KAUM MUDA VS HEGEMONI PASAR

-->
“Jika harimau nempunyai cakar dan ular mempunyai bisa, maka pemodal mempunyai simbol-simbol dan tanda-tanda untuk mempertahankan eksistensinya”.

Siang itu cuaca terlihat begitu panas. Namun suhu yang menyengat tersebut tak mampu mengalahkan puluhan anak muda yang berdandan hampir seragam, potongan rambut yang juga serupa, aksesoris berwarna cerah, pakaian warna-warni mencolok ketat dan seksi, tak lupa dengan ekspresi wajah yang riang. Sembari menyanyikan lagu-lagu cinta dari band-band picisan pujaan, mereka melakukan gerakan tarian yang tak kalah serentak. Pemandangan tersebut sekarang lazim dijumpai di televisi-televisi swasta Indonesia dalam acara konser-konser musik kecil-kecilan. Ambil contoh, tayangan “inbox” di stasiun televisi swasta SCTV yang menyajikan penontonnya konser dari band-band kecil maupun yang sudah mapan dan dibumbui dengan peringkat-peringkatan. Acara tersebut tidak hanya ditayangkan sekali dalam seminggu, namun setiap hari.
Merujuk dari fenomena tersebut, kita bisa melihat betapa ampuhnya budaya populer mampu membius kaum muda dengan euforianya. Ada sesuatu yang menggerakan anak-anak muda tersebut. Ada sebuah tangan tak nampak (meminjam istilahnya Adam Smith) yang membuat mereka tampak seragam, baik dari cara berpakaian, gaya hidup, dll. Siapakah pemilik tangan tak nampak tersebut? Apakah fenomena tersebut wajar/alami terjadi begitu saja? Atau apakah ternyata kapitalis dan pemerintah juga punya andil besar di dalamnya? Mungkinkah perputaran modal, ideologi, hegemoni kapitalisme, dan industri kelas kakap tak luput menjadi sutradara di balik layar pertunjukan itu? Mari kita telaah lagi apa itu budaya populer, pasar, dan bagaimana hegemoni bekerja melalui banyak cara. Semoga setelah itu tangan tak nampak tersebut sedikit demi sedikit akan semakin terlihat.

Budaya Populer, Pasar, dan Kaum Muda
Budaya populer, pasar, dan kaum muda adalah tiga kata benda yang mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Ketiganya merupakan aset berharga bagi ideologi kapitalisme untuk semakin melanggengkan eksistensinya. Pasar sulit lepas dari kapitalisme, dan kapitalisme tak bisa lepas dari pengerukan laba sebanyak mungkin. Semua orang tahu itu. Untuk membeli barang-barang yang mereka produksi dan demi mengalirkan pundi-pundi ke dalam kantong mereka, kapitalis membutuhkan pasar.
Pasar yang mempunyai pembeli terbanyak adalah pasar yang paling menguntungkan kapitalis, sehingga pasar itulah yang menjadi incaran dan rebutan mereka. Melihat kondisi pasar, pangsa pasar yang paling menggiurkan dan mempunyai prospek cerah adalah kaum muda. Selain karena  jumlahnya yang banyak, kaum muda adalah kaum yang paling mudah dipengaruhi oleh pemodal baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam pencarian jati dirinya, kaum muda seringkali mudah terbawa arus. Jika sekarang pakaian perempuan yang ngetrend adalah pakaian ketat, seksi dan mencolok warnanya, maka seorang pemudi akan berpikir berkali-kali untuk memakai pakaian yang buluk, tidak seksi, dan tidak mencolok warnanya. Ujung-ujungnya, pemudi itu berusaha keras, bagaimanapun caranya untuk membeli pakaian yang bentuk dan warnanya hampir sama dengan yang lain.
Dari uraian di atas, kita bisa membedakan yang mana yang disebut budaya populer, pasar, dan kapitalis. Di sini pemudi berperan sebagai pangsa pasar yang membeli pakaian, dan kapitalisnya tentu saja produsen pakaian “masa kini” yang mendapat keuntungan. Lalu bagaimana kabar budaya populer?

Invasi budaya populer dan kebutuhan yang diciptakan
Ada banyak faktor yang membuat kaum muda membeli sesuatu, misalnya (merujuk pada contoh sebelumnya) membeli pakaian “masa kini”. Faktor yang pertama misalnya pemuda tersebut terkena bencana alam hingga pakaiannya habis. Di toko, pakaian yang tersedia hanya pakaian “masa kini”, mau tak mau dia membeli pakaian tersebut. Ia membeli pakaian tersebut karena memang dia butuh untuk bertahan hidup (kebutuhan minimal). Faktor yang kedua adalah, ternyata pemuda itu sudah terinfeksi dan terhegemoni budaya populer. Jika diibaratkan kapitalis adalah seorang pemburu, dan pembeli adalah adalah buruannya, maka pemburu yang paling pandai menyiapkan perangkap menjadi pemburu yang dapat buruan paling banyak. Perangkap tersebut adalah budaya populer.
Budaya populer mengambil alih kesadaran kaum muda melalui perangkat-perangkat tak terlihat dari para elit (kelas atas), yaitu ideologi dan hegemoni. Gramsci dalam epistemologinya tentang hegemoni mendefinisikan hegemoni sebagai suatu pengetahuan atau ideologi atau keyakinan baru yang dimasukkan secara terselubung dengan pembiasaan maupun dengan pemaksaan (doktrinasi) ke dalam atmosfir kesadaran kolektif masif. Salah satu penyebarannya dilakukan dengan perangkat media massa.
Tayangan-tayangan di televisi macam iklan, film, sinetron, dll turut andil dalam hegemoni yang dilakukan oleh kelas penguasa seperti pemilik modal besar, atau elit-elit politik. Dengan perangkat tersebut hegemoni bekerja, dan massa (kaum muda) akan memperoleh sebuah kesadaran-kesadaran atau keyakinan-keyakinan yang baru (atau relatif baru), yang disebut ideologi.
Ideologi tidak hanya memproduksi kebudayaan, namun juga memproduksi kesadaran diri manusia. Ideologi tidak berjalan secara eksplisit, namun secara implisit. Ia berkembang dalam praktek, kehidupan sosial, dan berbagai hal yang diterima masyarakat (yang seakan) apa adanya. 
Nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi suatu kelompok masyarakat akan mempengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tersebut.
Ketika hegemoni itu bekerja dengan baik maka kedudukan para elit di atas menjadi semakin kokoh. Massa sudah terpesona oleh nilai-nilai yang ditawarkan, sehingga secara langsung maupun tidak langsung mereka menyetujui dan menganggapnya sebuah kelaziman. Ketika dalam kondisi tersebut, maka para elit (kapitalis maupun politisi) dapat dengan mudah menggiring massa sesuai keinginan mereka.
Ideologi yang ingin disebarkan oleh budaya populer melalui hegemoninya adalah ideologi kapitalisme dan liberalisme. Ideologi tersebut menawarkan nilai-nilai populer dan kebebasan semu. Masih ingat dengan iklan pemutih kulit yang menggembar-gemborkan bahwa dengan mempunyai kulit putih, maka lawan jenis akan lebih mudah terpikat? Nah nilai yang ingin ditanamakan kelas elit kapada massa adalah bahwa wanita berkulit putih itu cantik, dan lebih baik daripada wanita berkulit hitam.
Terciptalah sebuah kesadaran hirarkis, bahwa perempuan kulit putih mempunyai kedudukan atau posisi lebih tinggi daripada yang berkulit hitam. Nah, setelah nilai atau kesadaran tersebut tertanam maka timbulah niat dari si penonton iklan tersebut untuk membuat tubuhnya menjadi semakin putih. Karena semakin dia putih, maka (seakan-akan) derajatnya akan semakin tinggi. Ujung-ujungnya, produk pemutih tubuh akan menjadi semakin laris. Keuntungan pun mengalir deras ke industri obat pemutih tubuh.
Dari situ bisa dilihat adanya saling keterkaitan antara massa (kaum muda), superstruktur (nilai-nilai dan keyakinan) dan genggaman ideologis kapitalis terhadap massa.

