hot News (NHN) tiap dua bulan sekali. Sebagai wahana kreatifitas, NATAS diharapkan menjadi tempat mahasiswa bersikap ilmiah dan kritis. Dalam majalah isu-isu yang diangkat adalah yang bersifat keluar kampus atau global, sedangkan NHN lebih menyoroti persoalan yang berada di dalam kampus.
2. Pelatihan-pelatihan dan diskusi rutin. Kegiatan ini berguna sebagai tambahan wawasan atau pengetahuan baik untuk anggota natas sendiri maupun selain anggota natas. Misalnya pendidikan lanjut jurnalistik, diskusi tentang film, dll.
3. Untuk penerimaan angota baru maka diadakan seleksi masuk (wawancara) pendidikan dasar jurnalistik, dan magang dalam pembuatan NHN. Jangan kawatir, setiap anggota di UKPM NATAS adalah sebuah keluarga, sehingga apapun kesulitan yang dihadapi selalu ditangani bersama dan anggota yang lain yang lebih dahulu masuk akan selalu siap membantu.
Teman-teman mahasiswa Universitas Sanata Dharma, mungkin imajinasi kita akan terbang ke deretan kata-kata atau wartawan dengan segala tugasnya ketika mendengar kata ”pers” atau ”jurnalistik” atau mungkin teman-teman menganggap bahwa jurnalistik itu sulit dan menakutkan. Sebenarnya jurnalistik itu mengasikkan dan sebagai jurnalis kita mempunyai tugas mulia yaitu sebagai penyampai kebenaran dengan objektif dan jujur. Jangan takut dan cemas. Ketika hatimu tergerak untuk berpikir benar dan jujur, dan menyatakan mau bergabung dengan kami, kita sebagai keluarga akan sepenuhnya mendukung anda. Beranilah menjadi mahasiswa yang kritis namun santun. Buktikan cinta dengan menghilangkan apatisme dalam diri dan galilah kebenaran sedalam mungkin.
Jangan main-main dengan tulisan!
Salam PERSMA!
MAHASISWA SEBAGAI AGEN PEMBEBASAN!
MAHASISWA SEBAGAI AGEN PEMBEBASAN!
Penulis
: Leo Agung Bayu (Kalitbang natas)
“Kalau kita akan memuliakan bangsa dan nusa, baiklah kita
menyempurnakan terlebih dulu mereka yang tertindas itu. Sebelum mereka hdup sempurna,
belumlah kita berhak menamakan diri kita sebagai: Anak Indonesia!” Dr Soetomo
Mahasiswa, sebuah status idaman banyak orang.
Pasti bangga sekali rasanya mendapat status baru yang elit itu. Bagaimana
tidak, untuk menikmati kesempatan menjadi mahasiswa itu tidak semudah membalik
tangan. Hal itu bisa dimaklumi, karena untuk menjadi mahasiswa harus melewati
tahapan sembilan tahun wajib belajar di sebuah institusi bernama sekolah yang
sangat mengerikan dan membuat stress banyak anak didik. Belum lagi ditambah
dengan siksaan intelektual dan psikologis bernama Ujian Nasional yang notabene
sangat pantas dianugerahi julukan sebagai alat legitimasi pemerkosaan atas
intelektualitas siswa didik. Dengan menjadi mahasiswa berarti sudah bebas dari
tuntutan-tuntutan dari sekolah, dan resmi menjadi anggota masyarakat yang
dewasa dan mandiri. Semua tanggungjawab ada pada diri mahasiswa itu sendiri,
mau menikah, mau sambil kerja, tak ada yang melarang.
Dibutuhkan perjuangan berat untuk kuliah, terutama
bagi kalangan yang secara ekonomi “pas-pasan”, alias pas ada rejeki bisa makan, pas
rejeki tak ada rejeki ya bisanya ngutang.
Tak bisa dipungkri, biaya kulah sekarang sungguh sudah begitu melangit. Sistem
pasar sudah merasuki instansi-instansi pendidikan, terutama universitas.
Pendidikan pun diperjualbelikan layaknya barang dagangan di pasar sedangkan
pemerintah malah memperparah dengan menerbitkan undang-undang Badan Hukum
Pendidikan yang semakin membuat biaya kuliah tambah mahal. Sekarang untuk
mendapatkan pendidikan berkualitas berarti harus mengeluarkan banyak uang.
Semakin berkualitas, semakin mahal. Bagi para orang tua dan anak muda yang
tidak mampu hanya bisa menggigit jari melihat realita yang menyakitkan
tersebut.
