KAUM MUDA VS HEGEMONI PASAR
Catatan Belum Selesai
Ingatan Tentang Sebongkah Batu
“Cerita ini dulu
dilarang untuk diketahui oleh orang-orang, tapi sekarang semua orang bisa tahu”.
(Herlambang, satpam USD)
4 Desember 2011, pukul 23.03
Malam Senin itu sama seperti malam-malam yang biasanya. UKM-UKM di Student Center Sanata Dharma sudah tak lagi ada suara. Sunyi dan gelap. Tinggal kami berdua, Richy dan aku, dua orang penunggu tetap natas, yang masih berusaha untuk menghabiskan waktu yang semakin membosankan. Karena perut belum diisi sejak pagi, kami pun memutuskan untuk mencari makan di warung burjo terdekat. Selang beberapa menit setelah aku memesan segelas teh hangat dan seporsi nasi telur, terdengar suara sepeda dengan penumpangnya yang punya wajah tak asing bagi kami. Ia adalah Herlambang, seorang satpam senior di Sanata Dharma. Dengan senyuman khasnya dia menyapa kami. “Halo pak, enggak jaga?” sapa Richy sok asik.
Liputan Investigasi
Laporan Utama natas "Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo"
Laporan Khusus majalah natas
2011
Antara Srah-srahan Nawa
Sanga dan Efek Plasebo
Ketika penyembuhan alternatif menjadi
pilihan terakhir
Juli 2011, wajah Pujianto (26) dihiasi senyum berseri-seri
sementara raut wajah dokter bedah yang merawatnya mendadak berkernyit heran.
Pasalnya, hasil rontgent Pujianto menunjukkan bahwa pasien yang telah
dirawatnya selama enam bulan tersebut benar-benar sembuh total dari penyakit
yang hampir mustahil disembuhkan, yaitu kanker prankreas stadium lanjut.
Padahal ketika pertama kali dirawat, Pujianto layaknya pasien yang putus
harapan hidupnya. Matanya berwarna kuning, badannya terasa sakit semua sampai-sampai
digerakkan pun susah, bahkan perut pun terasa segan mencerna makanan. Kini,
semenjak divonis sembuh total, Pujianto tak lagi merasakan itu semua. “Dokter
yang merawat saya heran banget lho mas,
saya bisa sampai seperti ini. Soalnya saya memang sengaja tidak memberitahu
beliau tentang proses kesembuhan saya. Saya tidak memberitahu dokter saya,
bahwa selain berobat di rumah sakit, saya juga berobat di praktek penyembuhan
alternatif,” katanya sambil tersenyum simpul.
***
Kisah Pujianto dimulai delapan bulan yang lalu, tepatnya pada
bulan Maret 2011.Waktu itu perut tengah Pujianto terasa sakit seperti
ditusuk-tusuk, badannya kadang panas, kadang menggigil kedinginan. Untuk
bekerja ringan saja tubuh bagian atasnya sulit untuk digerakkan. “Rasanya nyeri
dan panas,” katanya. Terpaksalah Pujianto berhenti bekerja. Beberapa hari
kemudian matanya berwarna kuning. Tubuhnya lemas tak berdaya sementara rasa
sakit di perut masih saja menyiksa. Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit yang
dideritanya, Pujianto memutuskan untuk memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit
kecil di Wates. Ketika diperiksa tekanan darahnya, dibuat kagetlah Pujianto
oleh tensimeter yang terpasang
di lengannya. Alat pengukur tekanan darah tersebut menunjukkan tekanan
sistolenya berada jauh di bawah rata-rata normal (120 mm/hg) yaitu 60mm/hg.
Diagnosa dokter pertama kali adalah Pujianto terkena pes, penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) lewat kutu tikus,
Xenophylla astia. Penyakit pes seperti ini pernah menjadi wabah dan membunuh
lebih dari 20 juta orang di Eropa pada abad pertengahan. Dinamakan “Kematian
Hitam” (Black Death) karena
keganasannya.
Setelah perawatan dan pemberian obat dari rumah sakit selama sebulan, alih-alih
sembuh, keadaan Pujianto malah semakin memburuk. Perutnya terasa semakin sakit
dan terasa panas. Dokter yang menanganinya seketika itu juga menyatakan
menyerah untuk menyembuhkan Pujianto. Sehari setelahnya, pria kelahiran Imogiri
tersebut dirujuk ke sebuah Rumah Sakit yang lebih besar di kota Yogyakarta.
Kali ini Pujianto ditangani oleh dokter bedah profesional.
Diagnosa pun dilakukan. Hasilnya membuat bulu kuduk Pujianto bergidig. Ternyata
bukan pes-lah yang menyebabkan sakit perutnya selama ini, melainkan kanker
prankreas stadium lanjut. Kanker pankreas dalam dunia kedokteran disebut
penyakit yang “diam”. Kanker itu tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit
ketika masih dalam stadium dini. Oleh karena itu bisa dipahami jika ternyata
tahu-tahu kanker Pujianto sudah dalam keadaan stadium lanjut. Kanker itu menghalangi
saluran empedu umum. Cairan dari empedu pun tidak dapat masuk ke dalam sistim
pencernaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan kulit dan putih mata menjadi
berwarna kuning, seperti yang dialami Pujianto. Gaya hidup yang tidak sehat
seperti merokok dan minum alkohol terlalu seringlah yang ditenggarai sebagai
penyebab penyakitnya itu.