Subkultur yang dikooptasi
Masih ingat dengan contoh anak muda di acara “inbox” yang suka memakai pakaian yang serba mencolok dan bertabrakan warnanya, potongan rambut dan aksesoris yang aneh-aneh? Atau contoh lain, anak-anak muda yang berpenampilan punker, lengkap dengan aksesoris yang melekat di tubuhnya, macam tindik, anting ataupun kalung rantai. Jika dilihat sekilas mereka mengusung nilai-nilai perlawanan, dimana budaya mereka berbeda dari orang kebanyakan. Budaya yang di luar pakem tersebut biasa disebut subkultur. Namun pengaruh hegemoni kapitalis dengan budaya populernya juga telah masuk dan menyelinap ke dalam sendi-sendi subkultur ini.
Ketika melihat adnya sub kultur ini, budaya populer menawarkan keunikan dan ego dari tiap-tiap individu yang pada akhirnya ia akan diakui eksistensinya oleh orang lain (tapi meskipun dia diakui unik, tetap saja ia akan serupa dengan yang lain). Singkatnya individu yang terinfeksi budaya populer ingin menjadi individu yang diakui eksistensinya oleh orang lain (budaya pamer). Menjadi unik dengan membeli dan memakai pakaian yang ketat, seksi, dan mencolok warnanya, menyanyikan lagu-lagu band picisan, dan diakuinya si pemakai itu sebagai anak gaul masa kini, atau memakai dan berdandan ala anak punk, itulah yang disebut budaya populer.
Ujung-ujungnya bisa ditebak. Kredo yang ditawarkan tetap sama. Beli, beli, beli, konsumsi, konsumsi, konsumsi, dan engkau pun akan mendapat pengakuan. Subkultur yang pada awalnya merupakan sebuah gerakan perlawan untuk mengkritik budaya sebelumnya kini berubah menjadi gaya hidup dan fashion saja ketika ketika dirasuki kapitalis. Seakan-akan setelah membeli aksesoris punk di mall dan memakainya, maka dia ikut melakukan gerakan perlawanan. Padahal tidak,
Sejak kemunculannya hingga sekarang, ideologi kapitalisme memang mengalami perubahan-perubahan dalam penerapannya. Dengan adanya jaman post-modern sekarang ini, tanda-tanda, simbol-simbol, dan nilai-nilai hidup bisa dengan mudahnya digunakan, diputarbalik dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh kelas elit (kapitalis dan politikus) dengan tujuan mengamankan posisi mereka di puncak.

Sebagai penutup, agar tak mudah terhegemoni dan terpengaruh oleh budaya populer yang ternyata memang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dan industri untuk kepentingan mereka sendiri, maka sebagai kaum muda lebih baik mulai sekarang mengurangi menonton TV dan memperbanyak membaca dan diskusi.



Catatan Belum Selesai

Ingatan Tentang Sebongkah Batu

“Cerita ini dulu dilarang untuk diketahui oleh orang-orang, tapi sekarang semua orang bisa tahu”. (Herlambang, satpam USD)

4 Desember 2011, pukul 23.03

Malam Senin itu sama seperti malam-malam yang biasanya. UKM-UKM di Student Center Sanata Dharma sudah tak lagi ada suara. Sunyi dan gelap. Tinggal kami berdua, Richy dan aku, dua orang penunggu tetap natas, yang masih berusaha untuk menghabiskan waktu yang semakin membosankan. Karena perut belum diisi sejak pagi, kami pun memutuskan untuk mencari makan di warung burjo terdekat. Selang beberapa menit setelah aku memesan segelas teh hangat dan seporsi nasi telur, terdengar suara sepeda dengan penumpangnya yang punya wajah tak asing bagi kami. Ia adalah Herlambang, seorang satpam senior di Sanata Dharma. Dengan senyuman khasnya dia menyapa kami. “Halo pak, enggak jaga?” sapa Richy sok asik.

Liputan Investigasi

lPekerjaan investigasi adalah pekerjaan yang sama-sama dilakukan oleh para wartawan dan aparat keamanan (intelijen)
lPekerjaan investigasi yang dilakukan seorang wartawan dan intel memiliki kemiripan. Keduanya kadang harus menyamar, masuk ke lokasi yang berbahaya, mengumpulkan data, mewawancarai sejumlah orang  dan menyimpulkan semua temuan data menjadi sebuah rekonstruksi kejadian serta menemukan kebenaran yang sesungguhnya terjadi.

Laporan Utama natas "Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo"

Laporan Khusus majalah natas 2011

 

Antara Srah-srahan Nawa Sanga dan Efek Plasebo

Ketika penyembuhan alternatif menjadi pilihan terakhir

 

Juli 2011, wajah Pujianto (26) dihiasi senyum berseri-seri sementara raut wajah dokter bedah yang merawatnya mendadak berkernyit heran. Pasalnya, hasil rontgent Pujianto menunjukkan bahwa pasien yang telah dirawatnya selama enam bulan tersebut benar-benar sembuh total dari penyakit yang hampir mustahil disembuhkan, yaitu kanker prankreas stadium lanjut. Padahal ketika pertama kali dirawat, Pujianto layaknya pasien yang putus harapan hidupnya. Matanya berwarna kuning, badannya terasa sakit semua sampai-sampai digerakkan pun susah, bahkan perut pun terasa segan mencerna makanan. Kini, semenjak divonis sembuh total, Pujianto tak lagi merasakan itu semua. “Dokter yang merawat saya heran banget lho mas, saya bisa sampai seperti ini. Soalnya saya memang sengaja tidak memberitahu beliau tentang proses kesembuhan saya. Saya tidak memberitahu dokter saya, bahwa selain berobat di rumah sakit, saya juga berobat di praktek penyembuhan alternatif,” katanya sambil tersenyum simpul.