Pendidikan bukan menjadi hal yang bisa dimiliki
setiap orang, seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini
melainkan menjadi sebuah barang elit yang semakin sulit didapatkan. Akibatnya
semakin eksklusiflah pendidikan. Ironisnya banyak mahasiswa yang sudah bisa mengecap nikmatnya
pendidikan tinggi itu malah tidak tahu tujuan mereka kuliah. Sebagian besar
mahasiswa jika ditanya untuk apa mereka kuliah sudah bisa ditebak pasti
jawabannya ialah supaya setelah lulus nanti lebih mudah cari kerja. Bahkan ada
yang kuliah hanya untuk mengisi waktu luang saja.
Mahasiswa sebagai kaum yang bebas dan terdidik
sudah mulai melupakan apa sebenarnya tujuan pendidikan yang didapatkan itu. Ketika
di kampus mahasiswa mulai malas berkegiatan. Prioritasnya akademik semata.
Kehidupan akademik kampus layaknya kehidupan diatas menara gading mewah yang
semakin menjauhkan mahasiswa dari
realitas yang sedang dalam masyarakat yang penuh dengan ketidakadilan.
Keadaan seperti ini sekarang sudah umum dan terjadi di mana-mana. Sejarah
Indonesia ini mencatat kenangan manis yang ditorehkan oleh mahasiswa, seperti
gerakan mahasiswa yang diprakarsai oleh Budi Utomo ketika tahun 1908 sebagai
tonggak kebangkitan nasional. Selain itu ada lagi pergerakan mahasiswa tahun
1998 yang berhasil menumbangkan kekuasaan Suharto. Tidak selayaknya sejarah
tersebut dijadikan sebagai sebuah kenangan manis saja, namun harus dijadikan
semangat untuk meneruskannya karena perjuangan mahasiswa itu masih belum
berakhir. Tapi apa yang terjadi sekarang sudah lain keadaannya. Kampus-kampus
yang dulu tidak pernah sepi dari diskusi, sekarang menjadi kampus yang mati.
Mahasiswanya terlalu sibuk menatap laptop berharga jutaan rupiah. Kampus-kampus
yang dulu pernah terkenal karena pergerakan mahasiswanya, sekarang menjadi
kampus yang stagnan dan berorientasi pada dunia kerja. Para mahasiswanya malah
sibuk membicarakan fashion atau model terbaru handphone yang akan keluar tahun
ini Haruskah keadaan ini dibiarkan?
Pendidikan
Sebagai Praksis Pembebasan
Pendidikan menurut Paulo Freire ditujukan untuk
humanisasi diri dan sesama melalui tindakan sadar untuk mengubah dunia. Yang
dimaksud sesama adalah masyarakat sekitar, termasuk yang miskin dan yang
tertindas. Selain itu pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan
realitas diri manusia dan dirinya sendiri atau dengan kata lain praktik
pendidikan mengimplikasikan konsep tentang manusia dan dunia. Sangat jelas
maksud dari freire bahwa kita sebagai mahasiswa, seorang yang terdidik,
seharusnya menyadari dirinya adalah seorang agen perubahan. Merubah keadaan
yang tadinya tidak baik menjadi lebih baik, yaitu dengan berjuang melawan
penindasan baik itu yang terjadi secara struktural ataupun secara sistematis di
dalam masyarakat sekitar kita. Menurut Freire lagi, salah satu langkah pertama
untuk melakukan perubahan adalah dengan pengenalan realitas yang sedang terjadi
pada sekitar kita yang menurutnya penuh dengan praktik penindasan. Jangan
sampai pendidikan malah semakin menjauhkan si terdidik dari kenyataan dan tidak
tahu apa-apa. Mahasiswa sebagai seorang terdidik seharusnya kaya wacana
sehingga bisa menganalisis segala gejala yang terjadi di sekitarnya.
Seperti yang kita ketahui bersama saat ini
kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan merupakan masalah serius yang
terjadi di masyarakat. Pendidikan yang kita dapat sudah seharusnya digunakan
sebagai sebuh praksis pembebasan. Maksudnya adalah pendidikan tidak seharusnya
digunakan untuk menindas manusia yang lain, tapi harus membebaskan mereka yang
masih tertindas. Yang dimaksud dengan pembebasan adalah pemanusiawian manusia
yang mengalami dehumanisasi akibat penindasan. Sang tertindas dibuat tak
berdaya dan dibenamkan dalam kebudayaan bisu. Artinya mereka dilarang untuk
ambil bagian secara kreatif dalam transformasi sosial. Dan oleh karenanya sang
penguasa akan menjadi lebih kuat mencengkeramkan kukunya.