Dokter menyarankan untuk melakukan operasi saja. Operasi
Pujianto dilakukan seminggu setelah vonis. Kanker yang diangkat tidaklah tuntas
semua, melainkan hanya kanker yang menyumbat di usus Pujianto saja. “Ini mas
bekasnya, rasanya masih gatal di jahitannya,” kata Pujianto menunjukkan gurat
bekas operasi di perutnya. Setelah operasi, Pujianto tidak langsung sembuh
melainkan harus menjalani rangkaian perawatan medis lagi yang tentu saja
memakan banyak sekali biaya. Padahal orang tua Pujianto hanyalah seorang
petani. Sepuluh hari pasca operasi, Pujianto pulang. Tak berhenti sampai di situ, sepuluh hari di
rumah, dia kembali ke rumah sakit karena sakitnya kambuh lagi. Kocek yang harus
dirogoh Pujianto untuk pengobatan di Rumah Sakit sudah mencapai 12 juta, namun
penyakitnya belum juga pergi.
Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sudah tanpa harapan
itu, Pujianto pasrah dan menyerahkan hidup matinya di tangan Allah. Bahkan
Pujianto sempat berbicara pada istrinya bahwa dia sudah menyerah. Keluarganya
cemas. “Waktu itu saya sudah pasrah mas, terserah Allah mau bagaimana. Kasihan
juga melihat keluarga sudah banting tulang untuk menyembuhkan saya,” kenangnya.
Sedikit harapan muncul ketika seorang tetangga Pujianto menyarankan untuk
mencoba penyembuhan tradisional. Bukan tanpa alasan, tetangga Pujianto itu
memang sudah pernah membuktikan kemujaraban terapi penyembuhan tradisional itu.
Nama tempat penyembuhan tersebut adalah Paguyuban Tritunggal. Pujianto
tertarik, dan ia mencobanya. Ketika sampai di paguyuban tersebut Pujianto masih
terlihat lemah. Matanya masih kekuningan dan tekanan darahnya masih tak
tertolong.
***
Sekitar 50 kilometer dari Argorejo Sedayu, tempat Pujianto
tinggal, Paguyuban Tritunggal membuka tempat prakteknya. Tepatnya di Babarsari
Yogyakarta, belakang Universitas Atmajaya. Tidak ada yang aneh dari tempat
penyembuhan tradisional Paguyuban Tritunggal. Dari luar tampak seperti
bangunan-bangunan di sekitarnya, bercat putih, pagar putih, dan pintu kayu
cokelat. Yang membedakan hanyalah banner merah bertuliskan Paguyuban Tritunggal
di teras, dan bau harum dupa yang
menyapa setiap hidung yang lewat di depan bangunan itu. Masuk ke ruangan
pertama kali, Pujianto disambut ramah oleh lukisan-lukisan atraktif di tembok
hijau dan seorang pemuda berpakaian hitam yang mengurusi bagian administrasi
awal.
Paguyuban Tritunggal resmi menangani
pasien sejak tahun 1997. Didirikan oleh seseorang yang dipanggil Romo Sapto.
Nama Tritunggal dipakai sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Jawa yang
berasal dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Ditilik dari sudut pandang modern,
penyembuhan ala Tritunggal disebut penyembuhan holistik. Artinya aspek
spiritual dan psikologis pasien juga menjadi pertimbangan dalam proses
penyembuhan. Berbeda dengan medis konvensional yang lebih menitikberatkan pada
aspek biologis (mekanis) saja. Metode yang digunakan berasal dari ilmu kejawen
warisan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sejak dulu. Paguyuban
ini tidak membuka praktek secara ilegal. Proses perijinan yang panjang dan
berliku dari badan standardisasi kesehatan pemerintah hingga ijin pendirian
usaha sudah dilalui oleh Tritunggal.
Terapi yang dilakukan sama sekali tidak menggunakan obat atau
pun jamu. Tidak ada pula pantangan yang harus dilakukan oleh pasien. Bahkan
kontak fisik pun hampir tidak ada. Penyembuhannya murni menggunakan energi yang
oleh Paguyuban Tritunggal disebut “Srah-srahan Nawa Sanga”. Artinya ada
Sembilan lubang energi ditubuh manusia yang bisa menjadi jalan keluar masuknya
penyakit atau energi penyembuh. Lubang itu terdapat di mata, hidung, telinga,
mulut, pusar, kemaluan, anus, tangan dan kaki. Proses penyembuhan yang
dilakukan tidak selalu dilakukan jarak dekat. Jika dibutuhkan, penyembuhan bisa
dilakukan lewat jarak jauh. Penyembuhan jarak jauh bisa dilakukan dengan
mengirimkan energi penyembuh lewat telepon genggam atau pun media foto. Selain
itu penyembuhan juga dilakukan dengan metode transfer energi dari manusia ke
hewan. Hewan macam kambing dipilih untuk penyakit-penyakit berat macam kanker
stadium lanjut atau jantung koroner. Selain kambing, kelinci juga bisa menjadi
pilihan, namun untuk penyakit yang lebih ringan.