***

Kisah Pujianto dimulai delapan bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Maret 2011.Waktu itu perut tengah Pujianto terasa sakit seperti ditusuk-tusuk, badannya kadang panas, kadang menggigil kedinginan. Untuk bekerja ringan saja tubuh bagian atasnya sulit untuk digerakkan. “Rasanya nyeri dan panas,” katanya. Terpaksalah Pujianto berhenti bekerja. Beberapa hari kemudian matanya berwarna kuning. Tubuhnya lemas tak berdaya sementara rasa sakit di perut masih saja menyiksa. Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya, Pujianto memutuskan untuk memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit kecil di Wates. Ketika diperiksa tekanan darahnya, dibuat kagetlah Pujianto oleh tensimeter yang terpasang di lengannya. Alat pengukur tekanan darah tersebut menunjukkan tekanan sistolenya berada jauh di bawah rata-rata normal (120 mm/hg) yaitu 60mm/hg.

Diagnosa dokter pertama kali adalah Pujianto terkena pes, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) lewat kutu tikus, Xenophylla astia. Penyakit pes seperti ini pernah menjadi wabah dan membunuh lebih dari 20 juta orang di Eropa pada abad pertengahan. Dinamakan “Kematian Hitam” (Black Death) karena keganasannya. Setelah perawatan dan pemberian obat dari rumah sakit selama sebulan, alih-alih sembuh, keadaan Pujianto malah semakin memburuk. Perutnya terasa semakin sakit dan terasa panas. Dokter yang menanganinya seketika itu juga menyatakan menyerah untuk menyembuhkan Pujianto. Sehari setelahnya, pria kelahiran Imogiri tersebut dirujuk ke sebuah Rumah Sakit yang lebih besar di kota Yogyakarta.

Kali ini Pujianto ditangani oleh dokter bedah profesional. Diagnosa pun dilakukan. Hasilnya membuat bulu kuduk Pujianto bergidig. Ternyata bukan pes-lah yang menyebabkan sakit perutnya selama ini, melainkan kanker prankreas stadium lanjut. Kanker pankreas dalam dunia kedokteran disebut penyakit yang “diam”. Kanker itu tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit ketika masih dalam stadium dini. Oleh karena itu bisa dipahami jika ternyata tahu-tahu kanker Pujianto sudah dalam keadaan stadium lanjut. Kanker itu menghalangi saluran empedu umum. Cairan dari empedu pun tidak dapat masuk ke dalam sistim pencernaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan kulit dan putih mata menjadi berwarna kuning, seperti yang dialami Pujianto. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol terlalu seringlah yang ditenggarai sebagai penyebab penyakitnya itu.

Dokter menyarankan untuk melakukan operasi saja. Operasi Pujianto dilakukan seminggu setelah vonis. Kanker yang diangkat tidaklah tuntas semua, melainkan hanya kanker yang menyumbat di usus Pujianto saja. “Ini mas bekasnya, rasanya masih gatal di jahitannya,” kata Pujianto menunjukkan gurat bekas operasi di perutnya. Setelah operasi, Pujianto tidak langsung sembuh melainkan harus menjalani rangkaian perawatan medis lagi yang tentu saja memakan banyak sekali biaya. Padahal orang tua Pujianto hanyalah seorang petani. Sepuluh hari pasca operasi, Pujianto pulang.  Tak berhenti sampai di situ, sepuluh hari di rumah, dia kembali ke rumah sakit karena sakitnya kambuh lagi. Kocek yang harus dirogoh Pujianto untuk pengobatan di Rumah Sakit sudah mencapai 12 juta, namun penyakitnya belum juga pergi.

Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sudah tanpa harapan itu, Pujianto pasrah dan menyerahkan hidup matinya di tangan Allah. Bahkan Pujianto sempat berbicara pada istrinya bahwa dia sudah menyerah. Keluarganya cemas. “Waktu itu saya sudah pasrah mas, terserah Allah mau bagaimana. Kasihan juga melihat keluarga sudah banting tulang untuk menyembuhkan saya,” kenangnya. Sedikit harapan muncul ketika seorang tetangga Pujianto menyarankan untuk mencoba penyembuhan tradisional. Bukan tanpa alasan, tetangga Pujianto itu memang sudah pernah membuktikan kemujaraban terapi penyembuhan tradisional itu. Nama tempat penyembuhan tersebut adalah Paguyuban Tritunggal. Pujianto tertarik, dan ia mencobanya. Ketika sampai di paguyuban tersebut Pujianto masih terlihat lemah. Matanya masih kekuningan dan tekanan darahnya masih tak tertolong.

***

Sekitar 50 kilometer dari Argorejo Sedayu, tempat Pujianto tinggal, Paguyuban Tritunggal membuka tempat prakteknya. Tepatnya di Babarsari Yogyakarta, belakang Universitas Atmajaya. Tidak ada yang aneh dari tempat penyembuhan tradisional Paguyuban Tritunggal. Dari luar tampak seperti bangunan-bangunan di sekitarnya, bercat putih, pagar putih, dan pintu kayu cokelat. Yang membedakan hanyalah banner merah bertuliskan Paguyuban Tritunggal di teras, dan bau harum  dupa yang menyapa setiap hidung yang lewat di depan bangunan itu. Masuk ke ruangan pertama kali, Pujianto disambut ramah oleh lukisan-lukisan atraktif di tembok hijau dan seorang pemuda berpakaian hitam yang mengurusi bagian administrasi awal.

            Paguyuban Tritunggal resmi menangani pasien sejak tahun 1997. Didirikan oleh seseorang yang dipanggil Romo Sapto. Nama Tritunggal dipakai sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya Jawa yang berasal dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Ditilik dari sudut pandang modern, penyembuhan ala Tritunggal disebut penyembuhan holistik. Artinya aspek spiritual dan psikologis pasien juga menjadi pertimbangan dalam proses penyembuhan. Berbeda dengan medis konvensional yang lebih menitikberatkan pada aspek biologis (mekanis) saja. Metode yang digunakan berasal dari ilmu kejawen warisan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sejak dulu. Paguyuban ini tidak membuka praktek secara ilegal. Proses perijinan yang panjang dan berliku dari badan standardisasi kesehatan pemerintah hingga ijin pendirian usaha sudah dilalui oleh Tritunggal.

