ABOUT GOD
TUHAN
Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan,
kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah
Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya
mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar
sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling tidak yang
mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang membuat mulut bocah saya
terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan: “Mengapa perempuan
tidak bisa menjadi pastor?”
Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini?
Ketercengangan, kebingungan dan keresahan manusia akan alam terkadang
menuntunnya untuk mencari Yang Maha Kuasa. Karena itulah, manusia
sempat menyembah gunung, matahari atau cahaya apa saja dari langit.
Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan
tidak bukan adalah Yang paling ditakuti. Kepercayaan pada yang maha
kuasa memang sering didasarkan pada ke-egoisan.
Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi rejeki yang
melimpah dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok Tuhan
dengan sesaji. Tidaklah heran bagi manusia seperti ini, Tuhan adalah
diktator yang selalu menuntut.
Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia melupakanNya.
Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada manusia. Dengan
kata lain, dia serupa dengan manusia yang menyembahNya: sebuah
keberadaan yang menuntut dan tidak mandiri. Yang tak rela diduakan. Yang selalu
tergantung pada elu-eluan penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.
Dan tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan dalam sosok
pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai utusan
Tuhan, dalam sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang Maha Tinggi,
atau pada pemerintah Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga dalam pejabat tinggi
negara kita yang memaksa para warganya untuk menulis agama mereka. Dan dalam
keroyokan yang mengamuk, merusak dan
menyerang insan-insan yang tak mempercayai Tuhan tertentu.
Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan dualisme
tajam: Yang Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia untuk memuja
terkadang sama besarnya dengan ambisinya untuk dipuja. Karena itulah,
Tuhan dan pengikutnya seringkali menjadi cermin yang memantulkan
persona yang sama. Dan karena itu pula, si pengikut dapat berlaku
seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal
ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa yang abstrak
dan menjadi metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan mereka. Apa
yang menjadi kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang mengakibatkan
tangis dan membawa mangsa.
Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa, seakan
tidak lain adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena gambaran
seperti inilah yang
memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka sendiri dengan
gambaran yang begitu melambung dan dilambungkan.
Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh kekecewaan narsis
mereka. Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika kelompok lain
menawarkan interpretasi yang berlawanan dari ide mereka, ketika
manusia layaknya Musdah Mulia (yang membela LGBT) atau Ahmadiyah yang
mempunyai pandangan baru tentang Tuhan, ego pengeroyok inilah yang
telah tersakiti. Karena pada saat
itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa harapan
mereka tak akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk merombak
keyakinan mereka atau
paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Namun, narsis yang marah
karena kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu benar, besar,
dan kekar.
Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan Tuhan. Bagi
banyak atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat diungkap.
Dengan bukti dan akal. Namun, sains sendiripun seringkali relatif dan
dapat disanggah: Teori Newton dipatahkan oleh Einstein yang menawarkan
teori relativitas. Teori Einstein ditentang lagi oleh Neils Bohr yang
menyatakan bahwa teori Einstein tidak cukup relative karena Einstein
luput mengindahkan karakter kuantum mekanik
yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh
subyektifitas sang peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi oleh
Everett, dan seterusnya dan
seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran, manusia tak
pernah dapat menemukan jawaban akhir yang pasti.
Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan pencarian
dalam sains? Karena keduanya menyiratkan pertanyaan-pertanyaan akan
keberadaan, kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita sebagai
manusia.
Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan kebenaran,
kita akan ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada habisnya. Dalam
pusaran-pusaran teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang di
dalamnya selalu ada jurang begitu
dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat kita kunjungi.
Namun, hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari dan mencari.
Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan bahwa ada suatu
keindahan yang tiada tara, yang tak pernah dapat kita mengerti.
Sesuatu yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena
ketidak-mengertian inilah, Einstein terus mencari.
Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat, keinginan untuk
mengambil jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang dapat
menuntun manusia untuk
merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia ini, terdapat
bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut lebih dari
200 tuhan dalam sejarah dunia.
Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan menari dalam
segala getarannya, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu statik:
berhenti dan terpaku dalam suatu zona tempat dan waktu? Dalam sebuah
dogma yang membuahkan amarah? Tuhan yang dilahirkan oleh dogma adalah
Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat dibunuh oleh para atheis. Tuhan yang
telah saya bunuh.
Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita pada
ketidak-tahuan. Pada pertanyaan. Dan terkadang, kebingungan. Karena
itu, kita harus siap tidak
saja untuk menemukan keindahan yang tiada tara, namun juga kekecewaan..
Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak bukan
pencarian akan esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita yang tak
terlihat namun ada. Esensi
yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Karena itulah Chuan Tzu
berkata: “Kita berkata ˜aku˜, namun tahukah kita siapa dan apa artinya
˜aku?”.
Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada dan tanpa,
saya dapat berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun saya percaya
akan tuhan. tuhan yang tak berkelamin, yang tak semena-mena, yang tak
maha tinggi dan yang tak maha Esa. Dalam tuhan yang seperti ini, saya
dapat bertakwa.
(**Soe Tjen Marching, penulis buku The Discrepancy between the Public
and the Private Selves of Indonesian Women diterbitkan oleh the Edwin
Mellen Press).
anarkisme 2
iseng2 nyatet kotbahnya romo
Kitab suci membuktikan bahwa ketika Allah menampakkan kehadiranNya kepada musa di semak bernyala, Allah mengatakan kepada musa bahwa Dia adalah Allah Aabraham, alah Iskhak, dan Yakub. Dengan pernyataan itu, Allah menunjukkan bahwa para bapa bangsa telah meninggal ribuan tahun lalu masih hidup di dalam Allah. Allah adalah Allah orang hidup.