Salah satu sebab kekuasaan itu bertahan adalah
karena kuatnya genggaman ideologisnya pada struktur dibawahnya, atau yang
diopulerkan oleh Antonio Gramsci sebagai hegemoni. Hegemoni adalah suatu
pengetahuan atau ideologi atau keyakinan baru yang yang dimasukkan secara
terselubung disebarkan melalui perangkat-perangkat kekuasaan yang bertujuan
unuk menggiring orang agara menilai dan memandang problematika sosial dalam
kerangka yang sudah ditentukan oleh penguasa. Contohnya adalah
digembar-gemborkannya universitas yang mencetak lulusan-lulusan yang siap
kerja. Ada anggapan yang mengatakan bahwa universitas yang baik adalah
universitas yang mencetak mahasiswa siap bekerja untuk penguasa maupun kepada
kapitalis. Dengan itu mahasiswa secara tidak sadar maupun sadar akan tergiring
menjadi mahasiswa yang berorientasi pada IP (Indeks Prestasi), karena dengan IP
tinggi berarti kesempatan untuk bekerja setelah lulus kuliah akan semakin
besar. Inilah kesadaran yang diinginkan oleh para kapitalis untuk para
mahasiswa, yaitu supaya mahasiswa menjadi sebuah aset berharga untuk
kepentingan industri mereka. Tercetaklah manusia-manusia penghamba kapitalis
dan semakin lebarlah senyuman para bos yang dengan nyamannya duduk di belakang
meja melihat grafik laba perusahaannya meningkat pesat.
Mahasiswa
Sebagai Agen Pembebasan
Jalan pembebasan dari kondisi tersebut adalah pembebasan
massa dari keterpesonaan pada hegemoni kultural kelas penguasa sebelum
melakukan perlawanan terhadap mereka. Maksudnya adalah ajakan bagi masyarakat
umumnya dan mahasiswa khususnya untuk jangan mudah terpesona Bagi Freire,
pendidikan bukanlah sekedar alat untuk memperoleh lapangan pekerjaan, tetapi
lebih dari itu, pendidikan itu mulia. Pendidikan adalah cara untuk kita agar mampu
membebaskan kaum tertindas dari penindasan yang kadang tak terlihat alias
terselubung dengan penyadaran. Penyadaran yang menggunakan pendidikan sebagai
sasaran utamanya.
Sangat
penting kiranya mahasiswa mempunyai kesadaraan kritis dan perang budaya maupun
ideologis. Apalah arti pendidikan jika sesudah menerimanya hanya menjadikan
kita sebagai penindas-penindas baru. Sehingga institusi-institusi pendidikan
seperti sekolah dan kampus menjadi sebuah lahan subur untuk membudidayakan para
penindas baru. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia malah menjadikan
manusia seperti robot, yang hanya mau mematuhi apa kata penguasa tanpa mau
melawan dan mengkritiknya. Segala peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa
dimaklumi dan ditelan mentah-mentah. Kaum tertindas pun akan semakin tenggelam
dalam ketidakadilan.
Jelaslah sudah bahwa menjadi mahasiswa haruslah
aktif berkegiatan, memang beratnya tuntutan studi, biaya kuliah yang mahal, dan
sistim di kampus yang sangat ketat bisa melunturkan semangat itu. Banyak yang
bilang kasihan orang tua kita yang susah-susah membiayai kuliah anaknya,
sehingga kawatir bagaimana jika anaknya gagal dalam kuliah lantaran terlalu
aktif berkegiatan. Tapi sebenarnya ungkapan itu adalah sebuah kesadaran palsu
yang dicoba untuk ditanamkan oleh penguasa agar para mahasiswa menjadi malas berkegiatan
dan berorientasi pada studi. Mahasiswa yang aktif berkegiatan pun bisa
berprestasi. Malah ada beberapa teman yang mendapatkan beasiswa karena dia
aktif berkegiatan. Dari situ bisa dilhat bahwa berkegiatan tidak akan
mengganggu akademik. Sebenarnya tidak ada ruginya berkegiatan terutama kegiatan
yang menambah wacana dan daya kritis. Kegiatan yang tidak mengeluarkan banyak
biaya dan memperkaya ide, seperti diskusi dengan teman ataupun dalam organisasi
adalah kegiatan yang bermanfaat dan tidak mengeluarkan biaya sepeser pun.