Dalam hal penyembuhan, paguyuban tritunggal tidak menerapkan
adanya pantangan apapun kepada pasiennya. Karena itu, meskipun dokter
menyarankan Pujianto untuk menghindari minum kopi, ia tetap saja menyeruput
minuman kesukaannya itu ketika menjalani terapi di Paguyuban Tritunggal. Mereka
juga tidak melarang pasiennya berobat juga di medis konvensional. Yang penting
tidak ke penyembuhan tradisional yang lain, karena beda energi. Yang menjadi
ketakutan adalah adanya energi yang bertolakbelakang dengan energi yang
digunakan oleh Paguyuban Tritunggal. Jika itu terjadi maka pasien tidak akan
sembuh, malah bisa-bisa tambah parah.
Pasien yang datang ke paguyuban
tersebut rata-rata adalah pasien buangan dari rumah sakit, atau yang sudah
bosan dengan pengobatan medis konvensional. Kebanyakan pasien yang datang
adalah pasien yang dokternya sudah angkat tangan. Malah, terkadang para dokter
yang sudah angkat tangan tersebut menyarankan pasiennya berobat ke Paguyuban
Tritunggal. Dalam artian pasien tersebut secara medis konvensional sudah
mustahil untuk disembuhkan. Penyakit-penyakit berat macam kanker stadium
lanjut, tumor atau jantung koroner adalah penyakit-penyakit yang sering mampir
di Paguyuban ini. Selain itu Paguyuban Tritunggal juga kondang dalam
menyembuhkan penyakit-penyakit “kiriman” seperti santet, gendam, atau pelet. Tak
hanya itu, paguyuban ini pun juga melayani ruwatan untuk menghilangkan kesialan
supaya rejeki lebih lancar mengalir.
Awalnya Pujianto diberi petunjuk dulu tentang masalah
administrasi. Dalam hal biaya, Paguyuban Tritunggal tidak menetapkan seberapa
besar tarif mereka. Dasarnya bukanlah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari
pasien, melainkan semangat untuk membantu sesama. “Kalau masalah pembayaran itu
sifatnya suka rela mas, lha wong
uangnya kita masukin ke amplop terus
dikasih ke kotak, cuman gitu aja.
Jadi yang tau ya otomatis kita
sendiri,” ujar Pujianto. Untuk penyembuhan yang menggunakan media hewan, pasien
dibebaskan untuk membawa hewan dari rumah. Tetapi karena kebanyakan pasien
tidak mau repot-repot, pasien bisa saja hanya memberikan uang seharga hewan
yang akan digunakan untuk media penyembuhan ke Paguyuban Tritunggal. Pujianto
adalah salah satu pasien yang tidak mau repot tesebut. Ia hanya menyerahkan
uang sebesar Rp. 700.000,00, dan Paguyuban yang membelikan kambingnya sebagai
media penyembuhan penyakit Pujianto. Selanjutnya, Pujianto bertemu dengan dukun
yang akan menyembuhkannya.
Mbah Sombo, begitulah ia biasa dipanggil. Banyak orang akan
terjebak ketika mendengar namanya. Bayangan seorang dukun dengan muka seram, rambut putih, jimat dan
banyak cincin batu di jari akan segera lenyap ketika melihat sosok mbah Sombo.
Perawakannya sedang, tidak gemuk, tidak kurus, sekitar 160 cm tingginya, dan
sesekali jari-jarinya sibuk memainkan hanphone layar santuh miliknya. Umurnya
masih 30 tahunan. Setiap pasien yang ditanganinya akan selalu disambut oleh
wajah dan senyumnya yang ramah bersahabat. Kali ini dialah yang menangani
Pujianto. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Mbah Sombo juga mempunyai
pengalaman berkesan berkait dengan Paguyuban Tritunggal.
“Kenal sini (Paguyuban Tritunggal) tahun 2004, waktu itu
saudara saya kena hepatitis C, livernya kena virus, bahkan kata dokter virusnya
sudah sampai ke kepala. Leukositnya turun drastis, sampai 67, padahal normalnya
200-300,” cerita mbah Sombo mengenang awal ketertarikannya mengikuti Paguyuban
Tritunggal. Beberapa minggu opname di rumah sakit, dokter bilang nyawa
saudaranya tinggal sebulan. Sudah hampir 40 hari dirawat di rumah sakit dan
tidak sembuh-sembuh, Mbah Sombo berpaling ke Paguyuban Tritunggal. Ia ngomong
langsung pada Romo Sapto soal penyakit saudaranya. Malam hari diterapi,
besoknya leukositnya langsung naik. Dulu matanya kuning semua, badanya lemas
dan bisanya hanya tidur di rumah, setelah diterapi selama seminggu langsung
sehat dan bisa langsung beraktifitas.
Nah
dari situlah ketertarikan Mbah Sombo untuk belajar menyembuhkan orang, “Kok iso yo?” katanya terheran-heran. Ia
kemudian berguru kepada romo Sapto. Menurut beliau, setiap orang bisa menjadi
penyembuh karena Tuhan sudah memberikan kepada manusia energi penyembuh
semenjak dikandung di rahim ibu. “Nah bagaimana cara mengolah energi penyembuh
itulah yang harus dilatih,” terang Mbah Sombo ketika ditanya tentang kemampuan
menyembuhkan miliknya.
Kunci dari penyembuhan ala Paguyuban Tritunggal terletak pada
interaksi yang kuat antara dukun dan pasien. Sangat penting diadakan dialog
pertama kali antara dukun dan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Hal
tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran penyakit yang dihadapi sekaligus
sebagai sarana pendekatan personal dan emosional. Proses tersebut tidak
dilakukan secara formal dan kaku, melainkan informal dan santai. “Sampai
sekarang saya masih sering konsultasi lewat SMS sama mbah Sombo kok mas,” kata
Pujianto menanggapi kedekatan relasinya dengan penyembuhnya.