Terapi yang dilakukan sama sekali tidak menggunakan obat atau pun jamu. Tidak ada pula pantangan yang harus dilakukan oleh pasien. Bahkan kontak fisik pun hampir tidak ada. Penyembuhannya murni menggunakan energi yang oleh Paguyuban Tritunggal disebut “Srah-srahan Nawa Sanga”. Artinya ada Sembilan lubang energi ditubuh manusia yang bisa menjadi jalan keluar masuknya penyakit atau energi penyembuh. Lubang itu terdapat di mata, hidung, telinga, mulut, pusar, kemaluan, anus, tangan dan kaki. Proses penyembuhan yang dilakukan tidak selalu dilakukan jarak dekat. Jika dibutuhkan, penyembuhan bisa dilakukan lewat jarak jauh. Penyembuhan jarak jauh bisa dilakukan dengan mengirimkan energi penyembuh lewat telepon genggam atau pun media foto. Selain itu penyembuhan juga dilakukan dengan metode transfer energi dari manusia ke hewan. Hewan macam kambing dipilih untuk penyakit-penyakit berat macam kanker stadium lanjut atau jantung koroner. Selain kambing, kelinci juga bisa menjadi pilihan, namun untuk penyakit yang lebih ringan.

Dalam hal penyembuhan, paguyuban tritunggal tidak menerapkan adanya pantangan apapun kepada pasiennya. Karena itu, meskipun dokter menyarankan Pujianto untuk menghindari minum kopi, ia tetap saja menyeruput minuman kesukaannya itu ketika menjalani terapi di Paguyuban Tritunggal. Mereka juga tidak melarang pasiennya berobat juga di medis konvensional. Yang penting tidak ke penyembuhan tradisional yang lain, karena beda energi. Yang menjadi ketakutan adalah adanya energi yang bertolakbelakang dengan energi yang digunakan oleh Paguyuban Tritunggal. Jika itu terjadi maka pasien tidak akan sembuh, malah bisa-bisa tambah parah.

            Pasien yang datang ke paguyuban tersebut rata-rata adalah pasien buangan dari rumah sakit, atau yang sudah bosan dengan pengobatan medis konvensional. Kebanyakan pasien yang datang adalah pasien yang dokternya sudah angkat tangan. Malah, terkadang para dokter yang sudah angkat tangan tersebut menyarankan pasiennya berobat ke Paguyuban Tritunggal. Dalam artian pasien tersebut secara medis konvensional sudah mustahil untuk disembuhkan. Penyakit-penyakit berat macam kanker stadium lanjut, tumor atau jantung koroner adalah penyakit-penyakit yang sering mampir di Paguyuban ini. Selain itu Paguyuban Tritunggal juga kondang dalam menyembuhkan penyakit-penyakit “kiriman” seperti santet, gendam, atau pelet. Tak hanya itu, paguyuban ini pun juga melayani ruwatan untuk menghilangkan kesialan supaya rejeki lebih lancar mengalir.

Awalnya Pujianto diberi petunjuk dulu tentang masalah administrasi. Dalam hal biaya, Paguyuban Tritunggal tidak menetapkan seberapa besar tarif mereka. Dasarnya bukanlah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasien, melainkan semangat untuk membantu sesama. “Kalau masalah pembayaran itu sifatnya suka rela mas, lha wong uangnya kita masukin ke amplop terus dikasih ke kotak, cuman gitu aja. Jadi yang tau ya otomatis kita sendiri,” ujar Pujianto. Untuk penyembuhan yang menggunakan media hewan, pasien dibebaskan untuk membawa hewan dari rumah. Tetapi karena kebanyakan pasien tidak mau repot-repot, pasien bisa saja hanya memberikan uang seharga hewan yang akan digunakan untuk media penyembuhan ke Paguyuban Tritunggal. Pujianto adalah salah satu pasien yang tidak mau repot tesebut. Ia hanya menyerahkan uang sebesar Rp. 700.000,00, dan Paguyuban yang membelikan kambingnya sebagai media penyembuhan penyakit Pujianto. Selanjutnya, Pujianto bertemu dengan dukun yang akan menyembuhkannya.

Mbah Sombo, begitulah ia biasa dipanggil. Banyak orang akan terjebak ketika mendengar namanya. Bayangan seorang dukun  dengan muka seram, rambut putih, jimat dan banyak cincin batu di jari akan segera lenyap ketika melihat sosok mbah Sombo. Perawakannya sedang, tidak gemuk, tidak kurus, sekitar 160 cm tingginya, dan sesekali jari-jarinya sibuk memainkan hanphone layar santuh miliknya. Umurnya masih 30 tahunan. Setiap pasien yang ditanganinya akan selalu disambut oleh wajah dan senyumnya yang ramah bersahabat. Kali ini dialah yang menangani Pujianto. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Mbah Sombo juga mempunyai pengalaman berkesan berkait dengan Paguyuban Tritunggal.

“Kenal sini (Paguyuban Tritunggal) tahun 2004, waktu itu saudara saya kena hepatitis C, livernya kena virus, bahkan kata dokter virusnya sudah sampai ke kepala. Leukositnya turun drastis, sampai 67, padahal normalnya 200-300,” cerita mbah Sombo mengenang awal ketertarikannya mengikuti Paguyuban Tritunggal. Beberapa minggu opname di rumah sakit, dokter bilang nyawa saudaranya tinggal sebulan. Sudah hampir 40 hari dirawat di rumah sakit dan tidak sembuh-sembuh, Mbah Sombo berpaling ke Paguyuban Tritunggal. Ia ngomong langsung pada Romo Sapto soal penyakit saudaranya. Malam hari diterapi, besoknya leukositnya langsung naik. Dulu matanya kuning semua, badanya lemas dan bisanya hanya tidur di rumah, setelah diterapi selama seminggu langsung sehat dan bisa langsung beraktifitas.

Nah dari situlah ketertarikan Mbah Sombo untuk belajar menyembuhkan orang, “Kok iso yo?” katanya terheran-heran. Ia kemudian berguru kepada romo Sapto. Menurut beliau, setiap orang bisa menjadi penyembuh karena Tuhan sudah memberikan kepada manusia energi penyembuh semenjak dikandung di rahim ibu. “Nah bagaimana cara mengolah energi penyembuh itulah yang harus dilatih,” terang Mbah Sombo ketika ditanya tentang kemampuan menyembuhkan miliknya.