Bukti yang paling autentik adalah kebangkitan Yesus dar kubur. Sebelum Yesus membangkitkan Lasaruz dari mati Dia berseru. ’Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepadaku ia akan hidup dan peraya padaku ia akan hidup walaupun ia sudah mati.dan setiap orang yang hidup yang percaya padaku tidakakan mati selama-lamanya. Percayalah engkau akan hal ini? Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita. Apakah kita percaya pada kebangkitan? Apakah kita sekarang sungguh-sungguh hidup dalm kegembiraan
relung teroka
Ikan tawes seakan memaki atau memuji
Cethul berlari, dalam naungan Ilahi, tanpa menggurui
Tapi aku tetap terpaku, belajar dari cethul
Gurun hati tetap sunyi
Kinjeng abang, kinjeng ijo, kinjeng dom
Matanya melek awasi hati
Hatiku yang sedang hati-hati
Mencari kepastian, dalam tarian saman ketidakpastian
Gurun hati masih sunyi
Kambing mengejek
Mengejek si bodoh
Yang sedang mencari jalan, dengan mata tertutup
Gurun hati dalam sunyi
Kodok melotot, memarahi aku
Sebentar sebentar ia tertawa...mulutnya semakin lebar
Karena aku? Karena kamu? Atau mereka?
Alter ego mengumpat... bodoh...
Tak ada yang memaki, tidak ada yang mengejek...
Tiada yang memarahi, bahkan menggurui..
Semua hanya memahami
Memuji...menari...dan bernyanyi....
Untuk Guru Ilahi....
Gurun hati masih sunyi....Sunyi?
Sasana krida jatijejer, ’07
Medio januari
iseng-iseng nulis tentang anoman
Sebenarnya waktu itu aku merasa sendirian. Tak ada kera yang mau berteman denganku karena aku ’berbeda’ tapi lama-lama aku sadar bahwa kesunyian dan kesendirian bukan berarti kesepian. Aku memang sendirian, tapi aku tidak kesepian! Kata ibuku, waktu memunyai 4 saudara yaitu ari, darah, ketuban, dan pusarku. Mereka berpencarke utara, timur, barat, dan selatan di bumi ini. hingga akhir hayat aku akan mencari mereka.
BAYANG-BAYANG MILITERISME DI KELAS SPD
BAYANG-BAYANG MILITERISME DI KELAS SPD
Penulis : Leo Agung Bayu W
“Dan seharusnya pendidikan yang baik memperlakukan
mahasiswa sebagai manusia, hukuman boleh-boleh saja asal masih dalam batas
kewajaran.” (Wakil Rektor I, Dr.
Fr. Ninik Yudianti, M. Acc.)
Sejak didirikan pertama kali oleh Profesor Driyarkara,
Universitas Sanata Dharma (USD) adalah lembaga yang sangat menjunjung tinggi
humanisme. Hal tersebut tertuang dalam visi-misi universitas yaitu universitas
berusaha untuk mencetak lulusan yang unggul dalam bidang akademik dan
diharapkan menjadi mahasiswa yang humanis pula. Dalam buku panduan Akademik
2008, di bab pengenalan visi dan misi universitas, salah satu representasi nya
adalah pendidikan yang humanis, dialogis, dan utuh. Artinya, soft skill
pun dipertimbangkan dalam mendidik mahasiswa. Tapi tampaknya ada pemalingan
wajah humanisme ketika kita melihat kelas SPD di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
(PBI) Sanata Dharma.
SPD adalah singkatan dari Service Program
Design. Kelas ini didirikan tahun 1997 dan menjadi ciri khas PBI Sanata Dharma,
karena di universitas lain tidak ada. Jika dilihat sejarahnya, menurut Ag. Hardi Prasetyo, Spd., M. A, Kaprodi PBI, kelas
yang diampu oleh dua Dosen PBI, Lanny Ambarwati,
Spd., M. hum dan Wismoko, Spd., M.A ini didirikan sebagai mata kuliah
kewirausahaan. Namun, sekarang berganti menjadi Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKKB).
Mahasiswa PBI wajib mengikuti kelas yang dimaksud ketika sudah memasuki
semester enam.
Kelas SPD, lain dari pada yang lain.
Penekanannya, lebih pada kegiatan pelatihan kepemimpinan dan kerja sama. Setelah
mengikuti kelas tersebut mahasiswa diharapkan
dapat menjadi seorang enterpreneur (wirausahawan) yang handal. “SPD merupakan
kelas yang mendidik mahasiswa menjadi manajer yang baik sehingga handal dalam mengatur
dirinya sendiri. Di kelas tersebut, mahasiswa diajarkan kedisiplinan dan akan
mengalami pengembangan diri dengan kemampuan manajerial,” ujar Chosa
Kastuhandani, Spd., M, Hum, salah satu Dosen PBI Sanata Dharma.
Ketika megikuti kelas SPD, mahasiswa PBI
diwajibkan untuk bekerja dalam kelompok, yang terdiri dari sedikitnya enam
mahasiswa. Dalam satu kelompok tersebut mahasiswa harus bekerja sama untuk
membuat proyek atau rancangan kursus pelatihan bahasa Inggris. Selanjutnya, proyek
dijual ke instansi tertentu dan harus berhasil. Sebagai tandanya, mahasiswa
akan mendapatkan uang dan kontrak dari instansi yang bersangkutan. Jika tidak berhasil, mahasiswa dianggap gagal
dan harus mengulang semester depan.