***
Sehari setelah penyelesaian administrasi, terapi pun dimulai.
Terapi yang dilakukan adalah terapi transfer energi dengan media hewan. Terapi
dilakukan di sebuah ruangan. Ada lima orang plus satu hewan dalam ruangan itu.
Mereka adalah mbah Sombo dan tiga asistennya, yang lainnya adalah Pujianto bersama
dengan seorang temannya, tak lupa seekor kambing sebagai media transfer energi.
Terapi dilakukan dengan bantuan doa dan energi yang dimiliki
oleh para penyembuh. Energi negatif yang terkandung di kanker Pujianto
dikeluarkan dan dipindah ke dalam tubuh kambing. “Jadi yang dipindah bukanlah
penyakitnya, melainkan energi negatif yang dimiliki oleh penyebab rasa sakit
itu, misalnya kanker. Ketika kanker itu sudah kehabisan energi, maka sedikit
demi sedikit kanker itu akan kempes dan mati,” terang Mbah Sombo tentang terapi
pemindahan energi yang dilakukannya.
Proses penyembuhannya cukup sederhana. Tak ada
gerakan-gerakan, maupun mantra-mantra kuno. Si penyembuh hanya menempelkan
tangannya di atas perut Pujianto dan diiringi dengan doa-doa yang diucapkan
oleh Pujianto maupun tim penyembuh. Ketika ketika proses pemindahan
berlangsung, tubuh Pujianto merasakan perubahan drastis. Daerah tubuhnya yang
tadinya sakit, terutama pada bagian perut tengah seketika itu juga terasa sangat
panas. Proses penyembuhan tahap pertama tersebut memakan waktu kurang lebih
satu jam. Setelah proses penyembuhan pertama tersebut selesai, Pujianto
diberikan sebotol air mineral yang sudah didoakan oleh Mbah Sombo untuk
diminum. Air mineral memang salah satu barang yang wajib dibawa oleh pasien
sebelum melakukan proses terapi untuk kemudian didoakan. Kambing yang ada di
dalam ruangan tersebut tetap ditinggal di Paguyuban. Malam setelah proses
penyembuhan tahap pertama, perut Pujianto masih terasa panas bahkan lebih panas
dari hari sebelumnya. Namun rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Hari berikutnya Pujianto kembali ke Paguyuban untuk proses
penyembuhan tahap kedua. Ketika itu dia dihadapkan oleh kambing yang sudah
ditransferi energi. Kambing tersebut disembelih dengan disaksikan oleh Pujianto
sendiri. Tampaklah jeroan kambing yang disembelih. Jeroan tersebut terlihat
rusak, dan membusuk pertanda energi yang ada di tubuh Pujianto berhasil
ditransfer ke dalam tubuh kambing tersebut. “Saya lihat sendiri mas bagaimana
bentuk dari jerohan kambing yang baru disembelih. Jerohan tersebut terlihat
hitam dan busuk,” kata Pujianto. Jerohan kemudian dilarung ke laut selatan,
disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tak cukup sampai di situ, hari berikutnya
Pujianto harus menjalani proses terakhir terapi.
Terapi
tahap terakhir ini dilakukan tengah malam. Pujianto waktu itu bersama dengan
paisen-pasien lain ditempatkan di sebuah ruangan lapang. “Waktu terapi itu mas,
saya sama pasien-pasien lain disuruh tidur dipakein
jarit (selendang). Dikrukup
bareng-bareng. Kayak orang mati,”
kata Pujianto mengingat proses terapi terakhir yang dialaminya. Doa-doa dan
sajen tak lepas dari proses penyembuhan tersebut. Proses terapi tersebut
menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Sama seperti sebelumnya, tubuh
Pujianto terasa sangat panas, terutama bagian perutnya. Tubuhnya keluar
keringat begitu banyak, namun ada perasaan lebih ringan dan rasa sakitnya
berangsur-angsur pulih.
Setelah
itu, paginya pakaian-pakaian pasien yang sudah diterapi dikumpulkan.
Pakaian-pakaian tersebut kemudian dilarung oleh para dukun. “Saya nggak tau mas pakaian saya dilarung di
mana, yang pasti rasanya setelah terapi itu dan beberapa hari kemudian tubuh
saya berangsur-angsur membaik,” terang Pujianto. Meskipun tubuh Pujianto sudah tak lagi merasakan sakit, ia tak serta merta
lepas kontak dengan Paguyuban Tritunggal. Hingga dua minggu kemudian Pujianto
masih berhubungan dengan penyembuhnya, Mbah Sombo. Ia masih melakukan
konsultasi untuk tetap menjaga tubuhnya sehat. “Seminggu setelah terapi
terakhir saya masih sering ke Paguyuban mas. Kadang-kadang juga masih harus
diterapi lagi namun Cuma kecil-kecilan” kata Pujianto lagi. Selain itu Pujianto
juga masih sering berkonsultasi dengan dokter bedah yang dulu pernah
menanganinya. Seperti yang telah diceritakan di awal tadi, sang dokter
geleng-geleng melihat kesembuhan mantan pasiennya.