Setelah mengetahui masalah-masalah yang ada di
sekitarnya, mulai dari ketidakadilan, kekerasan terselubung, kemiskinan
struktural, dan masih banyak lagi, haruskah mahasiswa sebagai kaum terdidik
hanya diam saja? Cukupkah mahasiswa berpuas diri dengan banyaknya wacana dan
analisis yang didapat ketika berkegiatan di kampus? Harus diingat juga bahwa
dari masyarakatlah mahasiswa tumbuh, maka untuk masyarakatlah mereka harus
mengabdikan diri. Segala analisis dan wacana yang didapatkan ketika menjadi
mahasiswa sudah seharusnya diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Karena sebagai anggota masyarakat seorang mahasiswa harus turba, alias turun ke
bawah. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat mahasiswa dapat terjun
langsung dengan mengemukakan ide-ide segarnya yang mencerahkan untuk
masyarakat. Menurut Arbi Sanit dalam bukunya yang berjudul Mahasiswa Kekuasaan
dan Bangsa, Posisi mahasiswa bisa menjadi ujung tombak perubahan dari kaum
intelektual karena kehadiran mereka di kalangan masyarakat yang berkecimpung
dengan ilmu pengetahuan dan di lingkungan orang yang menerapkan ilmu sebagai
teknokrat dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sebagai penutup ada kata-kata menarik dari seorang
penganut teologi pembebasan yang bernama Fernando Lugo bahwa hal yang paling
menyakitkan bagi dia adalah penindasan ketidakadilan terutama ketidakadilan
sosial. Sebagai orang beragama dia menjadikan agama sebagai cara untuk
pembebasan kaum yang tertindas, bukannya agama malah menjadikan dia sebagai
penindas. Sebagai kaum terdidik pun mahasiswa harus menjadikan pendidikan yang
diperolehnya sebagai alat untuk membebaskan yang tertindas. Bukan malah menjadi
penindas baru bagi sesamanya atau malah menjadi budak penindas. Sudah saatnya setiap mahasiswa bergerak
bersama melawan penindasan.
Salam pembebasan!
The Lesson
Translated from the Spanish
by Clark M. Zlotchew
After my graduation from high school I took a clerical job with a Buenos Aires insurance company. The job was extremely unpleasant and I found myself among some pretty annoying people with whom I had nothing in common, but as I was barely eighteen years old, I didn't much care.
It was a ten-storey building served by four elevators. Three of them were assigned to the personnel in general, without regard to rank or position. But the fourth elevator — which was carpeted in red and had three mirrors and special décor — was reserved for the exclusive use of the company president, the members of the Board of Directors and the general manager. This meant that only they could ride the red elevator, but this would not prevent them from using the other three.
I had never laid eyes either on the company president or the members of the Board of Directors. But, every once in a while, and always from a distance, I caught sight of the general manager, with whom, nevertheless, I had never exchanged a single word. He was a man of about fifty years of age, and had a "noble" and "lordly" bearing. I considered him to be a sort of cross between an old-time Argentine gentleman and a thoroughly incorruptible magistrate of some supreme court. His graying hair, his neatly-trimmed mustache, his conservative suits and his affable manners had made me — and I detested all my immediate bosses — feel some degree of fondness toward don Fernando. That is how they addressed him: don plus his given name and without the family name, a form of address somewhere between what might seem like familiarity and the veneration owed to a feudal lord.
The offices occupied by don Fernando and his retinue took up the entire fifth floor of the building. Our section was on the third floor, but, since I was the least important employee, they would send me from one floor to another to run errands. On the tenth floor there were only some ill-tempered old men and ugly women who always seemed to be enraged about something or other. Up there a kind of dossier was kept active in which, five minutes before leaving the premises, I had to — without fail — leave a bundle of papers containing summaries of all the tasks carried out in our section that day.
< 2 >
One evening — having already handed in those papers — I was on the tenth floor, ready to go home. I was waiting for the elevator. I was no longer in shirt sleeves, I had put on my jacket, my hair was combed, I had adjusted my necktie and looked in the mirror. I was clutching my leather attaché case.
Suddenly, don Fernando himself was standing beside me, looking as though he too was waiting for the elevator.
I greeted him with the utmost respect: "Good evening, don Fernando."
Don Fernando went beyond a simple greeting. He shook my hand and said, "I'm pleased to meet you, young man. I see that you concluded a fruitful day's labor and are now leaving the premises in search of your well-earned rest."
That attitude and those words — in which I thought I perceived a certain nuance of irony — made me nervous. I felt my face redden.
At that moment, one of the elevators assigned to the "commoners" arrived, and the door opened automatically, revealing a deserted interior. I held the door open by keeping my finger on the button, while saying to don Fernando, "After you, sir."