Dalam kelas ini pulalah, biasanya dosen mengundang
tamu penting untuk memberikan pengajaran atau hanya sekedar berbincang-bincang
saja. “Waktu itu, Kak Seto pernah diundang di kelas. Beliau menjelaskan banyak
hal kepada kami. Selain beliau, juga ada tamu penting lain untuk memberi
motivasi kepada kami,” kata Paulina, mahasiswa PBI ‘05 yang pernah mengikuti
kelas SPD tersebut.
Peraturan-Peraturan Kontroversial
Banyak kontroversi yang membayangi kelas elit ini,
sehingga bagi kebanyakan mahasiswa PBI, kelas SPD menjadi momok yang
menakutkan. Peraturan-peraturan yang ketat dan semimiliter menyebabkan
mahasiswa menjadi keder ketika akan mengambil kelas tersebut. “Sebenarnya
ngeri juga sih, soalnya dengar-dengar kelas itu punya peraturan yang
sangat ketat,” kata Paulina.
Yustian, mahasiswa PBI, angkatan 2008 juga tidak
sependapat dengan peraturan yang ada dalam kelas itu. “Kata kakak tingkat,
peraturannya sangat ketat. Tidak boleh ini dan itu. Yah, semimiliterlah,”
ujarnya.
Peraturan yang membuat mahasiswa bergidik karena
mendengarnya, harus mau tidak mau ditaati tanpa pandang bulu. Misalnya, tidak
diperbolehkan terlambat masuk kelas satu detik pun setelah dosen masuk. Kelas
yang digunakan untuk SPD juga tidak berada di Kampus I, melainkan di Ruang Koendjono
lantai empat Gedung Pusat
USD. Untuk menuju kelas tidak
diperbolehkan menggunakan lift. Masuk ke kelas satu senti di belakang
dosen adalah sebuah pelanggaran berat. “Pernah ada pengalaman, teman saya waktu
itu mau masuk kelas, berjalan di depan dosen, lalu ketika hampir masuk dia
mempersilahkan dosennya masuk lebih dulu, itu pun dianggap terlambat,” ujar
Paulina ketika ditanya tentang pengalamannya mengikuti kelas SPD.
Kelas yang dimulai jam setengah tujuh pagi dan
diadakan tiap hari Senin itu, meninggalkan jejak-jejak ketakutan tersendiri
bagi mahasiswa. Mahasiswa harus masuk pukul 06.20 WIB untuk absensi, padahal
banyak dari mereka yang tempat tinggalnya sangat jauh dari kampus. “Mahasiswa
bisa kost sementara di dekat kampus untuk mengakali supaya tidak terlambat
mengikuti kelas,” kata Mayora, mahasiswa PBI 2005.
Menyoal masalah absensi, kelas SPD juga tidak
memperbolehkan satu kali pun absen, sehingga jika mahasiswa sakit dan
diharuskan untuk opname, dia harus mengulang lagi semester depan. “Jadi
kita harus benar-benar menjaga kesehatan untuk mengkuti kelas ini, karena absen
satu kali pun tidak boleh. Jadi meski sakit, mahasiswa harus tetap masuk kelas
sehingga dosen bisa tahu apakah dia sakit atau tidak. Kalau benar-benar
terlihat sakit barulah dosen mengizinkan untuk tidak mengikuti pelajarannya,”
sahut Mayora lagi.
Peraturan lainnya yaitu diwajibkan memakai pakaian
formal dan call card dikalungkan di leher, lengkap dengan sepatu vantovel
dan high heel bagi mahasiswi. Hand out pun harus selalu dibawa.
Hal-hal yang kecil dan sepele tidak luput dari perhatian, misalnya ketika
mengikuti kuliah, tidak diperkenankan menguap sedikit pun, walaupun mungkin
kantuk menyerang dengan sangat. Sanksi yang diberikan pada mahasiswa jika
menguap ketika kuliah berlangsung adalah keluar dari kelas dan harus mengulang
semester depan. “Waktu itu ada teman saya yang menguap ketika kelas sedang
berlangsung dan seketika itu juga dia dikeluarakan. Parahnya, dia harus
mengulang semester depan,” ujar Paulina.
Pernah ada
seorang mahasiswi yang mengantuk di tengah-tengah pelajaran lalu dia disuruh push
up di depan kelas. Ada juga peraturan yang mengharuskan mahasiswa untuk
berjalan dengan tenang dan teratur, meringkas buku dengan ditulis rapi dan
sama, jika tidak begitu harus menulis ulang.
Selain yang disebutkan di atas masih ada sederet
peraturan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. “Semua itu pasti ada alasannya,”
kata Paulina menanggapi aturan-aturan yang ada selama ini. Mengungkit masalah
peraturan yang diterapkan, menurut Paulina, Lanny
mengungkapkan bahwa dengan adanya peraturan-peraturan tersebut mahasiswa
dilatih untuk menjadi disiplin. “Kedisiplinan adalah modal utama menghadapi
dunia luar yang sangat kejam,” tandasnya.
Chosa juga mengamini diterapkannya aturan-aturan tersebut. “Menurut saya kelas
SPD sangat penting bagi mahasiswa. Kelas ini bertujuan untuk menanamkan modal dalam
menghadapi dunia yang sesungguhnya, sebab dunia yang sesungguhnya memang keras,
kejam, dan penuh tantangan,” ujarnya. Di
samping itu pula menurut Chosa, SPD merupakan sarana untuk menggembleng
mahasiswa agar tidak terbuai dengan semua yang memanjakan.
Ketika ditanya tentang pentingnya kedisiplinan dan
ketatnya peraturan, Wakil Rektor I, Dr. Fr. Ninik Yudianti, M. Acc., pun ikut
angkat bicara. “Waktu itu saya mengikuti pertemuan di UGM untuk membahas lulusan
dari Yogyakarta, khususnya UGM. Lulusan dari Jogja, kurang tough (ulet-red)
dan struggle (bergelut-red) dalam dunia kerja yang penuh persaingan.