***
Fenomena kesembuhan Pujianto ternyata bukan hal baru dalam
dunia kedokteran (medis konvensional). Selain itu tidak sedikit juga orang yang
mengalami pengalaman yang sama dengan yang dialami oleh Pujianto, pengalaman
kesembuhan non-evidence medical based.
Hal tersebut diamini oleh Dr. Sunarto, salah seorang dosen di Fakultas
kedokteran UII Jogjakarta. “Kajian kedokteran untuk pengobatan alternatif yang
sifatnya gaib memang masih kurang, namun orang yang mengalami kesembuhan
semacam itu tidaklah sedikit. Kita sekarang hidup di alam modern, semua dilihat
dari sudut pandang positivisme, jadi semua hal harus bisa dibuktikan dengan
indera”, terangnya. Kajian fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto
ternyata sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1956. Namanya K.H.
Bertench.
Menurutnya fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto disebut efek Placebo.
Efek Plasebo adalah istilah medis untuk terapi
baik dalam bentuk obat-obatan maupun prosedur-prosedur medis yang tidak
memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien. Plasebo bukanlah obat palsu,
tetapi obat atau tindakan penyembuhan yang "dipalsukan" oleh dokter/dukun/penyembuh
yang diyakini memiliki dampak positif bagi pasien. Efek plasebo menunjukkan
bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia.
Karena dengan kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika,
efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.
Anne Harrington dalam bukunya “The Placebo Effect: An
Interdisciplinary Exploration”, mengatakan bahwa placebo itu layaknya hantu
yang yang menakuti rumah kesehtan, dan menakuti objektifitas biomedical, sesuatu
yang bangkit dari kegelapan dan mengekspos keparadoksan”
Dalam dunia medis efek plasebo ini membawa dampak kesehatan
yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Pernah suatu saat ada sebuah penelitian
yang membuktikan efek ini. Penelitian itu menggunakan obat palsu yang terbuat
dari tepung biasa namun obat tersebut diberi label analgesik oleh dokter.
Pasien yang mencobanya tidak mengetahui bahwa obat tersebut adalah obat palsu.
Beberapa saat kemudian pasien tersebut merasakan efek yang mengejutkan karena
pasien tersebut tidak lagi merasakan rasa sakit yang dideritanya. “Sebenarnya
yang menyembuhkan ia hanyalah sugesti yang diberikan oleh si penyembuh
tersebut. Bukan obat atau kekuatan gaib yang diberikan yang membuat reaksi di
tubuhnya. Kemungkinan efek Placebo itulah yang menyembuhkan Pujianto dari
kanker prankreasnya”, terang Firman Pratama S.T, seorang
pengamat dunia kesehatan dalam emailnya kepada penulis.
***
Meskipun begitu, apapun yang bermain di tubuh Pujianto, yang
ia rasakan kini adalah kesembuhan. Sekarang wajahnya kembali berseri dan
melanjutkan hidupnya lagi dengan keluarganya. Sehatkah Pujianto? Kata mbah
sombo kesehatan bukan diukur dalam hal kerusakan fisik apa yang terjadi di
tubuh manusia, melainkan apa yang dirasakan oleh manusia itu. Dan memang itulah
kebenarannya. 3 bulan lalu, Pujianto dengan senyum khasnya menjadi tamu spesial
di acara pengobatan alternatif TVRI Yogyakarta untuk memberikan kesaksian
kesembuhannya yang ia sebut sebagai mukjijat kehidupan.
Penulis:
Leo Agung Bayu
Transkrip Wawancara tentang Mural dan Grafitti
Itukan cuma nggampangke persoalan. Orang yang pikirannya konservatif grafiti tidak menarik. Tapi kalo anak muda merka tertarik. Tetapi mungkin yang klasik mereka nggak tertarik. Karena anak muda kan suka yang baru. Ada street art gitu.
Keunikan grafiti di indonesia?
Taun2 awal g ada perbedaan jauh. Secara teknis, visual, dll, masih cenderung meniru dari luar negeri. Masih pada tahap fashion. Tahap berikut, spirit lokal di munculkan. Seperti di jogja mereka teknisnya berbeda, yaitu canpur cat. Cita rasa personal dan lokal juga dimunculkan. Masih pada tahap mencontoh.
Negara meilegalkan, tapi katanya jogja tidak?
Grafiti itu memang ilegal. Di jogaja, mural sudah mulai diterima masarakat dulu, temen grafiti juga pengen. Bahkan pemerintah (walikota) pernah membuat surat undangan untuk membuat grafiti. Waktu itu walikota ada di jernan, dia iri karena di sana bagus. Dia pikir kalo jogja jika dibuat seperti itu basgus. Undangan itu di cetak di KR. Dipotong lalu kalo ditangkap bisa ditunjukkn. Seiring berjalannya waktu masih ada yang di tangkap. Dfimarahi. Persepsi warga joga masih yang lama tentang grafiti, mengotori, merusak, dll. Masarakat prefer mural; than grafiti. Akhirny para bomber memperbaiki kualitasnya dan hasilnya bagus juga.
Setuju sama grafiti yang asal?
Bukan masalah setuju dan g setuju. Cuma kalo nggak bagus ya nggak asik ahh, kan saya seniman. Ini soal selera saja.
Pelegalan grafiti penyimpangn?
Perebutan wilayah. Hasratnya harus ilegal . Seperti penggunaan ganja, klo g ilegal g asik. Lebih menarik ilegal. Kalo menurut sam jika dia jadi pemerintah, ada ruang yang legal dan g legal, menyangkut manajemen kota. Misal ruang bersejarah g boleh di bom.