Kunci dari penyembuhan ala Paguyuban Tritunggal terletak pada interaksi yang kuat antara dukun dan pasien. Sangat penting diadakan dialog pertama kali antara dukun dan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran penyakit yang dihadapi sekaligus sebagai sarana pendekatan personal dan emosional. Proses tersebut tidak dilakukan secara formal dan kaku, melainkan informal dan santai. “Sampai sekarang saya masih sering konsultasi lewat SMS sama mbah Sombo kok mas,” kata Pujianto menanggapi kedekatan relasinya dengan penyembuhnya.

***

Sehari setelah penyelesaian administrasi, terapi pun dimulai. Terapi yang dilakukan adalah terapi transfer energi dengan media hewan. Terapi dilakukan di sebuah ruangan. Ada lima orang plus satu hewan dalam ruangan itu. Mereka adalah mbah Sombo dan tiga asistennya, yang lainnya adalah Pujianto bersama dengan seorang temannya, tak lupa seekor kambing sebagai media transfer energi.

Terapi dilakukan dengan bantuan doa dan energi yang dimiliki oleh para penyembuh. Energi negatif yang terkandung di kanker Pujianto dikeluarkan dan dipindah ke dalam tubuh kambing. “Jadi yang dipindah bukanlah penyakitnya, melainkan energi negatif yang dimiliki oleh penyebab rasa sakit itu, misalnya kanker. Ketika kanker itu sudah kehabisan energi, maka sedikit demi sedikit kanker itu akan kempes dan mati,” terang Mbah Sombo tentang terapi pemindahan energi yang dilakukannya.

Proses penyembuhannya cukup sederhana. Tak ada gerakan-gerakan, maupun mantra-mantra kuno. Si penyembuh hanya menempelkan tangannya di atas perut Pujianto dan diiringi dengan doa-doa yang diucapkan oleh Pujianto maupun tim penyembuh. Ketika ketika proses pemindahan berlangsung, tubuh Pujianto merasakan perubahan drastis. Daerah tubuhnya yang tadinya sakit, terutama pada bagian perut tengah seketika itu juga terasa sangat panas. Proses penyembuhan tahap pertama tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam. Setelah proses penyembuhan pertama tersebut selesai, Pujianto diberikan sebotol air mineral yang sudah didoakan oleh Mbah Sombo untuk diminum. Air mineral memang salah satu barang yang wajib dibawa oleh pasien sebelum melakukan proses terapi untuk kemudian didoakan. Kambing yang ada di dalam ruangan tersebut tetap ditinggal di Paguyuban. Malam setelah proses penyembuhan tahap pertama, perut Pujianto masih terasa panas bahkan lebih panas dari hari sebelumnya. Namun rasa sakitnya sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Hari berikutnya Pujianto kembali ke Paguyuban untuk proses penyembuhan tahap kedua. Ketika itu dia dihadapkan oleh kambing yang sudah ditransferi energi. Kambing tersebut disembelih dengan disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tampaklah jeroan kambing yang disembelih. Jeroan tersebut terlihat rusak, dan membusuk pertanda energi yang ada di tubuh Pujianto berhasil ditransfer ke dalam tubuh kambing tersebut. “Saya lihat sendiri mas bagaimana bentuk dari jerohan kambing yang baru disembelih. Jerohan tersebut terlihat hitam dan busuk,” kata Pujianto. Jerohan kemudian dilarung ke laut selatan, disaksikan oleh Pujianto sendiri. Tak cukup sampai di situ, hari berikutnya Pujianto harus menjalani proses terakhir terapi.

Terapi tahap terakhir ini dilakukan tengah malam. Pujianto waktu itu bersama dengan paisen-pasien lain ditempatkan di sebuah ruangan lapang. “Waktu terapi itu mas, saya sama pasien-pasien lain disuruh tidur dipakein jarit (selendang). Dikrukup bareng-bareng. Kayak orang mati,” kata Pujianto mengingat proses terapi terakhir yang dialaminya. Doa-doa dan sajen tak lepas dari proses penyembuhan tersebut. Proses terapi tersebut menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Sama seperti sebelumnya, tubuh Pujianto terasa sangat panas, terutama bagian perutnya. Tubuhnya keluar keringat begitu banyak, namun ada perasaan lebih ringan dan rasa sakitnya berangsur-angsur pulih.

Setelah itu, paginya pakaian-pakaian pasien yang sudah diterapi dikumpulkan. Pakaian-pakaian tersebut kemudian dilarung oleh para dukun. “Saya nggak tau mas pakaian saya dilarung di mana, yang pasti rasanya setelah terapi itu dan beberapa hari kemudian tubuh saya berangsur-angsur membaik,” terang Pujianto. Meskipun tubuh Pujianto sudah tak lagi merasakan sakit, ia tak serta merta lepas kontak dengan Paguyuban Tritunggal. Hingga dua minggu kemudian Pujianto masih berhubungan dengan penyembuhnya, Mbah Sombo. Ia masih melakukan konsultasi untuk tetap menjaga tubuhnya sehat. “Seminggu setelah terapi terakhir saya masih sering ke Paguyuban mas. Kadang-kadang juga masih harus diterapi lagi namun Cuma kecil-kecilan” kata Pujianto lagi. Selain itu Pujianto juga masih sering berkonsultasi dengan dokter bedah yang dulu pernah menanganinya. Seperti yang telah diceritakan di awal tadi, sang dokter geleng-geleng melihat kesembuhan mantan pasiennya.

***

Fenomena kesembuhan Pujianto ternyata bukan hal baru dalam dunia kedokteran (medis konvensional). Selain itu tidak sedikit juga orang yang mengalami pengalaman yang sama dengan yang dialami oleh Pujianto, pengalaman kesembuhan non-evidence medical based. Hal tersebut diamini oleh Dr. Sunarto, salah seorang dosen di Fakultas kedokteran UII Jogjakarta. “Kajian kedokteran untuk pengobatan alternatif yang sifatnya gaib memang masih kurang, namun orang yang mengalami kesembuhan semacam itu tidaklah sedikit. Kita sekarang hidup di alam modern, semua dilihat dari sudut pandang positivisme, jadi semua hal harus bisa dibuktikan dengan indera”, terangnya. Kajian fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto ternyata sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1956. Namanya K.H. Bertench. Menurutnya fenomena kesehatan seperti yang dialami Pujianto disebut efek Placebo.

 Efek Plasebo adalah istilah medis untuk terapi baik dalam bentuk obat-obatan maupun prosedur-prosedur medis yang tidak memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien. Plasebo bukanlah obat palsu, tetapi obat atau tindakan penyembuhan yang "dipalsukan" oleh dokter/dukun/penyembuh yang diyakini memiliki dampak positif bagi pasien. Efek plasebo menunjukkan bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia. Karena dengan kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika, efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.