Mereka kurang berani menyatakan pendapatnya dan hanya manut saja,
sehingga seperti hanya menjadi kuli. Dengan adanya SPD ini, diharapkan lulusan
kita bisa lebih unggul dari lulusan manapun,” terang WR I.
Untuk peraturan yang melarang terlambat masuk
kelas satu detik saja, Hardi Prasetyo menanggapi
hal tersebut dengan menganalogikan bom waktu. Ketika bom waktu dijinakkan
terlambat satu detik saja, maka semua bisa hancur berantakan.
Sanata Dharma mempunyai sistim treasure study,
artinya para alumni Sanata Dharma memberikan masukan-masukan atau evaluasi
untuk prodi yang dulu diikutinya. Banyak dari alumni PBI yang mengapresiasi
program kuliah SPD dan Play Performence. “Para alumni meminta untuk
mempertahankan pelajaran SPD dan Play Performence karena dari sanalah
mereka belajar banyak hal termasuk untuk meningkatkan soft skill mereka.
Kebanyakan dari mereka merasa beruntung telah mengikuti kelas tersebut,” tambah
Hardi Prasetyo lagi.
Menurut Lanny, hukum kontinuitas sangat ditekankan
dalam kelas ini. Oleh karena itu, peraturan presensi memang sengaja tidak memperbolehkan
mahasiswa absen walaupun hanya satu kali. “Artinya satu kali saja tidak
mengikuti proses, maka proses-proses selanjutnya tidak akan terkejar,” tutur
Paulina. Lalu bagaimana dengan peraturan absensi universitas yang membolehkan
mahasiswa tidak hadir hingga 25% dari keseluruhan perkuliahan?
WR I selaku pihak yang bertanggungjawab terhadap
kurikulum di Sanata Dharma dengan tegas mengungkapkan bahwa dosen dan prodi diperbolehkan
menetapkan aturan presensi sendiri. “25% adalah batas maksimal, kurang dari itu
diperbolehkan, sedangkan lebih dari 25% tidak boleh,” tandasnya.
Sudah Humaniskah Kelas SPD?
Menurut WR I USD, pendidikan yang humanis adalah
pendidikan yang kembali pada tujuan awal, yaitu memanusiakan manusia. “Tapi
perlu diingat juga bahwa pendidikan yang baik yakni pendidikan yang tidak
memanjakan, harus ada unsur ketaatan pada aturan-aturan yang harus ditaati
bersama. Meskipun begitu, hukuman yang diberikan seharusnya sesuai dengan
pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa,” terangnya.
Tidak jauh berbeda dengan WR I, Kaprodi PBI juga
mendefinisikan pendidikan yang humanis yakni pendidikan yang mendisiplinkan
mahasiswa. “Menurut saya kelas SPD itu sudah humanis, aturan-aturan yang
semimiliter itu ditujukan agar mahasiswa lebih disiplin, menghargai waktu,
menghargai orang lain, dan bertanggungjawab atas pilihannya,” kata Hardi Prasetyo. Hal tersebut juga diamini oleh Paulina dan Mayora. Mahasiswa
PBI yang pernah mengikuti kelas SPD itu
memaparkan keuntungan dan manfaat perkuliahan tersebut bagi mahasiswa. Menurut
mereka, dengan mengikutinya mahasiswa akan semakin disiplin dan lebih trampil. Dalam wawancara kami dengan Bu
Lanny, beliau berkata bahwa program SPD adalah primadonanya prodi PBI. Program
ini adalah program eksperiental yang artinya untuk benar-benar memahami program
ini, harus mengikuti dulu kelas SPD. “SPD bukan hanya sekedar teori belaka tapi
lebih ke praktek. Dengan mengikuti kelas SPD ini mahasiswa akan merasakan
bagaimana rasanya memasuki dunia kerja di luar yang keras, sehingga siap
menghadapinya,” tandasnya.
Meskipun demikian, banyak mahasiswa yang memandang
kelas SPD sebagai suatu hal yang negatif. Salah satunya adalah Pipit, seorang
mahasiswi PBI 2006. Dia berpendapat jika kelas SPD hanya akan mencetak
mahasiswa seperti robot yang harus menaati semua aturan tanpa ada timbal balik
dari mahasiswa. “Di mana letak pendidikan yang dialogis, seperti yang ditulis
di misi USD?” tanyanya kemudian.
Sama halnya dengan Pipit, Guruh Riyanto, mahasiswa
Sastra Inggris 2005 melihat SPD sebagai ajang pemenuhan tuntutan para kapitalis
yang kejam. Tak heran jika mahasiswa yang dicetak akibat perkuliahan ini
nantinya akan menjadi mahasiswa yang kejam, kompetitif tanpa pandang bulu
dengan ambisi meraih kemenangan. Menurutnya, SPD itu sering diplesetkan
kepanjangan dari Servis untuk para Pemegang Dana (modal). Ada juga mahasiswa
yang berpendapat bahwa ada kekerasan pendidikan di kelas tersebut. “Sepertinya
kelas SPD itu adalah ajang kekerasan dalam pendidikan, kata-kata disiplin itu
hanya kedok untuk memperkukuh kekuasan, membuat mahasiswa menjadi seperti
sebuah robot saja. Pilihan-pilihan yang seharusnya ada banyak dihilangkan
dengan paksa,” ujar Guruh.