"No, no; by no means, young man," don Fernando replied with a smile. "You go first."
"No, sir, please. I couldn't. After you, please."
"Get in, young man," he sounded impatient. "Please."
This "please" was pronounced in such a peremptory manner that I had to take it as an order. I bowed slightly and entered the elevator. Don Fernando came in after me.
The doors slid shut.
"Are you going to the fifth floor, don Fernando?"
"To the ground floor. I'm going home just as you are. I believe that I too have a right to some rest, don't you think?"
I didn't know what to say. The presence of that captain of industry — and so close — made me extremely uncomfortable. I forced myself to bear up stoically under the silence that would last for nine floors until we'd come to the ground floor. I didn't have the nerve even to look at don Fernando; instead, I kept staring at my shoes.
"What section do you work in, young man?"
"In Production Management, sir." I had just noticed that don Fernando was quite a bit shorter than I.
< 3 >
"Aha," he stroked his chin with index finger and thumb, "your immediate boss is Mr. Biotti, if I'm not mistaken."
"Yes, sir. It is Mr. Biotti."
I detested Mr. Biotti, who I thought was a conceited imbecile, but I did not give this information to don Fernando.
"And didn't Mr. Biotti ever tell you that you ought to respect the chain of command within the company?"
"Wha, what, sir?"
"What is your name?"
"Roberto Kriskovich."
"Oh, a Polish name."
"No, sir, it's not Polish. It's a Croatian name."
We had finally landed on the ground floor. Don Fernando, who was next to the doors, stepped to one side to allow me to go out first.
"Please," he ordered.
"No, sir, please," I answered. I was extremely nervous. "After you."
Don Fernando gave me a look that seemed to bore a hole in me.
"Young man, please, I implore you, get out."
Intimidated, I obeyed.
"It's never too late to learn, young man," he said, as he stepped out into the street ahead of me. "Have a cup of coffee on me."
And so we went into the corner cafeteria, with don Fernando leading the way, me following behind. This is how I found myself face to face with the general manager with nothing but the table separating us.
"How long have you been working for the company?"
"I began last December, sir."
"In other words, it hasn't even been a year that you've worked here."
"It will be nine months next week, don Fernando."
"Well then: I've been with this firm for twenty seven years." He gave me another of those hard looks.
Since I felt he expected some reaction from me, I nodded my head, trying to show some kind of restrained admiration.
He slipped a small calculator out of his pocket.
"Twenty seven years, multiplied by twelve months, make a total of three hundred twenty four months. Three hundred twenty four months divided by nine months come out to thirty six. This means that I've been with the company thirty six times longer than you have. What's more, you are merely a common employee while I am the general manager. Lastly, you are only nineteen or twenty years of age, and I am fifty two. Isn't that so?"
"Yes, yes, of course."
< 4 >
"Besides, you're taking courses at the University, aren't you?"
"Yes, don Fernando, I'm majoring in Literature, with a specialization in Greek and Latin."
He made a face, as if he had been personally insulted. He said, "At any rate, let's see if you actually graduate. On the other hand, I have the doctorate in Economics, having graduated with extremely high grades."
I lowered my head to show humility.
He continued, "And, things being as they are, don't you think I deserve special consideration?"
"Yes, sir. Absolutely."
"Well then, how did you have the gall to get into the elevator ahead of me…? And, as if that show of audacity weren't enough, you got out before I did."
"Well, sir, I didn't want to be impertinent or stubborn. It's just that you were so insistent…"
"Whether I'm insistent or not is my business. But you should have realized that under no circumstances whatsoever should you get into the elevator before I do. Or get out before I do. Or, worse yet, contradict me. Why did you tell me that your family name is Croatian when I told you it was Polish?"
"But it really is a Croatian name; my parents were born in Split, Yugoslavia."
"I don't care where your parents were born or where they weren't born. If I say that your name is Polish, you cannot, and must not, contradict me."
"I apologize, sir. I'll never do it again."
"Very good. So your parents were born in Split, Yugoslavia?"
"No, sir. They were not born there."
"And where were they born?"
"In Krakow, Poland."
"How strange!" Don Fernando opened his arms, showing his amazement. "How can it be that you have a Croatian family name when your parents are Polish?"
"The fact is that, due to a family dispute with legal ramifications, all four of my grandparents emigrated from Yugoslavia to Poland. And my parents were born in Poland."
Don Fernando's face darkened with an enormous sadness.
"I am much older than you, and I believe I don't deserve to be made a fool of. Tell me, young man, how could you even think of weaving such a web of bald-faced lies? How could you even think that I could believe that hare-brained fairy tale? Didn't you tell me previously that your parents were born in Split?"