Grafiti sejaahnya protes.,
Masalah perkemgangn sosial kota. Begitu kota tidak memberikan akses pada kelompok tertentu misal remaja. Dia g punya ruang untuk mennjukan eksistensinya. Lalu mreka bisa meenyalurkan dengan grafiti. Kenapa di deasa g ada grafiti, dangdutan eae. Ada problem sosial, problem yang menengkranm keberadaan mreka. Maka mereka mencoba keluar dari problem itu. Fasion, anak2 muda baca buku supaya tau tren di luar negeri. Resistensi anask ,muda masih rendah terhadap budaya luar dan tren.
Awal kemunculan di indonesia.
Merdeka atau mati bisa dikategorikan itu grafiti.
Eksis di mural?
Sejak taun 97, tapi g begitu ekspert di bidang grafiti. Memakai mural sebatas untuk memahami sebuha ruang. Mural itu pekerjaan lama. Seperti pada jaman purba yang menggambar di gua. Ini revitaliasai Seni keluar dari habitat yang awal (di studio) membagikan pesan, dan kemampuan berkesenbian di ruang terbuka. Menyampaikan banyalk pesan, harapan, dll. Ruang kota dimungkinkan kembali dimiliki oleh warganya. Mural luar ruang dan dalam ruang. Dia memilih yang luar karena bisa dinikmati orng banyak.
Yang di bi,in oleh masa sam, fubngsi yang dibikin. Yang di kampung bisa mengembalikan kesadaran kolekti. Kekerabatan ter5jalin. Ruag2 terbengakali bisa dijadikan tempat memberikan pesan bahwa kampung kami dulu seperti ini dan begini. Mempunyai peranan sosial, membanun kekerabatan.
Perkotaan menjadi lebih manusiawi, karena warga lebih punya peluang iuntuk mendandani rumahnya. Ada kisa2 yang tadinya tidak terlihat ja di mucul.
Pas g dengan budaya tradisional?
Kalo dilihat dari sudut orang tua yang tidak pas, mereka pasti mikirnya ini apa tho? G bisa dibaca? Maunya aapa? Itulah kenyataan bahawa ada perkembangan terbaru bagi warganya bahwa semuanya pasti menacu pada tradisi yang baru. Nggak busa di pungkari bahawa ada perubahan jogja jangan ster5il dari perkembngan. Jogja dadlah kota yang bergerak, tradisi iya, pergerakan sebuah kota memungkinkan muncul banyak hl yang tidak selaras, dgn tradisu.
Sisi negatif.
Kalo grafiti g pas, pasti bikin sumpekl. Seperti bendera partaui yang bikin hueekkkk,,,, sesuatu yang over dosis dan tidak di komposisi dengan baik pasti menyebalkan. Jangan sapai ada kejenuhan.
Grafiti yantg menarik?
Grafiti yang menyuarakan sewsautiu. Ruangnya pas, misal ruang yang kumuh di ikin full kolor. Menambah nilai ruang. Menyampoaikan gagaan yang unik. Pesan2 politik, sosial,dll. Di brasil, ada grafiti puisi2 latin.jangan cuma niru haraus ada karakteristik, aransenren.
Komunitas grafiti2?
Banyak..pak sam bikin komunitas. Joga mural forum. Kegiaananya cuma bikin mural. Bikin workshop.
Konflik antar komunitas?
Rebutan ruang, ditimpa, emosi, mau berantem.warung wijilan, banyak yang kumpul waktu malem.
Kalo mural nggak ada konflik, karena lama mbuatnya, bareng2, dll.
Kami ada disini, itu cuma yabng tulisan, gak menarik.
Grafiti selain jogja?
Perkembangan paling intensif, jogja dan jakarata. Karena pengen dsama atau dekat dengnanask m,usik, band fesyen, dll.
Suka duka murlis?
Ketemu banyak orang, kenalan banyak. Langsung tahu respon orang.proses edukasi mumcul/ dukanya, kalo hujan, capek, biaya besar. Cari\ sponsor. Artinya siapa yang nau suport. Satu kmpung urunan sampai 5 juta. 1 liter 4 mtr persegi. Pake warna preimer, hitam dan putih.
Inspirasi?
Berdasarkan lokasi rung yang penuh jangan yang rumit2 nanti capek. Ide berdasarkan ruang ada di mana, kita ,au ngomong apoa. Klo ,au edukasdi, ceritakan lokal konten, misalny jogokaryan. Erjarah lokasl. Ruang punya spesifikasi seperti a[pa. Misal raung sempit, biar keliatan lebar, pendek biar keliatan tinggi.
Ada masarakat yang menolak, alasannya putih ajaq bagus kok. Sudah bukan tahap senagn nggambar,
tapitahap ini adalah pekerjaanku, bukan main2.
Idealisme komunitas.
Bisa mengumpulkan beragam orang yang berminat dengan perkembangan mural di jogja.
Harapan?
Pengen jogja menjadi kota terpenting perkembangan mural se asia tenggara. Orang2 pada datang ke sini untuk lihat2 penelitian dll.
Belum pernah nggambar seara ilegal. Menghormati.malu kaareaa saya paham itu g boleh.
Malam di Papringan
Malam di Papringan
Pada mulanya adalah gelisah. Aku
lihat dimana-mana, orang-orang tak mau lagi mengenal kata tersebut. “gelisah”.