Clarina, PBI 2008, melihat kelas itu dari sudut
pandang lain. Menurutnya, kelas SPD sebenarnya baik untuk membangun komitmen, tetapi
dia kurang setuju dengan cara pengajaran yang mengutamakan hukuman dan
penerapan pada mahasiswa. Idealnya, seorang mahasiswa akan menjadi baik jika
berkembang atas dasar kesadaran diri bukan rasa takut. Menurutnya pula, secara
psikologis hukuman berat yang diberikan kurang baik. Selain alasan pikologis,
mahasiswa yang harus mengulang juga akan mengalami kerugian ekonomi. Bagi mereka
yang mampu mungkin tidak masalah, tapi untuk mereka kurang mampu dari segi
finansial, tentunya hal itu sangat memberatkan. “Bayangkan saja, apa jadinya
jika ada mahasiswa rajin mengikuti kelas dan aturan yang ada, namun karena
kesalahan satu kali ia harus dikeluarkan.apalagi tahun depannya lagi harus
mengulang?” ungkapnya.
Melihat
fakta yang demikian, WR I menuturkan jika semua yang kita lakukan adalah sebuah
proses pembelajaran. Setiap proses pasti ada positif dan negatifnya, termasuk
kelas SPD, sehingga perlu evaluasi secara terus menerus demi kebaikan bersama. Pendidikan
yang baik memperlakukan mahasiswa sebagai manusia. Kehadiran hukuman tentunya
diperbolehkan, asalkan masih dalam batas kewajaran.
Ketika mahasiswa melakukan pelanggaran, misalnya
terlambat karena ada hal teknis yang tak terduga, dengan bijak Lanny sering berujar di kelas.
“Everything can always go wrong, semuanya bisa terjadi
kesalahan.” “Contohnya adalah ketika itu pacar saya terlambat satu menit karena
alasan ban sepeda motornya tiba-tiba bocor di tengah jalan. Dia harus
menambalnya sehingga terlambat mengikuti kuliah SPD. Konsekuensinya, mengulang
semester depan,” kata Andre, mahasiswa PBI ‘04.
Andre juga menjelaskan bahwa semua yang telah
dipersiapkan dengan baik pun bisa saja gagal karena sesuatu di luar kontrol
individu. Di kelas SPD ini, kita dituntut agar sebisa mungkin meminimalkan hal tersebut
dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Selain kata itu, ada kata lain yang
sering diucapkan Lanny yaitu “life is choice”, artinya ketika kamu sudah
memutuskan untuk memilih kelas ini maka kamu harus mempertanggungjawabkan
pilihanmu. Ketika ada saudara yang meninggal kamu tinggal memilih yang mana, kelas
SPD atau melayat. Ketika kamu memilih melayat, kamu harus meninggalkan kelas
SPD. Artinya, tahun depan harus mengulang lagi. Begitulah Paulina menguraikan
sedikit tentang hadirnya kelas SPD di prodinya.
Repotase bersama : Richi Rikardus Petrus A
Sabina
Thipani
Petrus
Purwanto
kiri
Karl Marx
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem politik. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dab penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.
Anarkisme dan Marxisme
Saat komunisme anarkis dan Marxisme[1] adalah dua filsafat politik yang berbeda, terdapat beberapa kemiripan antara metodologi dan ideologi yang dikembangkan oleh beberapa anarkis dan Marxis, bahkan sejarah keduanya juga saling beririsan. Keduanya berbagi tujuan-tujuan jangka panjang yang serupa (komunisme tanpa negara), musuh politik yang sama (konservatif dan elemen-elemen sayap kanan), melawan target-target struktural yang sama (kapitalisme dan pemerintahan yang eksis saat ini). Banyak Marxis telah turut berpartisipasi dengan sepenuh hati dalam revolusi-revolusi anarkis, dan banyak anarkis yang juga berlaku demikian dalam revolusi-revolusi Marxis. Tetapi bagaimanapun juga, anarkisme dan Marxisme tetap menyimpan saling ketidaksetujuan yang kuat atas beberapa isu, termasuk di dalamnya peran alamiah negara, struktur kelas dalam masyarakat dan metoda materialisme historis. Dan selain bentuk kerjasama, terjadi juga konflik-konflik berdarah antara para anarkis dan Marxis, seperti yang terjadi dalam represi-represi yang dijalankan oleh para pendukung Uni Soviet melawan para anarkis.
•
Argumen-Argumen Seputar Isu Negara
Para ahli ilmu-ilmu politik modern pada umumnya mendefinisikan "negara" sebagai sebuah institusi yang tersentralisir, hirarkis dan berkuasa yang mengembangkan sebuah monopoli atas penggunaan kekuasaan fisik yang terlegitimasi, tak beranjak dari definisi yang awalnya diajukan oleh seorang sosiologis Jerman, Max Weber, dalam esai tahun 1918-nya, Politik-Politik Sebagai sebuah Lapangan Pekerjaan. Definisi ini diterima oleh nyaris semua mazhab-mazhab pemikiran politik modern selain Marxisme, termasuk di dalamnya anarkisme. Marxisme memiliki definisi yang unik tentang negara: negara adalah sebuah organ represi kelas yang satu atas kelas yang lain. Bagi para Marxis, setiap negara secara intrinsik adalah sebuah kediktatoran kelas yang satu atas kelas lainnya. Dengan demikian, dalam teori Marxis dipahami bahwa lenyapnya kelas akan berbarengan dengan lenyapnya negara.