< 5 >
"Yes, sir, but since you told me that I shouldn't contradict you, I admitted that my parents were born in Krakow."
"Be that as it may, you have lied to me."
"Yes, sir, that's right: I've lied to you."
"Lying to your superior betrays an enormous lack of respect and furthermore, just like any false information, constitutes a danger to the welfare of the company."
"That is true, sir. I agree with everything you're saying."
"Well said, my boy, and I'm even inclined to see a modicum of value in you, now that I see you so docile and reasonable. But I want you to undergo one final test. We have had two cups of coffee. Who will pick up the tab?"
"I would be glad to do it."
"You have lied to me once again. You, who receive a very low salary, cannot be happy to pay for the general manager's coffee when you know the general manager makes more in one month than you will in two years. So, I'm asking you not to lie to me and to tell me the truth: Is it true that you like paying for my coffee?"
"No, don Fernando, the truth is that I don't like it."
"But, despite the fact that you don't like it, are you prepared to do it?"
"Yes, don Fernando, I'm prepared to do it."
"Well then, go ahead and do it! Pay and don't make me waste more time, for heaven's sake!"
I called the waiter over and paid for the two coffees. We went out into the street, don Fernando ahead of me. We found ourselves at the entrance to the subway.
"Very well, young man, I'm going to have to take my leave of you now. I sincerely hope you have internalized the lesson and that you will profit from it in the future."
He shook my hand and went down the stairs to the Florida subway station.
I've already said that I didn't like that job. Before the year was up, I took a less unpleasant job with another company. During the last two months I worked for that insurance company, I saw don Fernando a couple of times, but always from a distance, so I never again received any other lessons from him.
Someone To Care For
My friend Natalie can't see the point in you. She says that all you do is burp, fart, dribble, grin inanely and emit a series if unintelligible noises. Admittedly she hasn't seen you at your best, but I still think that's a little harsh.
The first time Natalie came to visit you were asleep on your back, gurgling little spit bubbles, a thin strand of drool running down your chin. Natalie just stared at you as if you were a creature from another planet. She made no secret of the fact that she wasn't impressed.
The second time she came to visit you crawled across the carpet towards her and vomited on her expensive new shoes. I tried to make light of it, explaining that it's mainly just liquid and wipes off easily, but she really did look quite appalled.
Natalie likes being a career woman, rushing between meetings in her power suit, clutching her Starbucks Coffee and her laptop. She's never wanted a husband or a baby, but if she could see you on a good day I'm sure she'd feel differently. If she could see the way you clap your hands and squeal with excitement when Scooby-Doo comes on the telly then she'd find you just as adorable as I do.
Instead she thinks you're smelly and have a strange shaped head. She looked revolted when I said you like putting your toes in your mouth, and finds it disturbing that you're always staring greedily at my breasts. It upsets her even more when you stare greedily at her breasts. I tried to explain that you're a man and that's what men do, but she wasn't having any of it.
If I'm honest, I think you could have made a bit more of an effort when Natalie first visited our house. I know it was the morning after Spongey's stag do, but I thought you could have at least lugged yourself into the bedroom instead of lying sprawled on the sofa in a curly wig, a pair of women's shoes and a t-shirt with a photo of Spongey's bare bottom on the front. If you'd had some trousers on it might not have been so bad. Natalie and I were comfortable enough perched on the wooden chairs, but it was quite distracting to have you snoring over our conversation, and I think Natalie was a bit uncomfortable when you started mumbling and fiddling with yourself.
< 2 >
When Natalie left, giving me a kiss on the cheek and a look of pity before rushing off for an appointment with her personal trainer, I removed your stilettos, covered you with a blanket and wiped the drool from your chin. Later, when you woke up screaming about a pain in your head which you assumed must be a brain haemorrhage, I gently explained that you had simply consumed an excessive amount of alcohol. I then sat by your side, holding your hand and stroking your forehead in a bid to reassure you. Three days later when you had recovered, I firmly reiterated this link between lager and suffering and said I hoped you had learnt your lesson. You looked ashamed, said you wouldn't do it again and then promptly went out and got wasted.
I'd secretly hoped that things would be better the next time Natalie came to visit. I thought she might like you better if you had your trousers on and were conscious. To be fair you didn't let me down on either of those counts, but if I'm going to be picky then I wish you'd been sober and hadn't vomited on her.