Mereka terlalu takut. Ya, gelisah menjadi sebuah kata yang menakutkan di jaman
ini. Aku paham, orang-orang lebih menyukai kasur empuk ketimbang petualangan.
Orang –orang lebih menyukai stabilitas ketimbang perubahan. Benar, hari-hari
ini kata mapan selalu yang dicari-cari. Nyali mereka ciut ketika dihadapkan
dengan kata “kenyataan” sedangkan “mimpi” menjadi pemenang. Beberapa orang
mengaggap kenyataan itu ilusi, beberapa orang terlelap dalam mimpinya,
sedangkan beberapa orang menganggap mimpi-mimpinya adalah kenyataan. Mereka
gila. Dan mereka ditertawai kegilaan. Aku dianggap gila, lalu aku ditertawai
mereka yang ditertawai kegilaan.
Selanjutnya adalah kesendirian.
Untuk saat ini kesendirian adalah teman terbaikku. Entah, bukan bermaksud
asosial, namun hanya saja aku merasa semua orang muak dengan ide-ideku. Aku
percaya, tubuh mampu menjadi rapuh, ia gampang disiksa, dibunuh, lalu dibuang,
namun ide tidak akan pernah mati. Ide itu semacam kanker yang ketika dibuang,
akar-akarnya akan tetap menancap kuat. Lalu bertumbuh lagi menjadi berlipat
ganda. Ia seperti ilalang, berisik. Juga mengusik. Dibabat, namun tetap
berlipat. Ia semacam suara Tan Malaka yang lebih lantang teriakkannya di luar, ketimbang
di dalam kuburan tubuhnya sendiri. Orang-orang mungkin saja melupakan sebuah
ide. Namun ia menjelma masa lalu. Ia menjelma sejarah. Dan sejarah selalu
menemukan jalannya sendiri. Ia akan mengejar realita, juga peristiwa. Serupa
trauma masa lalu. Semakin dilupakan, semakin mencengkram erat. Walau di bawah
sadar.
Malam ini bulan seperti celurit.
Tipis dan tajam. Keras dan dingin. Warnanya perak pucat. Dengan hiasan mendung
kelabu di samping-sampingnya. Aku berjalan di bawahnya. Di antara
dinding-dinding urban, yang dinamai, lorong. Mungkin sudah ribuan kali aku
berjalan di lorong ini. Lorong-lorong gelap juga becek dekat aku bertempat
tinggal di kost yang lembab dan sempit. Seisi lorong mungkin sudah
menghapaliku, seperti juga aku kepada mereka. Pak Guno namanya. Ia selalu duduk
di depan gerobak baksonya tiap jam 2 pagi. Matanya kosong, seperti isi gerobak
dan dompetnya. Entah esoknya ia mau berjualan atau tidak. Lalu di sela tong
sampah berwarna hitam, selalu kutemukan 3-5 kecoak menari-nari. Jendela tua tak
berkaca. 12 lubang retak di jalan, juga air yang senantiasa menggenanginya. Tak
lupa bekas muntahan habis minum ciu dari pedagang siomay yang 3 minggu lalu
dicerai istrinya karena terus-terusan kalah judi.
Malam ini aku lapar. Seperti
malam-malam sebelumnya. Seperti masa masa laluku setelah mengejar-ngejar aku,
namun tak menemukan karena aku pandai bersembunyi. Lapar. Honor hasil memberi
tutorial untuk sebuah institusi di kampusku kemarin hari sekarang sudah ludes. Kubuat
bayar uang kuliahku. Semakin gila saja kampusku. Telat bayar dapat denda.
Aku pusing. Lalu menemukan
sebotol bekas aqua. Entah, tapi aku tahu isinya bukan minuman bersoda. Namun
air mata. Kulihat tulisannya, “diambil dari mata air dari mata pak Tugiman”.
Penulis: Leo Agung Bayu
SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN
SEDIKIT
CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN
Tulisan ini saya buat untuk menanggapi sidang KOK
kemarin. Sebenarnya banyak sekali pasal yang ingin saya beri tanggapan, tapi
untuk saat ini satu pasal dulu. Menurut saya pasal ini sedikit banyak
mencerminkan ideologi apa yang dianut oleh USD.
“Fungsionaris yang menjadi ketua umum DPMU atau
DPMF, Presiden BEMU atau Gubernur BEMF, ketua UKM, ketua UKF, HMJ/HMPS, serta
ketua komisi dan ketua bidang tidak berstatus sebagai mahasiswa perguruan
tinggi lain” (KOK, Bab X, pasal 22, ayat 3)
Artinya: Mahasiswa yang merangkap belajar di
perguruan tinggi lain selain sanata dharma TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN HAKNYA
sebagai mahasiswa sanata dharma untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi
formal apapun di kampus sadhar.
Inilah pendapat para mahasiswa yang pro dengan
pasal tersebut beserta dengan pendapat saya:
1. -
"Apa kita tidak malu dipimpin sama mahasiswa dari kampus lain?"
- "Di mana harga diri kampus kita?"