Bagaimanapun juga, tetap terdapat pertemuan di antara kedua kubu. Para anarkis percaya bahwa setiap negara secara tak terelakkan akan didominasi oleh elit-elit politik dan ekonomi, yang dengan demikian secara efektif menjadi sebuah organ dominasi politik. Dari sudut yang berbeda, para Marxis percaya bahwa represi kelas yang berhasil selalu mengikutsertakan kapasitas kekerasan yang superior, dan bahwa seluruh masyarakat selain sosialisme dikuasai oleh sebuah kelas minoritas, maka dalam teori Marxis semua negara non-sosialis akan memiliki karakter negara seperti yang diyakini oleh para anarkis.
Proses Transisi
Teori tentang negara menentukan secara langsung pertanyaan praksis tentang bagaimana transisi menuju masyarakat tanpa negara yang diidam-idamkan baik oleh para anarkis maupun Marxis tersebut mengambil bentuknya.
Kaum Marxis percaya bahwa sebuah transisi yang berhasil menuju komunisme, yang jelas berarti masyarakat tanpa negara, akan membutuhkan sebuah represi atas para kapitalis yang apabila dibiarkan tentu akan membangun kembali kekuatannya, dan akan dibutuhkan juga eksistensi negara dalam sebuah bentuk yang dikontrol oleh para pekerjanya. Kaum anarkis menentang "negara pekerja" yang diadvokasikan oleh para Marxis sebagai sesuatu yang tidak logis semenjak sesegera sebuah kelompok mulai memerintah melalui aparatus negara, maka mereka akan berhenti menjadi pekerja (apabila sebelumnya mereka adalah pekerja) dan dengan demikian akan segera bertransformasi menjadi penindas baru. Kaum anarkis mendukung argumen mereka dengan merujuk pada Uni Soviet yang berkarakter anti demokrasi serta berbagai negara "Marxis" lain, sementara para Marxis mendukung argumen mereka dengan merujuk pada kehancuran revolusi-revolusi yang dipimpin para anarkis semacam dalam Revolusi Meksiko 1910 dan Perang Saudara Spanyol.
Dengan demikian, kaum anarkis berusaha untuk "menghancurkan" negara yang eksis saat ini, serta segera menggantikannya dengan konsil-konsil pekerja, sindikat-sindikat atau berbagai metoda organisasional yang desentralis dan non-hirarkis. Kaum Marxis secara kontras, justru berusaha "merebut kekuasaan", yang berarti secara gradual mengambil alih negara borjuis yang eksis saat ini, atau menghancurkan negara yang eksis saat ini melalui sebuah revolusi dan menggantinya dengan sebuah negara baru yang tersentralisir (Leninisme, Trotskyisme, Maoisme) atau melalui sebuah sistem konsil pekerja (Komunisme Konsilis, Marxisme Otonomis).
Posisi kaum Marxis melebur ke dalam anarkisme pada akhir spektrumnya, karena kaum anarkis juga saling tidak setuju di antara mereka sendiri tentang bagaimana sebuah sistem konsil pekerja yang demokratis dan memonopoli kekerasan akan dapat dianggap sebagai sebuah struktur negara atau tidak, sementara kaum Marxis bertengkar di antara mereka sendiri sebagian besarnya atas bentuk kediktatoran proletariat.
Partai Politik
Isu perebutan negara mengarah pada isu tentang keberadaan partai politik, yang juga memisahkan jalan antara kaum anarkis dan Marxis. Kebanyakan kaum Marxis melihat partai politik sebagai sesuatu yang berguna atau bahkan dibutuhkan untuk merebut kekuasaan negara, semenjak mereka kebanyakan melihat bahwa sebuah upaya yang terkoordinasi dan tersentralisirlah yang akan mampu mengalahkan kelas kapitalis dan negara, serta memapankan sebuah badan koordinasi yang mampu mempertahankan revolusi. Partai politik juga menjadi sentral perjuangan semenjak mayoritas kaum Marxis percaya bahwa kesadaran kelas harus disuntikkan ke dalam kelas pekerja, yang seringkali harus dilakukan oleh mereka yang berada di luar kelas tersebut. Tapi bagaimanapun juga, kaum Marxis saling berbeda pendapat tentang apakah sebuah partai revolusioner harus turut serta dalam sebuah pemilu borjuis atau tidak, peran apa yang harus dijalankan pasca revolusi, dan bagaimana ia harus diorganisir. Di sisi lain, para anarkis umumnya menolak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan, menolak membentuk sebuah partai politik, semenjak mereka melihat struktur organisasinya yang hirarkis sebagai sebuah kedenderungan otoritarian dan menindas, walaupun toh kebanyakan kaum anarkis juga tak mampu menjawab tentang bagaimana sebuah kesadaran revolusioner dapat dibangkitkan tanpa keberadaan kekuatan kelompok-kelompok pelopor, yang bagi kaum Marxis terwujud melalui partai politik. Bagaimanapun juga perdebatan dan berbagai perbedaan saling berhadap-hadapan, banyak dari mereka, para anarkis, mengorganisir secara politis berdasarkan pada sistem demokrasi langsung dan federalisme dalam upayanya untuk berpartisipasi secara lebih efektif di tengah perjuangan popular dan mendorong rakyat menuju revolusi sosial (dengan memberikan contoh).