I assumed that when I told you she was coming for dinner you would come home from the pub before ten o'clock, but of course you bumped into Spongey down at the Queens Head and the two of you decided to celebrate the fact that you were wearing the same socks. I understand how important these things are to you, and I do appreciate the fact that you phoned me from the pub six times with a string of terrible excuses, but could you not have come for the Chicken Chasseur I had prepared? Instead you fell through the front door three hours late, addressed Natalie as Bob, crawled towards her on all fours and then chucked up all over her feet. It wiped off just as I said it would, but I don't think that made Natalie like you any better.
Once Natalie had left - which she did at great pace - I cleared up the mess and sat you down at the kitchen table. You clutched my fingers tightly and tried to put one of them in your mouth, mistaking it for the digestive biscuit I offered you. I should have been furious, but when you grinned stupidly at me, your mouth surrounded by biscuit crumbs, my heart softened and I forgave you. At the end of the day, however badly you behave, you're mine and I still love you.
< 3 >
I can understand why Nathalie thinks you're an idiot, but it's easy for her to judge. She already has everything she ever desired. I never wanted the impressive job title, the sports car or the big flashy house. All I ever really wanted was to be a mother. You might not be the most sophisticated man in the world, but you have a good heart and all the other necessary parts to help me fulfil that dream.
I know exactly why having a baby is so important to me: I want someone I can take care of. I find it incredible that another flailing, helpless human being could rely on me to look after them. Babies are so utterly incapable of looking after themselves, so dependent on others for their wellbeing. From their failure to control their bodily functions to their inability to use their tiny undeveloped brains, they are so completely useless without someone to care for them. I want to be needed like that.
Natalie says I don't need a baby to fulfil my dream. She says I'm already there.
I have no idea what she means. I just don't think these career women understand.
mmmmm....
Ketika malaikat-Nya menarik uban di kepala pak tua
lepas tercabut pula ajalnya
Bukan seperti cerita pahlawan di medan laga
Semisal Adipati Karna dan Resi Bisma
dalam Perang Bratayuda, tuntas sudah berdarma
Atau Epik modern: Raden Ajeng Kartini,
Sutan Syahrir dan Muhammad Hatta
Mencari hakiki universalitas manusia
Dan Tuhan pun berduka
Dinegeri berantah ini, cerita selanjutnya
Para pahlawan kesiangan
Bangkit dari kubur kedurnaan
Mencari tiket buat pak tua
Masuk dalam surga khayal mereka
Di Republik mimpi ini bandit
yang paling bandit
Mencari-cari secarik pengakuan
Buat pak tua tetap bertahta
Di sanubari rakyat yang dihantuinya
Bahkan Tuhan pun berduka
Ketika pengiring-pengiring duka lupa
Berdoa buat akhirat
Meski sekian lama ditentukan hari duka
Sibuk memberi gelar yang layak dimenangkan
Oleh pak tua dalam karir politiknya
Ya, bahkan Tuhan berduka
Ketika Dia harus mempertimbangkan
Sorga atau neraka
Mahkamah pengadilan-Nya sepi
Dari doa dan puja
Seolah sorga-neraka pak tua
Yang sesungguhnya sudah tak penting
Bagi para pengikutnya
mmmm...
Sekecil apa kau langkahkan
Seperti hidup tidak berkawan
Sesungguhnya kau tak sendirian
Bukankah ada senantiasa tongkat-Nya?
(bagimu berjaga)
Dan dekapan-Nya?
(yang mengatakan bahwa engkau
Milik tersayang?)
Bukankah padamu dikaruniakan nama
Pada saat tangan-Nya ditumpangkan
Di atas kepalamu yang dungu itu:
Agere contra! tindakan perlawanan!
Sebuah kata sandi
Yang pada sebuah zaman
Engkau rahasiakan
Dan bagimu sendiri
Kini penuh kerahasiaan
Dan harus kau singkapkan?!
Bukankah hidup memang
Selalu menyisakan makna dan ketegaran
Bagimu yang mudah patah
Dan mudah sesat jalan?
Dan pada siapa engkau bergantung
Menunjukkan apakah engkau budak
Atau tuan. Dengan siapa kau berjabat
Tangan menunjukkan taraf kemerdekaan
Yang tak perlu kau ragukan adalah
Hidupmu sendiri yang hanya untuk
Berkawan. Yaitu berbagi
Dan memberikan tumpangan
Dan di akhir hidup nanti
Semoga engkau merasa aman
Dalam jaminan Seorang Kawan
Pada siapa kau ber-Guru
Pada Dia kau ber-Tuhan
MENARILAH LAGI SEKAR!
MENARILAH LAGI SEKAR!