Anne Harrington dalam bukunya “The Placebo Effect: An Interdisciplinary Exploration”, mengatakan bahwa placebo itu layaknya hantu yang yang menakuti rumah kesehtan, dan menakuti objektifitas biomedical, sesuatu yang bangkit dari kegelapan dan mengekspos keparadoksan”

Dalam dunia medis efek plasebo ini membawa dampak kesehatan yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Pernah suatu saat ada sebuah penelitian yang membuktikan efek ini. Penelitian itu menggunakan obat palsu yang terbuat dari tepung biasa namun obat tersebut diberi label analgesik oleh dokter. Pasien yang mencobanya tidak mengetahui bahwa obat tersebut adalah obat palsu. Beberapa saat kemudian pasien tersebut merasakan efek yang mengejutkan karena pasien tersebut tidak lagi merasakan rasa sakit yang dideritanya. “Sebenarnya yang menyembuhkan ia hanyalah sugesti yang diberikan oleh si penyembuh tersebut. Bukan obat atau kekuatan gaib yang diberikan yang membuat reaksi di tubuhnya. Kemungkinan efek Placebo itulah yang menyembuhkan Pujianto dari kanker prankreasnya”, terang Firman Pratama S.T, seorang pengamat dunia kesehatan dalam emailnya kepada penulis.

***

Meskipun begitu, apapun yang bermain di tubuh Pujianto, yang ia rasakan kini adalah kesembuhan. Sekarang wajahnya kembali berseri dan melanjutkan hidupnya lagi dengan keluarganya. Sehatkah Pujianto? Kata mbah sombo kesehatan bukan diukur dalam hal kerusakan fisik apa yang terjadi di tubuh manusia, melainkan apa yang dirasakan oleh manusia itu. Dan memang itulah kebenarannya. 3 bulan lalu, Pujianto dengan senyum khasnya menjadi tamu spesial di acara pengobatan alternatif TVRI Yogyakarta untuk memberikan kesaksian kesembuhannya yang ia sebut sebagai mukjijat kehidupan.

 

Penulis:

Leo Agung Bayu


Transkrip Wawancara tentang Mural dan Grafitti

Grafiti = vandalisme?
Itukan cuma nggampangke persoalan. Orang yang pikirannya konservatif grafiti tidak menarik. Tapi kalo anak muda merka tertarik. Tetapi mungkin yang klasik mereka nggak tertarik. Karena anak muda kan suka yang baru. Ada street art gitu.

Keunikan grafiti di indonesia?
Taun2 awal g ada perbedaan jauh. Secara teknis, visual, dll, masih cenderung meniru dari luar negeri. Masih pada tahap fashion. Tahap berikut, spirit lokal di munculkan. Seperti di jogja mereka teknisnya berbeda, yaitu canpur cat. Cita rasa personal dan lokal juga dimunculkan. Masih pada tahap mencontoh.

Negara meilegalkan, tapi katanya jogja tidak?
Grafiti itu memang ilegal. Di jogaja, mural sudah mulai diterima masarakat dulu, temen grafiti juga pengen. Bahkan pemerintah (walikota) pernah membuat surat undangan untuk membuat grafiti. Waktu itu walikota ada di jernan, dia iri karena di sana bagus. Dia pikir kalo jogja jika dibuat seperti itu basgus. Undangan itu di cetak di KR. Dipotong lalu kalo ditangkap bisa ditunjukkn. Seiring berjalannya waktu masih ada yang di tangkap. Dfimarahi. Persepsi warga joga masih yang lama tentang grafiti, mengotori, merusak, dll. Masarakat prefer mural; than grafiti. Akhirny para bomber memperbaiki kualitasnya dan hasilnya bagus juga.

Setuju sama grafiti yang asal?
Bukan masalah setuju dan g setuju. Cuma kalo nggak bagus ya nggak asik ahh, kan saya seniman. Ini soal selera saja.

Pelegalan grafiti penyimpangn?
Perebutan wilayah. Hasratnya harus ilegal . Seperti penggunaan ganja, klo g ilegal g asik. Lebih menarik ilegal. Kalo menurut sam jika dia jadi pemerintah, ada ruang yang legal dan g legal, menyangkut manajemen kota. Misal ruang bersejarah g boleh di bom.

Grafiti sejaahnya protes.,
Masalah perkemgangn sosial kota. Begitu kota tidak memberikan akses pada kelompok tertentu misal remaja. Dia g punya ruang untuk mennjukan eksistensinya. Lalu mreka bisa meenyalurkan dengan grafiti. Kenapa di deasa g ada grafiti, dangdutan eae. Ada problem sosial, problem yang menengkranm keberadaan mreka. Maka mereka mencoba keluar dari problem itu. Fasion, anak2 muda baca buku supaya tau tren di luar negeri. Resistensi anask ,muda masih rendah terhadap budaya luar dan tren.

Awal kemunculan di indonesia.
Merdeka atau mati bisa dikategorikan itu grafiti.

Eksis di mural?
Sejak taun 97, tapi g begitu ekspert di bidang grafiti. Memakai mural sebatas untuk memahami sebuha ruang. Mural itu pekerjaan lama. Seperti pada jaman purba yang menggambar di gua. Ini revitaliasai Seni keluar dari habitat yang awal (di studio) membagikan pesan, dan kemampuan berkesenbian di ruang terbuka. Menyampaikan banyalk pesan, harapan, dll. Ruang kota dimungkinkan kembali dimiliki oleh warganya. Mural luar ruang dan dalam ruang. Dia memilih yang luar karena bisa dinikmati orng banyak.
Yang di bi,in oleh masa sam, fubngsi yang dibikin. Yang di kampung bisa mengembalikan kesadaran kolekti. Kekerabatan ter5jalin. Ruag2 terbengakali bisa dijadikan tempat memberikan pesan bahwa kampung kami dulu seperti ini dan begini. Mempunyai peranan sosial, membanun kekerabatan.
Perkotaan menjadi lebih manusiawi, karena warga lebih punya peluang iuntuk mendandani rumahnya. Ada kisa2 yang tadinya tidak terlihat ja di mucul.

Pas g dengan budaya tradisional?
Kalo dilihat dari sudut orang tua yang tidak pas, mereka pasti mikirnya ini apa tho? G bisa dibaca? Maunya aapa? Itulah kenyataan bahawa ada perkembangan terbaru bagi warganya bahwa semuanya pasti menacu pada tradisi yang baru. Nggak busa di pungkari bahawa ada perubahan jogja jangan ster5il dari perkembngan. Jogja dadlah kota yang bergerak, tradisi iya, pergerakan sebuah kota memungkinkan muncul banyak hl yang tidak selaras, dgn tradisu.