Kekerasan dan Revolusi
Pertanyaan praksis lainnya yang berhubungan dekat dengan teori negara adalah kapan dan sebesar apa kekerasan dapat diterima dalam upayanya untuk meraih kemenangan dalam sebuah revolusi. Para anarkis berargumen bahwa seluruh bentuk negara adalah sesuatu yang tak dapat dilegitimasi lagi karena semuanya bergantung pada kekerasan yang sistematis, dan sementara sebagian dari para anarkis dapat membenarkan saat kekerasan berskala kecil atau pembunuhan terarah atas elit-elit dilakukan berdasarkan atas kebutuhan dalam beberapa kasus (misalnya kampanye "Propaganda by the Deeds"), kekerasan massal melawan rakyat biasa—sebagaimana yang dipraktekkan oleh Lenin dan Trotsky dalam menumpas pemberontakan Kronstadt dan Makhnovis, oleh Stalin dalam "Pembersihan Besar-Besaran" atau oleh Mao selama "Revolusi Kultural", tak akan pernah dapat diterima dan dibenarkan. Kebanyakan kaum Marxis berargumen bahwa kekerasan berskala besar dapat dibenarkan dan dengan demikian "perang keadilan" adalah sesuatu yang mungkin, setidaknya dalam lingkup terbatas dari pertahanan diri secara kolektif, misalnya dalam melawan sebuah kudeta atau invasi imperialis. Beberapa lainnya (khususnya para Stalinis) berargumen lebih jauh, bahwa tujuan dapat menghalalkan cara, sehingga dalam teorinya, sejumlah apapun kekerasan dan pertumpahan darah akan dapat dibenarkan dalam upayanya untuk menuju komunisme.
Argumen-Argumen Seputar Isu Kelas
Analisa-analisa kelas baik dari kaum Marxis ataupun anarkis berdasarkan pada ide bahwa masyarakat terbagi ke dalam berbagai macam "kelas-kelas" yang berbeda, masing-masing memiliki kepentingan yang juga berbeda tergantung pada kondisi materialnya. Kelas-kelas tersebut juga berbeda, bagaimanapun juga, dalam soal di mana mereka menarik garis pemisah di antara mereka.
Bagi kaum Marxis, dua kelas yang paling relevan adalah "borjuis" (pemilik alat produksi dan tidak bekerja) dan proletariat (mereka yang tak memiliki alat produksi dan harus bekerja oleh karenanya). Marx percaya bahwa kondisi-kondisi pekerja industri yang unik serta menyejarah akan mendorong mereka untuk mengorganisir diri mereka bersama-sama untuk kemudian mengambil alih peran negara dan alat-alat produksinya dari kelas borjuis, mengkolektivisasinya, serta menciptakan sebuah masyarakat tanpa kelas yang diselenggarakan oleh para proletariat sendiri. Mayoritas para Marxis, merujuk pada analisa-analisa Karl Marx sendiri, mengesampingkan para petani, pemilik alat produksi kecil "borjuis kecil" dan lumpen proletariat—level terendah dari proletariat, yang biasanya menganggur, miskin, tidak memiliki kemampuan kerja, kriminal dan karakteristik mereka yang paling sering ditemui adalah ketiadaan kesadaran kelas—sebagai kelompok-kelompok yang tak akan mampu menciptakan revolusi.
Analisa kelas kaum anarkis telah mendahului Marxisme dan berkontradiksi dengannya. Kaum anarkis berargumen bahwa bukanlah kelas penguasa secara keseluruhan yang sesungguhnya mengatur jalannya negara, melainkan sekelompok minoritas yang menjadi bagian di dalam kelas penguasa (yang dengan demikian juga mempertahankan kepentingannya), memiliki fokus-fokus mereka sendiri, di antaranya yaitu mempertahankan kekuasaan. Sekelompok minoritas revolusioner yang mengambil alih kekuasaan negara dan memaksakan keinginannya pada rakyat berarti juga tidak berbeda dengan otoritarianisme sekelompok kecil penguasa dalam sistem kapitalisme, yang tentu juga akan segera bertransformasi menjadi sebuah kelas penguasa baru. Hal ini telah diprediksikan oleh Bakunin jauh sebelum revolusi Oktober di Russia terjadi.
Selain itu, para anarkis juga melihat bahwa sebuah revolusi yang sukses tak akan pernah dapat lepas dari dukungan para petani, dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan melakukan redistribusi lahan di antara para petani tak bertanah. Dengan demikian jelas bahwa kaum anarkis menolak kepemilikan tanah oleh negara, serta mereka menganggap bahwa kolektivisasi sukarela jauh lebih efisien dan layak didukung (berdasarkan pada kasus perang saudara Spanyol 1936 di mana para anarkis mempopulerkan kolektivisasi lahan, sementara mereka yang sebelumnya telah memiliki lahan sendiri diperbolehkan untuk tetap memilikinya tetapi dilarang menyewa tenaga kerja untuk mengolah lahan tersebut).
Beberapa anarkis modern (khususnya para pendukung parekon—ekonomi partisipatif) berargumen bahwa kini terdapat tiga kelas yang relevan bagi sebuah perubahan sosial, bukan hanya dua. Secara kasar, mereka adalah kelas pekerja (termasuk di dalamnya setiap orang yang menggunakan tenaga kerjanya dalam memproduksi atau mendistribusikan produk termasuk mereka dalam industri jasa), kelas koordinator (mereka yang pekerjaannya adalah mengkoordinasikan dan memanajemeni para pekerja) dan kaum elit atau kelas pemilik (yang mana pendapatannya diambil atas kemakmuran dan sumber daya). Para anarkis ini menyatakan dengan tegas bahwa Marxisme telah gagal dan akan selalu gagal, karena ia menciptakan sebuah kediktatoran melalui kelas-kelas koordinator dan karenanya juga "kediktatoran proletariat" secara logis menjadi tak mungkin.
Perbedaan-perbedaan inti tersebut kemudian memunculkan fakta bahwa para anarkis tidak membeda-bedakan petani, lumpen dan proletariat, melainkan mereka mendefinisikan bahwa mereka yang harus bekerja untuk bertahan hidup adalah kelas pekerja (walaupun terdapat berbagai perbedaan politik dari berbagai sektor sosial yang berbeda dalam kelas pekerja).