Reporter: Leo Agung Bayu
Dalam
remang, seorang perempuan duduk merenung, tersungkur di lantai. Matanya sembab
pertanda habis menangis. Tiba-tiba sesosok bayangan hitam dibelakang perempuan
itu berdiri. Bayangan itu menarikan tarian tardisional. Tak lama kemudian perempuan
itu jatuh-bangun mulai berdiri mengikuti gerakan bayangan itu. Tangannya
melambai, kakinya mengikuti alur gerakan tangannya. Pinggulnya
melenggak-lenggok luwes, tubuhnya menari-nari mengikuti harmoni langgam gendhing gamelan. Perempuan
tersebut bernama Sekar.
Sekar
adalah nama salah satu tokoh dari pementasan kelas PSBID 2008 kelas B.
Sedangkan adegan di atas adalah adegan terakhir dari drama yang berjudul “Sekar
Ledhek”. Sekar Ledhek berkisah tentang seorang penari yang terperosok dalam dilema.
Semua berawal dari kemauan Sekar yang sangat kuat untuk melestarikan tarian
jawa. “Nguri-uri kabudayan Jawi”
nasehat Guru tari si Sekar. Konflik muncul ketika seorang lelaki bernama Suryo naksir Si Sekar. Kemudian, bisa ditebak,
mereka pun berpacaran. Dasar pemuda pintar, Suryo mendapatkan beasiswa kuliah
di luar negeri, di Paris tepatnya. Sekalipun ditinggal bertahun-tahun, Sekar
masih setia menunggu dan berharap pujaannya tidak melupakannya.
Di
Paris Suryo berkenalan dengan glamornya budaya barat. Penari-penari di sana
tidak sama dengan penari-penari di Jawa. Kontan saja Suryo senang,
penari-penari “luar” lebih “hot, sexy
dan gaul” kata dua orang temannya di Paris. Setelah beberapa tahun merantau,
akhirnya pulang kampungnya, Suryo menepati janjinya untuk kembali menemui
Sekar. Sekar begitu gembira pujaan hatinya pulang menemuinya lagi. Malang tak
dapat ditolak, untung tak dapat di raih, Suryo yang sekarang bukanlah Suryo
yang dulu lagi. Suryo yang sekarang tidak suka lagi dengan tarian Jawa. Suryo
yang sekarang menjadi pemuda yang gaul dan modern. Suryo yang sekarang memaksa
Sekar untuk meninggalkan tarian-tarian tradisional. Suryo menganggap tarian
tradisional yang sangat dicintai Sekar sudah ketinggalan jaman dan tidak gaul. Suryo
mengancam, “Kamu tinggalkan tarian tradisionalmu itu, kalau tidak kita putus
saja!” Setelah itu adegan terakhir bisa dibaca di paragraf awal tulisan ini.
Tokoh
Sekar dilakonkan oleh Esti Nuryani sedangkan tokoh Suryo oleh Kusno Ari
Nugraha. Sekar Ledhek adalah satu dari lima pementasan kelas yang diadakan oleh
PBSID pada tanggal 3 Mei 2011 pukul 18.30. Konsep dekorasi pada pementasan
tersebut sedikit unik. Latar panggung dibuat seperti kelir dalam wayang kulit. “Konsep siluet yang dipakai untuk latar
belakang memang sudah kami pikirkan matang-matang” ucap Petrus lagi. Secara
keseluruhan pementasan tersebut berjalan dengan baik. “Kesalahan teknis
sedikit-sedikit sih ada, tapi kami puas.” kata Bayu Prasetyo. Meskipun begitu
ada juga kritik yang datang dari penonton. Kristin PBI ’08 menyebutkan bahwa
volume suara yang dihasilkan kurang besar dan tidak jelas. “Volume suara yang
tidak keras membuat penonton menjadi bosan, tapi untuk konsep dekorasinya sudah
mantap.” jelas Kristin menanggapi pementasan tersebut.
“Kami
membuat naskah pementasan kelas ini berdasarkan tema yang telah ditentukan
sebelumnya, yaitu “Budayaku Salah Apa?” Kata Petrus Kanisius selaku sutradara
dan penulis naskah. Pengambilan tema tersebut tidak lepas dari keprihatinan
bahwa sekarang kaum muda sudah mulai melupakan budayanya sendiri. Apa saja yang
berasal dari luar negri pasti dianggap lebih baik. “Ini adalah bukti
inferioritas bangsa Indonesia terhadap kebudayaan-kebudayaan asing. Budaya yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak kalah oleh budaya luar, jadi harus
dilestarikan.” jelas Richi Anyan sebagai ketua kelompok pementasan ini.