Sisi negatif.
Kalo grafiti g pas, pasti bikin sumpekl. Seperti bendera partaui yang bikin hueekkkk,,,, sesuatu yang over dosis dan tidak di komposisi dengan baik pasti menyebalkan. Jangan sapai ada kejenuhan.

Grafiti yantg menarik?
Grafiti yang menyuarakan sewsautiu. Ruangnya pas, misal ruang yang kumuh di ikin full kolor. Menambah nilai ruang. Menyampoaikan gagaan yang unik. Pesan2 politik, sosial,dll. Di brasil, ada grafiti puisi2 latin.jangan cuma niru haraus ada karakteristik, aransenren.

Komunitas grafiti2?
Banyak..pak sam bikin komunitas. Joga mural forum. Kegiaananya cuma bikin mural. Bikin workshop.

Konflik antar komunitas?
Rebutan ruang, ditimpa, emosi, mau berantem.warung wijilan, banyak yang kumpul waktu malem.
Kalo mural nggak ada konflik, karena lama mbuatnya, bareng2, dll.
Kami ada disini, itu cuma yabng tulisan, gak menarik.

Grafiti selain jogja?
Perkembangan paling intensif, jogja dan jakarata. Karena pengen dsama atau dekat dengnanask m,usik, band fesyen, dll.

Suka duka murlis?
Ketemu banyak orang, kenalan banyak. Langsung tahu respon orang.proses edukasi mumcul/ dukanya, kalo hujan, capek, biaya besar. Cari\ sponsor. Artinya siapa yang nau suport. Satu kmpung urunan sampai 5 juta. 1 liter 4 mtr persegi. Pake warna preimer, hitam dan putih.
Inspirasi?
Berdasarkan lokasi rung yang penuh jangan yang rumit2 nanti capek. Ide berdasarkan ruang ada di mana, kita ,au ngomong apoa. Klo ,au edukasdi, ceritakan lokal konten, misalny jogokaryan. Erjarah lokasl. Ruang punya spesifikasi seperti a[pa. Misal raung sempit, biar keliatan lebar, pendek biar keliatan tinggi.
Ada masarakat yang menolak, alasannya putih ajaq bagus kok. Sudah bukan tahap senagn nggambar,
tapitahap ini adalah pekerjaanku, bukan main2.

Idealisme komunitas.
Bisa mengumpulkan beragam orang yang berminat dengan perkembangan mural di jogja.
Harapan?
Pengen jogja menjadi kota terpenting perkembangan mural se asia tenggara. Orang2 pada datang ke sini untuk lihat2 penelitian dll.
Belum pernah nggambar seara ilegal. Menghormati.malu kaareaa saya paham itu g boleh.

Malam di Papringan

Malam di Papringan

 

Pada mulanya adalah gelisah. Aku lihat dimana-mana, orang-orang tak mau lagi mengenal kata tersebut. “gelisah”. Mereka terlalu takut. Ya, gelisah menjadi sebuah kata yang menakutkan di jaman ini. Aku paham, orang-orang lebih menyukai kasur empuk ketimbang petualangan. Orang –orang lebih menyukai stabilitas ketimbang perubahan. Benar, hari-hari ini kata mapan selalu yang dicari-cari. Nyali mereka ciut ketika dihadapkan dengan kata “kenyataan” sedangkan “mimpi” menjadi pemenang. Beberapa orang mengaggap kenyataan itu ilusi, beberapa orang terlelap dalam mimpinya, sedangkan beberapa orang menganggap mimpi-mimpinya adalah kenyataan. Mereka gila. Dan mereka ditertawai kegilaan. Aku dianggap gila, lalu aku ditertawai mereka yang ditertawai kegilaan.

Selanjutnya adalah kesendirian. Untuk saat ini kesendirian adalah teman terbaikku. Entah, bukan bermaksud asosial, namun hanya saja aku merasa semua orang muak dengan ide-ideku. Aku percaya, tubuh mampu menjadi rapuh, ia gampang disiksa, dibunuh, lalu dibuang, namun ide tidak akan pernah mati. Ide itu semacam kanker yang ketika dibuang, akar-akarnya akan tetap menancap kuat. Lalu bertumbuh lagi menjadi berlipat ganda. Ia seperti ilalang, berisik. Juga mengusik. Dibabat, namun tetap berlipat. Ia semacam suara Tan Malaka yang lebih lantang teriakkannya di luar, ketimbang di dalam kuburan tubuhnya sendiri. Orang-orang mungkin saja melupakan sebuah ide. Namun ia menjelma masa lalu. Ia menjelma sejarah. Dan sejarah selalu menemukan jalannya sendiri. Ia akan mengejar realita, juga peristiwa. Serupa trauma masa lalu. Semakin dilupakan, semakin mencengkram erat. Walau di bawah sadar.

Malam ini bulan seperti celurit. Tipis dan tajam. Keras dan dingin. Warnanya perak pucat. Dengan hiasan mendung kelabu di samping-sampingnya. Aku berjalan di bawahnya. Di antara dinding-dinding urban, yang dinamai, lorong. Mungkin sudah ribuan kali aku berjalan di lorong ini. Lorong-lorong gelap juga becek dekat aku bertempat tinggal di kost yang lembab dan sempit. Seisi lorong mungkin sudah menghapaliku, seperti juga aku kepada mereka. Pak Guno namanya. Ia selalu duduk di depan gerobak baksonya tiap jam 2 pagi. Matanya kosong, seperti isi gerobak dan dompetnya. Entah esoknya ia mau berjualan atau tidak. Lalu di sela tong sampah berwarna hitam, selalu kutemukan 3-5 kecoak menari-nari. Jendela tua tak berkaca. 12 lubang retak di jalan, juga air yang senantiasa menggenanginya. Tak lupa bekas muntahan habis minum ciu dari pedagang siomay yang 3 minggu lalu dicerai istrinya karena terus-terusan kalah judi.

Malam ini aku lapar. Seperti malam-malam sebelumnya. Seperti masa masa laluku setelah mengejar-ngejar aku, namun tak menemukan karena aku pandai bersembunyi. Lapar. Honor hasil memberi tutorial untuk sebuah institusi di kampusku kemarin hari sekarang sudah ludes. Kubuat bayar uang kuliahku. Semakin gila saja kampusku. Telat bayar dapat denda.

Aku pusing. Lalu menemukan sebotol bekas aqua. Entah, tapi aku tahu isinya bukan minuman bersoda. Namun air mata. Kulihat tulisannya, “diambil dari mata air dari mata pak Tugiman”.