Selanjutnya, analisa kelas Marxian memiliki konsekuensi tentang bagaimana kaum Marxis memandang gerakan-gerakan pembebasan seperti gerakan perempuan, gerakan masyarakat adat, gerakan minoritas etnis dan gerakan homoseksual. Kaum Marxis mendukung beberapa gerakan pembebasan, tidak hanya karena gerakan tersebut memang harus didukung atas tuntutan dan programnya, melainkan karena gerakan-gerakan tersebut dibutuhkan bagi sebuah revolusi kelas pekerja yang tak akan dapat berhasil tanpa persatuan. Bagaimanapun juga, kaum Marxis percaya bahwa seluruh upaya rakyat yang tertindas dalam membebaskan dirinya sendiri akan gagal kecuali mereka mengorganisir diri dalam garis kelasnya, karena para borjuis yang terdapat dalam setiap gerakan tersebut dalam titik tertentu akan mengkhianati perjuangan, dan di bawah kapitalisme, kekuasaan sosial terpusat pada siapa yang menguasai alat produksi.
Para anarkis mengkritik kaum Marxis karena terlalu memberi prioritas pada perjuangan kelas. Mereka menjelaskan bahwa perubahan arah sejarah, perjuangan antara mereka yang tertindas dan menindas, beroperasi dengan dinamikanya sendiri. Para anarkis melihat gerakan pembebasan rakyat tertindas secara fundamental dapat dilegitimasi, tak peduli apakah itu gerakan proletariat, gerakan petani, atau apapun, tanpa merasa perlu untuk mengkotakkan mereka dalam sebuah skema gerakan khusus bagi revolusi. Walaupun demikian, banyak juga anarkis yang percaya bahwa perjuangan isu tunggal hanya akan membatasi ruang pandang dan gerak, dan karenanya harus selalu melihat sebuah perjuangan dalam kerangka perjuangan yang lebih besar (sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Marxis).
Argumen-Argumen Seputar Metoda Materialisme Historis
Marxisme menggunakan sebuah bentuk analisa perkembangan masyarakat manusia yang disebut "materialisme historis". Analisa ini menempatkan ide bahwa manusia hidup dalam sebuah dunia material yang terdeterminasi, dan aksi untuk mengubah dunia terdapat dalam batas-batas apa yang memang dapat dicapai sesuai dengan alur kesejarahan. Secara lebih spesifik, relasi produksi yang menjadi basis fundamental sistem ekonomi adalah alat penentu gerak sejarah. Yang menggaris bawahi proses tersebut adalah adanya ide tentang kontradiksi dan pertentangan antar kelas yang secara alamiah membentuk serta menggerakkan kemajuan sosial.
Marx mengambil formulasi materialisme historis ini dari sistem filsafat dialektika Hegel. Metoda ini bekerja melalui asumsi bahwa setiap fenomena alam hanya dapat didefinisikan dengan cara mengkontraskannya dengan fenomena lain. Marx dan Engels berargumen bahwa metoda tersebut dapat diaplikasikan pada masyarakat manusia dalam bentuk materialisme historis, sehingga kelas-kelas masyarakat yang ada dapat dipelajari dengan menggunakan kontradiksinya, misalnya, karakteristik majikan hanya dapat dipahami apabila dikontraskan dengan karakteristik pekerja.
Sementara mayoritas para anarkis, menggunakan berbagai macam alat analisa sosial, walaupun sebagian anarkis lain melihat materialisme historis ini sangat efektif untuk digunakan sebagai pisau analisa mereka dan melihatnya sebagai sebuah titik pemersatu dalam sebuah perjuangan kelas. Mayoritas anarkis, bahkan juga menganggap bahwa materialisme historis adalah sebuah ilmu palsu yang tak dapat dibuktikan secara universal. Mereka juga menganggap bahwa metoda ini hanya akan mendehumanisasikan analisa-analisa sosial politik dan jelas karenanya menjadi tidak layak digunakan sebagai sebuah metodologi universal.
Determinisme
Sebuah interpretasi yang simpel dari materialisme historis menyatakan bahwa apabila memang Marxisme benar tentang kelas-kelas yang saling berkontradiksi di bawah beroperasinya sistem kapitalisme, maka sebuah revolusi kelas pekerja tak akan terelakkan lagi. Beberapa Marxis, khususnya mereka para pemimpin Internasional Kedua, meyakini hal ini. Bagaimanapun juga, tingkat di mana revolusi harus dilakukan oleh mereka yang telah sadar akan posisi kelasnya, menjadi sebuah perdebatan tersendiri di kalangan kaum Marxis, yang mana sebagian berpendapat bahwa pernyataan Karl Marx yang terkenal, "Aku bukan seorang Marxis", adalah sebuah penolakan konsep determinisme. Perdebatan ini diperdalam dengan terjadinya Perang Dunia I, saat partai-partai sosial demokrat dari Internasional Kedua mendukung upaya-upaya negara untuk terlibat di dalam perang. Sementara di sisi lain, para Marxis yang menjadi oposisi perang, seperti Rosa Luxemburg, menyalahkan Internasional Kedua sebagai sebuah "pengkhianatan" atas doktrin sosialisme yang pada gilirannya dianggap hanya berupaya untuk mereformasi negara kapitalis.
Sementara sebagaimana mayoritas anarkis menolak metoda dialektika historis materialis, para anarkis tersebut juga tidak memiliki klaim tentang bagaimana sebuah revolusi akan terjadi. Mereka melihat bahwa revolusi dapat terjadi hanya apabila memang masyarakat menghendakinya.