Dari pernyataan di atas kita dapat melihat betapa
USD berhasil memberi hegemoni dogmatik kepada para mahasiswanya, bahwa USD
lebih unggul daripada kampus-kampus lain. Mahasiswa dibuat sangat superior
terhadap kampus-kampus lain. Keyakinan tersebut menurut saya bersifat
fanatik dan dapat menimbulkan fanatisme sempit. Seakan-akan sesuatu tersebut
sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan. Dihadapkan dengan
keyakinan semacam itu saya beranggapan bahwa hal tersebut bisa disebut sebagai
pemusnahan nalar. Nalar seakan-akan dilupakan sebagai jalan untuk mencari
kebenaran karena sudah tertutup oleh fanatisme sempit. Pemusnahan nalar
terutama digunakan dalam rangka pelanggengan kekuasaan ras, kerajaan atau
pemimpin.
Istilah “oposan” seharusnya tidak ada dalam
sebuah sistem fasis. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak
negara/penguasa, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam
pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi.
Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin
pemerintah. Hitler bahkan pernah mengatakan, bahwa “kebenaran terletak pada
perkataan yang berulang-ulang”. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif
kebenarannya. Sama seperti pendidikan di USD, doktrinasi dilakukan di
ruang-ruang kelas lewat dosen-dosen, lewat mata kuliah-mata kuliah. Lewat week
end moral, lewat PPKM, dll. Mahasiswa diprogram sedemikian rupa hingga dapat
dengan mudah “dikendalikan”.
2. -
"Lebih baik yang jadi ketua organisasi berasal dari anak sadar asli."
- "Itu jatahnya anak sadhar!"
Anak sadhar asli? Apa itu anak sadhar asli?
Setahu saya mahasiswa yang belajar di sanata dharma dan melengkapi kelengkapan
administrasi sadhar mulai dari membayar uang DPP, UKT, atau pun SKS adalah
mahasiswa resmi institusi pendidikan universitas sanata dharma. Sederhananya,
setiap orang yang membeli jasa pendidikan yang dijual oleh sadhar adalah
mahasiswa USD. Logikanya sederhana kan? USD jual, gue beli... Lalu bagaimana
dengan mahasiswa USD yang juga berkuliah di kampus lain? Apakah hak-haknya
harus dibedakan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang hanya berkuliah di USD?
Menurut saya tidak. Jika itu dilakukan maka saya bisa menyebutnya sebagai
diskriminasi dengan alasan yang tidak logis. Mahasiswa yang rangkap kuliahnya
juga mempunyai kewajiban yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa USD lain, masak
mereka tidak mempunyai hak yang sama?
Dalam fasisme, manusia tidaklah sama, justru
pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria
melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan
anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus
melampaui yang lemah, mahasiswa yang cuma kuliah di USD melampaui mahasiswa
yang juga belajar di universitas lain. Dilihat dari sudut pandang itu, USD
menolak adanya persamaan.
3.
"Masak kita mau presiden kita orang malaysia?"
Jika dilihat menggunakan analogi seperti itu maka
USD adalah negara indonesia, dan mahasiswa yang merangkap belajar di
universitas lain adalah orang malaysia. Ketua organisasi mahasiswa (BEM, DPMU,
UKM, dll misalnya) adalah presidennya. Selain analogi yang digunakan kurang
tepat, pernyataan mahasiswa di atas menunjukkan adanya keyakinan bahwa
mahasiswa USD yang merangkap studinya di universitas lain harus disingkirkan
demi “kemurnian ras USD”.hahaha....
Setahu saya, fasisme bersifat total dalam
meminggirkan sesuatu yang dianggap “kaum pinggiran”. Hal inilah yang dialami
kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K, yaitu: kinder
(anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum
Fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum
penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti
pembunuhan dan penganiayaan. Dalam USD, yang dibunuh dan dibatasi adalah hak
mahasiswa yang merangkap studi di universitas lain untuk mencalonkan dirinya
sebagai pemimpin organisasi mahasiswa.
4.
"Mahasiswa sadar juga banyak yang kompeten kok masak mau pilih yang
lain?"
Beneran nihh? Calon wakil presiden BEM aja nggak
tau KOK itu apa. Paling-paling nyalon jadi presiden BEM juga biar gampang dapat
kerjaan di USD. Kalo kompeten dalam bidang akademis sih banyak, tapi dalam
pembacaan situasi kampus, wacana, dan politik kampus?
5.
"Gimana kalau studinya kerepotan?"
Pendapat terakhir inilah yang paling bisa saya
terima dan cukup logis juga. Dari pendapat di atas bisa ditarik kesimpulan
bahwa hanya kuliah di sadhar saja beban kuliahnya sudah sangat banyak, apalagi
ditambah dengan beban studi kampus lain, lalu kapan mengurus organisasinya?
Setahu saya sebelum menjadi ketua, baik itu BEM,
DPMU, UKM, dan organisasi kemahasiswaan yang lain harus melalui tahap seleksi
dulu, malah ada yang memakai tahap test dahulu. Jika calon yang bersangkutan
menyatakan sanggup dan mau berkomitmen dengan tugas-tugasnya di organisasi yang
dipimpinnya, kenapa tidak? Lagi pula “studinya kerepotan” itu kan memang sudah
konsekuensi dari pemimpin dari organisasi mahasiswa, karena selain sebagai
pemimpin dia juga seorang mahasiswa juga.
Unsur-unsur pokok dalam ideologi fasisme =
ketidakpercayaan pada kemampuan nalar, pengingkaran derajat kemanusiaan, kode
prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan, pemerintahan oleh
kelompok elit, totaliterisme, militerisme, dan Rasialisme. Lengkap
sudah...terdapat di USD...