Penulis: Leo Agung Bayu


SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN

SEDIKIT CATATAN SETELAH KONGRES KEMARIN

Tulisan ini saya buat untuk menanggapi sidang KOK kemarin. Sebenarnya banyak sekali pasal yang ingin saya beri tanggapan, tapi untuk saat ini satu pasal dulu. Menurut saya pasal ini sedikit banyak mencerminkan ideologi apa yang dianut oleh USD. 

“Fungsionaris yang menjadi ketua umum DPMU atau DPMF, Presiden BEMU atau Gubernur BEMF, ketua UKM, ketua UKF, HMJ/HMPS, serta ketua komisi dan ketua bidang tidak berstatus sebagai mahasiswa perguruan tinggi lain” (KOK, Bab X, pasal 22, ayat 3) 

Artinya: Mahasiswa yang merangkap belajar di perguruan tinggi lain selain sanata dharma TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN HAKNYA sebagai mahasiswa sanata dharma untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi formal apapun di kampus sadhar. 

Inilah pendapat para mahasiswa yang pro dengan pasal tersebut beserta dengan pendapat saya: 

1.       - "Apa kita tidak malu dipimpin sama mahasiswa dari kampus lain?"

          - "Di mana harga diri kampus kita?" 

Dari pernyataan di atas kita dapat melihat betapa USD berhasil memberi hegemoni dogmatik kepada para mahasiswanya, bahwa USD lebih unggul daripada kampus-kampus lain. Mahasiswa dibuat sangat superior terhadap kampus-kampus lain. Keyakinan tersebut  menurut saya bersifat fanatik dan dapat menimbulkan fanatisme sempit. Seakan-akan sesuatu tersebut sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan.  Dihadapkan dengan keyakinan semacam itu saya beranggapan bahwa hal tersebut bisa disebut sebagai pemusnahan nalar. Nalar seakan-akan dilupakan sebagai jalan untuk mencari kebenaran karena sudah tertutup oleh fanatisme sempit. Pemusnahan nalar terutama digunakan dalam rangka pelanggengan kekuasaan ras, kerajaan atau pemimpin.

Istilah “oposan” seharusnya tidak ada dalam sebuah sistem fasis. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak negara/penguasa, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi. Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin pemerintah. Hitler bahkan pernah mengatakan, bahwa “kebenaran terletak pada perkataan yang berulang-ulang”. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif kebenarannya. Sama seperti pendidikan di USD, doktrinasi dilakukan di ruang-ruang kelas lewat dosen-dosen, lewat mata kuliah-mata kuliah. Lewat week end moral, lewat PPKM, dll. Mahasiswa diprogram sedemikian rupa hingga dapat dengan mudah “dikendalikan”. 

2.       - "Lebih baik yang jadi ketua organisasi berasal dari anak sadar asli."

          - "Itu jatahnya anak sadhar!" 

Anak sadhar asli? Apa itu anak sadhar asli? Setahu saya mahasiswa yang belajar di sanata dharma dan melengkapi kelengkapan administrasi sadhar mulai dari membayar uang DPP, UKT, atau pun SKS adalah mahasiswa resmi institusi pendidikan universitas sanata dharma. Sederhananya, setiap orang yang membeli jasa pendidikan yang dijual oleh sadhar adalah mahasiswa USD. Logikanya sederhana kan? USD jual, gue beli... Lalu bagaimana dengan mahasiswa USD yang juga berkuliah di kampus lain? Apakah hak-haknya harus dibedakan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang hanya berkuliah di USD? Menurut saya tidak. Jika itu dilakukan maka saya bisa menyebutnya sebagai diskriminasi dengan alasan yang tidak logis. Mahasiswa yang rangkap kuliahnya juga mempunyai kewajiban yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa USD lain, masak mereka tidak mempunyai hak yang sama?

Dalam fasisme, manusia tidaklah sama, justru pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus melampaui yang lemah, mahasiswa yang cuma kuliah di USD melampaui mahasiswa yang juga belajar di universitas lain. Dilihat dari sudut pandang itu, USD menolak adanya persamaan. 

3.       "Masak kita mau presiden kita orang malaysia?" 

Jika dilihat menggunakan analogi seperti itu maka USD adalah negara indonesia, dan mahasiswa yang merangkap belajar di universitas lain adalah orang malaysia. Ketua organisasi mahasiswa (BEM, DPMU, UKM, dll misalnya) adalah presidennya. Selain analogi yang digunakan kurang tepat, pernyataan mahasiswa di atas menunjukkan adanya keyakinan bahwa mahasiswa USD yang merangkap studinya di universitas lain harus disingkirkan demi “kemurnian ras USD”.hahaha....

Setahu saya, fasisme bersifat total dalam meminggirkan sesuatu yang dianggap “kaum pinggiran”. Hal inilah yang dialami kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K, yaitu: kinder (anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum Fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti pembunuhan dan penganiayaan. Dalam USD, yang dibunuh dan dibatasi adalah hak mahasiswa yang merangkap studi di universitas lain untuk mencalonkan dirinya sebagai pemimpin organisasi mahasiswa. 

4.       "Mahasiswa sadar juga banyak yang kompeten kok masak mau pilih yang lain?" 

Beneran nihh? Calon wakil presiden BEM aja nggak tau KOK itu apa. Paling-paling nyalon jadi presiden BEM juga biar gampang dapat kerjaan di USD. Kalo kompeten dalam bidang akademis sih banyak, tapi dalam pembacaan situasi kampus, wacana, dan politik kampus?

5.       "Gimana kalau studinya kerepotan?" 

Pendapat terakhir inilah yang paling bisa saya terima dan cukup logis juga. Dari pendapat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa hanya kuliah di sadhar saja beban kuliahnya sudah sangat banyak, apalagi ditambah dengan beban studi kampus lain, lalu kapan mengurus organisasinya?

Setahu saya sebelum menjadi ketua, baik itu BEM, DPMU, UKM, dan organisasi kemahasiswaan yang lain harus melalui tahap seleksi dulu, malah ada yang memakai tahap test dahulu. Jika calon yang bersangkutan menyatakan sanggup dan mau berkomitmen dengan tugas-tugasnya di organisasi yang dipimpinnya, kenapa tidak? Lagi pula “studinya kerepotan” itu kan memang sudah konsekuensi dari pemimpin dari organisasi mahasiswa, karena selain sebagai pemimpin dia juga seorang mahasiswa juga.

 

Unsur-unsur pokok dalam ideologi fasisme = ketidakpercayaan pada kemampuan nalar, pengingkaran derajat kemanusiaan, kode prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan, pemerintahan oleh kelompok elit, totaliterisme, militerisme, dan Rasialisme. Lengkap sudah...terdapat di USD...